Cerpen Gunawan Maryanto (Jawa Pos, 24 Juni 2012)

 

 

BEBERAPA kali sudah dalam hidup kita terbangun dan lupa dengan mimpi yang baru saja kita alami. Dalam tidur seakan kita akan mengingat mimpi itu selamanya, tetapi begitu terbangun tak satu pun hal yang tersisa dalam kepala kita. Seringkali kita terganggu dan berusaha keras mengingatnya. Tapi kadang kita tak peduli. Dan membiarkannya berlangsung berkali-kali.

Tapi tidak demikian dengan Kobatsah, seorang raja dari Kerajaan Medayin. Ia sangat terganggu. Mimpi yang hilang itu sangat mengusiknya. Membuatnya tak bisa tidur bermalam-malam. Karenanya ia perintahkan Eklaswajir, patihnya, untuk mencari orang pintar yang bisa membantunya mengingat kembali mimpi tersebut. Sudah ratusan penujum didatangkan tapi tak satu pun yang bisa mengembalikan mimpi sang raja. Hingga suatu hari Kobatsah mendengar berita tentang kesaktian seorang anak muda bernama Betaljemur. Tapi sayang Betaljemur tak mau menghadap ke istana jika tidak menunggang Patih Eklaswajir dan dipayungi Songsong Kencana Kerajaan Medayin.

Demi menyenangkan hati sang raja, Eklaswajir merelakan dirinya menjadi kuda bagi Betaljemur. Di punggungnya dipasang pelana. Tak ketinggalan pula tali kekang dan kacamata kuda. Dan, berangkatlah Betaljemur diiringi sorak-sorai rakyat Medayin menertawakan patih kerajaan yang tiba-tiba berubah menjadi kuda.

***

“Jadi apa mimpiku yang hilang, Anak Muda? Seluruh permintaanmu sudah kuturuti. Sekarang katakan padaku.”

Kobatsah menatap tajam Betaljemur. Anak muda dari kampung yang wajahya seperti diselimuti cahaya itu hanya tersenyum.

“Kudengar kau bisa membaca segalanya. Bahkan dengan binatang pun kau sanggup bercakap-cakap. Ratusan peramal telah kudatangkan dan tak satu pun berhasil menemukan mimpiku. Apalagi membacanya.”

“Terima kasih, Yang Mulia, karena sudah mengabulkan permintaan saya, menjemput saya dengan kuda paling mewah se-Medayin. Meski kuda itu adalah patih Yang Mulia sendiri, Eklaswajir. Sepanjang jalan banyak orang bertanya-tanya kenapa saya naik ke punggung patih mulia itu. Yang Mulia pasti juga bertanya-tanya. Tapi mimpi Paduka yang hilang kiranya lebih penting dari kehormatan seorang patih.”

“Ya, mimpiku yang hilang itu lebih penting dari segalanya. Tanpa mimpi apa jadinya seorang manusia.”

“Benar, Yang Mulia. Tapi perkenankan hamba bercerita lebih dulu sebelum hamba mengembalikan mimpi Paduka yang hilang itu.”

Kobatsah mengangguk. Wajah Betaljemur yang polos dan bercahaya membuat Kobatsah tiba-iba saja jatuh cinta kepadanya. “Tapi saya mohon Patih Eklaswajir juga duduk di sini, ikut mendengarkan cerita saya.”

Kobatsah mengangguk sekali lagi. Ia segera memanggil patihnya. Yang dipanggil datang dengan wajah merah. Seharian ia telah dipermalukan Betaljemur, dan kini tampaknya anak muda itu masih akan melanjutkan penghinaannya. Tapi Eklaswajir menurut saja. Di hadapan Kobatsah ia harus menunjukkan pengabdiannya, menampakkan pengorbanannya kalau perlu menjilat pantat Kobatsah pun akan dilakukannya. Ia hanya penasaran siapa sebenarnya anak muda bernama Betaljemur itu. Kenapa tiba-tiba saja Kobatsah jadi begitu murah hati dan menuruti seluruh permintaannya.

“Nama saya Betaljemur yang mulia. Saya tinggal di sebuah kampung bersama ibu saya. Hanya berdua saja. ayah saya hilang sejak saya masih dalam kandungan. Sampai sekarang ibu saya masih menunggu kepulangan ayah saya.

Betaljemur berhenti sejenak. Ia melirik Patih Eklaswajir yang menyimak ceritanya. “Beberapa hari yang lalu ibu memberi saya sebuah buku. Kitab Kadamakna judulnya. Kata ibu kitab itu ditulis oleh kakek saya, Lukmanakim. Paduka tentu pernah mendengar namanya. Beliau adalah guru Baginda Sarengas, ayah Yang Mulia sendiri.”

“Ya, kau benar. Ayahanda pernah bercerita tentang Kyai Lukmanakim. Jadi kau adalah cucunya. Berarti ayahmu yang hilang itu adalah Bektijamal, saudara angkatku?”

Betaljemur mengangguk dalam-dalam. Eklaswajir tiba-tiba gelisah dalam diamnya. Apakah rahasianya akan terbongkar. Ia bertanya-tanya dalam hati.

“Saudara angkat Patih Eklaswajir juga,” jawab Betaljemur kemudian. Jawaban itu seperti diarahkannya ke wajah Patih Eklaswajir. “Dalam Kitab Kadamakna seluruh pertanyaan saya terjawab, Yang Mulia. Saya tahu di mana ayah saya sekarang berada.”

“Di manakah Kakang Bektijamal berada, Anakku? Sudah lama sekali aku tak mendengar kabarnya.”

Kobatsah bangkit dari duduknya. Cerita Betaljemur begitu menarik perhatiannya. Sejenak ia lupa dengan perkara mimpinya.

“Kadamakna telah menulis semuanya. Apa yang telah dan belum terjadi di dunia ini. Termasuk di mana ayah saya sekarang berada. Bahkan mimpi Paduka yang hilang pun ada di dalamnya.”

“Cepat ceritakan, Anakku. Tak sabar aku mendengarnya.”

“Patih Eklaswajir yang lebih tahu, Yang Mulia, di mana ayah saya sebenarnya berada.”

Ekslawajir terhenyak. Ia benar-benar tak bisa menghindar. “Menurut ibu, bersama Patih Eklaswajirlah ayah pergi untuk terakhir kalinya.”

Eklaswajir kini pasrah. Ia hanya diam saja.

Kobatsah yang menjadi tak sabar ingin mendengar akhir cerita Betaljemur. “Katakan, Eklaswajir, di mana kakang Bektijamal berada!”

Eklaswajir semakin tertunduk dalam. Keringat dingin mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Lidahnya yang selama ini terampil melontarkan kata-kata kini kaku. Ia bernar-benar tak mengira bahwa peristiwa yang bertahun-tahun dikuburnya dalam-dalam akan terbongkar dengan mudah oleh seorang bocah kemarin sore.

“Betaljemur, ceritakanlah. Eklaswajir tak mampu bercerita tampaknya.”

Kesabaran Kobatsah sudah habis. Sebenarnya ia ingin menghukum segera Eklaswajir saat itu juga. Baru sekali ini patihnya yang begitu setia itu membangkang perintahnya.

“Dengan izin paduka akan hamba ceritakan semua.” Betaljemur menyembah Kobatsah. “Tak ada maksud hamba membongkar aib siapa pun. Tak ada maksud hamba membalas dendam atas kejahatan seseorang. Hamba hanya menjalankan apa yang sudah tertulis dalam Kadamakna.”

Lalu berceritalah Betaljemur tentang apa yang terjadi bertahun yang lalu. Tentang Eklaswajir yang membunuh ayahnya demi mendapatkan harta karun di sebuah gua yang mereka temukan dalam sebuah pengembaraan.

Kobatsah gemetar menahan amarah. Ia sama sekali tak menduga bahwa di balik kesetiaannya Eklaswajir menyimpan kebusukan. Seluruh penilaiannya atas diri Eklaswajir hancur seketika. Ia jadi mengerti kenapa Betaljemur meminta Eklaswajir menjadi kudanya. Anak muda itu ingin menunjukkan kepada seluruh penduduk Medayin siapa sesungguhnya Eklaswajir.

“Benarkah yang diceritakan Betaljemur ini, Eklaswajir?”

Eklaswajir mengangguk. Pelan sekali. Ia sama sekali tak berani menatap Kobatasah. Meledaklah Kobatsah oleh kemarahan. Ia merasa dikhianati oleh patih yang begitu dipercayainya itu.

“Lalu di manakah jasad Kakang Bektijamal kau sembunyikan?”

“Di rumah hamba, Paduka. Di belakang rumah hamba.”

Eklaswajir akhirnya bersuara. Semakin hancurlah hati Kobatsah. Mimpinya yang hilang ternyata membongkar kejahatan Eklaswajir. Tapi di balik hatinya yang hancur rasa kagumnya pada kemampuan Betaljemur mulai terbit. Tak salah ia memanggil Betaljemur. Benarlah apa yang dikatakan orang-orang tentang kesaktian Betaljemur.

“Terima kasih, Betaljemur, kau telah membongkar kejahatan Eklaswajir. Entah apa jadinya jika kejahatan ini tak terbongkar. Betapa memalukannya bahwa di balik kejayaan Medayin tersimpan sebuah kejahatan besar yang dilakukan oleh kepercayaanku sendiri. Sekarang katakanlah apa mimpiku yang hilang itu.”

Betaljemur menyembah sekali lagi, “Mohon maaf, Paduka. Sekiranya Paduka masih dapat bersabar sementara. Pikiran dan perasaan hamba masih keruh oleh cerita hamba baru saja. Saya kira Paduka pun demikian. Hamba takut akan tak baik kejadiannya nanti. Sebab mimpi Paduka yang hilang juga bukan perkara yang mudah untuk diterima dengan hati yang terbuka.”

Kobatsah termangu. Ia membenarkan apa yang disampaikan Betaljemur. Bukankah lebih baik ia menyelesaikan perkara kejahatan Eklaswajir terlebih dahulu. Barulah urusan mimpinya yang hilang ia agendakan kemudian.

“Ya, kamu benar. Sekarang istirahatlah. Aku akan mengurus pengadilan Eklaswajir terlebih dulu. Tenangkan hatimu. Jika kamu sudah siap, datanglah menghadap.”

“Hamba mohon diri, Yang Mulia. Hamba akan pulang ke kampung menemui ibu hamba. Tentu ia cemas menanti kepulangan hamba.”

“Tak usah pulang. Akan kuperintahkan prajurit menjemput ibumu, dan tinggallah kalian di istanaku. Bektijamal sudah kuanggap saudaraku sendiri. Betapa berdosanya aku telah menelantarkan kalian selama ini.”

Betaljemur lega mendengar jawaban Kobatsah. Keinginannya untuk membahagiakan ibunya tercapai sudah. Tentu ibunya akan senang tinggal di sini. Tapi ia masih bingung mencari cara menceritakan kematian ayahnya. Ibunya begitu percaya bahwa kelak suatu saat suaminya akan kembali sebagaimana janjinya.

“Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan menunggu ibu hamba di istana.”

***

Pengadilan Eklaswajir tak berlangsung lama, seluruh bukti tak dapat disangkal—Kobatsah telah memerintahkan membongkar makam Bektijamal dan memindahkan kerangkanya ke pemakaman terhormat di Medayin—dan Eklaswajir pun telah mengakui perbuatannya. Atas persetujuan para wali kerajaan Betaljemur pun segera diangkat sebagai patih kerajaan menggantikan Eklaswajir yang akan dihukum mati. Betaljemur menerima seluruh penghargaan dari Kobatsah dengan tangan terbuka.

Seperti yang tertulis dalam Kadamakna yang telah dibacanya, memang demikianlah jalan hidup yang harus dilaluinya. Meski dengan menerima jabatan itu sebuah jalan yang mengerikan tengah terbentang di hadapannya. Ia tahu tapi ia tak mau menghindar. Ia tak mau mengulang kisah ayahnya yang mencoba lari dari apa yang telah digariskan di Kadamakna. Ia ikuti saja meski di ujung jalan ia harus menumpahkan banyak darah demi kejayaan Medayin.

***

Pada hari yang telah ditentukan menghadaplah Patih Betaljemur.

“Apakah Paduka sudah siap mendapatkan mimpi yang hilang itu?”

“Siap lahir batin. Hatiku belum tenang jika tak bisa menemukan mimpiku itu, Betaljemur.”

“Baiklah, Paduka. Malam itu Paduka bermimpi melihat buah sawo di dalam sebuah kotak kayu. Tapi ketika Paduka hendak menyantapnya seekor anjing hitam datang dan merebut buah sawo tersebut. Saya kira itulah mimpi Paduka yang hilang beberapa hari ini.”

Kobatsah berseru kegirangan. “Iya, benar. Itulah mimpiku yang hilang itu. Yang selalu gagal kuingat lagi. Terima kasih, Betaljemur!”

Bagai seorang anak kecil yang mendapat mainannya kembali mata Kobatsah bersinar gembira. Betaljemur tersenyum melihat kegembiraan junjungannya.

“Lalu apa arti mimpiku itu, Betaljemur?” Setelah mampu menguasai dirinya Kobatsah kembali bertanya.

Betaljemur tak langsung menjawab. Ia menatap wajah Kobatsah dengan seksama. Kobatsah jadi berdebar.

“Apakah artinya buruk, Betaljemur?”

Betaljemur menggeleng. “Buruk jika memang paduka menganggapnya demikian. Baik jika Paduka mampu menerimanya dengan lapang hati.”

“Apakah berkait dengan Kerajaan Medayin?”

“Tidak, Paduka. Ini perkara pribadi.”

Kobatsah semakin berdebar. “Baik. Katakanlah. Aku siap mendengarnya.”

“Ada selir paduka yang setiap hari bercinta dengan seorang budak dari Ngabesi.”

Kobatsah melongo mendengar penuturan Betaljemur. “Apakah benar katamu?”

Betaljemur mengangguk. “Bahkan sekarang pun mereka tengah bercinta. Mereka bercinta di dalam peti mati di gudang kerajaan.”

Tanpa menunggu apa-apa lagi Kobatsah langsung memerintahkan prajurit untuk menemukan selirnya tersebut di gudang kerajaan. Dan memang demikianlah adanya. Salah seorang selirnya memang sedang bercinta dengan seorang budak dari Ngabesi. Mereka berdua tertangkap basah tengah tidur bersama di dalam sebuah peti mati.

***

Kepercayaan Kotbatsah semakin berkali lipat. Rasanya tak salah ia mengangkat anak muda yang sakti itu menjadi patihnya. Dan Betaljemur pun tak menyia-nyiakan kepercayaan yang ditaruh di pundaknya. Di bawah pemerintahannya Medayin kembali bersinar dan dikagumi oleh kerajaan sekitar. Bahkan banyak yang kemudian datang dan bermukim di wilayah Medayin. Kobatsah dan Betaljemur menjadi sepasang pemimpin yang disayangi dan disegani rakyatnya.

Untuk menguji kemakmuran Medayin Betaljemur mengusulkan agar Kobatsah pura-pura sakit keras dan obatnya hanyalah segenggam tanah Medayin yang kosong dan belum berpenghuni.

Segera kabar itu disebar ke seluruh penjuru. Tapi berbulan-bulan tak kunjung datang seorang pun membawa segenggam tanah yang diharapkan. Dalam hati Kobatsah merasa lega bahwa seluruh tanah di Medayin sudah berpenghuni dan tak ada yang terlantar. Namun demikian Betaljemur tetap memintanya untuk berpura-pura sakit. Hingga suatu sore datanglah beberapa orang warga Medayin membawa tanah yang diminta.

Bertanyalah Betaljemur kepada mereka di manakah tanah yang masih kosong itu.

“Ampun, Yang Mulia. Tanah ini kami ambil di pinggiran kerajaan. Di sebuah rumah kosong milik saudagar dari Sam. Belum lama menempati rumah tersebut saudagar itu mati mendadak. Dan hingga bertahun-tahun kemudian tak ada satu pun ahli warisnya yang datang. Meski demikian, harta saudagar tersebut masih tersimpan dengan aman.”

Maka, bangkitlah Kobatsah dari sakitnya. Ia benar-benar merasa puas dengan kehidupan warga kerajaannya. Saking makmurnya mereka tak mau mengambil harta yang bukan miliknya. Maka, diberilah hadiah orang-orang yang membawa segenggam tanah itu.

***

Suatu hari di sebuah sore saat Kobatsah tengah duduk berdua dengan Betaljemur bertanyalah ia, “Apakah Pangeran Yayi, anakku, akan bisa memerintah Medayin ini sama baiknya dengan diriku?”

Betaljemur pun mengiyakan. “Putra Paduka akan menjadi raja yang paling besar. Bersama patihnya yakni anak Eklaswajir Medayin akan mencapai puncak kejayaannya. Pangeran Yayi kelak akan bernama Prabu Nusirwan. Bersama Patih Bestak ia akan memerintah Medayin hingga akhir hayatnya.”

Lega hati Kobatsah mendengar jawaban itu. Tapi Betaljemur belum selesai.

“Akan tetapi kelak akan lahir seseorang yang tak akan mampu dikalahkan sang Prabu Nusirwan.”

Mendadak wajah Kobatsah berubah menjadi keruh. Betaljemur pun segera tahu saat terburuknya segera tiba.

“Anak itu akan dilahirkan di mana, Betaljemur?”

“Ia adalah anak kesayangan para nabi, Paduka. Malaikat Jabarael sendiri yang akan mengajarinya ilmu berperang. Menurut hemat hamba tak akan memalukan jika Prabu Nusirwan akan kalah berperang melawannya.”

Wajah Kobatsah yang semula keruh kali ini kembali bersinar. Tapi sinar matanya tampak berubah. Betaljemur membacanya dengan hati bergetar.

“Paduka, kelak musuh-musuh Medayin berasal dari Mekah, Yahman, Kohkarib, Serandil, Mesir, Yunani, Kebar, dan Ngerum. Saya tak tahu pasti dari salah satu wilayah itu.”

Sepasang mata Kobatsah memancarkan kekejaman yang tiada tara.

“Malam ini juga, Betaljemur, bawalah sebanyak mungkin prajurit Medayin dan berangkatlah ke kerajaan-kerajaan yang kamu sebutkan itu. Bunuh seluruh perempuan yang tengah hamil. Aku tak ingin anak itu lahir.”

Betaljemur tahu bahwa suatu saat ia akan bergelimang dengan darah demi menjaga kejayaan Medayin. Tapi tetap saja hatinya bergetar ketika tahu saat itu telah tiba. Betaljemur menyembah Kobatsah.

“Hamba pamit berangkat, Yang Mulia.”

Malam itu Betaljemur memulai perjalanan berdarahnya hingga bertahun-tahun kemudian saat Kobatsah meninggal dan Nusirwan memintanya pulang. (*)

 

 

Jogjakarta, 2012

Advertisements