Archive for September, 2012

Surat dari Chekhov
September 25, 2012


Cerpen Gatot Zakaria Manta (Suara Merdeka, 23 September 2012)

MARUTA mengurungkan niatnya berkunjung ke Moskow dan mengunjungi makam Chekhov ketika pada dini hari tanggal 27 Januari, dia mendapati sebuah amplop cokelat besar tergeletak di depan pintu rumahnya. Hampir roboh karena mabuk, matanya lamat-lamat menangkap deretan huruf yang tertulis di bagian depan: Dari Anton Chekov [1], tertulis dalam bahasa Inggris, alih-alih bahasa Rusia. Dia mendadak tertawa, surat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Lalu dengan sempoyongan sembari mengepit amplop itu di ketiak, Maruta pergi ke kamarnya. Dikeluarkannya pakaian- pakaian yang telah tertata di koper sambil berjingkrak dan berjoget. Sementara amplop itu dia taruh di atas lemari, masih tersegel, bersanding dengan kitab suci. Namun dia tertidur sebelum selesai membereskan semuanya. (more…)

Advertisements

Sekarang Segalanya Berubah
September 25, 2012


Cerpen Eliza Vitri Handayani (Koran Tempo, 23 September 2012)

BEBERAPA bulan sebelum Rizky lulus Sarjana Kedokteran, mahasiswa menyeruak ke jalan-jalan untuk menumbangkan presiden korup yang sudah bertahta tiga puluh dua tahun. Setelah berminggu-minggu demonstrasi massal, presiden itu akhirnya turun. Minggu-minggu berikutnya merekah dengan optimisme seperti tak pernah sebelumnya. Di tengah suasana ini, meneroboslah Julia ke dunia Rizky dengan profil separuh halaman tentang dirinya di koran Minggu, pada halaman yang dikhususkan untuk seniman dan penulis muda. (more…)

Rumah
September 25, 2012


Cerpen Ahimsa Marga (Kompas, 23 September 2012)

ENTAH sejak kapan aku suka main ke rumah tetangga. Aku hanya ingat, waktu kecil aku suka melamun di mulut jendela, memandang rumah-rumah tetanggaku yang asri dengan anak-anak sebayaku yang bermain di halaman.

Rumahku sangat nyaman. Sepanjang bisa mengingat, rumahku selalu terbuka, tetapi tak ada anak yang bermain di situ. Mungkin karena aku juga tak pernah bermain ke rumah mereka. Ibuku tak pernah melarang, tetapi aku enggan. Pintu tak pernah dikunci tetapi kakiku tertahan di batas pagar. (more…)

Cermin, Api, Cermin, Sunyi
September 23, 2012


Cerpen Triyanto Triwikromo (Jawa Pos, 16 September 2012)

APAKAH kau pernah dipenjara dan disalib di ranjang api? Tidak hanya di satu sel, tetapi di empat penjara dan satu rumah sakit jiwa pada kurun1965-1971? Jika pernah, kau pasti tidak sanggup menceritakan kepadaku sekecil apa pun peristiwa yang kau alami dengan getir dan mungkin penuh tekanan itu. Karena itu sesungguhnya aku tidak ingin membeberkan kisah konyolku kepadamu. Aku yakin siapa pun akan menganggapku membualkan dongeng nonsens. Aku juga percaya mereka, mungkin juga kau, akan menganggap apa pun yang kukatakan sebagai ceracauan orang gila. (more…)

Inferno
September 23, 2012


Cerpen Gyrdirn Eliasson (Koran Tempo, 16 September 2012)

KAMI baru saja pindah ke sebuah apartemen di pinggiran kota dengan segala kerepotan angkut-mengangkut barang dan kami terpaksa melakukan hal-hal yang tak akan kau pedulikan jika kau tak merasa punya kewajiban sosial. Pada hari ketujuh setelah kami pindah, istriku berkata kami harus pergi ke Ikea untuk membeli sebuah kursi berlengan yang akan serasi dengan sofa baru kami dibandingkan dengan kursi yang lama. Aku tak menyatakan keberatan walaupun aku sungguh tak melihat ada yang salah dengan kursi lama kami. (more…)

Pencabut Uban
September 23, 2012


Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 16 September 2012)

BANYAK sekali jenis pekerjaan di dunia ini. Tapi, orang dengan pekerjaan sebagai pencabut uban mungkin hanya dapat kau temui di desa kami. Dialah Inay, perempuan lajang berusia lima puluhan. Perempuan yang membuat desa kami jadi ikut disebut-sebut dalam perbincangan di warung-warung kopi. Hampir seluruh warga desa kami pernah menikmati ketangkasan jari-jari tangan Inay mencabuti uban warga desa kami. Kepiawaiannya mencabut uban memberi kami hiburan sangat berharga, yang membuat kami mampu melupakan sejenak beban hidup kami sebagai buruh tani yang makin berat saat kekeringan melanda seperti saat sekarang. (more…)