Cerpen Irwan Kelana (Republika, 2 September 2012)

HANYA mukjizat yang membuat Bayu selamat dari musibah kecelakaan pesawat itu. Ia yang duduk di dekat pintu darurat berhasil menyelamatkan diri ketika pesawat yang  berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu gagal mendarat dan terbakar di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang.  Kecelakaan yang terjadi di sore yang dihiasi kabut tipis dan hujan itu menewaskan 20 penumpang dan melukai puluhan  lainnya.

Para petugas segera melarikan para korban kecelakaan ke beberapa rumah sakit terdekat. Termasuk di dalamnya Bayu yang menderita luka ringan di kaki, tangan dan wajahnya.

***

Sudah satu jam berlalu sejak breaking news mengenai pesawat yang gagal mendarat itu muncul di portal berita maupun televisi. Gadis muda berbaju putih, rok panjang coklat tua dan dipadu dengan kerudung coklat muda itu masih terpaku di resto Little Asia, Pejaten Village di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Mal yang selalu riuh rendah oleh pengunjung itu mendadak terasa sepi dan mati.

Rindu serasa tidak percaya kejadian tersebut. Beberapa jam lalu dia datang ke resto tersebut untuk bertemu dengan Pak Bayu. Lelaki setengah baya yang tanpa disadarinya selama bertahun-tahun mengisi relung batinnya.

Jangan pernah tanyakan kapan perasaan indah itu membelai lembut  hatinya? Apakah ketika ia terpeleset dan hampir terjatuh di depan gerbang kantor di hari pertama ia masuk kerja lima tahun silam? Ketika itu sebuah tangan kekar menyambar tangannya, menolongnya, dan tiba-tiba ia merasakan debaran aneh di dadanya.

Ataukah  ketika ia dan Pak Bayu sama-sama mengikuti kursus bahasa Arab di kantor tiap hari Selasa dan Rabu pagi? Ataukah, ketika ia dan Pak Bayu rutin setiap ba’da Zhuhur menyimak kuliah tujuh menit (kultum) di mushalla? Ataukah kenangan-kenangan lain? Perhatian-perhatian kecilnya, yang… kini ia rasakan penuh arti?

Ia tidak mungkin membohongi hatinya sendiri. Bagaimanapun ia adalah seorang wanita. Dengan kehalusan perasaannya, seorang wanita pasti merasakan kalau ada seorang pria yang menaruh perhatian padanya. Apalagi kalau perhatian itu diberikan dengan tulus ikhlas. Sebab, keikhlasan itu pasti terasa di hati.

Namun terkadang ia ragu—atau lebih tepatnya berusaha mengingkari perasaaan itu—semata-mata karena perbedaan usia di antara dia dan Pak Bayu. Dengan jarak  usia lebih 20 tahun, mungkinkah cinta itu akan mewujud nyata, dan ke manakah cinta itu akan membawa hubungan mereka?

Namun kini ia tidak mungkin lagi menghindari kebenaran di hatinya. Apalagi setelah Pak Bayu pindah ke Banjarmasin, dan menjadi direktur sebuah perusahaan batubara di sana, ia merasakan kehilangan yang sangat. Setahun yang lalu….

Di resto Litte Asia  itulah Rindu dan Bayu berjanji  untuk bertemu. Bayu akan langsung meluncur ke Pejaten Village, begitu dia mendarat di Soekarno-Hatta. Namun berita kecelakaan itu seakan memupus asa yang sudah membuncah di hati Rindu….

Rindu menggigit bibir tipisnya yang selalu kemerahan meski tanpa polesan lipstik. Air matanya menderas tanpa bisa ditahan. “Ya Allah, Engkau Yang Mahakuasa dan Maha Penolong, hamba mohon selamatkanlah Pak Bayu. Izinkanlah hamba membahagiakannya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar segala doa,”bisiknya lirih.

Ia mencoba menelepon Lina, sahabat dekatnya.

“Lin, pesawat Pak Bayu kecelakaan,” ujarnya dengan suara bergetar.

“Masya Allah, Rin. Kecelakaan di mana? Maaf, aku masih di masjid, ikut pengajian bareng Mas Indra.”

“Pesawatnya gagal mendarat di Soekarno-Hatta. Dikhawatirkan banyak  penumpangnya tewas terbakar.”

“Astaghfirullaahal azhiim. Tabah, Rin. Kita doakan, semoga Pak Bayu selamat.”

“Kamu sekarang di mana?” tanya Lina.

“Aku masih di Pejaten Village. Semula aku dan Pak Bayu janjian ketemu di  Little Asia.”

“Tunggu aku di situ, Rin. Nanti aku minta izin suamiku  untuk menjemputmu dan menemanimu. Kita cari informasi bersama-sama.”

***

Tengah malam, saat terjaga, Bayu teringat HP-nya. Sesaat sebelum pesawat tinggal landas di Bandara Syamsoeddin Noor, HP tersebut dia matikan. Dia minta perawat untuk mengambilkan HP tersebut.

Begitu HP itu diaktifkan, ternyata ada miss call 33 kali dari nomor Rindu. Juga banyak sekali SMS. Sebagian besar berasal dari Rindu. “Ass, Pak Bayu, semoga Pak Bayu selamat.” “Ass, Pak Bayu, Bapak di mana?” “Ass, Pak  Bayu, saya mencintai dan merindukan Bapak.”

Menitik air mata Bayu membaca SMS dari Rindu. Gadis berusia 27 tahun itu mempunyai nama dan sifat yang santun dan anggun sama seperti almarhumah istrinya. Justru karena kesamaan itulah ia tidak berani mencintai gadis bermata teduh  itu. Ia takut dibilang egois.

Namun ternyata perasaan cinta itu tidak bisa hilang dari dalam hatinya. Malah semakin lama, semakin kuat dan melekat. Akhirnya ia mencoba melakukan pembenaran untuk mengusir perasaan cinta itu dengan menyadarkan dirinya bahwa dia sudah berusia 47 tahun, sementara Rindu baru 27 tahun: sehingga dia tidak pantas berharap untuk mencintai dan dicintai gadis asal Bandung itu.  Namun ternyata gadis tinggi semampai  itu meng-KO-nya dengan sebuah kalimat pendek, “Bapak berhak berharap dan Bapak punya kesempatan.”

***

Rindu dan Lina berjaga setiap saat di depan pesawat televisi untuk mendengarkan informasi terkini mengenai kecelakaan pesawat tersebut. Keduanya juga memantau lewat portal berita. Namun belum ada kejelasan berita mengenai nasib Pak Bayu.

Pukul 03.00, Rindu mengambil wudhu kemudian shalat Hajat, Tahajud dan Witir. Air matanya mengalir tiada henti. Di hadapan Rabb-nya yang Mahagagah Perkasa, di waktu ketika semua doa didengarkan dan dikabulkan oleh Allah Sang Pemilik Semesta, bibirnya tak henti-hentinya berbisik lirih, “Ya Allah, selamatkanlah Pak Bayu. Selamatkanlah Pak Bayu. Selamatkanlah lelaki yang kucintai….”

Pukul 04.00, tiba-tiba HP Rindu berbunyi. Lina yang pertama kali melihat nomor yang masuk di HP tersebut.

“Pak Bayu, Rin, Pak Bayu yang menelepon,” seru Lina.

Tanpa sadar Rindu meloncat dari atas sajadahnya. Dia segera mengangkat HP tersebut.

“Pak Bayu? Pak Bayu di mana? Bapak selamat ‘kan?” dia mencecar Bayu dengan pertanyaan.

“Assalaamu’alaikum, Rindu,” terdengar suara lembut di seberang sana.

“Wa’alaikumsalaam. Maaf, Pak. Saya sampai lupa mengucapkan salam. Saya sangat mengkhawatirkan keselamatan Bapak.”

“Alhamdulillah, Rin, berkat doamu, saya selamat. Cuma terluka dan memar sedikit. Ini buktinya sekarang bisa menelepon kamu.”

“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau dengar dan kabulkan doaku, Engkau selamatkan Pak Bayu,” ujar Rindu dengan suara bergetar menahan haru.

“Terima kasih, Rin. Semoga Allah membalas segala kebaikan hatimu.”

“Pak Bayu sekarang di mana?” Tak sabar Rindu bertanya.

“Saya dirawat di rumah sakit,” ujar Bayu sambil menyebut nama sebuah rumah sakit di Jakarta Barat.

“Saya ke sana sekarang, Pak.”

“Nanti saja, Rin, tunggu hari siang.”

“Tidak, Pak, saya mau ke sana sekarang. Saya ingin memastikan bahwa Bapak selamat,” suara Rindu seperti tercekat menahan emosi.

“Terima kasih, Sayang… eh maaf.”

Rindu tersipu dan wajahnya mendadak merona merah mendengar kalimat Bayu yang terakhir.

***

Rindu dan Lina naik taksi. Menjelang akhir malam itu, lalu lintas ibukota masih relatif  sepi. Hanya butuh waktu setengah jam bagi keduanya untuk tiba di RS tersebut.

Rindu langsung menghambur ke ruang UGD. Ternyata Bayu sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kelas satu.

Ia mengetuk pintu tersebut, dan dengan tak sabar langsung masuk. Lina menyejajarinya di belakang sambil terengah-engah.

“Pak Bayu?” seru Rindu begitu melihat sosok lelaki tersebut.

Bayu menyambut kedatangan Rindu dengan sebuah senyuman.

“Rindu,” suaranya tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Gadis yang selama bertahun-tahun membalut hatinya itu betul-betul menjelma nyata di hadapannya. Air matanya menitik. “Ya Allah, Engkau kirimkan bidadari surga ini kepadaku. Kalimat syukur apakah yang pantas aku lantunkan kepada-Mu?” ujarnya dalam hati.

Bayu berusaha bangkit dari pembaringan. Namun tangan dan kakinya terasa sakit. Ia meringis.

“Bapak jangan banyak bergerak dulu. Bapak istirahat saja,” betapa lembut suara Rindu di telinga Bayu. Seperti nafiri surga membelai jiwa.

“Terima kasih atas kedatanganmu, Rin. Juga Lina, terima kasih mau bersusah payah malam-malam datang ke rumah sakit.”

“Iya, Pak. Soalnya ada seorang gadis yang dari tadi malam sangat gelisah dan mengkhawatirkan keselamatan Bapak. Dia sudah enggak sabaran ingin ketemu Bapak,” kata Lina sambil melirik ke arah Rindu. Yang dilirik mencubit tangan sahabatnya itu.

“Jangan bikin malu aku dong, Lin,” kata Rindu setengah berbisik.

Betapa banyak yang ingin Rindu ungkapkan kepada Pak Bayu. Namun  dadanya begitu sarat oleh rasa bahagia. Biarlah mata kedua insan itu yang bicara. Bukankah cahaya mata seringkali lebih fasih menyampaikan isi jiwa kita?

Rindu dan Lina shalat Shubuh di mushalla yang berada di samping rumah sakit. Seusai shalat, Rindu sujud syukur. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas segala pertolongan-Mu. Engkau selamatkan Pak Bayu.”

Setelah itu ia bergegas ke kamar perawatan  Bayu.

“Sudah selesai shalat Shubuhnya?”

“Sudah, Pak.”

“Kok cepat sekali? Biasanya kamu kalau selesai shalat, berdoanya lama?”

Ada damai menyusup di dada Rindu. “Subhanallah, Pak Bayu masih ingat hal tersebut. Ya Allah, betapa dia selama ini selalu memperhatikan saya,”ujarnya dalam hati. Tanpa disadarinya, bibirnya mengukir senyum.

“Kok senyum?”

Rindu tersadar. “A…pa, Pak?”

“Kok kamu senyum?”

“Ah enggak apa-apa, Pak.”

Bayu menghela napas panjang.

“Rin, saya punya satu permintaan,” kata  Bayu.

Rindu tertegun. “Permintaan apa, Pak?”

“Maukah engkau membisikkan di telingaku kalimat ‘Mas Bayu’?”

Rindu terkejut dan tergagap.

“Sa… sa… saya?”

“Mau enggak?”

Rindu melirik Lina yang tersipu, dan kemudian menoleh ke samping.

“Rin….”

“Pak Bayu… eh maksud saya, Mas Bayu….”

“Ulangi, Rin…”

“Mas Bayu.”

Rindu tersenyum dengan senyum terindah yang pernah disaksikan oleh Bayu selama hidupnya.

“Terima kasih, Rin.” Bayu begitu ingin menggenggam jemari lentik gadis yang selalu tampil anggun dengan jilbabnya itu. Namun ia sadar, gadis salehah itu belum halal baginya.

Di luar, gelap telah beranjak pulang. Matahari pagi datang bersama bunga-bunga cinta yang merekah di dada Rindu. (*)

 

 

Jakarta, Juni 2012

Irwan Kelana adalah wartawan Republika yang juga dikenal secara nasional sebagai cerpenis dan novelis. Lelaki kelahiran 1 September 1965 itu menulis cerpen sejak SMA dan menulis novel sejak masa kuliah. Bukunya yang sudah terbit antara lain Kelopak Mawar Terakhir, Kemboja Terkulai di Pangkuan, Masa Depan, dan Meniti Jarak Hati, serta sejumlah antologi cerpen bersama.  Ia sedang menyiapkan beberapa novel islami yang diharapkan menjadi masterpiece dan syiar dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

.

Catatan penulis:

Cerpen ini merupakan sekuel cerpen “Bulir-bulir Rindu” (Republika, 1 Juni 2012). Judul “Bunga-bunga Cinta” berasal dari usulan Mbak Wahidah, redaktur Islam Digest (redaktur Sastra) Republika. Insya Allah cerpen ini masih ada lanjutannya, yakni “Sepanjang Jalan Cinta” dan satu cerpen lagi yang judulnya masih dicari.

.

.

Advertisements