Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 23 September 2012)

ENTAH sejak kapan aku suka main ke rumah tetangga. Aku hanya ingat, waktu kecil aku suka melamun di mulut jendela, memandang rumah-rumah tetanggaku yang asri dengan anak-anak sebayaku yang bermain di halaman.

Rumahku sangat nyaman. Sepanjang bisa mengingat, rumahku selalu terbuka, tetapi tak ada anak yang bermain di situ. Mungkin karena aku juga tak pernah bermain ke rumah mereka. Ibuku tak pernah melarang, tetapi aku enggan. Pintu tak pernah dikunci tetapi kakiku tertahan di batas pagar.

Sampai pada suatu petang sehabis hujan pertama pertengahan bulan September, tanpa sadar, mataku bertumbukan dengan bunga kacapiring yang kelopaknya bertumpuk di halaman tetangga. Putih merekah. Wanginya bersenyawa dengan bau tanah menggambarkan aroma memabukkan, yang sampai sekarang tak bisa aku menjabarkannya.

Malamnya aku bermimpi melihat seribu bidadari berjalan di atas awan, bermandi cahaya di antara kembang setaman dengan aroma menjenjam, yang tertinggal di rongga hidung ketika aku terbangun. Juga sisa alunan Gending Asmarandana….

Mimpi aneh itu tak berhenti.

Suatu hari, aku kembali bermimpi melihat diriku seusia balita, berbantal awan, di antara sosok-sosok bercahaya, yang tingginya menyentuh horizon lazuardi. Aku terpesona. Beberapa wajah itu sangat kukenali. Aku ingin berteriak memanggilnya, tetapi mulutku terkunci.

Pemandangan itu perlahan memudar sebelum lenyap di dalam kabut, dan kutemukan diriku di antara anak-anak sebayaku. Suasananya sangat nyaman, seperti pagi yang panjang. Masih terasa tetes embun, juga sisa kabut, mungkin kabut yang sama yang membawa pemandangan menakjubkan itu raib entah ke mana. Aku mengenal anak-anak itu dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sebatas bertegur sapa.

Ketika terjaga, tiba-tiba kudengar suara memanggil, “May, May….”

Tak kutemukan dari mana suara itu datang, tetapi suara itu terus mengapung di udara, bergerak dari dalam rumah, melintasi halaman, ke luar, lalu melayang masuk ke halaman rumah tetangga. Aku yang terpesona kelembutan suara itu tak menyadari kalau kakiku sudah melangkah ke luar pagar dan memasuki halaman rumah tetangga.

Suara itu pelan-pelan raib. Aku terpaku di tempat yang asing, meski letaknya hanya selangkah dari rumahku. Dari dalam rumah aku mendengar suara yang sangat lembut, “Masuklah….”

***

Dengan ragu aku melangkah. Pintu tak terkunci. Begitu masuk, aku disambut kehangatan sapa dan suasana. Penghuninya sangat ramah. Kami berbincang banyak hal dengan perasaan ringan. Inderaku mengirim gelombang pertanda penerimaan. Aku merasa betah. Lalu kuputuskan untuk tinggal.

Tapi aku ini suka sekali tidur. Di rumah aku dikenal sebagai si penidur. Ketukan atau cara terkeras apa pun yang pernah ibuku lakukan, tak membuatku terjaga. Aku malas membuka mata, atau paling-paling hanya sejenak, lalu tidur lagi. Mula-mula, istanaku adalah kamar tidurku, tapi kemudian aku bisa tidur di mana saja. Mula-mula aku tidur sore, lama-lama aku tidur kapan saja, bahkan bisa sepanjang hari.

Hobiku yang tak terpuji itu tak jauh dari cerita tentang seorang anak laki-laki yang sulit dibangunkan untuk sekolah. Ia tak mau sekolah, karena, “Bosan. Teman-teman di sekolah suka malak. Aku mau tidur saja.”

Sang ayah menghardik, “Tapi kau harus bangun. Ke sekolah itu tugas. Umurmu sudah lebih 40 tahun, dan kau kepala sekolahnya!” [1]

Seperti itulah aku….

Bedanya, ibuku tak pernah menghardikku. Mula-mula ibu masih menegurku. Lama-lama, ia berhenti. Ia bahkan membiarkan aku tidur di mana pun dan kapan pun aku bangun. Ia masih sering menggumam, “Bangun”, lebih seperti bicara pada diri sendiri.

Kasihan ibuku….

Tapi entah mengapa, hatiku tak tersentuh juga. Kegemaranku tidur mengalahkan cintaku pada ibuku. Ia hanya tersenyum ketika aku dengan langkah tertatih-tatih, dengan mata setengah terpejam, menyapanya di dapur sedang memasak, di taman belakang sedang menyiram bunga, di ruang tengah sedang merajut. Di mana pun….

Di rumah tetanggaku, hal yang sama terjadi. Bedanya, aku lebih tahu diri sehingga lumayan tertib, tidur hanya di kamar tidur. Pada awalnya, ibu pemilik rumah itu membiarkan aku tidur sore dan bangun jam berapa pun. Kadang sampai siang, kadang sore. Mimpiku macam-macam, kadang mimpi itu melompat jadi kenyataan. Kadang kenyataan melompat jadi mimpi. Keduanya sering bertukar tempat, sampai aku tak bisa membedakannya.

Makin lama aku makin malas bangun. Aku bahkan lupa makan dan minum, seakan-akan seluruh kebutuhan hidup terpenuhi dari tidurku.

Sejak hari pertama sebenarnya aku sudah mendengar ketukan halus di tengah malam, diikuti suara lembut, “Bangun!”

Dengan malas kujawab, “Terima kasih”, tetapi lalu tidur lagi. Begitu seterusnya. Pada hari kesembilan, ketukan itu tak berhenti di depan pintu, tetapi memasuki ruang tidurku, diikuti suara lembut, tetapi terdengar seperti perintah.

“Bangun!”

Suara itu terus bergema di ruangan, sampai mataku tak bisa lagi terpicing dan aku betul-betul terjaga. Kubuka pintu. Tak kutemukan siapa pun, tetapi kubaui aroma kembang yang kutemui dalam mimpi masa kecilku. Aku bergidik, dan ingin lari ke dalam kamar, menutup mukaku dengan bantal. Tapi kakiku seperti dipaku di tanah. Kurasakan dingin yang menusuk, mengantar suasana entah….

Sejak kejadian aneh itu malam itu, aku tak perlu lagi dibangunkan. Aku mudah sekali terjaga, bahkan ketika mataku terpejam.

Setelah itu banyak hal aneh yang kulihat. Kadang kulihat ular yang bergerak cepat menuju lubang gelap. Matanya, meski tak bisa melihat dengan baik, tahu di mana letak lubang itu. Kali lain kulihat burung yang tak jenak diam, mau segera terbang. Kali lain lagi aku melihat anjing yang buru-buru masuk dapur. Kelaparan dia. Tak lama kemudian, kulihat anjing hutan, kulitnya hitam pekat, matanya terang menyala, moncongnya terus terbuka, mau makan apa saja, sekali pun bangkai tikus yang sudah keluar belatungnya.

Entah dari mana asalnya, suatu malam aku melihat buaya yang bergerak-gerak menuju rawa di belakang rumah. Mataku tak bisa lagi menangkapnya, karena ia segera menenggelamkan tubuhnya. Kepanasan rupanya. Tapi yang paling sering datang adalah monyet yang berlompatan ke sana kemari. Liar sekali. [2]

***

Suatu hari, entah kenapa, aku kangen pulang. Aku berpamitan. Ibu pemilik rumah memelukku. Dengan lembut ia berpesan, “Kau boleh kembali kapan saja. Ini rumahmu juga. Ibu mencintaimu….”

Mataku berkaca-kaca.

Ibuku di rumah menyambutku dengan senyum yang teduh. Mataku menyapu seluruh rumah. Tak ada yang berubah, tapi aku merasakan semua berubah. Tak ada barang baru, tetapi aku melihat barang-barang lama itu berkilauan. Tanaman pohon dan perdu juga tak berubah, tetapi halaman rumahku terasa sangat asri.

“Kenapa kau, Nak?” tanya ibuku.

Ah, rupanya ia mengamatiku.

“Kau seperti tak pernah melihat rumahmu….”

Ketika kutanya padanya apa yang ia lakukan selama aku pergi, ibu menggelengkan kepala. Ketika kutanya lagi apakah ibu meminta orang membersihkan rumah untuk menyambutku pulang, ia kembali menggeleng.

“Rumah ini tak pernah berubah, May. Dari dulu seperti ini. Kau kebanyakan tidur, jadi tak melihat apa-apa.”

Mungkin ibuku heran karena sekarang aku tak lagi penidur. Tapi ia tak pernah bertanya. Ia hanya tersenyum….

***

Suatu siang, kudengar ketukan di pintu. Di luar kulihat seraut wajah yang sangat kukenal, tetapi tak bisa kuingat kapan kita pernah berjumpa. Ia tersenyum hangat, dan tanpa kata-kata menggamitku ke luar. Ia mengajakku ke satu rumah, tak jauh dari rumahku. Aku sering melewatinya, tetapi tak pernah singgah.

Ia mengajakku masuk, dan mempersilakanku duduk. Dengan segera aku menyukai tata letak rumah ini. Rumah itu terang, pintu dan jendelanya besar-besar dan terbuka lebar. Plafonnya tinggi. Kudengar sayup-sayup alunan Gending Asmarandana seperti dalam mimpi masa kecilku. Aku segera menyukai suasana ini. Temanku tak perlu dua kali menawariku untuk mempersilakan aku tinggal.

Suatu sore saat minum teh bersamanya, kukatakan, “Semua orang di sini sangat baik padaku. Terima kasih sudah mengizinkan aku tinggal.”

Jawabnya tak terduga, “Kau sedang menemui bagian terbaik dirimu.”

Aku tersentak. Perlahan mulai kulihat gambar bergerak dari banyak peristiwa yang telah lewat….

Sejak itu, rumahku tak lagi sepi. Teman-teman datang dan pergi, menginap lama, atau sekadar berkunjung.

Begitu pun aku.

Setelah itu aku terbiasa pergi-pulang, dan memasuki rumah-rumah yang dibuka untuk kukunjungi atau menginap. Begitu seringnya, sampai aku tak bisa lagi membedakan rumahku dan yang lain. Hanya model rumah yang berbeda. Itu saja.

Tapi jalanan pergi dan pulang tak selalu mulus. Beberapa kali kakiku terantuk batu dan berdarah. Pernah sekali tubuhku dibanting angin yang tiba-tiba menerjang dari depan. Tak jarang aku terkilir oleh sebab tak jelas. Padahal kupikir aku cukup hati-hati.

Suatu hari, ibu sepuh penghuni rumah yang jauh di ujung, bilang, jalanan akan selalu demikian. Itu sebabnya, jarang orang lalu lalang. Tapi ia mengingatkan, “Kau punya dua saudara sejiwa yang jarang kausapa, empat penjaga satu sukma-jiwa yang tak pernah kau ajak jalan bersama, dan Mahkota Cahaya yang masih kau biarkan terbenam di dalam kotoran yang menumpuk dari enam binatang yang kau lihat pada suatu malam.”

***

Aku tersentak.

Kuceritakan pengalaman itu pada ibuku di rumah. Dia lalu membuatkan bubur merah dan bubur putih. Keduanya ditaruh berdampingan pada satu takir [3] yang diletakkan di atas nampan bersama gelas berisi air dengan kembang mawar merah-putih dan sekuncup kantil. Sejak kecil aku selalu melihat ibuku membuat sesaji seperti itu pada hari-hari tertentu, seperti hari wetonku.

Kata ibuku, “Tubuh yang terlihat memang satu, tetapi sebenarnya ada dua. Dua dalam satu, satu dalam dua. Tidak satu. Tidak dua. Seperti laut dengan gelombangnya.”

Ah ibuku selalu membuatku bingung. Tetapi sejak itu, hari-hariku menjadi sangat berwarna. Aku seperti anak kecil yang mendapatkan mainannya kembali. Aku asyik membongkar, menyusun, membingkai, bermain bentuk, warna, angka, dan meniupkan rasa.

Permainan itu membuatku membaca daun yang luruh menyentuhku, kupu-kupu yang hinggap di kelambu, bulu-bulu halus yang jatuh di waktu-waktu antara, bau dan aroma yang berkelebat, jaring laba-laba yang liat, sarang lebah di sudut kusen rumah, kicau dan lengking burung, derit serangga, kokok ayam pada waktu yang tak biasa, lolong anjing dan raung kucing, dan banyak lagi, dan banyak lagi.

Lalu, aku mulai bisa melihat jejak angin, hujan, awan, tanah, udara, api, kayu dan manusia lain dalam sekepal nasi dan seteguk air. Aku belajar melihat yang penuh dalam gelas yang kosong, yang kosong di dalam gelas yang penuh.

Di ruang yang paling lapang di dalam rumahku, aku merasakan semua di dalam semua. (*)

 

 

Jakarta, Agustus 2012

 

Keterangan:

[1] Dari ilustrasi Anthony de Mello dalam Awareness

[2] Diinspirasi kisah Dhamma

[3] Wadah segi empat terbuat dari daun pisang

.

.

Advertisements