Perahu Morantab


Cerpen Badrul Munir Chair (Suara Merdeka, 29 Juli 2012)

MATAHARI sore membiaskan warna jingga pada air laut ketika Morantab berjalan menyusuri tepian pantai dengan kaki telanjang. Sesekali ombak kecil datang ke tepian membasahi kakinya, hingga tiba-tiba Morantab merasakan kaki kirinya menginjak sesuatu empuk yang tak asing: kotoran manusia. Tak jauh dari pandangannya, seorang laki-laki duduk berjongkok menghadap laut, menyingkap sarungnya hingga pundak, kedua matanya terpejam, dan dahinya mengerut seperti menahan sesuatu. “Huh… patek!” Morantab mendengus, jengkel.

Morantab menepikan sampah-sampah yang berserak di tepian pantai. Ia mendekati perahu-perahu yang berderet di sepanjang tepi. Setiap sore ia harus memeriksa perahunya yang dilabuhkan di ujung desa, tak jauh dari gugusan karang tanda batas kecamatan. Morantab memastikan tali tambang terikat kuat dan perahunya tak akan hanyut terbawa angin pasang. Perahu diikat dengan temali pada pohon lontar. Tak perlu jangkar, sebab perahu itu dilabuhkan di tanah pasir, hanya berjaga-jaga bila sewaktu-waktu air laut terlalu pasang.

Cat-cat perahunya terlihat memudar, sebagian mengelupas, pertanda sudah lama tidak dirawat. Padahal papan-papan masih kokoh, merekat simetris. Papan-papan kayu itu dahulu diperoleh Morantab dari tengah laut, buangan kapal besar yang bertolak dari arah Pulau Kalimantan.

Ah, Morantab teringat dengan kejadian 15 tahun silam. Saat itu Morantab hanyalah kuli nelayan—mencari ikan dengan menumpang perahu orang—yang penghasilannya tidak seberapa dan terkadang tak cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan karena kondisi ekonominya sudah sangat memprihatinkan, Halil—anak semata wayangnya—memilih mengadu nasib hingga ke luar negeri sebab Morantab tidak mampu lagi membiayai sekolahnya.

Dalam kondisi terpuruk seperti itulah, pada suatu malam, di tengah laut, Morantab melihat papan-papan kayu terapung tak jauh dari pandangan. Beberapa kayu ada yang sudah menyangkut di jalanya. Tak banyak pikir, Morantab melompat dari perahu, mengumpulkan kayu-kayu itu, mengikatnya agar tidak berserak dan tetap mengapung di sekitar perahu. Morantab kemudian meminta izin kepada juragan perahunya untuk mengangkut kayu-kayu itu ke atas perahu untuk dibawa ke pulau. Juragannya setuju, tentu dengan perjanjian ia juga mendapat bagian.

Morantab yakin, papan-papan kayu itu sengaja dibuang oleh kapal yang terlalu banyak muatan, atau bahkan sengaja dihanyutkan awak kapalnya untuk menghindari patroli polisi laut sebab kayu yang mereka bawa adalah kayu ilegal hasil dari penebangan liar di Kalimantan yang hendak diselundupkan.

***

MATAHARI belum terbit ketika perahu yang membawa Morantab dan kayu-kayu itu berlabuh di pulau. Lamat-lamat terdengar suara sautan “Amiin….” dari speaker Toa di atap Masjid. Orang-orang desa sedang shalat, sebagian lainnya mungkin masih tidur. Selagi hari masih gelap dan pantai sedang sepi, Morantab bergegas memindahkan papan-papan kayu itu sebelum pantai menjadi ramai oleh orang-orang yang menunggu perahu datang untuk membeli ikan-ikan segar.

Dengan tergesa, Morantab memindahkan kayu-kayu itu ke rumahnya yang tak jauh dari pantai. Belasan papan kayu bergantian ia pindahkan ke dapur rumahnya yang tak beratap, memikulnya sendiri. Jangan sampai ada orang lain atau tetangga yang tahu, sebab mulut mereka begitu licin untuk mengadukannya kepada petugas kepolisian agar mereka juga mendapat imbalan dari sang petugas. Ah, di desanya itu memang banyak penjilat yang kerap mencari keuntungan walaupun orang lain harus jadi korban.

Ketika semua kayu itu sudah dipindahkan ke dalam rumahnya, Morantab dikejutkan oleh suara bentakan istrinya. “Dari mana kau curi kayu-kayu itu, Morantab?” dengan sisa-sisa kantuk sehabis bangun tidur, istrinya bertanya curiga.

“Jaga mulutmu, Ramlah! Kayu-kayu ini sudah dibuang pemiliknya ke laut, sekarang jadi milikku!”

“Mana ada orang bodoh membuang kayu segini banyaknya ke laut?”

“Jaga mulutmu!” Morantab membanting kayu di hadapan Ramlah. Suami-istri itu lalu beradu mulut, bertengkar sengit. Mereka berdebat. Ramlah terus mencurigai asal kayu-kayu itu, dan penjelasan Morantab tak membuat Ramlah percaya.

***

PERTENGKARAN itu sudah 15 tahun berlalu. Kini kayu-kayu temuan itu menjelma sebuah perahu, perahu yang warnanya terlihat pudar, pertanda sudah lama tidak dirawat, perahu yang papan-papannya sebagian bocor dan sudah sekian lama tidak dipakai berlayar, perahu yang dahulu berjasa mengangkat martabat keluarganya hingga ia dan istrinya bisa membangun rumah dan naik haji.

“Kabarnya, perahumu mau dijual, Ji?” tiba-tiba seseorang mencegat langkahnya tak jauh dari tempat perahunya dilabuhkan. Orang-orang desa itu memang memanggilnya “Haji” sebagai panggilan kehormatan.

“Badanku sudah tak kuat, Mat. Kelamaan kena angin laut bisa meriang dan muntah.”

“Jadi, betulan mau dijual?”

“Tak tahulah, Mat. Perahu ini sudah banyak berjasa, sayang kalau dijual.”

Sore itu Morantab kembali ke rumahnya dengan hati bimbang. Sudah banyak orang yang menawar perahunya, bahkan dengan harga yang lumayan tinggi. Berkali-kali ada orang yang mendatangi rumahnya untuk menawar perahunya, berkali-kali pula ia menolak. Dan tentu, berkali-kali pula ia harus mendengar ocehan istrinya.

“Kamu sudah tua, tak kuat lagi melaut, perahu itu sudah lama nganggur, kenapa tidak dijual saja?”

“Belum ada harga yang cocok.”

“Belum cocok katamu? Uang segitu bisa buat beli mobil pikep!”

Ramlah berpikir realistis, memang banyak nelayan yang putus asa menjual perahunya lalu membeli mobil pikep guna disewakan kepada nelayan lain untuk mengangkut ikan hasil tangkapan, atau mengangkut terasi untuk dibawa ke luar kota. Itu akan lebih menguntungkan terutama jika pancaroba berkepanjangan yang membuat nelayan tak berani melaut, yang barang tentu tak akan punya penghasilan. Perahu berlayar menyesuaikan cuaca, sedang mobil pikep bisa disewakan kapan saja. Begitulah pikiran Ramlah.

Tetapi Morantab tidak mau tergoda dengan tawaran tinggi orang-orang yang datang hendak membeli perahunya. Ia enggan menjual perahunya dengan alasan ia masih punya harapan kepada Halil, anak semata wayangnya.

“Halil bisa meneruskan perahu itu, Lebaran depan ia akan pulang.” Masih ada harapan bagi Morantab untuk tidak menjual perahu yang sangat berjasa dan banyak menyimpan kenangan itu. Harapan yang sebenarnya ia jadikan alasan untuk tidak menjual perahunya.

“Halil ke Malaysia karena enggan jadi nelayan. Kalau Halil ada disini, tentu ia tak akan banyak pikir untuk menjual perahu tua yang sudah rusak itu!”

“Halil ke Malaysia karena tidak tahan mendengar ocehanmu!”

Kali ini terdengar suara pintu dibanting. Ramlah tak kalah sengit membalas perkataan suaminya dengan sumpah-serapah. Suami-istri yang berusia lebih dari separuh abad itu lagi-lagi bertengkar sengit, seperti biasanya.

***

HAMPIR enam bulan perahu itu tak berlayar, masih terikat kuat pada batang sebuah pohon lontar di tepi pantai ujung desa. Selama itu pula hampir setiap hari Morantab datang ke pantai, untuk memastikan perahunya masih terikat kencang. Mesin perahu dan segala perkakas penting sudah ia amankan di rumah, lampu-lampu kecil yang menghias tiang dan layar perahu, jala dan pancing, semuanya sudah ia simpan.

Morantab menatap laut lepas. Sudah begitu lama ia tidak berlayar. Terakhir kali melaut sekitar setengah tahun lalu, ketika itu ia muntah di tengah laut dan sekarat di atas perahu. Awak-awak perahunya memutar arah perahu kembali ke pulau Madura. Ia benar-benar kritis ketika itu.

Usia memang tak bisa dilawan, semakin tua penyakit semakin mudah datang. Morantab jadi sering mabuk laut, tubuh tuanya tak lagi tahan angin, belum lagi linu di punggungnya yang semakin menjadi setiap ia menarik jala. Sebab itulah ia memutuskan istirahat, walau keputusan itu tentu teramat berat.

Sebulan dua bulan perahu itu memang masih terus berlayar walau tanpa Morantab. Awak-awak perahu yang sudah belasan tahun menemani Morantab masih bisa dipercaya. Selama itu pula Morantab hanya diam di rumah, menunggu hasil tangkapan tanpa jerih payah. Ramlah pun tinggal menunggu perahu datang, lalu menjual ikan-ikan tangkapan. Hasil penjualannya dibagi rata kepada empat orang awak perahu, tentu saja sudah dikurangi biaya beli solar, perbaikan perkakas, juga jatah keluarganya sebagai juragan.

Namun itu hanya berjalan sebulan dua bulan. Bulan-bulan berikutnya hasil tangkapan ikan semakin berkurang, pendapatannya semakin jauh menurun. Penghasilan perahunya tak cukup lagi untuk makan empat orang awak dan buat beli solar dan perbekalan melaut. Padahal perahu-perahu nelayan lain membawa tangkapan melimpah. Sungguh sesuatu yang janggal.

Menurut kabar burung yang beredar, awak-awak perahu Morantab kongkalikong dengan nelayan lain, memindah ikan-ikan tangkapan ke perahu lain dan hasil penjualannya dibagi rata ketika sampai di daratan. Karena kini awak-awak perahunya sudah tak bisa dipercaya, akhirnya Morantab memilih mengistirahatkan perahu yang banyak menyimpan kenangan itu.

Kini awak-awak perahunya telah menyeberang ke perahu orang. Tak mungkin ia berlayar sendirian. Keadaan menjadi semakin rumit karena Ramlah bersikukuh ingin menjual perahu itu. Morantab semakin bimbang, antara mempertahankan atau melepaskan, merelakan atau mengabadikan kenangan.

***

SEBENARNYA ada alasan lain mengapa Morantab bersikeras tak ingin menjual perahu itu. Bukan hanya kenangan indah bersama Ramlah, bukan karena jasa-jasa perahu itu yang membuatnya bisa membangun rumah dan naik haji, bukan pula karena perahu itu adalah tumpuan hidupnya untuk mencari nafkah selama belasan tahun. Bukan itu, melainkan ada kenangan lain yang dirahasiakan Morantab dari siapa pun, tentang perahu itu.

Setiap sore menjelang matahari surup, Morantab tak pernah absen memeriksa perahunya. Awalnya memang karena khawatir perahunya akan hanyut jika air pasang tiba, juga untuk memeriksa papan-papan perahu yang mungkin saja dicuri orang. Namun setelah beberapa minggu berlalu, Morantab mempunyai alasan lain untuk selalu datang memeriksa perahunya setiap sore, sesuatu yang begitu rapat ia sembunyikan, serapat papan-papan itu merekat di lambung perahu.

Di ujung desa itu, di balik gugusan karang tak jauh dari tempat Morantab melabuhkan perahunya, setiap sore, seorang perempuan cemas menunggu kedatangan Morantab, menunggu lelaki itu menjemputnya di sungai kecil di balik karang, lalu membawanya mengendap menuju sebuah perahu, perahu yang jauh terpisah dari perahu-perahu lainnya, perahu yang sudah lama tak berlayar.

Ya, sebenarnya setiap sore Morantab datang tidak hanya untuk memeriksa perahunya, melainkan untuk menemui Halima, janda satu anak yang telah lama ditinggal mati suaminya. Di balik karang itu, Halima selalu menunggu kedatangan Morantab sambil (pura-pura) mencuci baju di sungai kecil, sesekali ia memandang ke timur jauh, mencari-cari bayangan tubuh Morantab.

Maka setelah Halima melihat Morantab datang dari kejauhan, ia sudah bersiap untuk meninggalkan sungai itu, dengan pakaian dan rambut basah tergerai. Sementara di sepanjang jalan pantai, Morantab tentu sudah memperhatikan seberapa ramai pantai itu, ia menghitung berapa orang yang masih berlalu-lalang, memastikan seberapa aman kesempatan untuk bercumbu, mencumbu Halima di atas perahu.

Setelah semua dirasa aman, Morantab menjemput Halima yang menunggu di balik karang, lalu membawanya mengendap menuju perahunya. Di atas perahu itu, mereka duduk berdua menunggu matahari lengser, menyaksikan senja surup di balik cakrawala, seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Morantab memeluk Halima tanpa khawatir ada orang lain yang mengetahuinya. Perahu itu cukup aman untuk mereka bercinta, memadu asmara.

Itulah alasan mengapa Morantab tak pernah mau menjual perahunya, dengan tawaran berapa pun. Terlalu banyak kenangan, akan ada yang hilang jika perahu itu tak lagi jadi miliknya. Terlalu banyak yang ia rahasiakan, yang mungkin akan terungkap setelah perahu itu terjual. Ia tak ingin kenangannya luntur, tak ingin rahasianya terungkap. Ia masih ingin lebih lama lagi menjaring kenangan di atas perahu itu, bersama Halima. (*)

 

 

Yogyakarta, Juni 2011

Badrul Munir Chair lahir di Ambunten-Sumenep, 1 Oktober 1990. Karya-karyanya masuk dalam sejumlah antologi bersama, di antaranya antologi cerpen Di Pematang Pandanaran (Matapena: Yogyakarta, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo-Obsesi: Yogyakarta 2010), dan lain-lain. Kini bergiat di Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta, sembari melanjutkan studinya di Jurusan Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

.

.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: