Menunggu Kapak Ibrahim


Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 29 Juli 2012)

MENDELIK Algojo tak percaya. Untuk membuktikan keanehan yang disaksikan, petugas pencabut nyawa itu coba menebas lehernya dengan pedang istana yang pernah digunakan oleh raja untuk memenggal leher-leher para durjana.

Crrresss!!!

Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala.

“Ha! Kembali lagi?!” Algojo nyalangkan mata. “Kamu ini keturunan dajjal dari seberang mana, hah! Kok sakti amat. Ditebas pedang istana belum juga koit.”

“Bukan ane yang sakti, tapi pedang ente yang sudah tumpul. Sono diasah dulu lima tahun lagi, biar gak kalah dengan keris Ken Arok.”

Algojo coba menahan amarah dan menulikan kuping agar tak mendengar ejekannya. Bahaya. Pengkhianat baru lahir saja sudah bikin pusing tujuh keliling. Jalan saja belum tegak, lidah masih cedal, berani-beraninya mengencingi negeri sendiri. Berani-beraninya membuat si miskin jadi kian terlunta. Ibu menjual anaknya, bapak menggorok tetangganya, anak menyetrika bapak, dan penjual meracuni pembeli, pembeli menjarah penjual, dan semesta keji dan semesta dusta dan semesta celaka kau tebar, kau tarik-ulurkan seperti pemain akrobat di alun-alun Istana.

Pengkhianat bertubuh legam, mendadak berubah pelangi. Tepatnya metamorfosis warna, seperti bunglon, tergantung pohon apa, di daun mana, di bunga semerbak wangi atau bunga bangkai. Tapi apa boleh buat, dasar pengkhianat, turunan Azazil, cucunya Iblis, ponakan si Hannas, calon penghuni neraka Huthamah, meskipun seribu kali berubah ujud, tetap saja mukanya. Apalagi hidungnya, masih tajam penciumannya dibanding agen CIA sekalipun.

Padahal, sebelum akhirnya diadili algojo, sudah lebih satu purnama pasukan istana mengepungnya dari segala penjuru bumi. Sampai bumi yang indah dengan langit nitrogen warna birunya kini berdebu-debu oleh tapak kudanya yang kencang. Diburu dan memburu. Entah siapa yang diburu, kalau ternyata di neraka Huthamah hanya ada tekanan radiasi, sebaran radioaktif, seperti muntahan reaktor nuklir yang meledak itu. Bisa jadi para pengkhianatlah yang berubah lebih dahulu.  Lebih mengerikan dari hantu.

Dibantu pasukan tentara dan polisi, sekian M dana sekian jam hari-hari, deal  demi deal melanglang buana, melanglang segala kemungkinan dan ketetapan, pasukan istana pun sukses menangkapnya di Negeri Anggur Merah. Negeri tempat para pemabuk melabuhkan rindu pesta dan dusta.

“Hayyo! Ketangkap kamu, Pengkhianat. Nih borgol untukmu!”

“Belum tentu. Ane punya banyak ilmu kebal. Ilmu meraib diri. Kemarin aja, ane baru menamatkan pelajaran dari David Copperfield.”

“Tak usah banyak cing-cong, nanti boleh ngoceh di hadapan Algojo!”

“Ane tak takut ame tu Algojo. Apalagi ame sang raja!?”

“Eh, masih ngeyel juga. Kupotong kakimu di sini, baru tahu rasa!”

“Silahkan aja. Siapa taqyut?” Karun melecehkan sembari tergeli-geli menatap satu demi satu pasukan istana yang bertopeng.

“Gak sumuk tuh pakai topeng! Emang wajah kalian bopeng ya, kok rame-rame ditopeng, sih!”

“Mau diam atau kupotong sekarang?”

“Mana mungkin kalian berani main potong. Bunyi  dealnya kan tidak demikian? Kalian ini hanya orang suruhan. Fuih!” Pengkhianat meludah. Gemeretak gigi pasukan bertopeng menahan amarah. Dan pengkhianat makin ketagihan menggoda. Terus saja mengejek para suruhan dari istana.

“Stop! Kubilang stop! Sekarang rasakan peluru logam mulia ini di kedua betis kakimu!”

Duest! Duesst!!

Darah mengucur di tanah Kota Anggur Merah. Aneh. Karun diam tak mengaduh, tak kesakitan, tak kelojotan. Ia diam dan hanya diam, menunduk melihat kedua betisnya tertembus logam mulia dan menunduk makin dalam.

Pasukan bertopeng heran dan bertanya ketakutan, namun pura-pura digagah-beranikan. Matanya tajam di celah topeng hitam.

“Sakit kan? Tahu sekarang betapa kami bisa melakukan apa saja untuk membikin habis hidupmu?”

Pengkhianat terdiam. Pura-pura diam. Namun tiba-tiba kulit tubuhnya berubah warna. Membiru. Menjadi biru semua. Wajahnya biru, pakaian dan topinya pun jadi biru. Tanpa sepengetahuan pasukan bertopeng, kedua kakinya kembali seperti sediakala. Bergerak tanpa luka dan menyepak ke sana-kemari tanpa jeda.

“Tahu sekarang, betapa kuat dan liatnya ane?”

Tak peduli apa kata Pengkhianat yang sudah membiru, pasukan bertopeng menggiringnya ke dalam pesawat. Lalu terbang di udara ambang. Tak ada perdebatan kecuali sedikit pesta, makan pizza dari Italia. Ngabisin donat dari Amerika. Lalu ngorok dan tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Algojo. Pada sebuah tempat di tengah hutan belantara. Hutan beton dan baja. Di negeri sendiri, tempat iblis dan setan saling berlomba memadamkan api neraka.

Algojo tegak berdiri. Pedang berkilat di tangan kanan. Ruang besar jadi sunyi seperti ada kematian yang sedang mengintai.

“Dari mana kau datang, Pengkhianat! Napas hidupmu sudah tersendat di kerongkongan, masih juga wajahmu menantang.”

“Karena ane masih tetap waskita.”

“Pernah kau lihat pedang sang raja ini?” Pedang pun mengacung ke udara.

“Apalagi. Pedang Nabi Musa saja pernah ane lihat. Ane juga pernah lihat pedang Nabi Muhammad di museum agung….”

“Kalau begitu, siapkan jiwa dan ragamu untuk menghadapi kilatan pedang ini.”

“Siapa taqyuuut! Bukankah ane masih waskita!”

“Tak ada satu pun bagian dirimu yang waskita! Tunggulah beberapa menit lagi dan rasakan betapa tajamnya pedang ini!”

“Huahaha! Sudah ane bilang, kalo cuma pedang raja, ane tak berasa!”

Crrressst!

Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala.

“Sudah ane bilang, gak usah pake pedang itu….”

Dasar pengkhianat, turunan Azazil, cucunya Iblis, ponakan si Hannas, calon penghuni neraka Huthamah, meskipun seribu kali berubah ujud, tetap saja mukanya. Apalagi hidungnya masih tajam penciumannya dibanding agen CIA sekalipun.

“Kamu lihat apa yang ada di belakangku… Kapak Milosevics, kapak Nero, kapak Mussolini, kapak Hitler, dan kapak-kapak lain yang lebih mumpuni.”

“Huahaha! Hanya ada satu kapak di dunia ini yang benar-benar mumpuni,” Pengkhianat terkekeh-kekeh kegelian. Sok tahu dan meremehkan Algojo yang mulai kebingungan dan reka-reka, kapak apa kiranya yang lebih mumpuni dibanding semua kapak legendaris ternama itu. Mungkinkah kapak pembelah api, pembelah matahari?

“Ane benar-benar kasihan ama ente! Sepertinya ente mulai bingung, mulai capek dan kehabisan ide untuk menghabisi para pengkhianat di negeri ini.”

“Jangan sok begitu, Pengkhianat! Kamu pikir, hanya orang seperti kamu yang  punya ide cemerlang melebihi ideologi istana?”

“Ya pastilah itu! Sejak dari sononya ane ini penggagas ide-ide brilian! Itu kenyataan tak terbantahkan!”

“Buktikan dulu faktanya. Jangan hanya bekoar seperti burung garuda kesepian!”

“Haaa, apa?  Burung garuda kesepian? Sini mendekat dan ane akan bisikkan gagasan cemerlang untuk ente dan pasukan-pasukan bertopeng itu!”

Algojo limbung. Ribuan lembar uang dolar merasuki kedua matanya yang mulai hijau. Gamang menerawang. Pasukan bertopeng dipanggil dan masuk ke dalam ruangan. Saling sikut agar maju duluan mendekat ke mulut pengkhianat yang bakal membuka rahasia, memberi ide-ide brilian. Tapi ngomong-ngomong, bukankah rahasia ini adalah untuk menghancurkan dia. Mengapa justru dia sendiri yang memberikan ide mautnya? Pasti dia hanya ingin mempertontonkan rekayasa besar di balik seluruh kebohongan dan dusta. Pasti dia hanya bermaksud memperdaya kami. Namun, para pasukan bertopeng itu  tak peduli. Mereka ingin tahu dan mengukur seberapa brilian otak Pengkhianat sesungguhnya.

“Sebelumnya ane mohon maaf ya, turut belasungkawa atas kematian otak kalian, ha-haha…!!!”’

“Bedebah! Inikah ide brilian yang kamu maksud?”

“Bukan! Belum terkatakan. Sabar dululah, lihat dan contohlah ane yang masih muda ini. Meski muda, ane penuh sabar dan waspada. Awas betul ni ane punya mata biru, kwakakaka…!”

Dasar Pengkhianat, turunan Azazil, cucunya Iblis, ponakan si Hannas, calon penghuni neraka Huthamah, meskipun seribu kali berubah ujud, tetap saja mukanya. Apala-gi hidungnya, masih tajam penciumannya dibanding agen CIA sekalipun.

“Sudah siap terima ide ane?”

“Tidak usah banyak cingcong, cepat katakan apa maumu dan di mana dolar itu kamu simpan… atau kembali kutembak kedua betismu selama duapuluh empat detik sampai darahmu habis merembes ke dasar bumi, heh!”

“Sekali lagi ane bilang, tak ada gunanya itu peluru logam mulia.”

Nyeletuk algojo dari tempat duduk. “Ini kapak untukmu, Pengkhianat!” Kapak besar berkilau warna emas mengacung ke udara. Ganas.

“Apalagi kapak emas, kapak berlian pun tak ngaruh. Leher ane yang mumpuni ini tak kan putus sebelum dipotong dengan Kapak Ibrahim. Ya. Kapak Ibrahim, hahaha…!”

Crrressst!!!

Algojo bertindak tanpa aba-aba. Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala.

Dua kali pedang, dua kali kapak, wajah biru pengkhianat itu masih menyala. Kali ini justru bangkit dan menenteng kedua tangan di pinggang. Entah ke mana itu borgol. Wajahnya menantang, kedua matanya lebih biru dari sebelumnya. Seakan bintang pun pudar karenanya. Mungkin hanya matahari bakal mengalahkannya.

“Kalian carilah ke ujung bumi dan lekuk-lekuk planetnya, barangkali kalian akan sanggup bertemu dengan Kapak Ibrahim. Dan jika ente-ente dah sukses membawanya ke dalam ruangan ini, kupersilahkan Algojo memotong leher ane, tauk..?!” .

“Tapi, kalau kamu sudah lenyap dari bumi, di mana kami harus mencari tumpukan dolar dan menemukan harta karun yang kau simpan.” Pasukan bertopeng sudah tak karuan otaknya. Miring kanan miring kiri sampai teleng kepalanya.

“Andai leherku dah putus beneran, dan tak bisa nyambung lagi di badan ane, maka tuntaslah pengembaraan ane menebar virus kematian, dan negeri ini akan merdeka dari koloni para pengkhianat seperti ane. Dan jika kalian berhasil beneran membawa Kapak Ibrahim, itu artinya negeri ini benar-benar memperoleh Lailatul Qadar. Bukankah ini bulan Ramadhan??”

“Sudah Pengkhianat, masih juga ceramah. Apa jadinya negeri ini jika bromocorah membawa kitab suci ke sana-kemari.”

“Mendingan ane, gak korupsi kitab suci. Gak bawa agama demi merampok dunia. Ane tuh masih tergolong orang beriman…!!”

Pengkhianat terdiam beneran. Merunduk khusuk ke tengah dada. Namun, tak lama, tiba-tiba kulit tubuhnya berubah warna. Metamorfosis katanya, bukan bunglon. Dari biru jadi menguning, lalu ungu, lalu menghijau semuanya. Wajahnya hijau, pakaian dan topinya pun jadi hijau. Tanpa sepengetahuan pasukan bertopeng, kedua kakinya bergetar, hatinya bergetar, serupa burung Nasar menjelang pingsan.

“Apalagi yang ingin kau katakan, Pengkhianat!”

“Songsonglah negeri ini dengan hati. Ane bilang, ini negeri baldatun tayyibatun wa rab-bun ghafur. Seribu bulan memenuhi cahaya langit dan Mikail beterbangan tak henti-henti menebar rezeki seribu bulan dihujani rahmat Tuhan yang menenggelamkan seluruh penyakit peradaban, seribu bulan dikucuri hidayah penyucian jiwa yang mengangkat kemanusiaanmu bangkit kembali menuju hidup yang benar-benar hidup seribu bulan….’’ Matanya tajam mengitari ruangan, “Maaf, kalian lihatkan ada ruh wali yang merasuk ke tubuh ane??”

Algojo diam seribu bahasa, serasa kursi yang diduduki kian panas. Kesulut lidah api dari neraka Huthamah. Pasukan melepas topeng hitamnya. Rasa loyo merambat di urat syaraf. Ruangan pun jadi sunyi dan senyap mengelilingi. Seberkas ayat cahaya melayang-layang mampir di kuduk para dusta.

Allahumma inna naj’aluka fi nukhurihim wa naudzubika min sururihim . Ya Allah, Engkaulah yang telah menciptakan apa pun yang ada di kuduk mereka dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatannya.

Agojo lemas. Pengkhianat ambil napas. Pasukan bertopeng ngeloyor begitu saja, keluar dari ruangan dengan langkah tenang. Aneh bin ajaib. Negeri makmur dipenuhi lumpur dan tak ada yang tahu, kapan Kapak Ibrahim bisa ditemukan dan menjadi senjata pamungkas sang raja untuk memotong leher-leher patung raksasa, para pengkhianat di sekeliling istana. (*)

 

 

Jogja, awal Ramadan 1433 H

.

.

One Response

  1. boleh minta alamat emailnya Abidah El Khalieqy gak?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: