Cerpen Sulung Pamanggih (Suara Merdeka, 8 Juli 2012)

PEREMPUAN itu akhirnya kembali ke kota ini untuk memenuhi janjinya. Kota yang selalu membuatnya meratap. Di sini, segalanya begitu kelabu. Sebuah kota yang pernah tinggal di masa lalunya, mengapa tidak pernah lepas dari benak. Ia duduk di sebuah taman, di bawah pohon palem, di antara tanaman bunga yang hampir menjadi belukar. Di hadapannya, tak lebih lima langkah, menghampar sepetak kolam. Matahari sore yang luruh membuat permukaan air seperti menyala. Ia memandangnya dengan perasaan sunyi.

Ia tidak sedang menunggu seseorang. Hanya kolam inilah memang tujuannya. Jauh dari hingar kota yang pusing. Orang ramai berjalan-jalan menyusuri tepian. Beberapa ada yang mencelupkan kakinya ke air, riak-riak kecil segera berlarian. Pengemis menyandarkan punggungnya pada pohon sambil menghitung uang. Warung-warung bongkar pasang menjulang, berjajar di pinggir jalan sekitar taman. Perempuan itu mengakui, segalanya memang telah berubah. Namun, siapa yang bisa mengubah kenangan?

Entah, sudah berapa lama janji itu dibiarkan menunggak dalam hatinya. Ia memang tidak pernah menghitung. Namun, satu hal yang tak pernah diduga, janji itu terus menggoda sepanjang hidupnya. Ia ingin melunasinya, tapi selalu kesusahan mencari alasan yang paling masuk akal. Suaminya, tidak pernah memberikan ijin mengunjungi kota ini hanya karena sebuah janji, cuma gara-gara kenangan.

Seminggu setelah kematian suaminya itulah, bersama cucunya ia datang ke kota ini. Tentu saja cucunya yang bujang itu tidak berhenti bertanya. Apa yang dicari dari sebuah kolam? Kalau hanya kolam begini, di kotanya juga banyak. Bila hanya sebuah taman, kenapa harus jauh-jauh datang kemari? Perempuan itu bimbang, harus mulai dari mana menceritakan semuanya. Apakah karena sudah terlalu lama peristiwa itu menjadi rahasia, sehingga teramat sulit untuk diceritakan? Tidak. Sebenarnya ia hanya ragu, apa perlunya menceritakan semua itu. Tapi, batinnya kian meruap.

Dan kenyataanya, di kota ini, masa lalu bagaikan tirai jendela yang tersingkap oleh pagi, segala kenangan segera berhamburan. Tak bisa ia menghentikannya. Perempuan itu menghela napas, pandangannya melayang ke depan, tepat ke arah permukaan air kolam yang hijau. Tangannya ringkih meraih cangkir berisi teh panas di sebelahnya, meniup-niupnya, lantas menyeruput pelan. Bibirnya yang keriput tampak bergetar….

***

SOBARI, kekasihku semasa kuliah dulu, adalah pemuda yang gagah dan pemberani. Aku selalu merasa hangat bila menatap matanya, penuh kejujuran dan tanggung jawab. Di mata kawan-kawan sekampusnya, dia bahkan dinobatkan sebagai titisan Bung Karno. Dari mulai gaya berbicara di depan umum yang senantiasa dibanjiri semangat. Jarang menunduk ketika berjalan, seakan mengingatkan bahwa kita adalah bangsa yang hebat. Ya. Dia memang pengagum berat Bung Karno. Hanya saja, dia agak dingin terhadap perempuan. Bukan apa-apa, cuma karena malu. Akulah perempuan yang pertama kali merasakan bibirnya. Bibir yang selalu terkesan ragu-ragu ketika melumat.

Dengan pandangan melamun, perempuan itu masih menatap kolam. Segala ingatan mengenai kekasihnya, meluap kemana-mana.

Kau percaya, dia sungguh lelaki melankolis, gemar memperhatikan hal-hal kecil. Segalanya ingin terlihat sempurna. Gagasan, hasil kerja, juga penampilannya. Waktu baginya adalah karib, yang bisa diajaknya bermain, tanpa pernah merasa memburu dan diburu. Terangnya, dia selalu bisa memilih sesuatu yang seharusnya dia pilih. Dia, tentu saja haus akan sejarah, termasuk sejarahnya sendiri. Bila ada peristiwa yang menurutnya penting, dia kerap mengekalkannya dalam bentuk foto. Gambar-gambar itulah bagian dari hidupnya. Harapan-harapanya ada di sana. Sayang sekali, aku sudah kehilangan fotonya sebelum kau sempat melihatnya.

Kenangan-kenangan terus berderak di kepala perempuan itu, seperti kereta yang melintas, kerap menuntut lambaian. Ia terbayang bagaimana wajah kekasihnya yang bergelora saat memimpin pergolakan, lalu memandang lelaki di sebelahnya, mematung, terlihat sungguh-sungguh dalam menyimak.

Persis seumuran kau, masih muda. Namun kepedulian terhadap orang lain, ternyata tidak selalu harus melibatkan usia. Semangatnya melawan pemerintah yang membelok, rasanya tidak bisa ditumpas oleh apapun. Ketakutan bukan sifat manusia, bergegaslah! Kata-kata itulah yang sering kami dengar dari mulutnya ketika memimpin barisan. Dia berorasi dengan lantang. Meledak-ledak. Terik yang panas, debu-debu yang bertebaran, bagaikan disulap menjadi padang rerumputan yang sejuk. Kami seperti ikut tersihir. Jajaran pasukan keamanan yang berbaris, di matanya menjelma pohon-pohon rindang yang tidak pernah bisa berbuat apa-apa selain menambah udara semilir. Ya. Dia seolah-olah tidak pernah takut dengan apa pun. Pikirannya cuma berisi rakyat dan rakyat. Ah, dasar anak muda…, perempuan itu mendesah, untuk dirinya sendiri. Bibirnya menebarkan senyum.

“Jadi, nenek kemari untuk bertemu lelaki itu?”

Langit perlahan berubah petang. Burung-burung yang melintas di kejauhan tampak seperti bayangan hitam yang mengirai-ngirai. Lampu-lampu mulai menyala dengan sendirinya. Orang-orang sebagian melenggang pergi. Perempuan itu diam sejenak. Cangkir di genggamannya sudah tidak panas lagi. Ia kembali meminumnya, satu teguk.

Setelah aksi itu, mungkin malam harinya, kekasihku menghilang. Tiada seorang kawannya pun yang tahu kapan persisnya dan ke mana dia pergi. Biasanya dia akan menemuiku lebih dulu untuk pamit bila hendak pergi jauh atau pulang kampung. Tapi kala itu, dia tidak meninggalkan sepatah ucapan pun kepadaku, bahkan kami tidak sempat bertemu sebelumnya. Beberapa hari kemudian, orang-orang gempar. Mayat seorang lelaki ditemukan di tempat ini, tergolek bugil tanpa alat kelamin, kepalanya terendam air. Dari bekas alat kelaminya yang penuh sayatan, menggumpal lendir kental. Puluhan, bahkan ratusan lalat berkerumun menyantapnya.

***

CANGKIR di tangannya tergenggam erat, ia meremas-remas. Jemarinya yang berkerut tampak mengencang.

Ya. Di kolam inilah, ketika berupa rawa-rawa, ketika masih menjadi hunian yang sepi, untuk yang terakhir kalinya aku berjumpa dengan mayat kekasihku. Kau, tentu dapat mengira bagaimana perasaanku saat itu, juga saat ini. Kesedihan, ternyata tidak pernah menjadi masa lalu. Airmata rasanya tidak kubutuhkan lagi. Aku yakin pelakunya pasti bukan manusia. Manusia tidak mungkin sekeji dan sekejam itu. Dan memang, perkara pembunuhan itu tidak pernah terkuak hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan yang lewat menjadi lupa.

Napas perempuan itu berhembus kencang. Berdegup-degup. Di atas, langit telah seutuhnya malam. Lampu-lampu semakin berbinar, berwarna murung. Orang-orang kembali datang, kebanyakan membawa pasangan, bercengkrama dengan asyik. Ia kembali meminum tehnya, beberapa teguk.

Aku, akhirnya memang memutuskan berhenti kuliah, pulang kampung membawa perasaan hancur runtuh. Sengaja aku hindari kawan-kawan kuliah. Perkaranya, ah, rasanya aku tak perlu menceritakan bagian ini. Hingga kemudian kakekmu datang melamarku. Aku sangat kaget, jelas tidak menyangka. Kakekmu, dulu berkawan baik dengan kekasihku. Ia tahu seberapa dekat hubungan kami. Sedangkan aku baru mengetahui kalau ternyata telah lama kakekmu menyimpan perasaan cinta terhadap aku. Kakekmu, dengan cintanya yang sabar terus berusaha memulihkan luka di dadaku. Ia berupaya menghapus jejaknya dari kehidupanku. Seluruh fotonya ia bakar, semua pakaiannya ia buang jauh-jauh. Itulah sebabnya kenapa kakekmu selalu melarangku kembali ke kota ini. Kakekmu tidak ingin masa lalu terus menerus menikamku. Sepenuhnya aku memahami semua keinginannya itu. Maka, aku pun berpura-pura melupakan di depannya. Ya, bertahun-tahun aku hanya pura-pura. Kelalaian kakekmu adalah mengira bisa menggantikan keberadaan dia di hatiku, namun kenyataannya aku masih saja digoda oleh janjiku.

Sejak memutuskan pulang kampung, aku memang berjanji kepada diriku sendiri. Suatu saat nanti aku akan kembali ke kota ini. Aku datang kembali ke kota ini bukan untuk menuntut keadilan. Bukan. Siapa pula aku ini berani bicara keadilan? Aku datang untuk berziarah. Betapa lamanya aku memyimpan keinginan berkunjung ke tempat ini. Memendam janji. Dan baru sekarang bisa menunaikannya. Setidaknya, perasaanku lega, mempunyai harapan bisa mati dengan tenang.

Wajah perempuan itu, dalam cahaya lampu-lampu, terlihat semakin layu.

Kau mungkin tidak menyangka, di dasar kolam ini jugalah kekasihku dimakamkan. Kau lihat sendiri, betapa bagusnya tempat ini. Sebuah taman, bangku-bangku yang cantik, lampu-lampu, air mancur yang riang, itu semua adalah hasil rintisan dari kawan-kawannya. Keluarganya hanya bisa pasrah. Dengan dana yang kukira cukup besar, mereka meminta tempat ini dijadikan taman. Dengan harapan banyak orang akan mengunjunginya, supaya dia tidak merasa kesepian. Atau dengan maksud yang lain aku tidak tahu. Dan benar, mereka berhasil membuat tempat ini hidup.

***

PEREMPUAN itu memandang langit, mendung tiba-tiba menggantung. Cangkir tehnya kini hampir tandas. Cucunya segera meraih poci, menuangkannya lagi. Orang-orang masih ramai, muda-mudi, wajahnya penuh tawa. Perempuan itu kemudian berdiri, memetik bunga-bunga di sekitarnya, mengumpulkannya hingga segenggam penuh. Ia lalu melangkah menghampiri kolam, menyebarkan bunga-bunga itu di atasnya. Gerimis turun, permukaan air bagaikan berkedip-kedip. Orang-orang segera berhambur, mungkin mereka mengira kalau gerimis akan menjadi lebat. Namun perempuan itu masih berdiri di sana.

Cucunya yang bujang itu hanya memandangnya saja. Sebenarnya dia tahu bagian yang tidak diceritakan itu. Yakni, ketika menerima lamaran kakeknya, ia sudah punya anak dari lelaki kekasihnya itu. Ini sudah menjadi rahasia umum di keluarganya. Tapi mungkin perempuan itu masih menganggapnya sebagai rahasia yang wajib disimpan baik-baik. (*)

 .

.

Kamar Malas, Juni, 2012

.

.

Advertisements