Lukisan Sejarah


Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 8 Juli 2012)

DAN aku terkesima dengan tatapan mata itu.

Namanya Bassa Kollot. Ia adalah saksi ke-26 yang dihadapkan pada sang residen untuk kasusku. Saat aku melihat wajahnya, wajahku pucat pasi.Aku mengenal wajah itu.Ia adalah laki-laki yang selalu hadir di saat-saat akhir kala aku, di Batavia, menyelesaikan sebuah lukisan yang kuberi judul Sebuah Lukisan Sejarah tentang Penangkapan Pemimpin Jawa Diepo Negoro.Sungguh, aku hafal sekali wajahnya.Sorot matanya yang tajam seperti menusuk ulu hatiku.Menaburkan kebencian yang menelanjangi diriku.

Dan kini, ia berdiri gagah, walau tangannya terantai di belakangnya. Tak ada sedikit pun raut takut yang terlihat.

“Kau mengenal lelaki di sana?”seorang penyidik residen bertanya sambil menunjuk ke arahku. “Apa ia salah satu orang yang datang pada pertemuan di Desa Ratu Jaya?”

Dan jantungku seakan terhenti menunggu jawabannya!

 

AKU adalah Pelukis dari Sri Paduka Kanjeng Raja Wolanda.

Tanganku adalah anugerah.Imajinasi dan ingatanku adalah berkah.Kuas, cat, dan kanvas tunduk-takluk padaku.Sejak lama aku telah merasakan sensasi itu.Terutama saat Antoine Auguste Joseph Payen, pelukis berkebangsaan Belgia itu, mencium bakatku dan meminta keluargaku untuk membawaku ke Cianjur, yang dulu masih menjadi ibukota Priangan.

Dari situlah akhirnya aku menjadi pelukis yang menjelajahi seluruh daratan Eropa, hingga akhirnya aku menjadi pelukis kesayangan Baginda Raja Willem II.Tak terhitung lukisan telah kubuat.Telah puluhan lukisan kutangisi.Dan telah puluhan lukisan pula kegelaki.Sebagian kupersembahkan pada orang-orang penting di Eropa; untuk sebagian yang lain, para pengusaha itu yang berebutan membelinya.

Tapi semua serasa berubah saat aku mulai melukis Penangkapan Pemimpin Jawa Diepo Negoro!

Aku ingat saat pertama kali mencoba menggambar di ruang kerjaku, pandangan istriku menatap lukisan itu lekat-lekat. Sungguh, tak biasanya ia seperti itu.

Waktu itu aku baru menyelesaikan sepertiga lukisan itu. Baru beberapa sosok yang kugambar, sekadar untuk mendapatkan komposisi keseluruhan. Tapi sosok Diepo Negoro memang telah begitu jelas terlihat di situ.

Tapi aku tak mau terlalu menanggapi tatapan istriku. Aku tak mau menduga-duga apa yang ia pikirkan. Aku tahu keluarganya masih memiliki hubungan darah dengan pangeran itu. Dan tak baik mengungkit-ungkitnya.

Apalagi aku pikir siapa yang tak akan terkesima dengan lukisan ini. Ini lukisan tentang peristiwa luar biasa yang diketahui semua orang!

Aku ingat kala itu, selepas mataku tanpa sengaja membaca De Javasche Courant terbitan 3 Februari 1855, aku mendapati berita tentang kematian pangeran itu di Makassar pada 8 Januari. Dari situlah aku mulai tergugah untuk melukisnya.

Secara pribadi aku tak mengenal sosok pangeran itu. Saat Perang Jawa terjadi aku tengah berada di Wolanda. Aku tahu beberapa orang keluargaku turut dalam perang itu, tentu itu adalah keputusan pribadi mereka. Bukan keputusanku. Aku adalah pelukis pencinta damai, pembenci perang!

Maka, aku sama sekali tak pernah punya bayangan tentang betapa dahsyat dan panjang perang yang menewaskan puluhan ribu orang itu. Perang yang membuat Wolanda melemah!

Tapi di Wolanda aku sempat mendengar banyaknya pribumi yang memadati jalanan saat pangeran itu di bawa ke pengasingan. Aku juga mendengar, bagaimana orang-orang itu mengelu-ngelukannya. Ketololan mereka tampaknya tak membuat mereka mengerti bahwa perang itu sebenarnya tak lebih dari masalah pribadi sang pangeran!

Kadang aku merasa sangat gentar! Aku juga pribumi, namun aku tak mau berlaku setolol itu. Telah kulihat dunia. Telah kuresapi yang ada di sekelilingku. Dan telah kumaknai apa itu hidup.

Dan aku menyadari sepenuhnya diriku adalah pelukis. Pelukis yang bakatnya diterima di seluruh dunia. Maka aku akan mengabdi pada jari-jariku, pada goresan-goresanku, pada campuran cat di kanvas, dan pada orang-orang yang menghargai hasil kerjaku.

Maka aku memang tak mau peduli dengan pangeran itu. Mungkin aku pernah bertemu dengannya, tapi aku tak merasa mengenalnya. Pun tak punya kepentingan untuk mengenalnya. Aku bahkan pernah mendengar kabar bila ia sebenarnya hanyalah pangeran manja! Dalam pengasingan, ia tidak tinggal di Maluku, tapi di Makassar, di dalam Benteng Rotterdam. Dilayani oleh para abdi dalem yang sengaja di bawa dari Jawa, ditambah para marsose Belanda yang dibayarnya. Beberapa pejabat yang pernah kutemui di Wolanda menceritakan semua itu.

Maka sudah kupikirkan: lukisan ini kelak bukalah lukisanku untuk mengenangnya! Ini adalah lukisan besar yang sudah kurancang sebagai hadiah bagi Baginda Raja Willem III.

Sungguh, memikirkan ini membuatku merasa sangat senang. Aku masih begitu mengingat wajah-wajah para pelaku. Bukankah semua yang terlintas di mataku, tak lagi pernah aku lupakan? Maka, mudah saja bagi otakku menggerakkan tangan-tanganku melukis semuanya!

Aku lukis Diepo Negoro di antara orang-orang yang menangkapnya. Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock kulukis tepat di sebelah sang pangeran, diapit oleh Mayor Johan Jacob Pirie dan Mayor Ajudan Franois Vincent Henri Antoine Ridder de Stuers. Beberapa orang Belanda lainnya juga kulukis.

Aku juga membubuhkan drama ke lukisan itu dengan melukis Raden Ayu Ratnaningsih, yang tengah meratapi suaminya. Kupikir ini cukup baik untuk menggambarkan kekalahan pangeran itu. Tak lupa aku melukis Jayasurata, seorang abdi dalem yang terus mengikuti sang pangeran ke mana pun perginya.

Sampai di sini semua seakan begitu sempurna.

Aku begitu merasa senang membuat lukisan ini, sensasinya sungguh melebihi sensasi masa kanakku kala aku baru mengenal kuas dan tinta. Maka agar lukisanku tampak semakin menyenangkan aku kemudian menggambar beberapa pengawal sang pangeran. Satu orang dari mereka, kugambar dengan wajahku. Awalnya aku memilih seorang yang sedang menghadap ke kiri, namun aku merasa lukisan itu menjadi tak jelas. Maka aku menambahkan seorang pengawal lagi yang sedang menghadap ke depan.

Aku tertawa. Kubayangkan Baginda Raja Willem III pasti akan bergirang hati melihat lukisan ini.

 

NAMUN saat lukisan itu benar-benar akan selesai, seorang menyelinap masuk ke dalam ruang kerjaku. Aku menyadari suara halus langkah-langkah itu menekan kayu-kayu lantai.

Dengan lampu minyak di tangan, aku mendatangi ruang kerjaku.

Di situlah aku mendapati seseorang laki-laki tengah memandang lukisan itu dengan tangan gemetar.

Ia menyadari kedatanganku. Tapi tak seperti layaknya pencuri, ia tetap tegak membelakangiku, tak melepaskan matanya dari lukisanku.

Baru setelah beberapa saat, ia mulai berpaling dengan gerakan lambat, dan menatapku dengan tatapan tak percaya, “Kau tahu, berita tentang keindahan lukisan-lukisanmu sudah kudengar sejak lama. Walau aku baru melihatnya beberapa, namun aku sangat mengagumi ciptaanmu.”

Ia melangkah mendekat, “Namun melihat lukisanmu kali ini, aku benar-benar tak percaya.”

Saat itulah, cahaya lampu minyak menimpa wajahnya, sehingga aku dapat melihat wajahnya yang keras dengan begitu jelas.

“Namun sungguh,” kali ini suaranya terdengar penuh tekanan, “tak layak seorang pribumi begitu menjilat pada kaki orang-orang asing itu!Terlebih menghina pangeran besar kita!”

Aku benar-benar tertegun mendengar ucapannya!

Laki-laki itu pergi setelah mengucapkan kata-kata itu, meninggalkanku dalam kesendirian. Aku sebenarnya ingin cepat-cepat melupakan kejadian tak penting itu, namun entah mengapa aku tak bisa. Aku seperti telah masuk dalam ruangan kosong, dengan jeda-jeda lengang, yang mengantarkan suara-suara halus menembus gendang telingaku.

Sungguh, sampai bertahun-tahu kemudian, ucapannya laki-laki itu, terus terngiang di telingaku.

Namun sungguh, tak layak seorang pribumi begitu menjilat pada kaki orang-orang asing itu! Terlebih menghina pangeran besar kita!

 

HINGGA akhirnya, tuduhan itu datang.

Aku diduga ikut terlibat dalam pemberontakan di Desa Ratu Jaya, Bekasi. Ada yang bersaksi melihatku datang di pertemuan para pemberontak beberapa hari sebelum pemberontakan itu terjadi!

Duniaku seakan terbalik! Saat itu semua perlakuan baik yang kuterima dari orang-orang Wolanda berubah. Marsose mereka bahkan memperlakukanku dengan tak semestinya, sama seperti saat mereka menangani penjahat.

Mereka bahkan menggeledah rumahku dan terus memperhatikan gerak-gerikku dan istriku. Berkali-kali aku mengajukan keberatan. Kuhubungi sahabat-sahabat baikku, yang kuyakin sudah sangat mengenal diriku. Kuyakinkah kembali pada mereka bahwa kesetiaanku pada Raja Willem III adalah kesetiaan yang mutlak.

Bukankah aku pelukis bagi Sri Paduka Kanjeng Raja Wolanda?

Namun itu tak membuatku mendapat keringanan.

 

DAN kini, lelaki yang dulu kutemui di ruang kerjaku dalam keremangan itu, sudah berdiri dihadapanku.

“Apa ia salah satu orang yang datang pada pertemuan di Desa Ratu Jaya?” sang penyidik residen kembali bertanya.

Tubuhku terasa lemas. Ngiang suara itu tiba-tiba muncul lagi.

Namun sungguh, tak layak seorang pribumi begitu menjilat pada kaki orang-orang asing itu! Terlebih menghina pangeran besar kita!

Aku merasa ini adalah akhir dari hidupku. Kebenciannya dapat saja dengan mudah membawaku masuk dalam kemelut yang tak kuketahui ini. Namun saat kakiku terasa begitu lunglai, dan air mataku telah penuh menggenang, kulihat laki-laki itu menggeleng kepalanya perlahan.

“Aku sama sekali tak melihatnya,” ujarnya tajam. “Aku bahkan tak tahu siapa lelaki aneh itu. Lelaki pribumi yang berdandan layaknya kalian!”

Dan aku terpana mendengar ucapannya. Tanpa bisa kuhindari lagi aku luruh dari kursi. Aku tak perduli dengan sindirannya. Aku hanya tak menyangka dengan kejujurannya!

Kucoba kupandangi dirinya lekat, mencoba mencari kenapa ia tetap teguh pada kejujurannya? Bukankah mudah saja baginya menjerumuskanku karena kebenciannya?

Dan hanya sejenak aku dapat melihatnya sebelum ia berpaling dan menatap seluruh yang hadir di dalam ruangan ini dengan tajam.

Tapi itu sudah cukup membuat tubuhku menggigil.

Sungguh, aku mungkin bisa selamat hari ini. Tapi aku yakin sinar mata itu tak akan pernah lepas lagi dari ingatanku! (*)

.

 .

Yudhi Herwibowo tinggal di Mojosongo, Solo. Ikut mengelola buletin sastra Pawon.

.

.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: