Gulistan


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 22 Juli 2012)

KALIAN masih ingat, ingat sekali, kalau kalian bepergian ke kampung tetangga di pengujung Syakban.

Bakda zuhur, kalian menumpang sebuah bus yang semua bangkunya sudah terisi. Kalian berdiri dengan sebelah tangan berpegangan pada besi terentang di atas lorong yang membagi barisan tempat duduk. Kalian harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Di sekitar kalian; sepasang muda-mudi duduk berdempetan, mulut empat lelaki pecandu kretek yang menjelma pabrik asap, beberapa lelaki tua mengutuk pemerintah yang batal menaikkan harga BBM padahal sudah berderum-derum bensin ditumpuk di halaman belakang rumah, tiga pemuda sibuk memamerkan kelebihan fisik pacar masing-masing, ibu-ibu muda asyik dengan gadget (sesekali mereka merutuki Innova pribadi yang mogok—sepertinya mereka adalah anggota DPRD yang baru saja mengunjungi daerah pemilihan yang terpencil)…. Dan kalian berdua hanya bersipandang, sesekali memejamkan mata demi mencegah diri dari mengumpat dan membicarakan dosa-dosa orang lain.

Ah, kalian juga masih ingat. Baru setengah perjalanan, bus tiba-tiba berguncang, lalu berguling menurun, seperti tersungkur ke lembah yang sesak oleh pohon-pohon besar, semak-semak berduri, dan rumput-rumput tinggi tak bernama. Kalian tak menyangka, di balik belantara, ada sebuah taman yang indah. Bagaimana kami dapat terdampar atau terlempar atau tersuruk di tempat ini, bisik hati kalian masing-masing. Lalu, lalu kalian seolah terpisah, dan masing-masing berjumpa dengan seseorang yang berasal dari seberkas cahaya.

***

KAU melihat lesatan cahaya putih kemerah-merahan. Lalu cahaya itu meliuk, sebelum menjelma seorang gadis. Sebelum terpikat pada kecantikannya, kau sudah takjub pada apa-apa yang kautemui di taman.

Mana langit mana laut. Begitu kebingunganmu bermula. Ya, sama-sama biru bentangan alam itu. Selendang samudera yang beriak menjadi tudung nan indah, dan kibaran horison menjelma ambal bagi daratan yang penuh lekuk dan celah. Kau memandang riakan langit dan ketenangan samudera dengan degup jantung yang melampaui kecepatan kayuh kaki kuda kala berlari. Berulang kali kaukucek mata demi memastikan apa yang kaupijak dan apa yang memayungimu bukan sekadar ketakwajaran yang mengundang decakan ganjil, bukan pula ilusi yang iseng menyambangi.

Mana puisi mana sabda, telingamu pun kehilangan kepekaan. O, tidak! Mungkin tidak begitu tepatnya, tapi pendengaranmu tiba-tiba kehilangan gendang yang tabuhannya selalu memberitahu nama setiap suara dan perbincangan. Pandanganmu menyapu sekeliling, bagai meminta penjelasan perihal telinga yang bantut bekerja. Tapi, untuk apa risau dengan karunia bila pikiran pun kehilangan pelabuhan untuk menambatkan nalar dan logika. Maka, gemiricik aliran sungai yang menabrak bebatuan pun tak ubahnya tetesan air gua yang tak ingin menjadi stalagtit-stalagmit. Maka, cericit beburung adalah denting musik paling merdu yang pernah menggema di mayapada.

Mana angin mana udara, kau juga hampir tak memikirkan. Selayang pandang, dua zat itu tak ada bedanya. Ya, angin mungkin lahir dari rahim udara, anak yang ketika remaja dibiarkan berkeliaran; kadang membuat sesiapa terlelap karena kesiurnya, kadang membuat rumah-rumah poranda karena kumparannya, kadang membekukan aliran darah sebab kedatangannya yang tiba-tiba. Namun ternyata angin ini tidak seperti itu. Ia adalah udara bersih nan jernih, yang lesap ke dalam tubuh hingga darahmu suci dengan merahnya, hingga air matamu manis dengan beningnya.

Lalu, mana rindu, mana tak tahu?

Ya, kau seolah mengenal gadis itu. Di salah satu sudut taman yang penuh dengan bunga tanpa ranting itu, hanya ada kau dan dia. Sungguh, kau tak kuasa menamakan perasaan yang tengah menguncup. Kau memandang gadis itu dengan saksama. Dari kepala hingga ujung jari. Kau seolah mengenal dia dengan baik. Bahkan kau bisa bayangkan apa-apa yang ada dalam hatinya (entah bagaimana, kau bagai lupa ajaran agama; kau merasa tak perlu beristighfar sebab memikirkan sesuatu yang—mungkin seharusnya—haram bagimu).

Wajah gadis itu bening. Bening sekali. Matanya berbinar— titik hitam di dalamnya seperti pusaran yang menyimpan godaan tak tetanggungkan. Namun begitu, sedikit pun kau tak khawatir. Kau merasa nyaman sekali, padahal kau sangat yakin kalau gadis itu bukan muhrimmu. Kalian bahkan terlibat pembicaraan basa-basi berkepanjangan. Kalian saling menanyakan kabar, alamat rumah, hal-hal yang gemar dilakukan, warna kesukaan, dan tentu saja nama masing-masing. Kau melakukan semuanya tanpa merasa risih, tanpa merasa canggung, apalagi malu dengan kesalehan yang kaupelihara selama ini.

Ah, bagaimana kalau banyak orang yang melihat kami berdua, pikirmu sedikit cemas. Tapi setelah memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa, perasaanmu pun sedikit lega. Kau sesungguhnya tahu kalau Tuhan maha melihat. Bahkan hati kecilmu sempat nyeletuk; apakah Dia juga ada di taman yang menakjubkan ini?

O tidak, gumammu seolah sadar dari kekurang-ajaran dugaanmu. Tuhan pasti ada. Di mana-mana. Tapi entah aku yang salah karena kalap dengan gadis yang menjelma bidadari atau apa, aku merasa Tuhan meridhoi apa yang kulakukan ini. Ah, jangan-jangan gadis ini adalah jodoh sejatiku.

“Lalu, lalu, bagaimana dengan perempuan yang kaupinang sepuluh tahun lalu?” tanya gadis itu, seolah menangkap kegelisahanmu. “Apakah kau tidak bahagia dengannya? Apa yang kurang darinya?”

Kau terdiam. Menekuk dagu. Bukan, bukan karena takut pada pandangannya, tapi bingung bagaimana dapat kauingkari pertautanmu dengan istri selama ini.

“Maksudku begini….” Nada suaramu ragu-ragu. “Hmm,” kau masih ragu-ragu seperti hendak menceritakan kekurangan. “Istriku,” lanjutmu tertahan. “Istriku tidak dapat memberikan keturunan, bahkan di usia pernikahan yang mendaki tahun kesepuluh.”

Gadis itu senyam-senyum.

“Mengapa kau tersenyum begitu? Apa ada yang aneh dengan kata-kataku?” tanyamu penasaran.

“Tidak,” jawabnya. “Aku hanya ingin tahu. Apakah kaupikir istrimu mandul, atau jangan-jangan….”

Belum selesai kalimat gadis itu, kau menyela, “Ya, aku tahu maksudmu. Kau memang benar. Bisa saja aku yang mandul. Bisa saja aku yang salah. Tapi, tapi, tapi, kami sudah sama-sama memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya sungguh melegakan. Kami berdua tidak memiliki kekurangan untuk berketurunan. Tapi, ya, kenyataannya begini. Entah dokter itu yang salah, kami yang salah, atau Tuhan menganggap kami belum cukup amanah.”

Gadis itu tersenyum lagi. “Aku bahagia sekaligus bangga dapat mengenal laki-laki sepertimu.”

Wajahmu merah kembang sepatu.

“Kau tidak egois. Aku yakin istrimu adalah wanita yang beruntung. Kau jangan terpedaya oleh penampilanku. Pasti kau mengira aku berusia tujuh belas tahun, ‘kan?”

Warna kembang sepatu di wajah laki-laki itu berubah menjadi ungu.

“Tak usah malu.” Wajah gadis itu semringah. “Aku tahu semua tentangmu. Tentang anak-anak asuhmu. Tentang hasil ladang yang kalian sumbangkan untuk masjid dan para manula yang kehilangan daya untuk bekerja. Termasuk hal-hal yang kaulakukan saban Ramadhan.”

Kau mengernyitkan dahi.

“Setiap Ramdahan, kau dan istrimu beribadah sebulan penuh, bukan? Bahkan kalian sengaja ke ladang setengah hari karena tak ingin waktu shalat sunnah, membaca Quran, dan menghadiri majelis hikmah, banyak tersita.”

Kau takjub, benar-benar takjub; bagaimana ia mengetahui semuanya.

“Lalu, sebenarnya siapa kau, wahai Gadis yang Mengetahui Segalanya?”

Gadis itu mendekatimu. Kau mematung, seakan-akan aliran darahmu ditotok serta-merta. Ia membisikkan sesuatu di telingamu, sesuatu yang lembut, yang bertiup, berselancar di sepanjang nadi, dan menancap di katup jantungmu. Sungguh, sepertinya kau mengakrabi suaranya. Kau tersenyum, tersenyum malu, ketika mengetahui sekaligus menyadari: gadis itu mengetahui kepura-puraanmu, kepura-puraan kalian.

Ah, memang drama yang indah, batinmu gembira.

***

TAK kalah dengan suamimu, kau juga takjub tak kepalang.

Kau berjumpa dengan seorang pemuda yang tampan perkasa. Seperti inikah Nabi Yusuf, dugamu tak percaya. Namun cepat-cepat kau beristighfar ketika ingat suamimu. Tapi di mana imammu itu, kau pun tak tahu. Kepalamu sudah cukup bergasing dengan apa-apa yang ada di hadapanmu.

Kau tak kuasa membedakan, mana pinang mana kelapa. Setiap pohon menjulang bagai tiang cahaya tanpa bohlam. Pelepahnya adalah sayap merak yang riap dengan wewarna yang belum pernah kaulihat. Daun-daunnya seperti mutumanikam yang membentang dalam warna hijau kulit nangka. Lalu, bunga-bunga putih susu yang merimbuni tetangkai yang menyeruak di pucuk-pucuknya memancar cerlang; sinarnya menerangi hingga radius dua ratus mil di sekitarnya (ah, betapa!). Buahnya? Buahnya adalah bola-bola air yang menggelantung di udara yang kapan saja dapat berubah bentuk, warna, dan aroma.

Mana padi mana ilalang, kau jua tak kuasa mencuatkan jawab. Rerumputan, begitu akhirnya pikiranmu memberi nama. Rerumputan yang senantiasa bersujud; tak peduli siang atau malam, tak peduli pagi atau petang, tak peduli ke mana jarum jam bergasing seharian. Memang, sebagaimana rerumputan, kerimbunannya menyerupai batalion hobit berbaju hijau yang bertiarap. Saban pucuknya melambai, wangi gurun menguar dan sejuknya air terjun merayapi. Setiap itu pula, langit akan menjadi biru terang—bukan biru yang sendu. Resapilah; cericit dan koak burung-burung pun tidak lagi membuat telinga makin berdenyar, namun membuat dadamu makin lapang dan perasaanmu makin bungah, seolah ada kebahagiaan yang serta-merta menyerlah!

Lalu, lalu bebunga yang menghampar itu, membuatmu tak berdaya melukiskan, seperti apa nian dadamu bergemerincah: mana mawar, mana raya? Ya, kau memang sangat menyukai kedua bunga itu. Selintas, raya adalah kembang sepatu dengan kelopak berlapis-lapis. Dari jauh, raya tampak seperti bunga mawar raksasa. Namun, kau begitu terkejut ketika mendapati; bunga yang awalnya kauniatkan untuk dihadiahkan kepada suamimu itu, ternyata bukan raya, bukan juga mawar raksasa!

Kau kehabisan kata untuk menamakan bunga yang tangkainya berada dalam genggamanmu kini. Apalagi, aromanya… ya aromanya seperti campuran dari puluhan atau ratusan atau ribuan atau jutaaan wewangian yang selama ini belum pernah kaubaui!

Lalu, mana mawar, mana raya?

Lalu, mana taman, mana surga, Abang?

“Abang?” tanya pemuda itu. “Kenapa kau memanggilku seolah kita sudah saling mengenal, seolah aku kekasihmu?” Ia nyengir kuda.

Kauseri-serikan wajah. Kau kikuk, ke mana harus membuang muka. Kau menyesal sudah memanggil pemuda itu “Abang”. Oh, bagaimanapun, pemuda itu telah menyadarkanmu agar tidak meluruhkan kesalihaan, yang telah kautumbuhkan bertahun-tahun, dalam sekali perbincangan. Tiba-tiba kau merasa sangat kesal kenapa bisa terseret ke taman ini.

“Tenanglah. Suamimu tak ada di sini.” Pemuda itu seolah mencoba menenangkan.

“Ini bukan tentang ada-tidaknya suamiku, tapi layak-tidaknya seorang perempuan bersuami berduaan denganmu di sini, di taman ini. Oh, kita seperti sepasang kekasih yang sedang memakan buah khuldi!”

“Apakah kau yakin Tuhan juga ada di tempat ini? Bukankah Dia memiliki taman-Nya sendiri?”

“Surga?” tebakmu.

“Kau tahu itu,” tukas pemuda itu.

“Lalu taman ini?” Nada pertanyaanmu seperti kecewa.

“Kenapa?” Pemuda itu memicingkan sebelah mata seperti mengejek. “Kau menganggap taman ini sebagai surga?”

Kau terdiam, malu. Wajahmu seperti ubi jalar goreng.

“Memangnya siapa kau?” Pemuda itu meremehkanmu.

“Lalu di mana suamiku?” Perasaanmu tak tentu. Cemas, takut, dan bingung, bersigesek dalam dadamu.

“Jangan-jangan dia yang ke surga!” Ia lipat kedua tangan di dada.

“Lalu inikah neraka?” Kau mulai sedikit panik.

“Aku tidak bilang begitu.” Nada suaranya seperti mengejek.

“O, tidak!” Kau memegangi kepala, meremas-remas rambut, kebingungan. “Apakah niat kami hijrah ke kota tetangga itu salah lantaran kami meninggalkan anak-anak itu?”

“Maksudmu?” tanyanya pura-pura tak tahu.

“Akulah yang mengajak suamiku meninggalkan kota kami. Tapi, kami sudah meminta seorang yang kami percayai untuk mengurus anak-anak asuh kami. Lengkap dengan sejumlah uang dan bekal makanan. ”

“Dan suamimu menurut saja karena ia juga ingin punya anak sepertimu, ‘kan?”

“Bukan!” Kau mengelak. “Eh, iya.” Kau segera meralat sanggahanmu. “Kami mengasuh banyak anak seharusnya memang bukan untuk memancing Tuhan untuk mengasihani kami. Seharusnya pula, hijrah kami semata demi ibadah yang lebih khusyuk selama Ramadhan.” Kau merasa sangat malu, malu sekali.

“Tidakkah kalian malu?” Telunjuknya menuding wajahmu. “Kalian seolah tak mampu mengasinkan lautan sendiri, lalu ingin pindah ke pulau garam yang berada tak jauh dari samudera.”

Wajahmu mendongak. Bahumu berguncang meredam buncah. “Mungkin kami memang salah. Tapi kami hanya ingin mencoba-coba. Sudah sepuluh tahun kami berkeluarga, tapi belum juga dipercaya-Nya untuk mengurus buah hati. Kemarin seharusnya menjadi Ramadhan kami yang kesepuluh sebagai suami-istri. Ramadhan adalah bulan yang mustajab untuk terus mengecambahkan harapan dengan doa-doa, bukan? Termasuk berharap beroleh keturunan. Ah, sepertinya kami memang salah, ya. Pikiran kami terlalu singkat.” Wajahmu seperti kembang sepatu yang tergeletak di dekat api yang membara. “Kami hanya berpikir, siapa tahu beribadah, termasuk beri’tikaf, di kota yang terkenal dengan kemakmuran masjidnya, dapat membuat Tuhan mempercayai kami tahun ini.”

Pemuda itu menatapmu dalam, tajam, dan runcing sekali. Lalu dari kedua bahunya, menyembul sepasang sayap. Sayap itu berbulu cahaya. Lalu, lalu ia terbang. O tidak, bukan terbang, tapi lesap ke dalam cahaya. Cahaya yang tidak menyilaukan, tapi menenangkan, menenteramkan, menyejukkan, dan melindungi.

Kau mendekati cahaya itu. Cahaya yang berbentuk seperti manusia. Kau tak tahu, dari mana keberanian menyusup dalam dirimu. Kau menghampiri telinga kanan pemuda cahaya itu, dan membisikkan kalimat yang kau sendiri tak mengerti darimana kau mendapatkan kata-kata itu, bagaimana hingga lidahmu begitu lancar melafalkannya:

“Jangan  saling menipu, Sayang. Kita sama-sama tahu kalau kecelakaan bus itu tidak terjadi kemarin, tapi dua ribu empat ratus tiga puluh satu tahun yang lalu. Kita juga sama-sama tahu kalau kita sudah saling mengenal sedari tadi, sedari dulu. Kau sudah meminangku sepuluh tahun yang lalu, oh atau tujuh ribu tiga ratus tahun yang lalu. Benar ‘kan? Hmm, apakah kita akan bercinta lagi di taman ini, untuk yang kesekian kali? Kupikir, Tuhan akan mengembuskan ruh baru ke rahimku. Bukan saja karena kita berdoa di tempat yang indah, tapi juga karena kita memanjatkkannya di bulan yang berkah, di awal Ramadhan ini.”

Kalian sama-sama mengaminkan, lalu berpelukan, berciuman, bermesraan. Selanjutnya… ah sebaiknya memang tidak diceritakan. Yang terang, kalian juga seolah tak peduli, lupa, atau tak hendak bertanya:

Taman apa tempat kalian kini berada? (*)

 

 

Lubuklinggau, Mei s.d. Juli 2012

Benny Arnas, lebih banyak mengarang cerpen. Mengelola BENNY ISTITUTE, lembaga sosial-kebudayaan di Lubuklinggau. Email: benny.arnas@gmail.com

.

.

One Response

  1. membaca kisah-kisah dari benny memang selalu membuat sy berakhir pada satu kata : wow!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: