Telepon dari Makkah


Cerpen Teguh Afandi (Republika, 16 September 2012)

MENJELANG keberangkatan haji kloter ketiga, kami sekeluarga boyongan ke Sukoharjo. Ke rumah ibuku, tempat kedua orang tuaku menghabiskan masa pensiun dari guru. Tahun ini jadwal keberangkatan haji mereka, setelah hampir lima tahun menunggu giliran. Maklum semua orang kaya di Indonesia, termasuk Sukoharjo ingin berangkat haji sebelum mati.

Aku sengaja mengambil cuti dari kantor selama dua hari, Kamis-Jumat. Aku masih bisa tiga hari di rumah Ibu, sebelum Ahad mereka berangkat. Setelah satu setengah jam naik pesawat, kami turun di Adi Sumarmo dan dijemput adik iparku menuju Sukoharjo. Ibu meminta kami ikut mengantar sampai bandara, sebelum terpisah selama kurang lebih empat puluh hari.

“Mas, bagaimana perjalannya?” tanya adik iparku yang sehari-hari bekerja sebagai Guru BK di SMP 1 Sukoharjo.

“Alhamdulillah, cuma Sekar dan Bunga yang rewel minta roti asli Amerika. Padahal belum halal, MUI.” Aku melihat Sekar dan Bunga, dua anak kembarku, cemberut sejak boarding di Soekarno-Hatta. Istriku mengelus-elus kepalanya, biar tidak lagi menekuk muka.

Pelajaran halal dan haram, kudapatkan dari Ibu. Ibu sangat hati-hati menjaga makanan. Menurut ibu, makanan adalah sumber kemaksiatan. Sing ati-ati ngonmu mangan, weteng kuwi jalarane mata peteng. Hati-hati menjaga makan, karena makanan salah awal mula kejahatan. Sejak kecil hingga sekarang, Ibu selalu menasihati agar jauh-jauh dari makanan-makanan yang tidak baik. Dalam kamus Ibu baik di sini adalah halal, sehat dan tidak berlebihan.

Pelajaran itu yang kutanamkan kepada Sekar dan Bunga, meski kuketahui makanan cepat saji menyerbu mereka di sekolah, di pusat perbelanjaan di hari-hari mereka. Istriku diam saja, menyaksikan jejeran pertokoan di pertigaan Kalioso setelah keluar dari Adi Sumarmo.

***

“Ibu, kalau nanti sudah sukses. Aku bakal berangkatkan ibu dan bapak ke Makkah.”

Aku bernazar demikian sebelum kuliah Teknik Sipil di Jakarta. Aku mengatakannya dalam ketidaktahuanku berapa harga berangkat haji kala itu. Dalam hati kubersumpah. Buat apa kaya banyak harta, kalau memberangkatkan haji orang tua belum terlaksana.

“Amin, yo Le….” Ibuku memeluk dan mengusap air mata yang tanpa disadari sudah meleleh hingga pipi. “Jangan lupa sama keluargamu dan mertuamu juga nanti. Jangan pilih kasih, mereka juga akan jadi keluargamu. Kalau bisa disengkuyung, diangkat bareng-bareng semuanya. Urun rembug bebarengan.”

Baru enam tahun lalu, ketika rumah sudah selesai dibangun. Aku mendaftarkan ibu, bapak. Tak lupa istri, anak dan mertua. Karena kabarnya, meski daftar sekarang belum tentu tahun depan berangkat. Benar. Baru tahun baru kedua orang tuaku yang berangkat. Mungkin dua tahun lagi mertua dan keluarga kecilku mendapatkan gilirannya.

Sampai di pelataran rumah, Ibu menyambutku hangat. Bapak hanya duduk di emperan sambil membaca buku. Kacamatanya bergantung di hidung. Dari Bapaklah, aku kecil bercita-cita memakai kacamata. Mereka senang, anak bungsunya datang jauh-jauh dari Jakarta. Adik perempuanku menyiapkan makan siang. Nasi dari beras Rojolele Delanggu, wader goreng, dan tumis daun pepaya kegemaranku. Sekar dan Bunga masih saja cemberut, padahal sepupunya sudah berkali-kali mengajak menangkap kinjeng, capung di pelataran yang di penuhi kembang kenikir. Istri mendiamkan saja. Sudah dikodenya aku, agar diam. Kalau capai mereka berdua pasti akan tidur, dan lupa. Anak-anak memang perlu penanganan khusus.

“Sejak seminggu, bapakmu mengadakan pengajian. Biar berangkat hajinya lancar, Le.” Ibu masih saja mengambilkan nasi untuk kita semua. Tidak mau sedikitpun dibantu istri atau adikku. Piring berisi nasi disorongkan ke istriku, baru istriku mengambilkan sayur dan lauk yang sudah lama tidak kutemukan di Jakarta.

“Bapak, sudah hapal manasiknya kan?” aku bertanya demikian, karena bapak tidak pandai membaca tulisan arab seperti ibu.

“Haji Karim, kemarin meng-Indonesiakan-nya. Dituliskannya Bapak manasik itu dengan tulisan latin. Alhamdulillah, sudah mulai hapal. Kalau lupa ya, nanti dibuka lagi catatannya.” Bapak menjawab sambil menggiring sendok nasi ke dalam mulut.

Istriku memberi kode, untuk menanyakan bekal dan barang bawaan. Istriku tidak mau dinilai sebagai menantu yang tidak perhatian, apalagi dinilai menantu pelit.

“Bekal sudah lengkap, Bu?” aku mengamati ibu dengan kerudung katun warna hitam dan daster batik longgar.

“Sudah. Adikmu kemarin yang beli. Gamis dan bekal-bekal sesuai instruksi Haji Karim kemarin.”

“Paling ibu butuh tambahan uang saku lagi, Mas.” Adikku menyeletuk, tentu maksudnya bukan meneror. Tetapi merenyahkan pembicaraan siang itu. Sebulan yang lalu sudah kepersiapkan sekitar lima belas juta untuk uang saku ibu bapak ke Arab. Besok atau sore nanti ke bank untuk tukar riyal dan transfer.

“Itu sudah disiapkan.” Semua justru tertawa. Ibu dan Bapak tersenyum bangga, kedua anak dan menantunya akur. Di usia senja mereka, masih bisa kuhadiahi tiket dan uang saku ke Makkah. Meskipun itu tidak akan bisa menebus semua kebaikan mereka berdua.

Sebelum berangkat, aku mengikuti pengajian di rumah yang dipimpin Haji Karim. Jamaah mendoakan agar selama ibadah lancar dan pulang menjadi haji mabrur. Teman-teman guru ibu dan bapak, mantan muridnya berdatangan memberikan doa dan tentu menitip doa. Seperti kebiasaan, mereka menitip doa agar segera dipanggil Allah untuk ke Makkah.

Masih sempat aku mengajak istri dan kedua kembarku untuk makan tengkleng kambing di daerah Keraton Solo, setelah menukarkan rupiah ke riyal dan langsung kutransfer ke rekening ibu. Adik iparku meminjamkan mobil APV warna hitam untuk kubawa. Sekar dan Bunga sudah tidak cemberut seperti kemarin. Mereka senang sekali mencicipi serabi Notosuman dengan toping keju. Dalam hati, “Mendingan serabi, sudah murah dan pasti halal. Nggak seperti roti Amerika.”

Dan tiba hari Ahad.

Satu bus, satu mobil APV dan mobil kijang sewaan mengantarkan ibu dan bapak ke bandara. APV dan kijang berisi kami sekeluarga dan keluarga besan. Sedang bus disediakan untuk kerabat, tetangga dan kawan ibu-bapak yang ingin mengantar. Di bandara rombongan kami langsung berbaur dengan orang-orang yang sibuk mengantar. Kupeluk Ibu dan Bapak sebelum mereka akan bergabung dengan semua rombongan.

Le, jaga keluargamu dan adikmu. Anak-anakmu sudah besar, kamu harus lebih hati-hati menghidupi keluargamu.”

“Iya Bu.”

“Kalau sempat pulang ke rumah, bantu adikmu mengurus pengajian di rumah.” Giliran Bapak memelukku.

“Semoga bisa khusyuk dan hajinya mabrur.”

“Amin.” Kami semua seirama mengaminkan.

Adikku, menantu-menantunya dan semua cucu, besan, kerabat dan tetangga dipeluk dan disalami satu-satu. Doa Haji Karim menutup keberangkatan. Meski ada air mata, tapi kuyakin air mata itu adalah air mata bahagia dan buncah bangga.

Aku sekeluarga berencana terbang kembali ke Jakarta malamnya. Adikku sudah membungkuskan dalam dua kardus bekas mie instan oleh-oleh khas buatan Sukoharjo. Rempeyek wader, keripik pisang raja, dan serundeng kelapa kegemaran istriku. Flight kami jam delapan. Semoga tidak ada delay.

***

Kamis pukul sebelas, Bapak menelepon langsung dari Makkah.

Le, ibumu sakit panas. Sejak habis isya, ibumu pingsan belum siuman. Panasnya sampai 39 derajat.”

Deg. Panas demikian sudah sangat mengkhawatirkan. Aku langsung teringat penyakit gula ibu yang setahun lalu pernah kambuh. Sedikit kacau pikiranku. Setiap jam aku menelepon bapak dan adikku di Sukoharjo. Aku selalu ingin mendapatkan kabar langsung dari Makkah. Kamis sore aku sendirian terbang ke Sukoharjo, istriku menemani dua kembar yang sedang ujian tengah semester.

Adikku mengadakan doa bersama di rumah, agar Ibu segera sadar dari siuman dan segera menyelesaikan mimpinya ibadah haji. Adikku terisak-isak melantunkan surat yasin dan zikir. Di sepertiga malamnya, serumah mendirikan salat hajat. Kami bermunajat agar Ibu segera sembuh dan pulang ke Indonesia dalam kondisi sehat. Doa di sepertiga malam jumat langsung di dengar Allah. Makbulan.

Hari Jumat pukul 12 malam, Bapak menelepon.

Alhamdulillah, ibumu siuman. Panasnya juga sudah normal. Dicek dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.”

Kami semua bernapas lega.

Le, ibumu mau ngomong sama kamu.”

Handphone sengaja ku-setting loudspeaker.

Assalamu’alaykum, Bu.”

Wa’alaykumussalam,” suara Ibu sedikit serak.

“Sudah sehat kan Bu? Kami semua di tanah air khawatir.”

Alhamdulillah baik.”

Ibu terdiam, sepertinya ada yang ingin disampaikan.

Le, ibu mau cerita. Tapi janji jangan ditertawakan, apalagi dianggap ngawur.”

“Nggak, Bu.” Aku mengiyakan, karena di tanah suci semua hal bisa terjadi.

“Selama pingsan ibu bermimpi. Ibu bermimpi berada di daerah yang sejuk sekali. Sejuknya melebihi AC di rumahmu, Le. Lapangnya hijau, buah-buahan ranum dan wangi aromanya. Ibu sempat memetik matoa, lebih manis ketimbang milik kita di belakang rumah. Tapi mimpi itu benar-benar seperti nyata. Ibu bisa merasakan hawa sejuknya, rasa manis matoanya. Bahkan ibu sempat duduk di kursi yang empuknya benar-benar empuk.”

Aku terdiam. Seumur hidup ibu adalah orang yang paling jujur. Aku teringat kisah-kisah orang salih yang diperlihatkan surga di dunia. Serumah yang ikut mendengarkan terisak haru menahan air mata.

“Tapi ada yang ibu bingungkan.”

“Apa, Bu?”

“Ibu bingung. Ibu tidak melihatmu di sana. Bapakmu, istrimu, adikmu dan iparmu. Bahkan cucu-cucuku ada di sana. Tapi kamu tidak ada. Ibu bertanya kepada Allah, kok nggak ada kamu. Belum ada jawaban, Ibu sudah siuman. Ibu masih bingung sampai sekarang, Le.”

“Masa Bu? Ibu belum sempat melihat mungkin.”

“Tidak ibu yakin. Ibu mau tanya, uang untuk berangkat haji ini halal seratus persen, kan?” kudengar Ibu sempat terisak menangis.

Semua mata di rumah kini terbelalak heran. Aku meneteskan air mata, kacamataku berembun karenanya. Aku teringat dua tahun lalu, aku menerima hadiah berupa emas batangan dari sebuah proyek pembangunan gedung olahraga di Palembang. Aku mengelus dada, dan telepon dari Ibu sudah putus di tutup. (*)

 

 

Agustus, 2012

Penulis bermukim di Jogja, lahir 26 Juli 1990 di Blora.

Catatan:

Judul diadopsi dari judul cerpen Seno Gumira Ajidarma “Telepon dari Aceh”.

.

.

Advertisements

13 Responses

  1. Subhanallah…..lebih dari bagus!

    Like

  2. wow, keren banget. alurnya sih biasa aja, tapi ujungnya itu loh, mak jleb-jleb T.T

    Like

  3. orang yang hati-hati akan halal haram, ternyata masih kena juga, apalagi yang ga peduli halal haram, ckckckck..
    cerpen yang baik..!

    Like

  4. Hwehehe… di awalnya biasa banget. Endingnya kena dah! Cakep 🙂

    Like

  5. Benar benar cerpen sederhana,tapi begitu menusuk di ujungnya..good!

    Like

  6. barang kali itulah yang dapat disampaikan, demi ketenangan

    Like

  7. Terimakasih komentar dan apresiasinya, masih belajar menulis yang baik

    Like

  8. Endingnya bikin galau. T____T

    Like

  9. Sederhana, konfliknya pun tidak ruwet tapi sama sekali tidak mengurangi keindahan ceritanya. sangat lugas dan menarik.

    Like

  10. shock, ga ketebak

    Like

  11. Keren endingnya…

    Like

  12. nice 🙂

    Like

  13. Endingnya sgt mengagetkan.good job

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: