Cerpen Zaenal Radar T. (Republika, 5 Agustus 2012)

MARKUM yakin dan percaya, bahwa di dalam bulan Ramadhan ini ada sebuah malam yang lebih baik daripada malam seribu bulan, yakni malam lailatul qadar. Seperti yang pernah ia dengar dari Ustad Sahroni, seorang ustad yang menjadi penceramah di masjidnya.

Markum penasaran, kapan kira-kira malam lailatul qadar itu datang. Untuk itulah ia ingin menanyakan lebih detil lagi pada Ustad Sahroni. Sore hari, sebelum buka puasa, Markum mendatangi masjid untuk bertemu beliau.

“Tad, kira-kira kapan malam lailatul qadar itu datang. Apakah malam ini, atau besok? Tolonglah ustad kasih tahu ke saya. Saya ingin sekali bertemu dengannya….”

Ustad Sahroni tersenyum mendengar pertanyaan Markum, “Kum, nggak ada yang tahu kapan datangnya malam lailatul qadar. Saya sendiri juga nggak tahu….”

Lho, ustad kan pernah bilang, kalo malam lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Tolonglah ustad, kasih tahu saya. Atau jangan-jangan Pak Ustad merahasiakannya, supaya Ustad sendiri yang tahu dan bertemu dengannya…?”

Ustad Sahroni menghela napas panjang. Lalu geleng-geleng kepala. Itu artinya, Ustad Sahroni benar-benar tidak tahu. Atau mungkin menandakan beliau bingung menghadapi salah satu warganya yang satu ini.

“Pak Ustad nggak usah pelit begitu, dong… Pak Ustad pasti tahu. Kalau memang nggak mau menyebut kapan waktunya, bolehlah ciri-cirinya Pak. Saya kan ingin sekali bertemu pada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tolonglah Pak Ustad….”

“Haduh, Kum… kamu kok, maksa? Begini saja. Dalam salah satu riwayat, saya pernah membaca. Malam lailatul qadar itu terjadi di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir….”

Markum mengangguk-angguk mengerti, “Jadi, Tad, kalau nggak malam ke-21, berarti malam ke-23? Atau malam ke-25, ke-27, atau… ke-29? Wah, banyak betul pilihannya Pak Ustad…?!”

Ustad Sahroni garuk-garuk kepala.

Ya sudah kalau begitu. Biar nanti saya cari sendiri. Terima kasih, Pak Ustad. Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salaam…”

Markum meninggalkan masjid. Ustad Sahroni memandangi kepergian Markum dengan tatapan heran. Namun di dalam hatinya, beliau senang betul melihat kemauan Markum beribadah di bulan Ramadhan ini, apalagi sampai ingin menemukan malam lailatul qadar segala. Sepengetahuan Ustad Sahroni, selama ini Markum bukan cuma jarang ke masjid. Tetapi dia pemuda pengangguran yang malas dan kerap ketahuan mencuri sandal penduduk.

***

Pada Ramadhan malam ke dua puluh satu, Markum sudah bersiap-siap menghadapi malam lailatul qadar. Siangnya sengaja Markum tidur seharian. Supaya malamnya bisa begadang untuk bertemu pada malam yang lebih baik daripada malam seribu bulan. Kalau memang benar, dia berencana akan berdoa kepada Tuhan, supaya diberikan limpahan rezeki dan dikaruniai jodoh.

Markum pernah mendengar kabar burung tentang Haji Duloh, bahwa dulunya ia pernah berdoa di malam lailatul qadar. Waktu itu beliau berdoa minta diberikan keluasan rejeki. Dan semua itu terwujud. Sekarang ini Haji Duloh punya lima buah toko pakaian. Dua kali naik haji. Punya istri tiga. Mobil enam. Rumah empat. Kontrakkan berpuluh pintu. Dan tanah yang sungguh teramat luas. Markum yakin kalau semua itu berkat malam lailatul qadar. Untuk itulah ia ngotot pada ramadhan kali ini bisa bertemu dengan malam yang dimaksud.

Selepas mengikuti salat tarawih berjamaah, Markum ke warung Ucok memesan obat nyamuk oles. Markum tak mau diganggu nyamuk-nyamuk nakal itu. Menurut Pak Anwari, marbot masjid yang tidur di masjid, nyamuk-nyamuk nakal suka mengganggunya. Markum tak mau bertemu malam lailatul qadar bersama-sama dengan nyamuk. Bisa-bisa konsentrasinya terganggu lantaran gangguan nyamuk-nyamuk itu.

Di masjid sudah terdapat beberapa jamaah lainnya yang tengah mengaji atau beberapa orang yang tidur-tiduran melepas lelah. Markum sengaja berdiam di salah satu sudut, agar jamaah lainnya tidak melihat atau merasa pangling padanya. Sebab baru malam ini ia bermalam di masjid.

Sambil menunggu penghujung malam, Markum bersandar di dinding masjid yang terasa sejuk. Obat nyamuk cair sudah ia oleskan ke sekujur tubuh. Terdengar beberapa orang membaca ayat suci Alquran sedemikian merdu. Hal itu membuat Markum terkantuk-kantuk. Dan Markum yang dasarnya doyan tidur pun secara tak sengaja mengorok. Ia baru bangun saat Pak Anwari membangunkan warga sahur dengan pengeras suara. Markum tersentak dan kebingungan. Ia merasa gagal bertemu dengan malam lailatul qadar!

“Kum, kok sedih begitu…??” tanya Pak Anwari, paginya saat berpapasan di sebuah jalan dekat masjid.

“Saya gagal bertemu malam lailatul qadar…,” lirih Markum.

Lha, emangnya semalam itu malam lailatul qadar, Kum?”

“Ya, benar. Kan semalam itu malam ke-21. Malam ganjil!”

“Ah, belum tentu, Kum! Soalnya pas subuh tadi saya lihat langit, nggak keliatan terang….”

Markum kebingungan mendengar kata-kata Pak Anwari.

“Terang gimana, Pak? Subuh kan emang belum terang? Soalnya matahari masih belum kelihatan….”

“Kalau memang benar malam lailatul qadar, akan keliatan cahaya terang setelah fajar. Itu salah satu ciri malam lailatul qadar lainnya, Kum….”

Markum mengangguk-angguk mengerti, “Berarti malam lailatul qadar belum datang…,” batin Markum.

Pada malam ke-23, Markum kembali bermalam di masjid. Tujuannya masih sama, ingin menyambut malam lailatul qadar. Markum tak ingin ketiduran lagi. Markum memesan kopi supaya tidak mengantuk. Sepanjang malam itu Markum berdoa, yakin kalau malam itu malam lebih baik dari seribu bulan.

Tapi paginya, saat melihat ke arah terbitnya matahari, Markum tak menemukan cahaya itu. Boleh jadi, langit sedang mendung. Yang datang justru gerimis. Markum hanya bisa menghela napas berat. Markum yakin, kalau malam itu bukanlah malam lailatul qadar!

Markum tidak putus asa. Di malam ganjil yang lain, yakni malam ke dua puluh tujuh, Markum kembali bermalam di masjid. Seperti malam sebelumnya, yakni pada malam ganjil sepuluh malam terakhir yang lalu, Markum pun berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlelap. Sepanjang malam itu Markum berdoa. Markum tidak sendirian. Di masjid terdapat beberapa orang melakukan hal yang sama. Tapi Markum tidak tahu, apakah mereka juga tengah berharap bertemu dengan malam lailatul qadar seperti dirinya. Markum ingin bertanya, tapi gengsi. Takutnya ia dicap bermalam di masjid hanya karena berharap bertemu dengan malam lailatul qadar, padahal memang begitu adanya.

Di tengah malam, saat tengah khusuk berdoa, tiba-tiba lampu mati. Masjid menjadi gelap. Semilir angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Pepohonan di luar masjid bergoyang-goyang diterpa angin malam. Sesekali terdengar suara halilintar. Inikah malam lailatul qadar itu…?

Markum belum yakin. Lampu masjid gelap ternyata karena memang mati lampu. Belakangan ini sudah biasa lampu PLN byar pet, karena alasan tertentu. Angin bertiup agak kencang dan hujan turun karena cuaca memang sering tak bisa diterka. Halilintar sudah biasa terdengar kalau keadaan hendak hujan. Jadi, apa yang membuatnya berpikir bila malam ini malam lailatul qadar?

Demi menguji kebenaran apakah malam lailatul qadar atau bukan, Markum pun berdoa. Kalau doanya dikabulkan, berarti malam ini malam lailatul qadar. Markum pun berdoa semoga mendapatkan rizki. Kalau jadi kenyataan, berarti malam ini tak salah lagi, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam dimana orang akan mendapat pahala berlipat ganda. Dan semua doa-doa dikabulkan Tuhan.

Semalaman suntuk Markum berdoa. Paginya, setelah makan sahur, Markum melongok ke arah terbitnya matahari. Ia melihat cahaya yang begitu terangnya meski matahari belum kelihatan. Barangkali memang benar bahwa tadi malam adalah malam lailatul qadar?

Kalau begitu, Markum tinggal menunggu doa-doanya dikabulkan. Semalam ia minta dua permintaan, yakni memohon diberikan keluasan rizki dan minta cepat-cepat mendapat jodoh. Markum tinggal menunggu doanya dikabulkan Tuhan. Tapi, berapa lama ia harus menunggu? Apakah sehari, dua hari… tiga hari? Seminggu, dua minggu… atau sebulan? Atau tiga bulan…? Atau jangan-jangan setahun…??

Untuk menghilangkan rasa penasaran, Markum mendatangi kediaman Haji Duloh. Markum ingin menanyakan kebenaran tentang malam lailatul qadar itu. Terutama soal berapa lama ia harus menunggu doanya dikabulkan Tuhan.

“Kum, denger ye…, Gue emang punya lima toko kain. Tapi semua itu dari hasil kerja keras gue selama puluhan tahun! Kalo pun gue udah dua kali naik haji, karena gue mampu bayarnya, yang duitnya dari keuntungan toko-toko gue tadi. Terus kalo pun gue udah tiga kali kawin, karena gue emang ganteng, nggak kayak elo…? Heheh, maaf Kum, bukannya nyindir. Terus, kalo pun gue punya banyak mobil, rumah, semuanya dari hasil kerja keras. Kalo elo mau kayak gue, elo kudu kerja keras juga. Nggak cuman berharap duduk-duduk di dalem mesjid…?” terang haji Duloh panjang lebar, membuat Markum sesak nafas.

Kalo begitu, percuma dong saya berdoa malem-malem di malam lailatul qadar?” ujar Markum.

Lha, doa tuh kagak ada yang percuma, Kum! Kalo pun kagak dikabulkan di dunia, mungkin nanti di akhirat. Lagian, emang siapa yang tahu malam datangnya lailatul qadar? Nabi aja kagak tahu kapan persisnya.”

Wah, berarti saya ketipu, Pak Haji…??!”

“Hah?! Ketipu pegimane??”

“Soalnya saya udah nguber-nguber malam lailatul qadar itu? Kalo nggak ada hasilnya, kan percuma…?”

“Kum, malam lailatul qadar itu kagak perlu dikejar! Kalau Allah berkehendak, dia yang bakalan datengin elo.…”

“Masak sih Pak Haji?”

“Ye, yang penting elo ikhlas….”

Setelah mendapat penjelasan dari Haji Duloh, Markum pulang. Pada malam yang ke-29 dan ke-30, meski tidak bermaksud mengejar malam lailatul qadar, Markum ternyata tetap bermalam di masjid. Markum tidak mau berdoa muluk-muluk. Dia hanya ingin punya uang buat lebaran.

Ustad Sahroni, yang melihat kegigihan Markum, siangnya menghampiri Markum. Kebetulan Ustad Sahroni lagi dapat rezeki lebih. Ustadz Sahroni memberikan amplop buat Markum, karena beliau merasa senang pada Markum yang mau berubah. Selain itu, semalam Ustad Sahroni yang berjalan melintasi masjid mendengar doa Markum yang diucapkan keras-keras itu.

Setelah mendapat amplop dari Ustad Sahroni, Markum merasa bahwa semalam ia benar-benar telah menemukan malam lailatul qadar! (*)

.

.

Zaenal Radar T. menulis cerita dan skenario teve. Bukunya yang telah terbit; Harga Kematian (2003), Airmata Laki-laki (2004). Bergiat di Bengkel Sastra Pamulang. Blog http://toekangketik.multiply.com.

.

.

Advertisements