Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 26 Agustus 2012)

SETIAP makhluk yang bernyawa pasti kelak mati. Ya. Mati. Siapa yang telanjur hidup di dunia, siapa pun dia, pasti akan bersua ajal. Semua orang pasti tahu hal ini. Termasuk Kalimun. Sungguh, lelaki baya itu sepenuhnya menyadari, bahwa setiap orang kelak akan mati. Tidak bisa tidak.  

Tapi, entah mengapa, beberapa bulan terakhir ini, kujur raga Kalimun selalu bergigil ria acap teringat bahwa kelak ia akan bersua ajal alias mati. Kemudian dimandikan. Kemudian dikafani. Kemudian dishalatkan. Kemudian dikubur. Terlebih, usianya kini telah melewati angka 62 (dua bulan sebelas hari lagi genap 63 tahun), tentu peluang untuk lekas mati jauh lebih besar dibanding mereka yang masih remaja atau yang baru terlahir dari rahim ibu-ibu mereka. Meski Kalimun menyadari bahwa kematian itu tak kenal pandang usia, tetap saja ia diranjam takut tak berkesudah, menghadapi lecut maut malaikat pencabut nyawa yang tentunya tak kenal kata kompromi dan tak bisa ditawar lagi. Ah, seandainya saja ada tempat bersembunyi dari mati, pasti Kalimun akan lari ke sana. Bersembunyi dari kejaran malaikat maut.

Dan, Kalimun akan merasa sedikit lega saat ia teringat petuah Haji Amir; bisa saja usia muda yang lebih dulu dicerabut paksa nyawanya. Sebagaimana putra semata wayang Tusini, tetangga yang baru melahirkan sebulan lalu, yang tiba-tiba saja mati tak bermusabab. Gita, gadis kelas satu tsanawiyah yang lagi ceria-cerianya menikmati masa remaja bersama teman-teman sebaya pun mengalami nasib serupa. Malah lebih naas bin tragis; mati tertabrak mobil yang sopirnya ugal-ugalan. Maklum, sopir wanita bertubuh gempal itu sedang setengah mabuk usai berpora minuman keras di sebuah diskotik bersama kawan-kawannya semalaman. Darto, lelaki 25 tahun yang belum menikah dan juga tetangga dekat Kalimun, belum lama ini juga tewas mengenaskan, terjatuh dari pohon kelapa saat sedang memetiki kelapa yang sudah masanya dijual ke pasar. Dan masih ada sederet kisah tentang orang-orang yang mati di usia kencur yang teramat panjang jika kembali diceritakan ulang di sini.

Sungguh, betapa Kalimun merasa, saat ini belum siap untuk mati meski usianya telah mendekati standar kematian. Kata Haji Amir, Rasulullah SAW saja wafat pada usia 63. Sementara usianya kian mendekati usia wafatnya Nabi. Tuh kan, kuduk Kalimun kembali meremang hingga berpinak-pinak jika kembali memikir ucapan Haji Amir, tetua sekaligus imam masjid shalat lima waktu di masjid kampungnya.

Maka, tak usah heran, jika akhir-akhir ini kalian melihat Kalimun rajin nian menyambangi masjid untuk shalat berjamaah bersama Haji Amir yang tak pernah absen (kecuali jika sedang sakit) memimpin shalat lima waktu. Ketika Kalimun tak sempat berjamaah di masjid pun, ia selalu mendirikan shalat berjamaah di rumah, meski hanya berdua dengan Tugirah, istrinya, yang tiga tahun lebih muda dari usianya kini. Sejak menikah dengan Tugirah, 34 tahun silam, Kalimun memang tak dikaruniai anak. Sehingga ia hanya hidup berdua dengan istri di rumah kayunya yang sederhana. Keseharian Kalimun sejak berumah tangga dulu, hingga sekarang, hanya menadah rezeki melalui wasilah sawahnya yang meski tak begitu luas tapi hasil panenannya setiap setengah tahun sekali, bisa mencukupi hajat hidup sehari-harinya bersama istri.

Hei, coba kalian tengoklah, perubahan demi perubahan yang terjadi pada diri Kalimun. Dari hari ke hari, Kalimun kian rajin menyambangi masjid untuk berjamaah, tepatnya sejak ia mendengar cerita Haji Amir saat pengajian di serambi masjid beberapa hari lalu.

“Umar bin Khattab adalah sahabat yang sangat dikasihi Nabi karena ia termasuk pemimpin yang sederhana pada rakyatnya. Selain itu, Umar juga terkenal sangat gigih membela agama Allah. Namun sayang, ia tewas mengenaskan dibunuh oleh Abu Lukluk ketika akan memimpin shalat. Para jamaah pengajian yang dimuliakan Allah, itulah yang disebut kematian husnul khatimah. Umar bin Khattab termasuk golongan orang-orang yang mati syahid karena ia mati ketika akan mendirikan shalat.”

Keterangan itulah yang membikin Kalimun langsung memasung ikrar dalam hati: akan rajin menyambangi masjid, untuk berjaga-jaga, siapa tahu pas nyawanya dicabut Izrail, ia sedang dalam keadaan bersujud, sebagaimana sayyidina Umar bin Khattab yang wafat ketika hendak memimpin shalat. Seketika, kuduk Kalimun langsung meremang, saat ia kembali teringat, dulu ia sering bolong-bolong shalatnya karena berlampau sibuk mengurusi sawahnya. Jika sudah berada di sawah untuk menanam padi atau pas panen, bisa seharian ia di sana. Shalat Zhuhur dan Ashar pun bablas. Terlewat begitu saja seiring lenyapnya sayup-sayup suara azan yang mengalun dari corong masjid di sudut kampungnya.

Namun, entah mengapa, meski Kalimun sekarang ini terlihat kian giat berjamaah, ia tetap dihantam rasa was-was serta takut yang kian berkecambah dalam palung hatinya. Ia benar-benar belum siap mati saat ini. Bahkan, di sela-sela doa sehabis shalat, ia selalu memohon agar Allah memanjangkan usianya, kalau bisa hingga seribu tahun lagi.

***

   Selain berjamaah di masjid, Kalimun juga rajin menolong tetangga yang membutuhkan. Jika ada tetangga butuh uang, kalau ia sedang punya sejumlah uang yang dibutuhkan tetangga, maka ia pun akan langsung bergegas pulang, lantas menyerahkan uang itu. Bukan. Bukan untuk dipinjamkan. Tapi ia berikan secara cuma-cuma. Tak ayal, Tugirah sering geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang dulu terkenal lumayan pelit dan sering lupa membayar zakat padinya, kini berubah jadi sosok dermawan. Tapi di sisi lain, diam-diam Tugirah bersyukur, melihat perubahan yang terjadi pada suaminya yang akhir-akhir ini lebih mendekatkan diri pada Sang Khaliq.

“Tumben, biasanya kalau ada orang minta bantuan, pasti bilangnya lagi nggak punya uang,” kata Tugirah suatu hari, ketika rumahnya baru saja kedatangan dua pemuda dari kampung sebelah yang meminta sumbangan buat pembangunan masjid, lantas dengan wajah ramah Kalimun menyambut dan memberikan uang duapuluh lima ribu rupiah.

Kalimun hanya tersenyum menanggapi sindiran istri. Sebenarnya ia ingin menjelaskan bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk menambal dosa-dosa masa lalunya. Kata Haji Amir, dulu Rasulullah Saw. pernah berpesan pada para sahabatnya, agar mengiringi tiap kejelekan dengan amal kebaikan, karena amal kebaikan itu bisa menghapus kejelekan yang pernah kita lakukan.

Pun ketika ada tetangga yang sedang menghelat hajatan, kalian pasti akan terheran-heran melihat begitu bersemangatnya Kalimun membantu memasang tenda, membersihkan pekarangan, menata kursi-kursi plastik, tanpa mengharap imbalan. Benar-benar tanpa pamrih. Ya, itu semua Kalimun lakukan karena ia ingin ketika Izrail tiba-tiba mencabut nyawanya, ia sedang bersibuk menolong orang. Sebagaimana ucapan Haji Amir yang pernah ia simak dengan raut serius beberapa minggu lalu.

“Sedekah itu bisa dengan cara apa saja, sesuai kadar kemampuan kita. Dengan harta, kalau kita punya. Dan bisa pula dengan tenaga, jika kita tak ada harta.”

“Maaf, Pak Haji, saya mau tanya, apakah juga termasuk husnul khatimah jika seseorang mati ketika sedang menolong orang?” Tanya Kalimun di sela-sela pengajian. Tak ia pedulikan bebisik serta sorot aneh yang terpancar dari beberapa jamaah yang duduk di kanan kirinya.

“Ya, selama ia menolong di jalan kebaikan, maka termasuk husnul khatimah, Pak Kalimun,” keterangan Haji Amir seiring kulum senyum membuat Kalimun kembali memasung ikrar; akan selalu menolong orang lain semampu ia bisa. Kapan pun. Di mana pun.

Entah mengapa, meski ibadahnya kian rajin, rasa cemas dan takut mati tetap belum bisa enyah dari benak Kalimun. Justru semakin hari semakin berkelindan dan memilin-milin hatinya. Sungguh, betapa Kalimun tak pernah lelah berbisik lirih dalam batin; duh, Gusti, aku belum siap mati saat ini.

***

Pagi itu, Tugirah merasa sekujur tubuhnya panas dingin. Sesekali tubuhnya terlihat bergigil. Rupanya angin kencang yang bertiup di musim kemarau akhir-akhir ini mulai tak bersahabat dan justru mengantarkan rerupa penyakit, terlebih bagi wanita baya macam dirinya.

“Pak, kayaknya Ibu masuk angin. Tolong, belikan Ibu obat masuk angin dan sebotol madu ya, Pak,” pinta Tugirah pada Kalimun yang baru saja selesai melaksanakan shalat Dhuha di lantai ruang tamu beralaskan sajadah merah yang agak kusam. Sejak tiga tahun terakhir, istri Kalimun memang gemar mengonsumsi madu untuk menjaga stamina tubuhnya.

Mendengar pinta istri, Kalimun sontak kepikiran macam-macam. Hei, jangan-jangan usia istrinya tak lama lagi. Jangan-jangan sakitnya kali ini menjadi pertanda bahwa sebentar lagi ia akan tutup usia. Tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitiki kuduknya. Selain takut mati, Kalimun juga selalu merasa ngeri menyaksikan orang-orang yang sepertinya telah dekat ajalnya. Tanpa banyak kata, bahkan tanpa menjawab permintaan istri, Kalimun lekas melukar sarungnya dengan celana katun panjang untuk membelikan obat tolak angin dan sebotol madu di toko sebelah pasar wage, dekat kecamatan, jaraknya sekitar 2 kilometeran dari arah kampungnya. Biasanya, tanpa diminta pun, ia selalu membelikan madu buat istrinya di toko tersebut.

***

Kalimun memacu sepeda onthel-nya dengan kecepatan di atas rata-rata saat menuju pasar wage. Beberapa ratus meter sebelum tiba, tepatnya ketika Kalimun sedang berada di ladang tebu, ia mendengar suara teriak perempuan minta tolong. Seketika, Kalimun menghentikan sepedanya. Dipasangnya cuping keriputnya baik-baik. Suara itu sepertinya bersumber dari ladang tebu.

Baru saja Kalimun men-standar sepedanya, seorang perempuan usia 20-an tiba-tiba menyeruak, keluar dari semak pepohon tebu di sebelah kirinya.

“Pak, to… tolong saya, saya mau diperkosa orang…,” megap-megap perempuan berwajah cantik itu menjelaskan pada Kalimun. Belum sempat Kalimun berucap sepatah kata, dua pemuda berwajah setan menyeruak dari semak pepohon tebu itu dengan nafas memburu.

“Heh, orangtua! Sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusan kami!” ucap kasar salah satu pemuda yang mulutnya berbau minuman keras merk murahan. Pemuda yang satunya nampak mengacungkan parang ke arah Kalimun. Tapi, hei, entah mengapa, tak sedikit pun Kalimun merasa gentar digertak seperti itu. Justru ada yang menggelegak dalam dadanya. Ia masih ingat petuah Haji Amir, bahwa menolong orang itu termasuk ibadah yang pahalanya berlipat ganda.

“Sebaiknya kalian yang cepat pergi dari sini!” Kalimun tak bisa menontrol emosi bicaranya. Sementara perempuan itu menggigil di belakangnya seraya membenahi pakaiannya yang sedikit terbuka.

Namun, baru saja Kalimun hendak pasang kuda-kuda, salah seorang pemuda yang membawa parang telah terlebih dulu menebas pundak dan menyambar lehernya. Kalimun pun roboh. Sementara pemuda yang tengah dirasuki iblis jahanam itu terus membabi buta menghajar Kalimun yang kian tak berdaya. Anehnya, justru Kalimun tak merasai sakit sedikit pun di kujur tubuhnya. Ia hanya menggumam takbir berkali-kali saat parang itu berkali menyambar tubuhnya. Sungguh, ia merasa parang itu hanya memantul-mantul di kulitnya. Tapi, begitu Kalimun melihat sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan genangan darah segar, kedua matanya membeliak, meski tetap saja tak ia rasai sedikit pun rasa sakit.

Berselang menit, pandangan Kalimun terasa mengunang dan sekelilingnya tiba-tiba berubah kekuningan, lalu putih cerlang, hitam, dan… lap! Tiba-tiba serasa ada yang terlolos dari raganya, pelan, lembut, seperti sebatang jarum yang ditarik dari gundukan tepung. Ia hanya mampu mendengar suara jerit perempuan yang hendak ditolongnya barusan, sebelum ia merasa dibawa terbang oleh entah siapa. (*)

 

 

  Puring Kebumen, Juli 2012

Penulis lahir dan berdomisili di Kebumen, Jateng. Cerpen-cerpennya banyak dimuat di berbagai media, lokal hingga nasional. Beberapa di antaranya memenangi lomba penulisan. Ia sudah menerbitkan sejumlah buku yang menampilkan karya-karya cerpennya.

Advertisements