Kota-kota Air Membelakangi Air


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 29 April 2012)

BERDIRI di jembatan Sungai Kampar pada suatu hari musim penghujan, pikiranku bagai diseret ke kota-kota air yang dulu pernah kuhapal; arus yang kekal seakan mengelucak di tepiannya, ikan-ikan mengecipuk agak ke tengah, di tepi-tepi seorang ibu menciduk air dengan gayung tempurung membasuh kepala anaknya, yang kubayangkan tak lain adalah diriku. Digoda kawan seusia yang berenangan, aku berkelit dari tangan ibu, menceburkan diri penuh-penuh: byuur! Ya, di antara anak-anak mandi telanjang, seolah kulihat lagi kawan-kawanku berebutan naik ke tebing sungai, lalu secepat itu pula terjun ke air: byuur, byuur!

Bersama bayangan yang tak pudar, gerimis turun di tepian. Aku berjalan ke warung kopi darimana sungai masih dapat kupandangi. Di tengah gerimis yang membuat ribuan titik di atas air—air bertemu air—kulihat bocah-bocah itu berteriak pada serombongan orang di jembatan, minta dipotret. Terlambat. Hujan bertambah lebat. Orang-orang yang tadi berdiri bersamaku itu, mengedudu berteduh ke warung terdekat. Mereka adalah rombongan penyair dari sembilan negara yang baru saja membaca puisi di pelataran Candi Muara Takus. Candi yang dibangun Dapunta Hyang, yang datang bersama arus kesunyian.

Di warung, ketika penyair bicara tentang kata-kata, pikiranku malah hanyut tanpa jubah ke kota-kota air dalam kepala. O, tak kalah agungnya! Ya, aku mengingatnya dari buku sekolah, cerita guru bahkan lepau kopi. Cerita-cerita itu kini mengalir bagai sungai mengalir, mengalahkan cerita para penyair yang mulai kedinginan. Tapi cerita kota air tak pernah dingin. Berkelok-liku serupa Batanghari melewati Teluk Kuali, Tebo, Tembesi, Jambi, dan terus ke laut. Lalu membayang ke Palembang yang disebut “Venesia di Timur” berkat Sungai Musi yang panjang mengular. Dan  Banjarmasin juga memakai gelar itu, bukan? Kota dengan dua sungai besar—Barito dan Martapura—ratusan handil [1] dan puluhan sungai kecil. Meski soal kemiripan dengan “Venesia” yang sejati, entahlah. “Lagipula, kenapa mesti Venesia jika kita punya Banjarmasin?” Itu pertanyaan penuh harga diri dari Agus Kribo, pemuda kampung kami yang sudah keluar-masuk pedalaman Kalimantan.

Mungkin berlebihan ketika sekarang kubayangkan Agus Kribo tak ubahnya Marco Polo yang bangga dengan kotanya sendiri meski telah ia jelajahi berbagai kota yang bangkit dan yang runtuh. Polo berkata di hadapan Baginda Khan, “Untuk membedakan sifat-sifat kota lain, hamba harus berbicara dengan kota pertama yang sempurna. Bagi hamba, itulah Venesia.” [2]

Mungkin jika Agus Kribo harus membaca Calvino, ia akan menyanggah, “Banjarmasin bahkan tak punya sifat lain kecuali wataknya yang terbangun dari air; sedang Venesia hanya pantulan impian Eropa memandang Timur, karena itu ia dibuat dengan setengah khayal dengan gondola dan kanal-kanal. “Baginya sekeruh apa pun wajah Banjarmasin, kota itu punya sifat sendiri yang hakiki, bukan imajinasi apalagi halusinasi. Aku bersetuju dengan laki-laki perantau dari kampungku itu, meski juga menyukai laki-laki petualang dari seberang yang tak lain pantulan jiwa Calvino, sang pengarang.

***

DEMIKIANLAH dulu, Agus Kribo bercerita tentang Banjarmasin, yang katanya berasal dari kata “bandar masih”. Artinya: Bandar Patih Masih, patih Kerajaan Banjar yang percaya kota akan berjaya dari pelabuhannya. Patih tak hanya punya pelabuhan, juga pasar di atas air. pasar terapung! “Bayangkan, orang-orang berjual-beli di atas perahu, sambil berkayuh, dan kalian bisa pesan kopi di atas klotok, kapal kecil yang disulap jadi warung,” ia mengangsurkan rokoknya. “Cobalah,” katanya. Aku memberanikan diri mengambil sebatang.

“Nah, sekarang bayangkan kau berada di atas klotok sambil merokok memandang perempuan-perempuan Banjar tawar-menawar di atas air. Tak ada lagi yang lebih sedap dari ini, Anak Muda!”

Aku terbatuk. Bang Agus menepuk pundakku, kemudian lanjut bercerita. Kali ini tentang Samarinda dan Tenggarong di tepi Mahakam. Tenggarong, Kutai, kuingat sebagai pusat kerajaan tertua, dan Samarinda, kata Bang Agus, berasal dari kata “sama rendah” merujuk daratan yang sejajar dengan air. “Lebih kurang sama dengan Irak, dulu disebut Airak, artinya dataran rendah dekat sungai. Keduanya toh sama punya kubah-kubah yang indah, tak kuatir tergerus air selagi kuat tanggul iman.”

Lalu ia lompat ke Pontianak di tepi Sungai Landak dan Kapuas.

“Wah, apakah di sana tempat hantu beranak, Sanak?” tanya Sadek seenaknya. O, bukan, di tempatku, Pontianak memang berarti hantu perempuan.”

“Hantu air!” sahut yang lain.

“Mungkin saja, waktu belum banyak orang. Sekarang tepian kian sesak, jalanan bersilang menggantikan jalur Landak dan Kapuas. Jadi semua hantu harap menyingkir!” Bang Agus tersenyum puas. “Kopi setengah, Bagindo!” ia berteriak ke pemilik lepau. Ketika kopinya datang, ia berkata, “Hmm, serasa masih di Kahayan awak menghirup aromanya.”

Yoolah, sudah terminum ramuan kopi gadis Dayak itu namanya,” sahut Bagindo.

Agus Kribo tertawa, sebelum akhirnya menyebut Palangkaraya, kota yang jauh dari laut tapi punya Kahayan yang akan mengantarnya kepada dunia. “Palangkaraya artinya tiang yang kuat. Presiden Soekarno menambah kata “raya” untuk impian ibukota negara. Dari kampung Pahandut, Palangkaraya tumbuh gendut dengan simpang dan bundaran. Tiga tahun di sana memang hampir punya anak-anak beribukan gadis Dayak badan awak!

“Apa kubilang!” sambar Bagindo. “Kalau jadi, tambah bersemak rambut yang Kribo.”

“Hoho, percayalah, Bagindo sudah minum batang air bukit barisan. Jadi terang batin kita bahkan nasib rambut di kepala,” sambut Kutir. Lepau kopi ramai oleh tawa.

Begitulah, cerita dan gelak tawa menunda kami menggocoh batu domino. Kami lebih suka membayangkan Kota Air, sebagaimana diceritakan Agus Kribo. Juga Pak Kudun yang pernah bekerja di Palembang. Sesekali datang Pirin Kuriak yang lama tinggal di Muarotebo. Yang menarik cara Pirin menggambarkan besarnya sebuah sungai—mengalahkan ciloteh para penyair, “Dari dermaga, terhamparlah lautan kuning, tanah di seberangnya tampak seperti teratak lain di tepian danau paling jauh; kelabu, hening. Jika kau berseru di seberang, suaramu bagai batu; hening. Jika kau melambai, kau hanya akan tampak seperti tungau.”

“Kami membandingkan dengan sungai di daerah kami, “Sebesar Batang [3] Surantih?”

Tapi mereka membuat kami penasaran, “Itu hanya muat untuk lima baris bagan [4]. Di Mahakam, sebelas kapal batu bara sebesar kantor camat bisa dijejer.”

“Sebesar Batang Tapan?”

“Itu hanya muat untuk seikat kayu gelondongan. Di Kapuas, kayu gelondongan hanyut seperti Pulau Kiabak sedang dipindahkan.”

Pak Kudun ikut nimbrung, “Di Musi, pulau kayu itu berhari-hari diseret dari hulu, dan tak ada bagian sungai yang kandas.”

“Baru kandas kalau bayaran ke petugas kurang, Bang Kudun!” seru Pirin Kuriak.

Semua yang punya persentuhan dengan air dan kehidupan sungai besar tampaknya tahu sama tahu. Maka meledak lagi tawa mereka. Tawa hitam getir. Membuat kami yang tak paham tambah penasaran. “Seperti Batang Sindang yang meluap waktu hujan?” desakku.

“Kahayan bisa mengubah daratan jadi lautan, Buyung, bahkan jika hujan tak turun.”

Ketika kami akhirnya menyebut sungai terbesar—Air Haji—Agus Kribo tetap menggeleng. “Air Haji?” Dulu memang tempat tertua kita bertolak ke tanah suci dengan kapal tanpa sekoci. Tapi Barito dilalui kapal besi yang tak hanya sanggup mengangkut tetua kita, juga orang Senagari. Selesai sudah. Tak ada lagi yang bisa kami lakukan kecuali menyimpan kota-kota itu dalam ingatan.

***

DAN kini aku terhantar di tepian, tak jauh dari Bangkinang, meski kotanya sendiri menjauh dari tepian; memilih keramaian jalan lintas antar provinsi dan lupa Kampar yang tenang. Inikah yang membuat Bangkinang tak berkisar dalam ingatan? Entah.

“Tuan dan puan, hujan masih akan lama, sebaiknya pesanlah ikan bakar,” seorang panitia, gadis manis berwajah tirus, mengumumkan. Tak lama, asap dari tungku pembakaran membubung, dan aku mengamsalnya asap kapal masa silam. Sebab tak ada lagi kapal di sini kecuali deretan keramba dan jala apung. Sungai tanpa kapal, inikah yang membuatnya tak layak dihapal?

“Nikmatilah ikan patin kami yang paten!” seseorang meneriakkan puisi penyair Riau disambut tepuk tangan hadirin. Ada yang bergeser, diam-diam: syair Lancang Kuning berlayar malam, ke lautan, bertukar-tangkap dengan syair ikan bakar, di kedai daratan.

Tapi masih ada sebuah sungai, kuning kemilau, di bumi Riau, lengkap dengan kota dan istana yang tak pernah menjadi lampau: Siak Sri Indrapura. Ke sana kami telah pula datang, kemarin hari, naik kapal motor dari Pekan Baru menyusuri Sungai Siak. Bebas hambatan. Meski tanpa derak dan dentang besi, aneh, aku merasa sedang naik kereta api: menyusuri kota dan kampung dari belakang. Ya, sungai telah menjadi pintu belakang, sekadar tempat mandi, mencuci dan mencangkung. Sesekali terlihat sawah dan kebun, selebihnya belukar tanah telantar. Beruntung, tepian Siak masih dikerumuni kapal dan tongkang, menunggu muatan menuju Selat Malaka.

Ketika kapal merapat, para penyair melompat ke dermaga, lalu tanpa sempat menengok ke jalan air yang barusan dilalui, mereka bergegas naik ke atas becak menuju Istana Assirayatul Hasyimiah. Menjenguk kenangan. Mendengarkan Beethoven dari piringan langka. Tapi adakah kenangan itu lengkap sempurna tanpa mengingat sungai yang telah membawamu kemari? Aku bertanya dalam hati karena pikiranku tak berada di istana. Pikiranku tertinggal di tepian. Terlebih di lantai atas istana, kudapati kenyataan yang lumrah: kota air menjauh dari air. Ya, rumah-rumah, pasar dan perkantoran Siak berdesakan menghadap jalan raya. Membelakangi sungai yang dalam! Aku mabuk terguncang. Kini pun aku dimabuk kota-kota air, di tengah celoteh para penyair yang duduk membelakangi air!

***

SAAT hujan reda, empat bus pariwisata segera membawa kami melaju ke Pekanbaru dikawal patroli jalan raya dengan serine meraung-raung. Menyiratkan kekuasaan: di darat kita jaya! Sepanjang jalan—bahkan setelah acara usai—aneh, pikiranku tetap terhantar ke kota-kota air maka dalam hari-hari yang bosan, dengan hasrat meluap kubiarkan mengalir, tak terbendung!

Kota-kota air, hmm, tumbuh ia bersama waktu dalam kepalaku seperti teratai atau kiambang yang akar-akarnya terus memanjang. Gedung, pasar, dan perumahan seakan daun dan bunga mekar di permukaan. Hening. Mengambang. Bersamanya, kenanganku yang murni terhantar ke kota-kota di tepi sungai terpanjang Pulau Jawa: Solo, Sragen, Ngawi, Bojonegoro, Babat, dan entah apa lagi. Berkat cerita Bu Totok, perempuan Blora yang dinikahi tentara asal kampungku. Ia akan bernyanyi, “Bengawan Solo… riwayatmu dulu….” Suaranya serak basah dengan logat Jawa yang kental; campuran kemarau dan musim hujan. Seolah pantulan nasib kota-kota itu kini: banjir berulang atau paceklik datang mencekik!

Ia sebut pula Kali Progo yang katanya mengalir dekat kaki Candi Borobudur, seolah minta diberkahi, sehingga daerah yang dilewatinya subur makmur sampai arusnya membasuh gaun Ratu Kidul di Laut Selatan. Tak lupa ia sebut Kali Lusi yang mengalir di antara hutan jati di kota kelahirannya.

“Meski kecil, tapi tercatat dalam sejarah,” katanya bangga. “Tak semua sungai kecil melahirkan kota yang kecil. Sungai-sungai di utara Jawa tak terlalu besar, tapi melahirkan banyak kota penting yang kelak kau pelajari dalam sejarah.”

Bu Totok Benar, kami belajar kota-kota penting dalam sejarah berkat sungai dan lautan yang memberinya berkah. Tapi bertahun kemudian, kutemui Demak, Kudus, Pati atau Rembang telah melupakan pelabuhan Lasem dan Kali Serang. Bahkan selat yang memisahkan Gunung Muria—di mana kapal tak perlu memutar ke semenanjung Jepara—kini entah di mana jejaknya. Tentu tak semua kota dicatet tangan sejarah yang gemetar lagi berat, sebagian lagi mencuat dari dongeng dan legenda. Ringan tapi kuat. Kuingat asal mula nama Surabaya dalam buku pelajaran sekolah, entah halaman berapa. Konon Surabaya berasal dari “Sura” (hiu) dan “Baya” (buaya). Mereka bertempur berebut wilayah di Muara Kali Brantas yang luas. Berhari-hari tanpa ada kepastian kalah menang. Ajaib, mereka lalu berbagi tempat hidup; hiu di laut, buaya di Brantas. Jadi Surabaya tak hanya tepi laut tapi juga tepi kali.

“Begitulah seharusnya, setiap makhluk berbagi, juga sesama kita,” nasehat Bu Guru Mawarnis.

Tapi aku lebih suka menganggapnya sebagai tempat yang beruntung, sebab punya dua arus sekaligus: sungai dan laut. Semoga hiu dan buaya bukan lambang watak kota. Meski sesekali kubayangkan mereka menjelma kapal besar bertaring runcing; apakah akan membuat kota lekas berkembang atau menghisap kota ke lambungnya yang lapar? Entah.

***

SEIRING waktu aku pun tahu kota-kota air tak hanya milik pulau besar yang punya sungai-sungai besar. Di pulau kecil dan sungai kecil juga tumbuh kota-kota air, mengalir bersama air. Lagi pula bukan hanya sungai yang membuatmu punya tepian, juga danau dan lautan, itu semua sumber air yang sejati, yang membuat kita tak hanya pantas bermimpi punya Venesia dengan kanal-kanal dan riol yang jinak, juga kota-kota pelabuhan yang liar; Rio, Reykjavik, sesekali Port Said, ibukota pencuri dan pelacur![5]

Kupikir kota dengan dua alur air—tawar dan asin—berkembang dua kali lebih cepat. Bukan saja karena ia punya dua wajah kasat mata berupa sungai dan laut, juga kandungan semesta rahasia di baliknya. Dalam sebuah ayat kubaca bahwa Allah menjadikan suatu pemisah antara dua laut. Dua laut di sini ialah laut asin dan sungai besar yang bermuara di laut. Sungai yang tawar, setelah sampai di muara ternyata tak langsung menjadi asin [6] Ini isyarat alam yang perlu dibaca. Aku tak tahu apakah metropolis Surabaya membacanya atau sepenuhnya bertumpu pada selera pertempuran hiu dan buaya? Entah.

Selain Surabaya, ada Makasar di kaki Sulawesi: tumbuh dari Muara Jeneberang sekaligus arus lautan. Akan tetapi, selalu ada bumerang air sebagai masa silam. Tak hanya sungainya dibiarkan terlantar, bahkan lautnya telah lama surut. Begitulah Jeneberang, tidur panjang diselumuti glagah dan eceng gondok.

“Jangankan sungai, laut pun enggan bertemu pinishi, layar dan temali,” kudengar Daeng Serang seolah bernyanyi. Satire. Lirih. Urat-urat di tubuhnya seperti akar ketapang condong di sudut reruntuhan Benteng Somba Opu.

Daeng pun benar. Lihatlah, Makassar memutar punggung ke daratan baru arah ke gunung. Ke bukit-bukit kapur yang digempur bagai semalam. Bandara dipacu, terminal diperlebar. Jalur air tertinggal atau ditinggalkan. Kapal-kapal Pelni, kapal-kapal Roro, yang dulu sarat kini tepi dan berkarat. Sepi berlarat ke kota-kota jauh di pulau, sebagaimana kurasakan di Beo, Pulau Karakelang. Masa kolonial, Beo bersama Rainis di pantai timur adalah kota kecil yang manis berkat pelabuhannya yang teduh. Kopra, cengkeh, pala, segala rempah mengalir, diangkut ke Manado atau Devao. Kini selain tata ruang dan sekolah tua, tak ada yang tersisa dari Beo. Kapal hanya sampai Lirung atau Melong, sehingga Beo tak ubahnya kapal terdampar. Yang menyakitkan, hubungan antar pulau mendadak terputus lantaran Sangihe dan Talaud jadi dua kabupaten. Sejak itu, kapal ke Sangihe tak berlanjut ke Talaud, dan kapal ke Talaud juga tak merasa perlu menjenguk bekas ibu kotanya di Tahuna.

“Kalau torang ingin menengok ibu atau sodara di Tahuna, torang musti ke Manado dulu, baru naik kapal lagi semalam dari Manado ke Tahuna. Padahal kapal dari sini su lewat Sangihe dang! Ibu Esteria, istri Kepala SMA Beo, tempat aku pernah menumpang tinggal, menjelaskan ruwetnya jalan air di negeri kepulauan!

Apa bedanya dengan kapal ke kampungku, di pantai barat Sumatera? Dulu masih ada kapal ke Padang dalam rute yang panjang, dari Nias ke Sibolga terus ke Priok, Tanjung Emas, lalu Tanjung Perak di mana jalurnya nanti akan bercabang lebih banyak; dari Batulicin ke Pare-pare, mungkin terus ke Sangihe, Biak atau Rote. Kini, ke mana perginya kapal ke Padang, ke mana lenyapnya rute yang panjang? Selamat bubar Hemahaven, selamat tinggal Teluk Bayur!

Begitulah aku mengenang dengan hati hancur, kapal terakhir yang membawaku bertolak sepuluh tahun lalu. Sekadar menghibur, aku bertanya-tanya dalam hati mengapa kapal-kapal Pelni diberi nama-nama gunung? Kerinci, Bukit Raya, Kelud, Leuser, Pangrango, Sinabung, Dobonsolo, Lambelu, Siguntang dan entah apa lagi. Apakah orientasi kita ke darat? Apakah di laut kita jaya, maka darat bisa dikendalikan dari laut?

“Karena kapalnya besar-besar, Kang, sebesar gunung,” kata Asep, kawan seperjalanan.

“Bisa jadi,” jawabku setengah hati.

“Bah, besar-besar tapi tak dirawat!” sambut seorang bapak, agak tambun namun matanya setajam elang laut. “Saya sudah naik ke lantai atas, betapa bagusnya ini kapal. Tapi alah mak jang, begitu masuk ke toilet dan kamar-kamarnya, seperti rumah telantar. Macam mana pula kita jaya di laut?!”

Kami berpandangan, teringat bagaimana penumpang berjumpalitan; yang naik dan turun berebut tangga tanpa pengaman. Waktu sandar hanya satu jam. Ketika kapal berjalan, kasur-kasur di tempat tidur pada menghilang, lalu muncul lagi diperjualbelikan anak buah kapal. Ah, kota-kota air, apakah bakal mencair dalam kenangan? Kami terdiam. Ketika kapal memutar haluan, terasa pelabuhanlah yang berputar membelakangi kami. Membelakangi lautan, air maha luas di bumi.

***

“BAYANG-bayang ingatan, sekali ia ditetapkan dalam kata-kata akan terhapus. Atau barangkali hamba takut kehilangan Venesia jika menuturkannya. Boleh jadi, dengan berbicara tentang kota-kota lain, hamba telah kehilangan Venesia, sedikit demi sedikit.”

Kembali aku teringat kata-kata Marcopolo, bukannya Agus Kribo, justru ketika aku mengikuti jejaknya ke tempat yang di angan. Maka akulah yang kehilangan Banjarmasin, nyaris keseluruhan, tiap kali ia kubandingkan dengan kota-kota lain. Handil dan sungai kecilnya telah lenyap, jadi jalan dan permukiman. Barito dan Martapura jadi seperti sepasang raksasa tua yang lelah. Cerobong pabrik di tepian lancang melukis langit “Venesia” kita dengan jelaga. Pasar terapung alangkah murung, tak seriang waktu dulu Agus menuturkan.

Tak mau kehilangan, seperti Polo kehilangan, aku bertolak ke pedalaman, justru lewat jalan darat yang melelahkan. Ya, sejak jalan trans dibangun—meski kualitas tak sepenuhnya menggembirakan—kota-kota menggeser tata ruangnya. Sungguh pun begitu, kutemui Kuala Kapuas seolah diciptakan abadi di tepian sehingga meskipun pusat kota digeser ke jalan lintas, rumah-rumah tetap setia pada arus. Entah sampai kapan. Sejak barang-barang diangkut truk, orang-orang lebih memilih bus dan travel, kota air seperti Kuala Kapuas tak bisa hidup dari air. Ia harus menggeser pantatnya dari tepian, memanjangkan jangkauan ke rawa tepi jalan.

Marabahan, ibu kota Barito Kuala yang dulu hidup dari lalu-lintas air, kini jadi kota buntu; jalan darat satu-satunya berakhir di kota itu; kebalikan dengan jalur sungai yang bertemu dan berawal di situ. Tinggal klotok pembawa jeruk terapung hanyut kesepian; tok-tok-tok…. Suaranya memanjang ke pedalaman, ke Tamiyang Layang, Buntok, Muarateweh, dan Purukcahu, jauh di hulu. Meski kota-kota itu tumbuh berkat pemekaran kabupaten, tak ada jaminan di kepala para bupatinya ada sungai harapan.

Di Pulau Pisau kutemukan keajaiban; jalan layang Tumbang Nusa meliuk di atas rawa yang lunak, bukankah ajaib? Cahaya matahari yang menyepuh tiang-tiangnya, separo terendam, kuamsal sebagai cahaya panggung menyorot dua kekuatan—beton dan air—yang kini berebut peran di bumi Kalimantan. Di Palangkaraya, besi-beton tumbuh lebih banyak lagi, membuat Pahandut benar-benar gendut dengan simpang dan bundaran. Tak jauh di sisinya, ruang-ruang kota yang baru siap bergabung: Tangkilang, Marang, Guhung. Lalu Kotabesi yang tertidur lebih awal.

“Dulu kota ini hidup sampai pagi karena tempat kayu merapat,” kata Bang Nurdin, sopir yang membawaku melaju.

Kemudian kami dapatkan Kasongan yang telah membagi dua kawasannya: kota lama di tepian Mendawai dan kota baru di jalan trans. Tak tahu manakah yang lebih menjanjikan atau jadi beban: sungai atau aspal? Keduanya toh sama-sama mengantuk. Tempat yang tak tidur malah Hampalit, kampung di jalan lintas, selepas Kasongan. Lengkap dengan komplek hiburan malam yang setia menyambut pengunjung dari Unggang atau Tumbang Samba, tambang emas di hulu Katingan. Dan aku tak tahu Kuala Pambuang, sebab letaknya jauh dari jalan trans di Muara Seruyan. Bukankah kini era jalan raya? Yang jauh darinya akan jauh juga dari lintasan. Tapi kuduga tak beda dengan kota air lain: surut jiwa dan raganya.

Dua kota yang sedikit lebih pasti adalah Sampit dan Pangkalan Bun, sebab punya dua jalur air: tawar dan asin. Sampit di tepi Sungai Mentaya sekaligus punya pelabuhan laut di Semada. Pangkalan Bun di tepian Sungai Arut, punya pelabuhan laut di Kumai. Keduanya juga punya bandar udara berkat sawit, walet, dan sisa kayu hutan. Tapi, sebagaimana Sampit yang susah payah bangkit dari luka-luka konflik. Pangkalan Bun pun persis istananya yang kosong di atas bukit. Seperti janji kosong para raja kecil yang menata tahta di daerah.

Nun di sebalik bukit arah ke Sintang, kami bertemu Nangabulik, kota kecil bertugu kijang di tepi Sungai Lamandau: dermaganya alangkah lengang! Penjaganya hanya sepasang perempuan kakak beradik yang membuka warung sampai malam. Mereka menjaga sungai selayak menjaga warung dengan lentera. Arim, si adik yang manis cerita bahwa mereka berasal dari Sukamara di perbatasan Kalbar, kini jadi kabupaten sendiri.

“Bila mas ke sana, naiklah speedboat warna merah dari Arut, jangan salah warna nanti tersesat ke dermaga kota lain,” ia tertawa memperlihatkan giginya yang rapi.

“Ongkos kapal Rp. 60.000/orang, waktu tempuh 25 jam. Jika naik travel 7 jam dan ongkos lebih mahal. Toh orang suka lewat darat.”

Si kakak yang mengaku habis bercerai ikut bercerita tentang nasibnya. Dulu mereka punya tanah warisan di tepian Sukamara yang ramai. Tapi bertahun-tahun kemudian tanah itu berubah jadi belukar rimba, sebagian rawa-rawa, sebab kota bergeser dari tepian. Sungai sebagai satu-satunya akses tinggal pancang kayu tua disinggahi kapal-kapal tua. Merana. Maka mereka merantau ke Nangabulik, menemukan lengang yang sama di dermaga.…

Aku menatap ke seberang, menampak sepotong bulan berkilau di atas Lamandau. Sayup-sayup terdengar jerit enggang, entah nyata atau khayalan. Ah, akankah aku menampik kenyataan? O, masih lebih beruntung engkau, Polo, kehilangan sedikit demi sedikit Venesia-mu di depan Khan Agung yang setia mendengarkan. Sedangkan aku kehilangan kota yang diangan dalam semalam, seolah direnggutkan di hadapan sepasang perempuan yang tak lagi punya tepian! Persis ibuku yang tak kuasa menahanku saat berkelit dari tangan kasihnya dulu, memilih mencebur ke alir air yang keruh, sakit dan menderita: byuur, byuur, byuur! (*)

 .

.

/Nangabulik-Mamuju-Yogya, 2010-2012

 .

Catatan:

[1] Sungai-sungai buatan peninggalan Belanda, berhubungan satu sama lain, termasuk dengan sungai utama.

[2] Italo Calvino, Kota-kota Imajiner, terjemahan Erwin Salim (Fresh Book, 2006).

[3] Sebutan sungai di Sumatera Barat.

[4] Kapal kayu penangkap ikan.

[5] Merujuk puisi J.J. Slauerhoff, “Kota-kota Pelabuhan”, terjemahan Hartojo Andangjaya (PJ, 677)

[6] Q.S An-Naml: 61. Tafsir tentang dua laut dikutip dari Al-Qur’an Terjemah Perkata (Syaamil, 2007)

[7] Lebih lanjut lihat Harkat Christian Zamasi dalam situsnya onekhe.blogspot.com

.

.

One Response

  1. Ceritanya mengalir seperti air, enak dan renyah sekali. Si penulis juga mengerjakan riset dan menambah wawasan. Salut Bro !!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: