Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 2 September 2012)

SUDAH bertahun-tahun orang-orang berdebat tentang hal-hal ini. Tentang Tuan Horace Walpole yang malang, yang meninggal dalam kesunyian dan membawa banyak rahasia ke dalam liang lahatnya. Tentang kisah cintanya yang berselimut kabut pekat yang sulit diungkap. Tentang novelnya yang melegenda, The Castle of Otranto, novel yang masih saja diperdebatkan apakah itu karyanya atau bukan. Tuan Walpole mengembuskan napas terakhirnya di musim semi 1797. Hidupnya benar-benar seperti cerita gothik yang ia tulis sendiri.

Lalu, bisakah kau percaya bila tiba-tiba pada sebuah musim ketika salju menutupi seluruh jalan, seseorang mendorong pintu barmu yang belum tutup walau hampir tengah malam? Ia mengenakan sepatu berpaku yang sangat berat. Wajahnya sedikit membiru, asap tipis melayang keluar dari lubang hidungnya ketika ia mendengus. Berkali-kali ia merapatkan mantel beludru warna biru yang membungkus tubuhnya. Celana panjangnya terlihat lembap, dan topi laken menutupi rambutnya. Dan ia mulai meracau tentang Tuan Walpole, kastilnya, kisah cintanya, bahkan sebuah rahasia di balik novel The Castle of Otranto.

Mula-mula, lelaki yang mengaku bernama Thomas Gray itu memesan sebotol anggur merah. Ketika ia menyebutkan namanya, aku langsung teringat Tuan Walpole. Rasa-rasanya, orang-orang pernah menyebut nama yang sama, nama yang selalu dihubung-hubungkan dengan Tuan Walpole. Tapi aku tak terlalu yakin.

“Apa kau suka menonton opera?”

Kalimat itulah yang menjadi permulaan racauan panjangnya tentang Tuan Walpole. Aku sedikit bekernyit. Kupikir, ia sudah agak mabuk. Terlalu banyak anggur yang ia teguk. Seharusnya cukup dua-tiga gelas saja untuk menghangatkan badannya. Tapi ia sudah melanjutkan botol anggur yang kedua.

“Aku terlalu sibuk untuk membuang waktu dengan pergi ke gedung opera.”

Aku sedikit mendengus. Apa lelaki tua yang compang-camping ini tengah mengejekku? Mana mungkin pemilik bar miskin seperti aku punya uang dan waktu untuk melihat sandiwara begitu. Atau mungkin ia tengah mengenang masa-masa jayanya sebelum jatuh miskin dan akhirnya tinggal di jalanan London seperti gelandangan.

“Aku tahu, kau tidak akan pernah mengerti seni,” ia menatapku dengan pandangan mengejek. Memamerkan gigi-gigi runcingnya. Sebuah seringai yang sangat merendahkan. Aku tak suka perlakukan seperti itu.

“Aku memang tak pernah menonton opera. Tapi aku mengerti seni. Aku mengerti sastra karena Tuan Walpole yang hebat itu sering mengunjungi barku. Dan ia bercerita banyak hal tentang opera, romansa, dan misteri yang ada dalam tulisannya. Ah, Tuan pasti mengenalnya,” aku balas menyeringai. Ada rasa puas dalam diriku. Tentu lelaki tua ini tak percaya bahwa aku mengenal akrab Tuan Walpole yang termasyhur itu. Walau sejumlah kritikus tak lagi memuji-muji The Castle of Otranto setelah ia mengakui bahwa buku itu benar-benar karangannya. Heran, kenapa banyak orang selalu saja tak suka pada keberhasilan orang lain?

“Oh, Walpole,” ia mengucapkan nama itu dengan nada riang. Terdengar menakjubkan  di telingaku, “Tapi, kau tak sebaik aku mengenalnya.” Seketika, senyum ramahku gugur tak bersisa. Dan aku kembali melihat gigi-giginya. Gigi-gigi runcing yang masih kuat untuk orang setua dia.

“Apa yang kau ketahui tentang The Castle of Otranto?”

Aku sebenarnya tak berminat untuk menjawab. Sebab aku yakin ini hanyalah uji-ujian padaku. Bukankah ia tadi sudah berkata kalau ia mengenal Tuan Walpole lebih baik daripada aku?

“Sebuah cerita cinta yang penuh intrik dan misteri,” jawabku singkat. Dan lagi-lagi laki-laki tua itu menyeringai penuh ejekan. Ia memandangku dengan tatapan merendahkan. Aku benci melihat seringai dan tatapannya.

“Hanya itu yang kau tahu?”

“Cerita The Castle of Otranto dibuka dengan peristiwa kecelakaan yang dialami Conrad, putra Manfred dari Kastil Otranto. Ia tewas secara menyedihkan pada hari pernikahannya. Memang ada unsur akal-akalan dalam pernikahan itu. Kemudian Manfred menceraikan istrinya dan menikahi kekasih putranya yang meninggal itu. Sejak pernikahan itu, Manfred mengalami berbagai kejadian menakutkan yang berhubungan dengan alam gaib. Alam para arwah. Memang ada ramalan kuno tentang Kastil Otranto. Tentang penghuni-penghuninya yang tak kasatmata. Dan orang-orang percaya, salah satunya adalah arwah Conrad.”

Aku menegakkan kepala, bangga karena pernah mendengarkan ringkasan cerita itu langsung dari penulisnya. Namun, kebanggaanku itu lagi-lagi harus sirna ketika menemukan tatapan mengejek dari lelaki tua yang mengaku bernama Thomas Gray ini.

“Aku akan mengisahkan hal yang jauh lebih mengerikan.”

Kata-katanya membuatku gelisah. Entah bagaimana, saat ia mengatakan itu, aku sempat melihat retina matanya yang biru berkilatan. Seperti mengandung kegelapan yang tak teraba. Seolah-olah di dalam sana tertimbun helai-helai kertas bertuliskan cerita yang jauh lebih menakutkan daripada cerita yang ditulis Tuan Walpole.

 

“APA kau tahu Strawberry Hill yang ada di Twickenham?” laki-laki tua itu kembali menatapku. Aku mendengus melihatnya. Entahlah, aku benar-benar tak suka dengan tatapan dan seringai di wajahnya.

“Aku tahu, Tuan. Kastil itu ada di barat daya kota ini. Semua orang di London juga tahu,” giliranku yang memasang seringai mengejek. Siapa yang tak tahu rumah besar indah yang didesain sendiri oleh Tuan Walpole?

“Tapi tak ada yang tahu bahwa Kastil Otranto yang Walpole maksud dalam ceritanya itu adalah Strawberry Hill, bukan?”

Aku tercekat. Mana mungkin? Ah, laki-laki tua ini benar-benar mabuk berat. Dalam gambaran yang ada di cerita itu, Kastil Otranto seperti kastil-kastil tua yang dihuni keluarga-keluarga Katolik kuno di zaman sebelum Perang Salib. Dan Strawberry Hill? Mendadak aku hendak tertawa geli. Tapi kutahan tawa itu. Lelaki menyebalkan ini tamu satu-satunya dalam barku di malam berbadai salju ini. Aku harus menghormati tamu dan uang yang sudah ia berikan padaku. Walau aku benar-benar tak menyukai gayanya.

“Setidaknya itulah yang Walpole bayangkan,” kali ini ia mendengus. Mungkin, aku tak terlalu pandai menyembunyikan gurat-gurat lucu di wajahku.

Aku berusaha untuk mengencangkan urat-urat di wajahku. Sangat tidak sopan membuat tamuku tersinggung, walau sebenarnya ia sudah lebih dulu dan berkali-kali menyinggung perasaanku. Tapi bagaimana pun ia tetaplah tamuku.

“Dan kau pasti terkejut kalau kukatakan cerita yang Walpole tulis itu kisah nyata. Bukan fiksi yang orang-orang sangka,” laki-laki itu berbisik. Lirih.

Aku benar-benar terkejut seperti yang ia katakan. Nyaris saja aku menjatuhkan botol anggur ketiga yang ia minta. Mataku membelalak. Ah, tapi benarkah? Tidakkah laki-laki tua ini tengah membual? Aku menatapnya sangsi.

“Memang sedikit difiksikan olehnya,” ia terburu mengatakan hal demikian setelah melihat tatapan mataku. Ia tahu aku sangsi dengan apa yang baru saja ia katakan padaku. Rasanya sangat tak masuk akal. Tapi aku segera teringat akan uraian Tuan Walpole kepadaku tentang sastra di sebuah sore menjelang musim gugur beberapa tahun lalu:

“Selama ini orang-orang yang pandai bicara dan menilai itu selalu saja bilang bahwa sastra terbaik itu adalah sastra yang semurni mungkin hasil imajinasi, walau diperlukan romansa untuk pemanis. Tentu saja, pemanisnya pun harus fiksi. Dan aku sudah membuat mereka kalang-kabut seperti kehilangan keping-keping emas berharganya ketika aku mengatakan bahwa dalam The Castle of Otranto, aku memadukan imajinasi dengan kenyataan. Bukankah sastra yang baik adalah yang mampu meniru alam dengan baik? Mereka mulai tak menyukaiku ketika tahu aku mencampurkan imajinasi dengan alam kenyataan.”

Aku sangat tak paham dengan apa yang Tuan Walpole katakan waktu itu. Bahasanya terlalu tinggi untuk dimengerti pemilik bar kumuh seperti aku. Ketika ia mengajakku bicara tentang anggur, mungkin saja aku akan sedikit lebih paham, walau aku tak terlalu tahu tentang anggur-anggur mahal dengan cita rasa yang tinggi. Apalagi ketika ia bilang, jangan sekali-kali mencampurkan cuka pada makanan yang akan dimakan sambil meminum anggur. Katanya, cuka akan merusak rasa anggur. Gunakanlah minyak zaitun atau perasan jeruk lemon untuk menggantikan cuka pada makanan yang memerlukan rasa asam. Kata Tuan Walpole, keduanya tak akan merusak rasa anggur.

“Kisah nyata siapa, Tuan?” suaraku bergetar setelah teringat akan ucapan Tuan Walpole waktu itu. Rasanya, ada sedikit kebenaran dari yang diucapkan laki-laki ini.

“Sebelum kembali ke London di tahun 1741, Walpole bepergian keliling Eropa dengan seorang sahabat dekatnya. Apa kau tahu kisah itu?” laki-laki tua itu membuatku kembali berkerut. Kuingat-ingat, aku memang pernah mendengarnya. Tapi cerita itu kabur. Tak terlalu jelas dalam ingatan yang kupunya.

“Apa ada yang tahu kenapa ia mengakhiri perjalanannya di Eropa?” laki-laki dengan topi laken dan mantel beludru warna biru itu kembali bertanya. Aku menggelengkan kepalaku. Aku memang tak tahu apa-apa.

“Ia mengatakan pada orang-orang bahwa ia berselisih paham dengan teman seperjalanannya,” laki-laki tua itu menjawab sendiri pertanyaannya. “Sungguh, bukan itu soalnya,” kata-katanya membuatku tegang. Aku menunggu dengan perasaan cemas.

“Ia pulang karena patah hati,” dan laki-laki itu berbisik lagi, “Kekasih yang menyertainya dalam perjalanan itu tewas dalam sebuah kecelakaan bersamanya.” Aku terperangah.

“Tak ada yang tahu bahwa pada malam seusai pemakaman kekasihnya itu, ia kembali datang ke pemakaman dengan membawa sekop dan menggali sendiri. Ia mengangkat peti berisi jenazah kekasihnya dan membawanya pulang ke London. Ia menyembunyikannya di ruangan bawah tanah Strawberry Hill. Tak ada yang tahu. Ia mengawetkan tubuh kekasihnya dengan balsem dan melakukan upacara arwah agar tetap bisa berkomunikasi dengan kekasihnya. Bahkan ia beberapa kali mencoba menghidupkannya kembali dengan meneteskan darahnya sendiri pada jenazah kekasihnya. Ia berpikir, mungkin si kekasih bisa hidup kembali sebagai vampir.”

Aku mundur beberapa langkah dari mejaku. Cerita lelaki tua ini terlalu mengerikan. Aku tak bisa membayangkan apakah ini nyata atau hanya bualan panjangnya. Wajahku pucat dan lututku gemetar.

“Di samping peti jenazah itulah Walpole menulis The Castle of Otranto setiap harinya. Cerita yang bertolak dari hubungan mereka berdua, dan diramunya dengan imajinasi.”

Kata-katanya membuatku benar-benar lemas. Ini benar-benar gila. Apakah ini yang Tuan Walpole maksudkan waktu itu? Menggabungkan imajinasi dan apa yang ada di alam? Aku menelan ludah. Lelaki tua bertopi laken itu bangkit berdiri. Ia sepertinya hendak pergi. Padahal, cuaca di luar begitu dingin. Aku ingin mencegahnya tapi aku tak bisa berkata apa-apa. Aku terlalu terkejut dengan kisahnya.

“Tapi, orang-orang mengatakan kalau Tuan Walpole itu….,” aku tak sanggup mengatakannya, “Mungkinkah saja kekasihnya itu adalah sahabat pengembaraannya?” aku mendadak mengatakan  itu. Aku teringat dengan selentingan berita miring yang ada. Bila itu benar, berarti laki-laki tua ini tengah membual kepadaku.

“Apa kau tahu nama teman pengembaraan yang menjadi kekasihnya itu?” laki-laki tua itu menyeringai. Ia menghentikan langkahnya dan menatapku. Mata birunya sangat berkilat dan menakutkan. Aku benar-benar benci melihat seringai dan gigi-giginya itu. Gigi-gigi yang seperti gigi-gigi anjing. Putih. Runcing. Berkilat.

Aku berusaha mengingat sebuah nama. Ada di dalam otakku, tapi agak susah untuk disebutkan. Samar dan ragu menyergap. Ia masih menungguku.

“Thomas Gray,” ia mengucapkan itu setelah menunggu cukup lama dan aku belum mengingat apa-apa. Lalu dengan tergesa ia menjangkau daun pintu. Saat pintu tertutup kembali, aku tercekat dan nyaris terjatuh ke lantai. Tidakkah ia menyebut nama kekasih Tuan Walpole itu sejak ia tiba tadi? Thomas Gray? Dan aku sangat yakin bahwa gigi-giginya memang sangat runcing dan berkilat. (*)

 

 

C59, 6-7 Agustus 2012

Guntur Alam, lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Selain menulis cerpen, ia juga menulis novel remaja. Kini, menetap di Bekasi, Jawa Barat.

.

.

Advertisements