Cerpen S Prasetyo Utomo (Kompas, 2 September 2012)

SARANG lebah bergantung di dahan pohon rambutan yang rimbun bunga–kian hari kian membentuk lempengan bundar, tebal. Kiai Sodik membiarkannya, meski sarang lebah itu bergantung tepat di atas kucuran kran air wudlu surau.

Anak-anak yang mengaji di surau seringkali memekik ketakutan bila beberapa ekor lebah berdengung mengitari kepala mereka. “Tenanglah, lebah-lebah itu tak kan menyengat!” kata Kiai Sodik.

Meski sarang lebah bergantung di dahan pohon rambutan dekat surau, belum pernah lebah-lebah itu menyengat santri-santri kecil yang belajar mengaji.

Lebah-lebah itu kadang masuk dalam surau, berdenging saat Kiai Sodik mengajar mengaji. Tapi Kiai Sodik tak pernah mengusik lebah-lebah itu. Rumah Kiai Sodik yang lapuk, dengan dinding-dinding kayu keropos, dimasuki lebah-lebah yang tersesat mencari sarang. Kiai Sodik membiarkan lebah-lebah mengitari ruang tamu rumahnya.

“Jangan kau ambil sarang lebah itu!” kata Kiai Sodik, ketika suatu siang datang seorang lelaki setengah baya pencari madu lebah. Lelaki itu masih menanti, bila kiai berubah pikiran, berbelas kasih padanya.

“Saya memerlukan madu itu untuk menafkahi keluarga,” pinta lelaki pencari madu.

“Jangan kau usik mereka. Mereka tak pernah mengusik kehidupan kita,” balas Kiai Sodik. “Kalau kau memang perlu nafkah, datanglah pada Nyai. Mintalah padanya uang, beras, atau sayuran.”

Pencari lebah itu menemui Nyai Sodik. Meninggalkan rumah Kiai Sodik dengan wajah berseri-seri, memanggul sekarung beras, mengantongi uang. Ia tak lagi menengok ke arah lempengan sarang lebah madu yang bergantung di batang pohon rambutan di samping surau.

***

RUMAH baru yang dibangun Kiai Sodik, sama sekali tak mengusik sarang-sarang lebah madu yang kini kian besar bergantung di usuk ruang tamu. Rumah lama yang lapuk tidak dirobohkan. Kiai Sodik memilih membangun rumah baru di lahan depan rumah lama, sama sekali tak menghancurkan sarang lebah itu. Tukang kayu dan tukang batu yang bekerja membangun rumah merasa heran, mengapa begitu sayang kiai itu pada lebah-lebah yang bersarang di dalamnya.

Bangunan baru rumah Kiai Sodik belum selesai, ketika datang lagi lelaki setengah baya pencari madu. Kali ini lelaki itu menemui kiai dengan wajah keras, mata tajam berkilau, terpikat sarang-sarang lebah yang mengandung madu di dahan pohon rambutan dan di usuk rumah kosong. Ia memperlihatkan pada Kiai Sodik botol-botol kosong dalam ember yang juga kosong. Botol-botol dan ember itu akan penuh madu, bila Kiai Sodik memperkenankannya mengambil sarang-sarang lebah itu.

“Boleh saya ambil sarang madu itu, Kiai?” pinta pencari madu, penuh harap.

“Sampai kapan pun sarang lebah madu itu akan kulindungi.”

“Keluarga kami memerlukan nafkah.”

“Anak-anak lebah itu juga memerlukan makan, tempat tinggal yang nyaman. Carilah sarang lebah di hutan.”

“Tak lagi kutemukan sarang lebah di sana.”

“Datanglah pada Nyai. Mintalah uang, beras, dan sayur, agar kau bisa menafkahi keluargamu.”

Lelaki setengah baya pencari madu itu tak bergerak ke rumah Kiai Sodik. Ia menolak bertemu Nyai Sodik. Ia meninggalkan halaman rumah Kiai Sodik, tanpa pamit, dan sepasang matanya menyimpan ancaman. Wajah Kiai Sodik tetap ramah, dan sepasang matanya teduh, tak pernah cemas. Tenang. Memendam senyum. Santri-santri kecil yang belajar mengaji, heran memandangi senyum di wajah kiai.

***

KETIKA Kiai Sodik terbaring sakit, begitu banyak santri yang kaget. Tinggal dalam hitungan hari Kiai Sodik akan berangkat haji, tak seorang pun menduga, ia terbaring sakit, hingga tak dapat turun dari tempat tidurnya. Beberapa dokter didatangkan, memeriksa, memberikan obat, dan nasihat. Kiai Sodik mengangguk-angguk, tersenyum, meski wajahnya layu dan tubuhnya lunglai.

Nyai Sodik yang terus-menerus menjenguknya, menampakkan kecemasan.

“Akan datang seorang tamu. Seduhlah kopi kental dan suguhkan ketela goreng kesukaannya,” pinta Kiai Sodik.

“Siapa, Kiai?”

“Lihat sendiri, siapa yang bertamu ke rumah kita.”

Lelaki tua itu masih terkulai lemas. Rambutnya kian memutih, tubuhnya susut, kurus, tanpa daya. Kiai Sodik terlentang sakit, sebulan menjelang berangkat haji. Lunglai, pucat, dan tak dapat turun dari ranjang. Tiap kali terdengar azan, orang-orang di surau, terutama para santri, menanti Kiai Sodik tampil sebagai imam. Santri-santri yang mengaji di surau, berdoa sampai leleh air mata. Berhari-hari Kiai Sodik tidak keluar rumah, tidak menemui para santri dan mengajar mengaji.

Sore itu para santri terperanjat. Datang Gus Mus, yang baru saja diundang ceramah di kota itu, mampir ke rumah Kiai Sodik. Menyalami Kiai Sodik yang lunglai terbaring, Gus Mus menahan tawa.

“Bagaimana mungkin kau bisa sakit begini?” seloroh Gus Mus.

“Apa yang Gus Mus lihat padaku?”

“Tidak semestinya kau sakit. Sarang lebah madu bergantung di pepohonan sekitar rumahmu. Ambillah untuk obat.”

Nyai Sodik yang mendengar percakapan itu, terbelalak sepasang matanya. Ketika Gus Mus mohon diri, ia buru-buru menemui suaminya. Wajah letih selama berhari-hari merawat Kiai Sodik, mendadak tampak bercahaya, penuh harapan.

“Biar saya suruh santri mengambil sarang lebah madu untuk kiai,” pinta Nyai Sodik.

“Jangan! Obat dari dokter masih banyak yang belum kuminum. Jangan kau ambil madu lebah di sekitar rumah kita.”

Surut, beku, dan kembali letih wajah Nyai Sodik. Ia duduk menunggui suaminya, berharap lelaki itu akan memintanya mengambil sarang lebah madu. Tapi Kiai Sodik tak pernah memintanya agar seorang santri mengambil sarang madu pada dahan-dahan pohon rambutan–atau mengambilnya di usuk rumah lama.

Nyai Sodik tak menyadari, dengung lebah yang memasuki kamar, hinggap di usuk, tepat di atas muka Kiai Sodik terbaring. Sejenak Kiai Sodik membuka mata, melihat lebah ratu yang hinggap di usuk kamarnya. Tersenyum. Bergumam tak jelas. Tertidur lagi. Lebah ratu itu diikuti lebah-lebah lain, terus berdengung di usuk kamar yang tak bereternit.

Kerumunan lebah madu begitu cepat menjadi gerombolan besar. Nyai Sodik cemas. Ingin mengusir lebah-lebah itu dengan kobaran api. Tapi Kiai Sodik melarang perbuatan istrinya. Dibiarkannya lebah-lebah itu membuat sarang. Mula-mula sarang kecil. Tapi cepat sekali berkembang menjadi sarang yang bundar. Aneh. Nyai Sodik merasakan keajaiban ketika sarang lebah itu kuyub madu. Madu memenuhi tiap liang sarang lebah, hingga leleh, dan tetes, tepat ke celah bibir Kiai Sodik. Kiai mencecap madu lebah itu. Tiap tetes madu, yang tepat menimpa bibirnya, dihisapnya. Nyai Sodik menatapi tetes-tetes lebah itu lambat laun menyegarkan wajah kiai.

Dari mana datangnya lebah-lebah yang membuat sarang di usuk rumah, yang menetes-neteskan madu tepat ke bibir Kiai Sodik? Nyai Sodik tak pernah menduga. Menjelang subuh, Kiai Sodik bangkit dari ranjang. Mengambil air wudlu. Mengumandangkan azan. Menjadi imam shalat. Mengajar mengaji. Dan memenuhi undangan ceramah ke beberapa daerah.

Lebah-lebah itu pun meninggalkan sarangnya di usuk kamar Kiai Sodik. Tak ada lagi lebah ratu. Sarang itu kosong. Tanpa anak-anak lebah. Tanpa lebah-lebah pencari madu, yang terbang ribuan mil menghinggapi sari bunga.

***

MENGENDAP-ENDAP lelaki pencari madu. Menjelang senja ia membawa seikat daun kelapa kering yang disulut, menyala, dan dimatikan. Ladang dan rumah Kiai Sodik senyap. Telah beberapa hari ini Kiai Sodik berangkat haji. Tentu tak ada yang menghalanginya mencari sarang lebah madu di seluruh pekarangan rumah Kiai Sodik. Tak seorang pun melihat gerak-geriknya. Ia mengibas-ngibaskan seikat daun kelapa kering yang berasap, mengusir lebah. Sarang lebah akan mudah diambil, dimasukkannya dalam ember yang ditinggalkannya di bawah pohon rambutan.

Tapi aneh. Lebah madu yang diusirnya dengan asap dan api daun kelapa kering itu sama sekali tak terbang jauh, malah terus berdengung di sekitar kepalanya.

Lebah-lebah itu hinggap di tubuh lelaki pencari madu. Kali ini lebah-lebah itu merubung dan menyengat seluruh tubuhnya. Lebah-lebah itu memasuki rongga telinga dan hidung. Menyengat pelupuk mata, bibir dan memasuki celah bibirnya.

Tubuh lelaki setengah baya itu tertutup seluruhnya oleh lebah-lebah yang mengerumuninya. Seikat daun kelapa kering yang dinyalakan untuk mengusir lebah dari sarangnya, terjatuh, tergeletak di rerumputan. Lebah-lebah itu terus menyengat tubuhnya. Ia tak sanggup menjaga keseimbangan. Dahan pohon rambutan yang dipijaknya patah, ia jatuh berdebam, terguling-guling.

Langit dipenuhi lebah yang berdengung mengerumuni tubuh pencari madu. Berpusar di atas kepalanya, terus berdatangan memenuhi langit senja, lebah-lebah itu mendengung, berputar-putar di atas ubun-ubunnya. Tubuh pencari madu serupa zombie melelehkan daging busuk. Terus berguling-guling di rerumputan.

Ke manapun tubuh lelaki pencari madu bergulingan, ia merasa berhadapan dengan Kiai Sodik. Ia berhenti bergulingan, menahan sakit sengatan lebah, dan meminta ampun, “Saya tak akan lagi mengambil sarang lebahmu!”

“Istirahatlah di surau!” terdengar suara bening, tenang, tulus.

Lelaki pencari madu berdiam diri, telentang di rerumputan. Mata terpejam. Lebam sengatan lebah. Menahan diri. Dengung lebah menjauh. Tubuhnya kembali bersih, tanpa seekor lebah pun yang hinggap. Terasa nyeri. Terdengar azan maghrib. Ia berjalan tertatih-tatih, tubuh bengkak, kelopak mata terkatup, mengambil air wudlu. Mengikuti shalat pada deretan paling belakang.

Ia terbaring di masjid sepanjang malam. Menanti Kiai Sodik pulang haji. (*)

.

.

Advertisements