Cerpen Eliza Vitri Handayani (Koran Tempo, 23 September 2012)

BEBERAPA bulan sebelum Rizky lulus Sarjana Kedokteran, mahasiswa menyeruak ke jalan-jalan untuk menumbangkan presiden korup yang sudah bertahta tiga puluh dua tahun. Setelah berminggu-minggu demonstrasi massal, presiden itu akhirnya turun. Minggu-minggu berikutnya merekah dengan optimisme seperti tak pernah sebelumnya. Di tengah suasana ini, meneroboslah Julia ke dunia Rizky dengan profil separuh halaman tentang dirinya di koran Minggu, pada halaman yang dikhususkan untuk seniman dan penulis muda.

Foto-foto karya Julia menggarami artikel itu—potret pendemo memamerkan torsonya yang terselubung tato di hadapan barisan polisi; penulis membagikan fotokopi bukunya yang dilarang Orde Baru; lima perempuan menutupi wajah masing-masing dengan tanda ‘Jangan Perkosa, Pribumi Muslim’; sekelompok anak jalanan yang imut memamerkan sepatu baru buah jarahan; tukang sate menyumbangkan dagangannya kepada pendemo; penyair menerbangkan pesawat kertas bertuliskan puisi kebebasan dari atap gedung MPR/DPR; nenek keriput melompat girang dari kursi rodanya mendengar pidato pengunduran diri si presiden.

Rizky menerawang ke tiap potret—wajah-wajah yang sesaat menghentikan kegiatan mereka untuk memancarkan jiwa ke kamera. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin orang-orang yang beberapa bulan sebelum demo menyensor PR anaknya sendiri karena takut menarik perhatian kemudian menunjukkan dada mereka dengan bangga? Dari mana mereka, setelah tiga dekade bungkam dan patuh, tiba-tiba mendapat nyali untuk protes? Orang-orang yang begitu biasa tunduk pada takdir, bagaimana mereka mendapat ilham untuk mengguncang sejarah? Rizky begitu terkesan karena itulah konfirmasi pertama yang diterimanya bahwa seseorang ternyata bisa mengarak perubahan, dan ia takkan lupa bagaimana ia mendengar bisikan Tuhan di sela derap langkah ribuan mahasiswa: “Kau pun bisa mengubah hidupmu.”

Rizky mengacak-acak kamarnya mencari buku tahunan SMA, di sana ditemukannya nomor telepon rumah Julia.

Lalu orangtua Julia memberitahunya nomor ponselnya.

“Halo?” Julia kedengaran baru disambar dari mimpi.

“Hai, ini Rizky!” Bangga dan gugup bergaung dalam suaranya.

“Siapa?”

Ia tersinggung Julia tak ingat padanya, tapi segera ia kendalikan egonya. “Rizky. Teman SMA. Aku pernah datang ke rumahmu waktu kamu diskors.”

Rizky bisa dengar kecurigaan Julia dalam jeda cakap mereka.

“Mau apa?”

“Selamat, Jul, aku baru aja baca artikelnya. Hah, aku udah tahu dari dulu kamu pasti berhasil.”

“Ya ampun, terbit hari ini.”

“Kamu tinggal di mana? Ayo ketemu.”

Saat Rizky pertama melihat seorang berambut panjang datang naik ojek, duduk menyamping, memakai gaun berenda dengan potongan leher yang rendah, ia tak menyangka itu Julia. Bahkan ketika ia membebaskan kepalanya dari helm, Rizky nyaris tak mengenalinya. Ia kelihatan lebih tinggi dan cantik dengan gaun pendek dan selop tingginya. Rambutnya sebahu, jatuh berlapis-lapis membingkai wajah.

Julia yang pilih tempatnya—salah satu tenda gaul yang banyak dibuka artis ketika itu dengan dalih menyediakan lapangan kerja bagi yang kena PHK. Tenda itu ditancapkan di sepetak tanah kosong di kawasan pemukiman dekat tengah kota, mebelnya dari barang-barang bekas dan temuan yang didaur ulang. Semua permukaan meja ditutupi lukisan gaya mural yang kocak dan menyentil. Julia bilang itu salah satu tenda paling kreatif dan ia senang tenda itu tak tersentuh kerusuhan, meskipun seniman pemiliknya termasuk peranakan.

Mata lebarnya mencari dan menemukan Rizky, duduk dekat gerobak yang disulap jadi konter. Julia melenggang ke arahnya tanpa memutus kontak mata, menenteng tas kameranya di satu tangan dan helmnya di tangan lain.

 

KALI pertama Rizky sadar akan keberadaan Julia adalah hari Kartini, SMA kelas 2.

Hari itu, seperti biasa, cewek-cewek bercantik-cantik dengan baju tradisional, tapi Julia merasa cara lebih tepat untuk merayakan emansipasi adalah membolehkan anak perempuan mengekspresikan cita-citanya. Maka Julia muncul terbalut gaun berlumur cat, mengenakan baret, dan menyelipkan kuas di salah satu telinganya. Sebuah kamera bergelayut dari lehernya. Cewek-cewek mencibir, cowok-cowok bersiul, dan guru-guru murka. Rizky justru tertarik.

Karena hari itu Rizky dan teman-temannya yang termasuk ‘geng anak badung’ tertangkap merokok di halaman belakang sekolah, mereka pun dikuliahi bersama Julia di ruang kepala sekolah. Dia satu-satunya cewek di situ. Kemudian mereka dipulangkan. Di gerbang sekolah Julia minta salah seorang mengambil fotonya. Tak lama mereka pun berpose bersama-sama—kadang culun, kadang nakal.

Setelah itu anak-anak geng pun jadi ramah pada Julia. Ia membolehkan mereka menyontek PR-nya sebelum kelas mulai, dan sore hari mereka mengundangnya menonton band mereka latihan. Lama-kelamaan Julia jadi fotografer tak-resmi mereka, satu-satunya cewek yang boleh gaul di dekat mereka tanpa status pacar atau grepean.

Sampai suatu hari Julia menutupi mading sekolah dengan albumnya “Kenakalan Manusia”: guru Sejarah memukul murid dengan sepatu; anak-anak geng minum bir setelah latihan band; sepasang remaja berciuman sementara seorang kawan menarik lengan si cowok ke arah kerumunan remaja yang tawuran; bapak-bapak dan ibu-ibu mengantri untuk beli SDSB; uang lima puluh ribu dengan gambar presiden korup tertancap panah di papan sasaran bundar.

Sekolah menyobek foto-fotonya, orangtuanya dipanggil, dan kameranya disita. Sekolah mengancam mengeluarkannya, hanya beberapa bulan sebelum kelulusan. Tapi kemudian orangtua Julia memberi hibah yang besar pada sekolah, dibayar tunai ke guru-guru dan para pengurus. Sialnya, anak-anak geng juga terimbas masalah sebab ada foto mereka minum dan nonton video porno. Rizky masih ingat ketua geng mendekati Julia, kepalan tangannya berhenti satu senti dari hidungnya, dan berkata, “Sayang lu cewek.”

Rizky datang ke rumah Julia suatu sore ketika ia diskors. Julia sedang mengecat dinding kamarnya dengan pola tetesan darah ketika ia melihat Rizky dari jendela. Julia panik, namun Rizky buru-buru bilang ia cuma ingin ngobrol. Akhirnya mereka duduk di teras depan, merokok sambil mengudap gorengan.

“Kenapa enggak pindah sekolah aja?” tanya Rizky—mulutnya berminyak dan panas gara-gara tahu goreng dan cabai hijau.

“Orangtuaku enggak ingin saudara-saudara dengar anak mereka dikeluarkan,” kata Julia. “Biar. Aku bakal dapat nilai sempurna saat Ebtanas nanti. Guru-guru bakal kasih aku penghargaan. Lihat aja nanti.” Ia mempelajari wajah Rizky dengan matanya yang lebar dan serius.

“Itu cita-citamu, jadi fotografer?”

Dijatuhkannya pandangannya. Ia melipat lengannya di depan dada dan mengusap-usap lengan atasnya. “Fotografi itu mahal, tapi aku suka bagaimana kamera bisa… mengawetkan misteri… sehingga aku bisa terus merenungkannya…. Kalau kamu?” Lagi-lagi ia mengamatinya dengan sungguh-sungguh, tapi ketika Rizky menemui tatapannya, ia segera menunduk.

“Orangtuaku ingin aku jadi dokter. Ibuku dari kecil ingin jadi dokter, tapi ayahnya meninggal waktu ia baru lima belas tahun, dan ia harus kerja untuk bantu biayai abang-abangnya kuliah. Jadi ia kawin sama dokter. Keluarga ayahku dokter turun-temurun.” Rizky terkejut ia bisa membuka dirinya pada seorang gadis—gadis ini—yang jauh berbeda dari tipenya. Ia biasanya suka yang tinggi, berkulit langsat dengan rambut panjang terurai. Julia lumayan tinggi, juga sangat kurus dari pinggang ke atas sehingga kakinya yang berotot terlihat menggembung (Rizky duga ia banyak jalan mengambil foto), kulitnya warna karamel gosong, dan, kecuali pada hari Kartini, Rizky tak pernah melihatnya memakai selain seragam putih-kelabu yang longgar, dan hari itu, kaus oblong dan celana pendek. Tapi ia sepertinya rajin mengurus rambutnya, Rizky perhatikan, memang rambutnya wangi, tebal dan hitam mengilap, namun selalu ia sisir ke depan sehingga menutupi separuh wajahnya.

“Tapi kamu sendiri ingin jadi apa?”

“Eh… apa ya? Aku suka ngarang cerita dan manggung. Aku ketua ekskul teater, tahu kan? Aku juga coba tulis syair untuk lagu band.”

Julia semakin cepat mengusap-usap lengan atasnya. “Aku goblok betul, ya, Riz? Aku terlalu bangga akan karyaku sendiri, kupikir semua orang akan sadar kita semua punya kelemahan…. Ya ampun…. Tolong bilang anak-anak aku minta maaf, oke?”

Tapi Rizky bahkan tak pernah bilang ia mampir menemui Julia. Rizky tahu ia akan dianggap pengkhianat dan dipukuli seandainya ia bilang. Setiap Julia lewat, anak-anak geng melontarinya dengan kata-kata jorok dan, kadang-kadang, kaleng bekas minuman. Beberapa pagi mereka menghadangnya di gerbang sekolah, berjejer padat bagai pagar monster yang meludah dan mengancam. Mereka menghalang-halangi jalannya dan memerosokkannya ketika ia berusaha lewat. Bahkan mereka mungkin merenggut dadanya. Rizky berdiri di ujung barisan menyaksikan semuanya. Kali pertama Julia menangkap matanya, meminta tolong, tapi Rizky hanya menunduk. Kali berikutnya Julia memandangnya dengan kecewa dan sekilas benci, kemudian ia berhenti memandangnya sama sekali.

Tetap saja, Rizky memperhatikannya dari jauh. Sesekali ia mencoba mengirim isyarat rahasia padanya—ketika karya Julia dipilih sebagai Foto Bulan Ini oleh sebuah majalah fotografi, Rizky membalas dengan memenangkan juara pertama pada kategori aktor di Festival Teater SMA se-Jakarta; ketika seorang anak pejabat yang sombong mengatai Julia jalang, Rizky mempreteli mobil anak itu. Julia lulus dengan nilai sempurna untuk Matematika dan Bahasa Inggris, dan Rizky lulus dengan nilai sempurna untuk Bahasa Indonesia dan Sejarah. Guru-guru memberi mereka piagam di depan seisi sekolah.

“Kamu berhasil,” bisiknya pada Julia ketika mereka berbaris turun dari panggung setelah menerima ijazah. “Selamat.”

Rizky tak ingat apakah Julia menjawab.

 

DI JALAN menuju tenda Rizky ragu Julia sudah memaafkannya, tapi ketika melihatnya datang ia merasa Julia ingin membuatnya terkesan.

Mereka berjabat tangan. Julia duduk bersilang lutut dan meletakkan tas kameranya di peti yang beralih fungsi jadi meja mereka.

“Kamu yang pertama kasih selamat,” kata Julia.

“Aku tahu kok kamu pasti berhasil, Jul. Kamu adalah bukti orang-orang seperti kita juga bisa berhasil.”

“Kamu masih berteman dengan anak-anak dari SMA?”

“Enggak,” dustanya.

“Jadi, ‘orang-orang seperti kita’ maksudmu siapa?”

Rizky memandang sekeliling mencari inspirasi. “Maksudku ya… orang-orang seperti kita… ‘Anak-anak bermasalah’ atau apalah.”

Mata Julia berkilat seolah menertawakan Rizky. Ia merogoh ke dalam tasnya dan disebarkannya foto-fotonya di atas meja. “Jadi, gimana menurutmu?” Dicondongkannya badannya.

Rizky tahu jika ia melirik ke bawah ia bisa melihat ke dalam gaunnya. Dipenuhinya undangan itu. Dirasakannya tatapan Julia padanya dan diangkatnya matanya menemui tatapannya. “Aku suka.”

Julia kembali bersandar dan meluruskan kakinya. “Kenapa?”

“Aku suka kau memotret individu. Fotografer lain memotret bangunan terbakar, tentara, mahasiswa berbondong-bondong—mereka jadi seperti figuran dalam film kolosal. Kamu kasih lihat orang-orang di balik semua itu, seolah bilang ke dunia: ini bukan cuma soal ganti presiden, ini kesempatan kita untuk keluar dari sembunyi, untuk pegang kendali atas hidup kita!”

Julia menyilangkan lutut sekali lagi. “Kamu mau lihat lagi?”

“Kamu mau kasih lihat lagi?”

Julia menyeringai, disapunya foto-fotonya dari atas meja dan dimasukkannya ke tas. Diangkatnya tasnya, namun hanya untuk memindahkannya ke kursi di sebelahnya. “Mungkin nanti. Sibuk apa aja kamu selama ini?”

Rizky berpura-pura punggungnya pegal dan sekadar meluruskan posisi duduknya. “Aku sibuk nyiapin lulus-lulusan. Ujian dan skripsi sih udah selesai—lumayanlah IPK-ku nyaris sempurna—tapi ada tugas jaga UGD dan segudang urusan kampus. Siapa suruh jadi ketua angkatan, Riz?”

Mata Julia memancarkan kekaguman yang dipancingnya. “Pasti sibuk banget dong, banyak tanggung jawab.”

“Waktu ambil foto di kampusku, kamu pasti lihat ada panggung terbuka. Itu usulku tuh. Kami bikin mimbar bebas dan pentaskan drama satu babak.”

Semangat mereka membalon seiring bicara betapa mulai sekarang mereka bisa mengutarakan pendapat bagaimanapun kontroversial, seniman tak perlu lagi takut sensor atau diburu, dan topik-topik yang dulu terlarang kini bisa ditelusuri sepuas-puasnya. Tepat saatnya mereka berkarya, sebuah gerbang sarat kemungkinan baru diterjang untuk mereka. Julia bilang ia ingin memamerkan foto-fotonya, menerbitkannya sebagai buku, mencari bantuan dana untuk memotret di seluruh dunia. Mimpi seliar apa pun sepertinya niscaya saja. Julia penuh semangat, Rizky penuh semangat, dan semangat mereka pun berlipat ganda dengan semangat zaman.

Ketika mulai hujan, Rizky menawarkan mengantar Julia pulang. Dibiarkannya Julia berkutat sebentar dengan ponselnya, sebelum akhirnya ia setuju, dengan alasan ojek langganannya tak bisa menjemput karena hujan dan ia tak nyaman naik taksi karena belakangan banyak laporan penjarahan taksi.

Di mobil ponsel Rizky terus berbunyi-bunyi kedatangan SMS.

“Tetap populer, Riz?” tanya Julia.

“Nih, tolong balas. Aku sudah kehabisan akal bulus.” Dilontarkannya ponselnya pada Julia.

Julia melihat pesan-pesan dari Tika, Nia, Vera…. “Lagi dingin-dingin begini, enaknya yang hangat-hangat. Ada ide?” tulis Puti.

“Kamu, Jul, ada pacar?”

“Aku? Pacar?” Ia menyergah. “Tapi kalau sekadar cowok, ya….”

Rizky langsung tergelak. “Tuh kan, aku udah tahu.”

“Tahu apa?”

Ia angkat bahu. “Kalau kamu begitu.”

“Begitu apa? Nakal? Murahan?”

“Bukan! Eh, maksudku, eh, enggak menganggap harga diri tergantung…. Eh, sori, bukan maksudku—”

“Santai. Aku cuma bercanda.”

“Berat enggak memutuskan akan begitu?”

“Maksudmu pertama kali?”

Kali itu Rizky merasa dungu. “Eh, aku bukan ingin usil, tapi… aku kenal satu cewek dan dia bilang setelah itu dia ngerasa mau mati.”

“Mungkin aku memang ngerasa dosa sedikit,” katanya, “Waktu itu aku begitu marah, aku ingin putus hubungan dengan masyarakat, jadi kupikir itulah caranya.” Julia diam beberapa saat, pandangannya terserap ke dalam dirinya sendiri. “Aku merasa agak limbung sesudahnya, seolah tiba-tiba aku sendirian…. Tapi itu kemauanku kok.”

Segala risih dan kikuk yang dirasakan Rizky pun lenyap. Di luar hujan tumpah dengan derasnya, seluruh dunia seolah meleleh di sekeliling mereka, dan ia merasa nyaman dan hangat di mobil bersamanya, terlindung dari guyur kelabu di luar.

“Cewek yang kusebut tadi, dia kali pertamaku. Aku mabuk banget waktu itu, dan setelahnya aku cuma bengong menatap langit-langit. Cewek itu langsung tidur. Menurut semua yang diajarin kepadaku selama hidup, perbuatanku itu salah. Kepalaku mumet banget. Pas cewek itu bangun, dia lihat aku bengong kayak orang bego, terus kayak orang yang lebih bego lagi, aku bilang aja sama dia itu kali pertamaku. Untungnya dia bilang enggak terasa kalau aku baru pertama kali, jadi aku agak senang sedikit. Terus dia cerita soal kali pertamanya, dia ngerasa semua kesempatannya untuk berkeluarga amblas sudah, dan dia enggak bisa keluar dari tempat tidur selama seminggu. Tapi suatu hari dia bangun dan sadar, dia enggak harus hidup ngikutin aturan orang lain lagi. Dia bisa cari pasangan yang bisa menerima dia apa adanya. Terus, dia pakai baju dan pergi. Aku enggak pernah ketemu dia lagi, tapi awas kalau ada yang berani bilang pertemuan kita enggak bermakna!”

“Aku bilang trims pada cowokku kali pertama.”

“Gila! Dia tanya balik, enggak, trims buat apa? Terus kamu mau bilang apa?”

Mereka memasuki halaman rumah kos Julia—bangunan bertingkat dua dengan cat hijau pecah-pecah dan balkon separuh bulan di lantai dua. Rizky penasaran akankah Julia mengundangnya masuk.

Tapi Julia cuma bilang trims dan lari ke dalam sambil mendekap tas kameranya erat-erat. Rizky sadar ia kecewa. Kemudian ia lihat helm Julia bergoyang-goyang di kursi belakang bagai kepala tertawa.

Sambil menggeleng-geleng Rizky buru-buru menyetir pergi. Ketika Julia menelepon ia akan minta tebusan untuk helmnya: kenalkan dia pada orang-orang dari sanggar teater. Ternyata benar, pikir Rizky girang, mulai saat ini hidupnya—segalanya—akan berubah. (*)

 

 

Eliza Vitri Handayani, saat ini tinggal di Jakarta. Sedang mengupayakan sebuah pusat penerjemahan sastra di Indonesia.

.

.

Advertisements