Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 9 September 2012)

MENATAP lelaki tua itu mencecap kopi di teras rumah dan menikmati kicau kutilang dalam sangkar, hati Jalil dijalari kedengkian. Menjelang matahari rekah, lelaki tua itu duduk di teras, meneguk harum kopi mengepul, dan burung kutilangnya gencar berkicau. Tatapan Jalil tampak murka. Dalam hati ia berhasrat mencuri burung kutilang. Ia ingin meretas hati lelaki tua itu.

Lelaki tua itu, pendatang baru di kampung pinggir kota ini, enggan meluangkan waktu berbincang-bincang dengan tetangga semenjak membeli dan menempati rumahnya. Lelaki tua dan istrinya itu mengurung diri dalam rumah, tak memedulikan tetangga. Mereka asyik dengan diri mereka sendiri, berdua, tak seorang pun pernah berkunjung. Tak tampak berdatangan anak-anak dan cucu.

Menjelang dini hari, masih berembun dan sunyi, Jalil dengan tubuh tambun memberat, mengendap-endap, mata penuh selidik. Ia memasuki pelataran rumah lelaki tua. Rumah itu sepi, dan burung kutilang belum lagi berkicau. Udara dingin berembun, saat kaki Jalil menapak di pelataran rumah lelaki tua. Tubuh gemetar, berdiri di bawah sangkar burung kutilang. Ingin ia segera menggenggam burung itu. Membungkam paruhnya, dan buru-buru meninggalkan pelataran rumah lelaki tua. Ia ingin segera menghilang, menyusup ke pasar burung. Menjual burung kutilang itu. Hasratnya menggebu: ingin melumat hati lelaki tua itu dengan rasa kehilangan.

Tangan Jalil bergetar. Berdiri di bawah sangkar burung kutilang, ia berjingkat, pelan-pelan membuka pintunya. Menyurukkan tangan ke dalam sangkar, menerkam burung, menyeretnya keluar. Buru-buru ia kabur. Burung itu tergenggam di tangannya, beberapa helai bulu rontok. Ia menjauhi teras rumah lelaki tua, tanpa jejak, tanpa suara. Tubuhnya bergeletar—dan sungguh aneh, ia merasakan ketakutan mencuri—yang selama ini tak pernah dialaminya.

Bergegas, Jalil menyusuri gang-gang kecil, menyingikir dari rumah lelaki tua dan perkampungannya. Terasa sepasang mata lelaki tua yang lembut terus menguntit ke mana pun ia pergi. Tiap langkah kaki serasa diburu tubuh yang berkelebat mendekatinya. Kadang ia tergeragap kaget, berdebar-debar, dan dijalari rasa takut. Tubuhnya yang tambun seperti susut dan setipis kabut pagi. Gampang terguncang angin, seringan bulu-bulu burung melayang.

***

TERGERAGAP bersua lelaki tua, Jalil menenangkan kegugupan hatinya. Meredakan degup jantungnya. Menjelang rekah fajar, lelaki tua itu muncul dengan secangkir kopi, sepiring pisang goreng hangat, dan kesunyian teras rumahnya. Sangkar itu kosong, pintunya dibiarkan menganga, dan burung kutilang tak bertengger di dalamnya. Tapi alangkah tenang wajah lelaki tua itu. Tak menampakkan kesedihan. Tak memancarkan kegundahan. Jalil penasaran. Lelaki tua itu duduk di teras, mencecap kopi, menggigit pisang goreng, merokok, dan membayang ketenteraman perangainya saat menghangat cahaya fajar.

Jalil tak percaya, ketika lelaki tua itu tersenyum ke arahnya. Apa lelaki tua itu mengetahui bila aku mencuri burung kutilangnya? pikirnya. Menjelang siang lelaki tua itu—sebagaimana hari-hari sebelumnya—meninggalkan rumah. Mungkin untuk beberapa hari pergi jauh. Jalil memperhatikan kepergian lelaki tua itu dengan perasaan dongkol. Ia ingin melihat wajah lelaki tua, si pendatang baru di kampungnya itu, berperangai sedih, murung, dan mengutuki pencuri burung kutilangnya. Tapi lelaki tua itu seperti tak terjadi apa pun. Begitu saja meninggalkan rumah, menyusuri lorong gang dengan bibir tak berhenti mengepulkan asap rokok.

Terasa sepi dan kosong teras rumah lelaki tua itu. Tak terdengar kicau burung kutilang. Tinggal sangkar kosong yang sesekali terayun angin. Tak tampak lelaki tua termenung menghadapi meja marmer dengan harum kopi dan hangat pisang goreng. Istri lelaki tua hampir-hampir tak pernah menampakkan diri di teras rumah.

Jalil merasakan kehampaan, jiwa yang pedih dan bahkan dongkol, melihat kesunyian teras rumah lelaki tua. Ia ingin melihat lelaki tua itu menderita, murung, dan berang. Sama seperti kesedihannya tiap kali memasuki rumah tanpa suara anak-anak. Yang dilihat dan ditemuinya cuma istri yang berlemak, kian bergelambir, dan bibirnya bawel menghujat.

Kicau burung kutilang kembali didengar Jalil menjelang dini hari setelah beberapa hari kepergian lelaki tua. Kicau burung itu lebih menggugah hasratnya untuk mengendap-endap ke teras rumah lelaki tua yang berlapis debu. Berjingkat membuka pintu sangkar, menggenggam burung kutilang, tanpa suara, tanpa meronta—kecuali bulu-bulu yang rontok.

Tercium lagi harum kopi dan sepiring pisang goreng di meja marmer yang berdebu di teras rumah lelaki tua. Duduk dengan wajah tenang, merokok, sesekali meneguk kopi, lelaki tua itu menikmati kicau burung kutilang. Tak tersirat segurat pun perasaan kecewa pada raut wajahnya.

Senyum lelaki tua itu rekah, segar, begitu melihat Jalil menghambur ke jalan. Lelaki tua itu seperti sudah paham, bila Jalil akan segera mendekati teras rumahnya. Tangannya lembut melambai, mengundang Jalil minum kopi. Jalil berdebar, dengan tubuh mengejang, menahan rasa dengki. Ia duduk canggung di kursi yang berseberangan dengan lelaki tua itu.

Secangkir kopi panas mengepul disuguhkan. Gerakan tangan lelaki tua yang mulai keriput, mengangsurkan secangkir kopi ke depan Jalil, sungguh sangat tenang. Tak sedikit pun digerakkan kemarahan terpendam. Tak curiga.

Lelaki tua itu menawarkan rokok. Tersenyum, tanpa prasangka, lembut, dan jernih pandangannya. Jalil ingin memastikan diri: benarkah dirinya tidak sedang dijebak lelaki tua itu dengan mengundang minum kopi dan menikmati pisang goreng? Jalil ragu-ragu, sesekali mencuri pandang ke wajah lelaki tua itu sambil minum kopi, makan pisang goreng dan mendengar kicau burung kutilang. Di ujung kerling matanya, Jalil melihat burung kutilang emas dalam sangkar itu lebih lincah, lebih bening berkicau.

“Ini secangkir kopi yang nikmat,” puji Jalil, setelah ia mencecap beberapa teguk kopi, membangkitkan denyar jantung, detak nadi, dan cerlang tatapan matanya menembus kabut pagi.

“Sungguh nikmat bila diminum sambil mendengar kicau kutilang,” sahut lelaki tua itu. “Sayangnya, burung kutilangku seringkali dicuri.”

“Biasanya burung-burung piaraan tak pernah dicuri.”

“Orang dekat, tetangga rumah, yang mengendap-endap menjelang pagi. Mencuri burung kutilangku. Barangkali lantaran dengki. Hatinya puas setelah mencuri. Mungkin ia berharap aku akan menderita dan sedih setelah kehilangan burung. Tapi aku tidak sedih. Burung dicuri orang, tidak akan memukul perasaanku. Aku sanggup mendatangkan burung baru yang lebih indah.”

“Apa kau tak takut kutilang itu kembali dicuri?”

“Biar, kalau memang burungku mau dicuri,” tukas lelaki tua, tenang, dan menampakkan wajah datar, tanpa kemarahan.

“Tapi, ingat, pencuri burungku kali ini akan celaka bila berani mengulangi perbuatannya.”

Dada Jamil berdegup, lantaran terancam. Tapi ia tak ingin menampakkan kecemasan hatinya. Tak mau tertekan. Bagaimana mungkin, lelaki tua yang lemah lembut itu bisa menebarkan ancaman? Jalil buru-buru menenggak habis kopinya, berpamitan, dan terbatuk-batuk, seperti ingin menghindari ancaman lelaki tua itu.

***

TANGAN Jalil bergetar menjelang subuh. Ia mengendap-endap menyeberangi gang, memasuki teras rumah lelaki tua, berdiri tepat di bawah sangkar burung kutilang emas. Masih rembang pagi, Jalil diberangus perasaan dongkol, memendam dendam, ingin mencuri burung kutilang. Alangkah sombong lelaki tua itu, berani menebar ancaman, akan mencelakai pencuri burung kutilangnya. Jalil berketetapan hati ingin mencuri burung kutilang emas itu. Menghancurkan sangkar. Kalau perlu mematahkan leher burung kutilang dan melemparkan bangkainya ke atas meja marmer, biar diterkam kucing liar, tinggal bulu-bulunya yang berserakan. Dibayangkannya lelaki tua itu terhenyak di teras rumah, terbakar dendam namun tak berdaya. Lututnya keropos. Goyah melangkah.

Tanpa rasa takut, Jalil membusungkan dada, gagah memasuki teras rumah lelaki tua. Kalaupun lelaki tua itu memergokinya membuka sangkar burung kutilang, ia tak perlu gentar lagi. Ia ingin memperingatkan lelaki tua itu, di gang pinggir kota ini, tak ada lelaki yang menandingi dirinya.

Gemeretak geraham Jalil. Ia merasa terhina dengan ancaman lelaki tua itu. Tangannya cekatan bergetar terjulur ke arah sangkar burung kutilang. Bukan getar rasa takut. Tangan itu bergetar lantaran rasa marah.

Tapi begitu tangan itu terjulur menyentuh pintu sangkar burung kutilang, tak lagi dapat digerakkan. Tangan itu lengket dengan sangkar. Mula-mula ia merasa tak yakin, tubuhnya serupa patung kayu lapuk yang tak bisa bergerak. Bahkan ia hilang kesadaran. Ia tak lagi bisa berpikir untuk lari, atau membebaskan diri dari mantra yang menjeratnya.

Orang-orang mulai bermunculan di gang depan rumah lelaki tua. Tercengang melihat Jalil, lelaki tambun itu, berjingkat, dengan tangan kanan terjulur ke arah pintu sangkar burung kutilang. Orang-orang berdatangan. Terus berdatangan. Menegur Jalil.

“Apa yang kaulakukan?”

“Kalau kau mau mencuri burung itu, cepat ambillah!”

“Lelaki tua itu belum bangun, kau tak perlu takut!”

Jalil tak dapat menggerakkan tubuh. Tak dapat berkata-kata. Ia hanya bisa menatap orang-orang yang merubungnya. Terbungkam. Terdiam. Mematung. Tanpa kemauan. Ia tak mampu membebaskan diri dari jaring-jaring mantra lelaki tua itu. Orang-orang tak berani menolong Jalil. Takut bila mereka tersihir mantra, mematung, dan tak dapat bergerak di bawah sangkar burung kutilang itu.

Orang-orang yang tak sanggup membebaskan Jalil dari sihir mantra lelaki tua, menyingkir diam-diam. Mereka menonton Jalil dari kejauhan. Merasa iba. Tapi takut. Sembunyi-sembunyi mereka menatap Jalil. Berharap lelaki tambun itu bergerak, meninggalkan teras rumah lelaki tua.

Terbentang pintu rumah lelaki tua. Tampak segar dan lembut wajahnya. Tersenyum pada Jalil. Tercium wangi seduhan kopi dan pisang goreng. Kicau kutilang itu kian bening. Lelaki tua membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng hangat. Dibawa ke meja marmer kesukaannya. Duduk. Meletakkan dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng dengan wajah teduh seperti pagi sebelumnya.

“Kenapa berdiri di situ? Ini, kusediakan secangkir kopi untukmu, dan pisang goreng hangat!” tegur lelaki tua. Teguran ini membebaskan kutukan mantra yang membekukan tubuh Jalil.

Jalil melangkah membungkuk-bungkuk hormat pada lelaki tua, menyalaminya, dan bertobat, “Aku telah melanggar peringatanmu.”

“Duduklah. Aku mengundangmu minum kopi. Senang sekali, pagi ini kau menemaniku minum kopi, yang biasanya kunikmati sendiri.”

Mencecap kopi pelan-pelan, Jalil tak berani berucap apa pun. Ia terdiam. Membungkam. Memakan pisang goreng juga dengan diam. Tak berani membantah apa pun yang dikatakan lelaki tua itu. Ketika kopi di cangkirnya tinggal remah-remah, ia berdiri, membungkuk, menyalami lekaki tua itu dan mohon diri.

“Kau tak akan pernah bisa mengambil kutilangku. Aku melindunginya dengan mantra,” kata lelaki tua pelan, menepuk punggung Jalil. “Burung itu kuperoleh dengan mencuri, bila aku meninggalkan rumah selama beberapa hari. Ia kupelihara, karena aku suka. Burung-burung curian yang lain, kujual ke pasar burung.”

Meninggalkan teras rumah lelaki tua, Jalil masih menunduk. Tak berani mengangkat muka. Wajahnya tampak dungu, terdiam dicabik luka. (*)

 

 

Pandana Merdeka, September 2012

S Prasetyo Utomo, cerpenis tinggal di Semarang.

.

.

Advertisements