Archive for October, 2012

Pertanyaan Sri
October 31, 2012


Cerpen El Hadiansyah (Kompas, 21 Oktober 2012)

NAMANYA Sri. Hanya Sri. Sangat singkat bukan? Awalnya, aku pun menyangka ada kelanjutan dari tiga huruf itu. Namun tidak. Namanya benar-benar Sri, hanya Sri. Entah di mana ia sekarang.

Bilur matahari langsung sampai ke lapangan sekolah. Menjadi jejak. Cukup panas. Aku sendiri gerah dibuatnya. Angin dari beringin yang berkeliling tak juga mengurangi rasa. Tetap menyengat. Hanya satu dua dedaunan menggelinding disertai bungkus permen, juga bungkus snack yang terserak dari bawah tempat sampah. Namun Sri tak juga menyerah pada hukuman. Tubuh kecilnya berdiri di bawah tiang bendera warna putih. Membuatku miris. (more…)

Nosferatu
October 30, 2012


Cerpen Eka Maryono (Koran Tempo, 14 Oktober 2012)

Berikan aku cahaya, katanya, sesuatu yang dapat membantuku melihat kebenaran.

SEJAK cahaya menghilang dari desa kami, dia selalu meminta cahaya. Jadi aku kisahkan padanya tentang Blind Snakes, ular yang menyerupai cacing tanah panjang. Mereka hidup di liang bawah tanah, dan tidak dapat menggunakan matanya yang sangat kecil untuk melihat, tapi mereka bisa merasa apa yang ada di sekelilingnya. “Kita harus seperti ular itu,” kataku. Dia membantah. Katanya, “Blind Snakes tidak dapat melihat karena memang buta. Sedang kita punya mata yang dapat melihat. Hanya saja tidak ada cahaya.” (more…)

Gadis Bermata Gerimis
October 30, 2012


Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 14 Oktober 2012)

AKU harus bertemu Gadis bermata gerimis itu menjelang siang beralih jadi senja. Menjelang matahari benar-benar lenyap dari pandangan dan perbukitan Batu Ampa telah disungkup gelap. Sebab, bila alam sudah kelam, tanjakan dan penurunan jalan yang akan dilalui jauh lebih sulit dilewati daripada ketika masih tersisa terang di garis langit. Aku mempercepat langkah. Garis kelabu masih tergurat di sekitar ufuk barat. Aku pererat tali sepatu yang terasa longgar. Jalan setapak menuju rumah gadang terpencil yang kini ditempati Gadis masih licin. Sisa hujan siang membuat badan jalan bertanah liat dan berbatu itu berbalut lumpur. (more…)

Kurban untuk Emak
October 21, 2012


Cerpen Syahruddin El-Fikri (Republika, 21 Oktober 2012)

Kurban untuk Emak ilustrasi Rendra Purnama

SEHARI menjelang Idul Adha, di sebuah pasar tradisional, seorang perempuan setengah baya datang tergopoh-gopoh. Pakaiannya lusuh. Keringat tampak membasahi bajunya. Bahkan, tas kresek (plastik) berwarna hitam yang dibawanya tampak mengilat karena tetesan keringatnya. Sepertinya, ia datang ke pasar tersebut dengan berjalan kaki. (more…)

Makam Pohon Mangga
October 19, 2012


Cerpen Hammidun Nafi’Syifauddin (Suara Merdeka, 14 Oktober 2012)

DI belakang rumah itu, Emak selalu bercerita. Di bawah pohon mangga yang dulu pernah berjaya. Berbuah luar biasa banyaknya, dengan ukuran yang membuat mulut sedikit menganga sambil mengecapkan lidah dan menelan ludah.

Sepanjang musim mangga tiba, anak-anak tetangga selalu bergembira. Mereka akan makan mangga. Begitu yang Eyang lakukan waktu emakku masih kecil—membagi-bagikan mangga yang sudah masak. (more…)

Muammar Memilih Jalan Sendiri
October 19, 2012


Cerpen Sori Siregar (Kompas, 14 Oktober 2012)

MALAM telah merangkak jauh. Perlahan. Sebentar lagi pagi terjangkau. Hujan rintik-rintik di luar. Maludin yang letih masih tidak dapat tidur. Sepanjang malam menjelang pagi itu ia tetap terjaga.

Risiko seperti ini tidak pernah terbayangkannya dua puluh tahun lalu. Ia, istrinya, Maryam, dan putranya, Muammar, datang ke negeri yang jauh ini untuk memulai kontrak kerjanya dengan sebuah lembaga pemerintah. Ketika itu Muammar baru berusia dua tahun. Adiknya, Fatur, lahir di negeri yang jauh ini dua tahun kemudian, disusul oleh Fayed dua tahun setelah itu. (more…)