Cerpen Muhammad Harya Ramdhoni (Republika, 15 Juli 2012)

UNTUNG. Nama itu tak pernah lenyap dari ingatannya. Lebih dari empat puluh tahun peristiwa itu telah berlalu, namun kenangan bersamanya seringkali menyapa dari balik tirai masa silam. Kisah cinta mereka menyeruak di antara heningnya pagi. Berlompatan di antara pikuknya siang. Berkejaran di antara peralihan senja yang ngambang. Kadang merayunya menuju relung-relung mimpi pada malam hari.

Orang Jawa percaya sebuah pepatah, witing tresno jalaran soko kulino, cinta bermula dari kebiasaan. Begitulah cinta mereka. Tutik selalu melewati markas lelaki itu jika hendak pergi kuliah, dan Untung, entah sengaja atau tidak, sering berpapasan dengannya. Diawali kebiasaan bertukar sapa, berlanjut dengan keinginan untuk saling mengenal. Kemudian, cinta pun tumbuh subur di antara mereka.

Cinta sederhana. Cinta orang-orang biasa.

Saat itu Tutik adalah gadis belia awal dua puluhan, mahasiswi sebuah sekolah kebidanan negeri di Solo. Sementara, Untung berusia pertengahan tiga puluhan, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat mayor. Manisnya cinta tak mengenal asal-usul, umur, dan kekayaan. Cinta terbukti merobohkan batas-batas itu.

***

“Aku mencintaimu, Tik,” suara Untung menggantung di langit basah bulan Desember. Lelaki muda berparas budiman itu baru saja kembali dari Irian Barat. Kampanye Presiden Soekarno untuk merebut wilayah republik di ujung timur meminta kerelaan hati ribuan pemuda pergi bertempur. Untung adalah salah seorang di antaranya, berperang demi sejengkal tanah yang entah milik siapa. “Aku sungguh mencintaimu, Tik. Aku ingin melamarmu.”

Tutik menunduk. Senyumnya sembunyi tanpa jejak. Senyum yang gamang. Ia tak tahu badai apa yang tengah berkecamuk di dadanya. Ia bahagia mendengar ketulusan hati kekasihnya. Ia tersanjung pada kesungguhan lelaki yang mulai beranjak baya itu. Namun, ia juga risau kepada ancaman Bu Liknya yang melarang dirinya meneruskan hubungannya dengan Untung.

“Untung terlalu tua untukmu, Nduk. Kalian berdua lebih pantas sebagai paman dan kemenakan,” pungkas Bu Lik Koem sehari setelah keberangkatan Untung ke Irian Barat.

Tutik tahu perkataan Bu Liknya hanyalah alasan yang dibuat-buat. Cara berpikir beliau tak terjamah pola pikir modern. Ada perihal buruk berkaitan dengan Untung, tapi entah bila hal itu akan terjadi. Bu Lik Koem juga tak tahu mengapa firasatnya berujar seper ti itu. Mengapa dalam hati kecil sang Bu Lik seorang perwira santun dan bermasa depan cerah seperti Untung menyimpan keganjilan? Itulah rerasan seorang perempuan Jawa yang rajin laku prihatin dan berhubungan dengan Tuhan secara amat pribadi. Alam pikir yang tak sejalan dengan logika manusia modern. Tapi, begitulah adanya.

“Jawablah, Tik.” Suara lembut Untung sekejap membangunkan lamunan Tutik. Namun, ia tetap membisu.

“Tak ada yang kupikirkan selama berbulan-bulan di belantara Irian selain engkau, Tik,” rayu Untung. “Ketika payung parasutku mengembang di atas langit Manokwari, wajahmu muncul di pelupuk mata. Aku lantas berdoa agar Allah memanjangkan umurku. Agar tunai mimpiku menggandengmu ke depan penghulu. Itulah hasratku yang tak pernah pupus. Hasrat untuk menikahimu, Tik.”

Tutik menjawab dengan tatap mata penuh haru. Kelopak matanya basah. Untung menghapusnya dengan lembut dan penuh kasih. Sebuah ungkapan cinta yang justru semakin menandaskan air matanya. Kata-kata pun lindap dari bibir keduanya. Langit yang mendung membuat suasana semakin syahdu. “Bicaralah, Tik. Jangan biarkan lidahmu kelu.”

“Mas….”

Tiba-tiba tangisnya sesenggukan. Air mata berhamburan semakin deras berebut tempat di pipi Tutik. Kali ini ia benar-benar tak sanggup menahan badai yang meronta-ronta dalam dadanya. Kepalanya pun rebah dalam pelukan Untung.

“Kenapa, Tik? Perihal apa yang membuatmu risau?” Untung berkata lembut dan datar, tetapi tak dapat menyembunyikan galau yang mulai berkecambah dalam hatinya. “Apakah selama kutinggalkan beberapa bulan ini ada lelaki lain yang menghampiri hatimu?” Yang didapatnya hanyalah gelengan kepala dan tangis yang semakin isak.

“Mas….” Suara Tutik tersendat-sendat, diselingi tangis sesenggukan. “Sepertinya percintaan kita takkan berakhir dalam perkawinan….”

“Engkau telah dijodohkan, Tik?” suara Untung terdengar gemetar. Sebuah perasaan misterius menghinggapinya. Ketakutan itu benar adanya. Tuti menggeleng lemah. “Lalu, kenapa?”

“Bu Lik Koem melarangku menikahimu, Mas.”

Untung menatap lekat-lekat wajah kekasihnya. Yang dipandang jadi salah tingkah. Ketakutan yang baru saja menghampirinya telah bersekutu dengan kebingungan. Gerangan apa itu?

“Apa sebab Bu Likmu melarang kita menikah? Apakah karena weton kelahiran kita yang bertentangan? Kenapa pula harus Bu Likmu yang memiliki kekuasaan untuk melarang pernikahan kita? Kenapa bukan kedua orang tuamu?” Pertanyaan Untung susul-menyusul bagai anak panah menancap ulu hati Tutik.

“Kekuasaan Bu Lik Koem melampaui pengaruh ibuku sendiri. Itu telah terjadi sejak bertahun-tahun lalu tatkala kedua orang tuaku mengalihkan hak asuhku kepada Bu Lik Koem, termasuk memilah siapa calon suami yang pantas untukku. Tapi, larangan ini bukan karena weton atau alasan kepercayaan Jawa, Mas.”

“Lalu, kenapa Bu Likmu melarangku menikahimu?”

“Bu Lik Koem sendiri tak mampu menjelaskan mengapa beliau melarang perkawinan kita. Menurut firasatnya, perkawinan kita akan berakibat buruk bagi kehidupan keluarga kami.”

“Akibat buruk seperti apa? Aku bekerja sebagai tentara dengan penghasilan layak dan tidak akan memberatkan keluargamu. Aku akan membahagiakanmu seumur hidup, Tik.”

“Entahlah, Mas. Aku pun tak mengerti maksud Bu Lik Koem.”

“Aku tak bisa menerima alasan Bu Likmu. Aku akan datang melamarmu besok malam.”

“Jangan Mas. Jika Mas Untung bersikeras datang, beliau akan murka…,” cegah Tuti.

“Aku tak peduli. Aku akan datang!” Untung menantang dengan garangnya.

Tutik risau kedatangan kekasihnya esok malam justru akan berubah menjadi petaka.

***

Malam itu sebuah jip militer melaju kencang dari arah Kartasura menuju Manahan. Berlomba dengan desir angin yang berembus ke arah barat. Untung datang memenuhi janjinya seperti seorang satria Jawa.

Nun jauh di Manahan telah menunggu Bu Lik Koem yang ditemani suaminya Pak Lik Tanto. Mereka berdua menyambutnya dengan ramah. Sementara, Tutik sembunyi entah di mana. Dalam perbincangan malam itu sang suami lebih bertindak sebagai pendengar yang bijak dibanding sebagai juru bicara keluarga. Bu Lik Koem yang mengambil alih tugas suaminya. Ia bicara dalam tata krama Jawa yang teratur, beradab, dan lugas. Ciri khas perempuan Jawa terpelajar, warisan terakhir pendidikan kolonial Belanda di tanah Mataram.

“Apa yang bisa kami bantu sehingga Ananda repot-repot datang ke kediaman kami?” Bu Lik Koem membuka pembicaraan.

“Saya mencintai Tutik, Bu Lik. Saya datang kemari hendak melamar kemenakan Bu Lik sebagai istri.” Tata krama Untung selaku lelaki Jawa lenyap sudah. Baginya ucap ramah Bu Lik Koem adalah basa-basi yang tak perlu.

Suasana senyap sesaat. Sepoi udara malam bertandang tanpa malu-malu mengusik perasaan Bu Lik Koem dan Untung yang tengah menakar perasaan dan pikiran masing-masing.

“Ananda Untung, suatu kehormatan bagi kami sekeluarga apabila putri kami dilamar seorang perwira hebat seperti Ananda, peraih Bintang Sakti dari Bung Besar,” puji Bu Lik Koem. “Kami berterima kasih pula atas perhatian Ananda selama ini kepada putri kami. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Ananda, lamaran tersebut belum bisa kami terima karena Tutik masih harus menyelesaikan pendidikannya.”

Suasana kembali hening. Tiga cangkir berisi teh hangat meruapkan aroma wangi. Suara deru motor sesekali terdengar di luar sana.

“Saya datang dengan niat baik Bu Lik….”

“Saya percaya ketulusan niat Ananda.”

“Masih mungkinkah bagi saya menunggu Tutik hingga lulus kuliah?”

“Saya tak berani menjamin.”

“Kalau saya boleh tahu mengapa Bu Lik tak bisa menjamin?” kejar Untung.

“Karena Tutik mesti menyelesaikan kuliahnya dan terikat ikatan dinas sebagai bidan,” kilah Bu Lik Koem.

“Saya tetap akan menunggu Tutik. Cinta saya untuknya tak pernah berakhir!”

“Silakan saja. Tapi, siapa yang bisa menjamin jerih payah Ananda akan berhasil. Jodoh adalah urusan Gusti Allah, Nak,” Bu Lik Koem tak mau kalah.

“Apa pun alasan yang Bu Lik kemukakan, saya tetap akan menunggu Tutik.”

“Nak Untung, saya dan suami adalah pengasuh Tutik sejak kecil. Ibunya yang merupa kan Mbakyu saya telah menyerahkan anak ini bulat-bulat kepada saya, termasuk dalam hal perjodohan. Tutik memiliki hak menentukan siapa pun lelaki yang disukainya. Akan tetapi, haknya dibatasi oleh wewenang saya sebagai wakil ayah dan ibunya. Jadi, silakan saja jika Nak Untung bersikeras menunggu Tutik. Namun, seperti yang telah saya katakan, tidak ada jaminan kesabaran Ananda akan membuahkan hasil.”

Pak Lik Tanto mengangguk-angguk entah sebagai isyarat setuju atau malah mengantuk.

“Sampai detik ini saya belum bisa menerima alasan Bu Lik menolak lamaran saya.”

Bu Lik Koem tersenyum sambil mengangguk penuh pengertian mendengar ketidakpuasan Untung.

“Saya mengerti perasaanmu begitu rusuh, Nak. Saya pun menyesal tidak bisa meluluskan permintaan dan niat baikmu.”

“Mari diminum,” Bu Lik Koem tiba-tiba menyodorkan secangkir teh yang telah hilang kepulnya. Untung menyesap minuman itu dengan enggan.

Bu Lik Koem menarik napas dalam-dalam. Sesuatu yang mengganjal hendak ia ungkapkan kepada Untung. Sesuatu yang teramat berat untuk diceritakan.

“Nak….”

“Saya, Bu Lik,” jawab Untung. Kali ini ia berusaha sesopan mungkin.

“Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya memutuskan menolak lamaran Ananda terhadap Tutik.”

“Alasan apa lagi, Bu Lik?” kejar Untung tak sabar.

Pandangan mata Bu Lik Koem pilu menatap Untung.

“Sebagai orang Jawa, Ananda tentu tahu betapa amat berartinya sebuah firasat bagi seorang Jawa yang masih menjunjung tinggi keyakinan lama nenek moyang.”

Untung mengangguk lemah. Ia mencoba kuatkan hati. Apa yang dituturkan kekasihnya kemarin pagi bukan omong-kosong belaka.

“Saya memiliki firasat yang kurang baik berkenaan dengan hubungan Ananda Untung dengan putri kami. Jika kalian sampai menikah maka saya yakin kelak keluarga besar kami akan menerima dampak buruknya.”

“Dampak buruk apa yang akan ditanggung keluarga besar Bu Lik? Saya bekerja sebagai perwira tentara dan tidak akan menyusahkan kehidupan keluarga Bu Lik.”

Bu Lik Koem tersenyum kecut sambil mengangkat bahu. “Perasaan saya tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang berhubungan dengan materi. Saya yakin Ananda mampu menghidupi anak kami dengan layak. Tapi, saya juga yakin bahwa nasib buruk itu akan menimpa kami sekeluarga apabila membiarkan kalian berdua menikah.”

“Saya bukan dukun, Nak. Tapi, perkawinan kalian harus dicegah!”

Kata-kata Bu Lik Koem memupuskan mentah-mentah harapan sang perwira muda. Sepersekian detik Untung masih termangu. Ia ragu untuk melangkah maju, tapi mundur dari arena pertempuran rasanya seperti membiar kan diri sendiri disebut pecundang. Ia prajurit elite dari Batalyon Ranger yang terkemuka. Semasa operasi Trikora, ditaklukkannya rimba raya Irian Barat dan melumpuhkan prajurit Angkatan Darat Belanda dengan sekali pukul. Semua itu ia arungi dengan gagah berani. Kini, haruskah percintaan seorang perwira pemberani berakhir di tangan wanita setengah baya yang berperangai lembut dan terlihat tak berdaya?

“Nak Untung, ini bukan permasalahan menang atau kalah. Jantan atau pecundang. Pemberani atau penakut. Ini berkaitan dengan masalah keyakinan yang mustahil diruntuhkan. Apabila Ananda Untung melepaskan Tutik dengan ikhlas, hal itu bukan berarti Ananda kalah atau menyerah. Sebaliknya, kalaupun Ananda berjodoh menikahi anak kami, tidak bermakna Ananda adalah petarung ulung.” Bu Lik Koem seolah dapat membaca jalan pikiran Untung seperti layaknya seorang ahli kebatinan Jawa yang linuwih dan berpengalaman.

“Pergilah Nak. Lupakan Tutik untuk selamanya. Semua ini untuk kebaikan kita bersama. Saya doakan dengan tulus Ananda akan segera mendapatkan yang lebih baik sebagai pengganti Tutik.” Bu Lik Koem menepuk bahu Untung, mencoba tabahkan hati lelaki itu. Tetapi, perwira muda itu masygul dalam kekecewaan dan sakit hati yang tiada terperi.

***

Hampir tiga tahun berlalu sejak peristiwa itu. Tutik menyimpan rapat-rapat berjuta kenangannya bersama Untung. Bila ia merindukan lelakinya, remah-remah kenangan manis dan pahit dikumpulkannya sebagai penyambung hati yang patah. Gadis ranum sebelia itu mesti merelakan cintanya yang sedang tumbuh dipangkas tanpa belas kasihan. Namun, apa pun itu Tutik mestilah patuh. Ia gadis Jawa yang baik.

***

“Bangun, Tik. Ada suara Untung di radio nasional.” Sepagi itu Bu Lik Koem telah bangunkan Tutik dari tidurnya yang lelap.

“Mas Untung?” Tutik termangu di atas ranjang. “Apa yang telah terjadi sehingga Mas Untung bisa berbicara di depan radio nasional seperti seorang pejabat negara?” Tak mau larut dalam seribu duga ia segera menuju ruang tengah tempat radio berada.

Pagi itu, 1 Oktober 1965, melalui RRI Pusat Jakarta Letkol Untung Syamsuri, Koman dan Pasukan Pengawal Pribadi Paduka Yang Mulia (PYM) Presiden Soekarno, mengumumkan keberhasilannya menyelamatkan nyawa pimpinan negara dari ancaman kudeta Dewan Jenderal yang kontra-revolusioner. Ia juga mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi yang mendemisioner kabinet pemerintahan sebelumnya. Kekuasaan negara pun praktis berada di tangannya.

Tutik semakin tak mengerti apa yang diperbuat oleh mantan kekasihnya itu. Ia hanya gadis lugu yang tak paham politik dan intrik-intriknya. Tiba-tiba lelaki itu menjadi orang yang sangat berkuasa di seluruh negeri. Kelak, Tutik baru menyadari hubungan kejadian itu dengan firasat sang Bu Lik setelah peristiwa demi peristiwa terjadi berbulan-bulan kemudian. Firasat ganjil itu menjadi penyelamat bagi dia dan keluarganya. Lelaki yang dulu mencintainya dengan lembut dan kebapakan belakangan menjadi buruan nomor satu di Indonesia. Dialah yang terbukti memimpin percobaan perampasan kuasa di seputar Jakarta. Lelaki itu pula yang dituduh mendalangi pembunuhan enam jenderal angkatan darat dan seorang perwira pertama. (*)

 

 

Kisah ini ditulis untuk mengenang Almarhumah Bu Dhe Hastoeti Soekirno dan kisah cinta beliau pada masa lalu yang mengharukan.

 .

.

Advertisements