Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Suara Merdeka, 15 Juli 2012)

NAMAKU Pejurit. Orang tuaku memberi nama itu agar kelak aku dewasa menjadi manusia perkasa. Sebagaimana para prajurit, aku diharapkan dapat menjaga wilayah kekuasaan ayahku dari serangan musuh.

Aku terlahir dari orang tua beragama Hindu. Sebab keyakinan itu yang hidup di zamanku saat itu di sebuah kampung yang diapit dua way datang dari arus satu sungai Tulangbawang.

Tetapi begitu remaja, aku tergoda untuk meninggalkan agama yang dianut oleh ayahku: (Tuanku) Rio Mangku Bumi. Aku selalu dikepung gelisah, aku selalu ingin mencari tahu bagaimana bisa hidup tenang? Seperti ada sinar dari langit yang datang dari seberang selat.

Aku yakin di sanalah aku akan memeroleh kedamaian. Aku pamit mau menyeberang. Kusiapkan sampan. Kualiri arus Sungai Tulangbawang, dan tibalah di Teluk Lampung bernama Way Lunik (sungai kecil). Dari sana kuseberangi Selat Sunda dan berlabuh di pantai Banten.

Bertahun-tahun aku berguru di Banten. Bertahun-tahun pula kudalami ilmu dunia dan agama. Aku tergoda untuk mengikuti ajaran yang dianut orang Banten. Katanya, agama yang mereka peluk datang dari Tanah Suci. Aku pun berikrar dua kalimah syahadat. Memeluk Islam.

Semula kedatanganku ke tanah Banten ingin berguru kanuragan dan menjalin persahabat untuk suatu masa mungkin bisa minta bantuan untuk membalas dendam kekalahan ayahku (Tuan) Rio Mangku Bumi dari Kerajaan Palembang. Atau sebaliknya, Banten meminta bantuan pada orang Lampung jika sedang berhadapan dengan lawan.

Begitu aku telah memeluk Islam, dendam itu pun terbenam. Aku memaafkan. Bahkan aku hendak melanjutkan mendalami agama ke Mekah. Sebelum ke tanah kelahiran para nabi dan rasul tersebut, aku sempat belajar di Cina. Tanah Tiongkok sudah kuketahui dari cerita ayah, tentang seorang pejangga yang menyebut Tolang Pohwang.

Di Mekah aku dalami Alquran dan Alhadis, serta tasawuf untuk mencapai Hakikat: puncak tertinggi sebagai manusia bertakwa.

Setelah waktu yang kuanggap cukup menetap di Tanah Suci, aku pun pulang ke Tolang-Pohwang. Sebelum tiba di tanah Pagar Dewa, aku menyempatkan singgah di Kerajaan Palembang. Bukan untuk membalas dendam karena ayahku ditawan dan bukan pula ingin membawa pulang ayah dari tawanan, melainkan aku menyebarkan agama yang baru kudalami.

Setelah dari tanah Palembang aku mampir di lereng Gunung Pesagi, pusatnya Kerajaan Skala Beghak (baca: Skala Brak) kuno yang masih menganut animisme, sebelum kedatangan empat Umpu dari Pagaruyung menyebarkan Islam.

Setelah itu aku pulang ke tanah Pagar Dewa, tumpah-darah kelahiranku. Aku memulai menjaga adat dan menjadi orang pertama di sini menyebarkan Islam. Aku pun raja terakhir dan raja pertama memeluk Islam di Kerajaan Tulangbawang. [1]

Aku bangun dan jaga tradisi agar tetap lestari, kendati Hindia Belanda berupaya memecah-belah melalui kebudayaan tersebut. Bersama marga-marga lain di adat Pepadun bersepakat mempertahan adat-tradisi di tanah Lampung.

***

HAJI Pejurit namaku. Orang-orang sering menyapaku dengan Minak Pati Pejurit, sedangkan yang lainnya memanggilku Minak Kemala Bumi, Haji Pejurit Hidayatullah, dan banyak lagi panggilan. Untuk yang terakhir ini adalah gelarku.

Orang Lampung biasa dengan gelar di belakang namanya. Seperti aku, namaku Pejurit. Karena adat aku diberi gelar Minak Kemala Bumi. Sehingga lengkapnya namaku; Haji Minak Pati Pejurit gelar Minak Kemala Bumi. Aku pemimpin adat atau marga, dan lainnya menyebutkan Raja dari Kerajaan Tulangbawang.

Sebagai Raja Tulangbawang, aku dinisbahkan oleh ayahku Tuan Rio Mangku Bumi. Sedikit cerita tentang keluargaku. Anak Tuan Rio Mangku Bumi, Raja Tulangbawang pada zaman animisme-Hindu memunyai tiga putra.

Putra pertama adalah aku yang menurunkan orang Pagar Dewa. Putra kedua menurunkan orang Menggala, dan ketiga yang menurunkan orang Panaragan. Orang tuaku sebelum mangkat, memberi wasiat tiga kotak: aku mendapatkan berupa tanah, sedangkan anak kedua dan ketiga atau kedua adikku, memeroleh kotak berisi emas, besi dan kertas.

Aku sempat protes pada orang tuaku, Tuan Rio Mangku Bumi. Aku tidak terima, kenapa sebagai anak tertua hanya mendapat warisan berupa tanah? Kenapa bukan emas, besi dan kertas?

Ternyata setelah aku tahu kemudian, tanah adalah simbol dari kekuasaan. Aku mewariskan titah orang tuaku sebagai Raja Tulangbawang. Tanah juga bermakna bahwa di dalamnya tersimpan emas, besi, dan kertas. Apabila kita mau dan mampu mengolah tanah, niscaya emas, besi, ataupun kertas bisa diperoleh.

Karena protes itu, akhirnya aku seperti dikutuk: hanya menunggu tiyuh (kampung) yang kerontang ini. Sampai-sampai tiyuh Pagardewa ini sampai kini bagaikan kampung mati, lantaran ditinggal warganya merantau ke kota.

Banyak rumah panggung yang roboh sebab tidak dirawat ataupun ditunggu. Rumah-rumah panggung itu banyak pula yang tinggal tiang-tiang penyangga saja. Dinding dan atapnya entah sudah ke mana. Kampung Pagardewa seperti menatap sunyi Sungai Tulangbawang yang airnya berwarna kecoklatan.

Sementara kedua adikku: orang Panaragan dan Menggala hidup lumayan baik. Bahkan, Menggala menjadi ibukota Kabupaten Tulangbawang, dan Panaragan juga hidup layak. Dan aku, sebagai kakak tertua, selalu tertinggal. Kampung Pagardewa seperti terisolir, tak ada pembangunan berarti. Lampu penerang pun tak sampai ke mari.

Alangkah mahaduka….

***

AKU terlahir dari sebuah kampung bernama Pagar Dewa. Kenapa dinamakan Pagar Dewa? Banyak cerita yang membungkusnya. Misalnya, di kampung ini banyak makam para kstaria, menteri raja, dan raja: Tuan Rio Mangkubumi.

Disebut Pagar Dewa karena kampung ini didiami para dewa—maksudnya orang-orang lebih (perkasa)—selain maknanya adalah tempat pembunuhan, saling berbunuh, sehingga di daerah ini banyak pekuburan. Makna lain adalah tempat para ningrat atau raja bertahta.

Jika dilihat dari atas, Pagar Dewa dilingkungi oleh kuburan keramat. Menurut anggapan masyarakat, sama halnya dengan dewa karena kesaktian mereka dan mukjizat para dewa. Jadi Pagar Dewa adalah kampung yang dikelilingi oleh dewa-dewa

Dan, aku adalah raja terakhir sekaligus raja pertama yang beragama Islam. Istriku Ratu Balau, kupinang dari Negeri Balau di Kedaton. Bukan mudah aku meminang putri Balau tersebut. Aku harus bersampan dari Tulangbawang dan mendarat di perairan Teluklampung yakni Waylunik.

Negeri Balau dijaga para hulubalang sejak Waylunik. Masih hutan belantara. Binatang buas berkeliaran. Aku coba untuk memasuki penjagaan, namun terlalu ketat pagar betisnya. Seluruh pohon laksana manusia: bergerak-gerak dan ingin segera menyergapku.

Bagaimana caranya mengeluabui para hulubalang yang menjaga sangat ketat itu? Aku cari muslihat. Aku tangkap seekor rusa, aku bakar dengan api panggang. Kebetulan ada orang mati, lalu kuseret agar mendekat denganku.

Daging rusa pun matang. Aku makan. Ternyata dikira para penjaga itu aku sedang memakan daging manusia. Lalu tersebarlah kabar bahwa “ulun Pagar Dewa mengan jimou.” [2]

Aku pun mendapat kemudahan memasuki Negeri Balau. Aku pinang putrinya, dan kuajak ke tanah Banten. Istriku akhirnya meninggal di Pagar Dewa, sampai meninggal dan dimakamkan di Pagar Dewa.

Minak Pati Pejurit atau Minak Kemala Bumi adalah namaku. Dua nama namun satu orang; yang menurunkan orang-orang Pagar Dewa. Karena aku adalah raja terakhir, Tulangbawang tahun-tahun selanjutnya tak ada lagi seorang raja.

Meskipun sejarah kemudian menyebutkan, di Tulangbawang tak ada raja. Karena sisa-sisa peninggalan yakni berupa puing istana ataupun senjata dan warisan lainnya tak ditemukan, namun masyarakat Pagar Dewa—bahkan Tulangbawang umumnya—tetap mengakui adanya raja di sini. Akulah raja terakhir pada masa Islam masuk.

Meski baru kini aku menyesal, kenapa aku protes saat mendapatkan warisan hanya berupa sekepal tanah dari orang tuaku, Tuan Rio Mangku Bumi. Padahal, sekiranya aku tak tamak—benarkah aku tamak?—dan kuterima warisan yang memang itulah rezekiku, niscaya aku mampu menguak filosofi di balik pemberian tersebut.

Sebagaimana dongeng Sri saat diperintahkan ibunya agar memasak bulir padi, namun jangan dibuka atau dilihat sebelum matang. Sri penasaran lalu dibukalah tutup tempat masak itu. Apa yang terjadi? Sampai kini manusia harus menumbuk padi menjadi beras sebelum dimasak.

Aku meninggal dunia bukan di medan pertempuran, baik melawan Kerajaan Palembang atau dari negeri lain. Karena usiaku yang sudah tak bisa lagi apa-apa, dan harus mengahadap Ilahi. Seperkasa apa pun manusia, sekstaria bagaimana manusia. Suatu saat ia akan dipanggil Tuhan.

Maka makamku dijaga oleh keturunanku di Pagar Dewa. Sekitar 30 meter dari makam istriku, Ratu Balau. Atau sekitar 200 meter dari makam Tuan Rio Mangku Bumi, ayahku, yang masih beragama animisme.

Sejak itu, tak ada lagi kerajaan di Tulangbawang. Tetapi yang ada, dan ini adalah rintisanku adalah marga-marga. Ada empat marga atau yang lazim disebut mego pak. Ke empat marga itu yakni Pagar Dewa (Marga Tegam o’an), Buay Bulan, Sway Umpu, Marga Haji.

Orang-orang boleh meniadakan keberadaanku semasa hidup. Boleh pula tak mengakui adanya kerajaan di Tulangbawang, dalam hal ini berpusat di Pagar Dewa.

Kau bisa mendapatkan keganjilan dari kampung ini. Adanya suara-suara gamelan,bunyian musik kerajaan. Lebih-lebih kalau masuk ke kampung tersebut dari Menggala. Seolah-olah kau mendengar tetamu yang disambut musik-musikan.

Masih banyak lagi keanehan dan keganjilan. Tetapi, entah kenapa, aku tidak hendak ditahbis sebagai raja. Aku adalah Haji Pejurit Hidayatullah, seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di kampung ini: orang Lampung! (*)

 

 

Pagar Dewa-Bandarlampung, Januari-Februari 2012

Isbedy Stiawan ZS, sastrawan, tinggal di Bandarlampung Lampung.

Catatan:

[1] Nama sungai sekaligus nama kabupaten: Tulangbawang dan Tulangbawang Barat setelah pemekaran.

[2] Orang Pagar Dewa makan manusia.

.

.

Advertisements