Cerpen Arman AZ (Koran Tempo, 5 Agustus 2012)

KERIE CARANG

Telah kutempuh hujan dan badai. Telah kutentang angin dan gelombang. Hingga peluh yang luruh sepanjang usia, mengantarku jadi lelaki disegani dihormati di Tanjung Iran. Pun telah kusiapkan bekal hidup untuk tujuh risalah keturunan agar kehidupan mereka jauh dari nestapa.     

Dayang Rindu, cucu nan jelita, kutimang kudodoi ia sejak bayi. Lama sudah kuduga kelak ia akan tersohor. Orang-orang akan membangun kisah masing-masing tentangnya. Rambut hitam panjang tergerai. Tubuh molek sempurna. Alis lengkung tajam. Hingga ada yang berujar ia bidadari cantik yang turun dari langit ke bumi.

Ah, biarlah segala hikayat tentangnya beranak-pinak ke seluruh negeri. Biar semerbak namanya dibawa angin dan para lelaki tekuk lutut kehabisan kata di bawah kecantikannya. Yang harus mereka tahu, bukan mudah menikahi keturunan orang terpandang di Tanjung Iran. Siapa pun yang hendak menyuntingnya, harus berhadap muka denganku lebih dulu. Memiliki Dayang Rindu tak semudah memetik daun sirih.

Maka, cucuku Dayang Rindu, janganlah engkau tinggalkan Tanjung Iran. Jaga dan rawatlah kampung halaman. Hayati sajalah gairah itu, menjadi wanita cantik yang diperebutkan banyak jejaka. Mungkin juga akan datang mengusung petaka, layaknya raja dari Palembang itu, si Pangeran Riya.

PANGERAN RIYA

Memutih riak sungai Ketahun, petang dan pagi tiada berkala. Memutih bunga di dalam kebun, setangkai saja yang menggila.

Kusentuh banyak jemari gadis cantik. Kujumpai banyak wanita berparas indah. Namun semerbak nama itu telah menggeletarkan jiwaku. Makan tak terasa makan. Tidur tak terasa tidur. Air diminum pun terasa duri. Duhai, Dayang Rindu, macam apa gerangan lagak lakumu?

Sebab wanita adalah ekor harta dan tahta, maka hendak kupinang kau, Dayang Rindu. Tidak terperi dalam benak mereka, ini bukan ihwal cinta semata. Ada gelegak hasrat kuasa lelaki dibalik niat baik untukmu. Menikahimu tentulah bisa meluaskan wilayah kekuasaanku.

Aku rela terbakar demi menggapaimu, Dayang Rindu. Kubayar mas kawin dengan jumlah mahal demi memilikimu, meneguk kecantikanmu. Perahu dan kapal, tombak dan pedang, bedil dan meriam, prajurit dan hulubalang, kusiapkan untuk menghilir ke Tanjung Iran. Niatku tak mundur lagi: Dayang Rindu harus tiba di genggaman. Bila niat meminang bertepuk sebelah tangan, tak lain tak bukan, peranglah jawaban.

Semogalah hajatku tak ditampik ayahandamu, si Wayang Semu.

 

WAWANG SEMU

Ada darahku dalam darahmu, anandaku Dayang Rindu. Namun maafkan aku yang tak bisa berkuasa penuh atasmu. Semua bergantung pada titah petuah kakekmu, Kerie Carang. Aku hanya bisa mengutuk dalam hati. Sesungguhnya dalam hidup ini banyak lelaki tak guna.

Bagai bunga kau telah mekar di taman sari. Lelaki mana tak terpukau mendengar pesonamu. Dari cerita mulut ke mulut, namamu menggetarkan birahi kumbang pejantan seantero negeri. Namun entah mengapa di mata kekekmu perjodohan dijadikannya semacam permainan belaka. Semua yang datang meminang, dibuatnya patah arang.

Maka ketika serombongan perahu dan kapal bermoncong meriam muncul dari balik kabut, aku berfirasat bala sedang menyambangi Tanjung Iran. Datang menunggang gelombang, rupanya mereka diutus raja dari negeri Palembang. Bertukar pantun, tersampaikanlah hajat meminang putriku Dayang Rindu.

Tiada maksud berpongah diri. Seluruh emas dan bawaan mereka telah kami punyai di Tanjung Iran. Selain itu, Dayang Rindu telah dijodohkan kakeknya dengan jejaka lain, Ki Bayi Radin, anak Batin Pasak di Rambang. Lagi-lagi, dengan berat hati, aku menampik niat baik hulubalang utusan dari Palembang, si Tumenggung Itam.

 

TUMENGGUNG ITAM

Bila ada musuh di talang, bila ada lawan di laut, sangguplah hamba melawan. Tapi, Tanjung Iran?! Berdesir bulu kuduk hamba membayangkannya. Prajurit-prajurit Tanjung Iran bukan sembarang lawan. Terlalu banyak orang sakti di sana. Musuh lama, berilmu halimunan, tarungnya beringas bagai macan lapar.

Diutuslah hamba oleh Pangeran Riya untuk melamar Dayang Rindu. Tak pernah hamba lihat sebulat-bulat niat melebihi niatnya memboyong gadis itu ke Palembang. Alamak, adakah cinta telah membutakan seorang raja?

Sebagai kerbau jantan yang tak pernah menolak titah tuannya, hamba bawa serta para hulubalang dan prajurit handal ke Tanjung Iran: Ki Bayi Metik, Sipat Angguan, Karang Waringin, Kepitan Karang, Rulah Dalem, dan Jejening Irung. Jiwa hamba pejantan. Jika tak bisa hamba bawa pulang dambaan raja, lebih baik jasad hamba yang kembali ke Palembang.

Semua sesembahan telah rapi dalam kapal untuk dipersembahkan kepada Dayang Rindu. Kulit macan, sirih dan tembakau, gambir dan pinang, uang emas dan perak, kain dan pusaka mulia. Segala senjata hanyalah untuk berjaga dari lanun di lautan.

Malang tak dapat ditolak. Berhari-hari melintasi sungai Ogan, mengarungi Selat Bangka dan Teladas, niat hati kami ditampik di Tanjung Iran. Utusan mana tak galau, ketika titah tuannya melamar Dayang Rindu bagai menepuk angin. Bagaimana kelak di Palembang hamba wartakan ihwal buruk ini pada Pangeran Riya?

Maka, demi riak sungai Ogan, perang adalah jalan terakhir. Hamba harus merebut Dayang Rindu dari tunangannya, Ki Bayi Radin.

 

KI BAYI RADIN

Adindaku Dayang Rindu, tiada niat burukku mengulur menunda-nunda pertunangan. Kubunuh segala hasrat mencari gadis lain. Di hati hanya tertatah namamu. Telah kuhantar sirih selebar nyiru, pinang sebesar kulak, dan perhiasan berjuntai-juntai. Namun musykillah menemukan kerbau bertanduk tiga sebagaimana permintaan kakekmu.

Di malam remang, tiada bulan di langit hitam. Kulukis wajahmu di antara gemintang dan lambaian angin. Rindu membayang, harap menjulang. Bersanding denganmu di pelaminan, mata kita jeling-menjeling seraya menyaksikan joget orang sekampung merayakan pernikahan kita. Ah….

Sial dangkalan, tunang macam apa yang dicari keluargamu, Dayang Rindu? Di manalah kutemukan kerbau bertanduk tiga? Apatah cinta dianggap permainan semata oleh keluargamu?

Banyak getah bukannya menyan. Banyak macan bukannya singa. Banyak batu bukannya intan. Banyak menjangan bukannya kuda. Banyak ayam bukannya beruga. Banyak gadis bukannya engkau, Adinda.

Duhai Adinda tambatan hati, ini ihwal harga diri. Mari keluarkan sirih dan pinang. Dirajang halus dalam mangkuk. Satukanlah air mata kita sebagai penghancur kapurnya. Reguk pula airmataku sebagaimana kureguk air matamu. Kelak akan tersemat hikayat di hulu dendam, bahwa semua ini bermula dari lelaki penyulut hasut itu, Kerie Niru.

 

KERIE NIRU

Adat tangan bermain api, kalau tak panas terbakar tangan. Andai saja tak kudesiskan ihwal kecantikan Dayang Rindu di Tanjung Iran, mungkin takkan banyak nyawa mati di ujung pedang.

Bagaimana menangkap landak, asapi lubangnya dengan api. Bagaimana mula berkehendak, dari mata turun ke hati.

Para wanita yang dibawa ke hadapan Pangeran Riya, tak satu pun melebihi kecantikan Dayang Rindu. Parasnya tiada tanding. Elok laksana bidadari tak bercela. Kulitnya gading. Rambutnya panjang terurai menyapu jagat, mengilat bak sutra pemikat. Alisnya runcing tajam serupa taji beruga. Dadanya bagai cermin bersih. Senyumnya bagai kilat kemarau. Tumitnya bagai telur sepotong. Wajahnya bulan purnama. Jika tersenyum, pipinya ranum bak bunga sekuntum. Terlongonglah siapa pun yang menatapnya.

Sebenarnya aku ragu bertolak ke Tanjung Iran. Kupilih kembali ke kampung, berkumpul dengan istri. Biarlah dicaci sebagai penghasut sekaligus pecundang. Namun, suratan takdir tak kuasa kubelokkan. Aku tak bisa menolak di bawah ancaman Temenggung Itam yang datang menjemput.

Begitulah padahnya. Tersebab mulut, tersebab hasut, petaka tumpah di tanah jauh. Kutuklah aku yang telah menghembus cerita ke telinga Pangeran Riya. Tadir pula yang menyelamatkan ini nyawa. Kubunuh Ki Bayi Radin seperti menetak cinta sepasang anak manusia. Pun kulunasi dendam pada hulubalang Tanjung Iran, si Singa Ralang.

 

SINGA RALANG

Tabik Tuan, akulah hulubalang penjaga Tanjung Iran. Banyak dusun tempat kulalu. Masuk lorong berliku-liku. Jangan bujuk pedangku keluar sarang. Pantang ia pulang tanpa meneguk darah.

Wayang Semu kakakku dan Dayang Rindu kemenakanku. Siapa mengusik mereka, sama artinya memancing misaiku tegak berdiri. Aku pun menolak Dayang Rindu dibawa ke Palembang, diperistri Pangeran Riya. Siapatah tahu ia telah beristeri bergundik di sana? Siapatah tahu ia memeram siasat busuk atas Tanjung Iran?

Jika sungguh bulan purnama, mengapa tiada di pagar bintang. Jika sungguh tuan bijaksana, mengapa tiada dapat ditentang? Ohoi, Tumenggung Itam, telah lama kudengar namamu. Baru kini bisa kucicipi tarung denganmu. Beradu tajam pedang. Beradu ligat parang. Beradu nyawa denganmu. Pantang kujilat ludah yang telah tumpah. Hanya orang-orang bebal yang berniat melangkahi mayatku.

Perang tak dapat ditampik. Amuk beliunglah aku di Tanjung Iran. Patah pedang berganti pedang. Patah tombak berganti tombak. Patah keris berganti keris. Entah berapa nyawa melayang ditanganku. Entah berapa kapal dan perahu kukaramkan. Kutebas telinga Tumenggung Itam, kutebas hidung Ki Bayi Metig, agar mereka menghadap Pangeran Riya membawa malu. Inilah bukti setiaku pada Kerie Carang, pada Tanjung Iran.

 

IBUNDA

Seluruh riwayat tentangmu, anandaku Dayang Rindu, disesaki suara lelaki. Sekian nama yang tertera, sekian nama berseteru, namun tak satu pun menyebutku, perempuan yang melahirkanmu. Gerangan apa yang membuat mereka meniadakanku dari riwayatmu? Apakah sejarah hanya milik para lelaki? Terkutuklah mereka yang menghapus silsilah ibu dari anaknya.

Anandaku Dayang Rindu, putri nan jelita dari Tanjung Iran. Demikianlah, dukanya perang, kasih, dan cinta. Binasalah Tanjung Iran. Binasalah Palembang. Embun kalah oleh darah. Kalah meruap jadi abu, menang terongok jadi arang. Begitulah harga yang mesti dilunasi dari perang, anakku.

Janganlah keturunan mereka atau siapa pun kelak menghujah perempuan sebagai sumber petaka. Pergilah, Dayang Rindu. Kuikhlaskan perjalananmu. Di tempat dan masa yang jauh, kau akan mengerti, kisah tentangmu dibangun di atas jumawa kaum lelaki. Terbanglah ke khayangan, belahlah dirimu jadi dua, atau relakan tubuhmu jadi batu kutukan. Kelak, di atas awan akan kau temukan cinta. (*)

 

 

Bandarlampung, 2012

Keterangan :

Dayang Rindu adalah ceria rakyat (folklore) yang terkenal di Sumatera bagian selatan. Ada banyak versi mengenai Dayang Rindu. Di Lampung dikenal dengan “Tetimbai si Dayang Rindu”.

Cerpen ini merujuk manuskrip beraksara Lampung, “Tetimbai Si Dayang Rindu”, yang dikumpulkan Herman Neubronner van der Tuuk selama penelitiannya di Lampung (1868-1869). Manuskrip tersebut tersimpan di beberapa perpustakaan Eropa (Leiden, London, Dublin, dan Munich).

.

.

Advertisements