Archive for July, 2012

Tangan-tangan Buntung
July 31, 2012


Cerpen Budi Darma (Kompas, 29 Juli 2012)

TIDAK mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin.

Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru. Karena Nirdawat tidak bersedia, maka akhirnya, pada suatu hari yang cerah, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi rumah Nirdawat, dan berteriak-teriak dengan nada memohon, agar untuk kepentingan bangsa dan negara, Nirdawat bersedia menjadi presiden. (more…)

Gulistan
July 27, 2012


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 22 Juli 2012)

KALIAN masih ingat, ingat sekali, kalau kalian bepergian ke kampung tetangga di pengujung Syakban.

Bakda zuhur, kalian menumpang sebuah bus yang semua bangkunya sudah terisi. Kalian berdiri dengan sebelah tangan berpegangan pada besi terentang di atas lorong yang membagi barisan tempat duduk. Kalian harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam. Di sekitar kalian; sepasang muda-mudi duduk berdempetan, mulut empat lelaki pecandu kretek yang menjelma pabrik asap, beberapa lelaki tua mengutuk pemerintah yang batal menaikkan harga BBM padahal sudah berderum-derum bensin ditumpuk di halaman belakang rumah, tiga pemuda sibuk memamerkan kelebihan fisik pacar masing-masing, ibu-ibu muda asyik dengan gadget (sesekali mereka merutuki Innova pribadi yang mogok—sepertinya mereka adalah anggota DPRD yang baru saja mengunjungi daerah pemilihan yang terpencil)…. Dan kalian berdua hanya bersipandang, sesekali memejamkan mata demi mencegah diri dari mengumpat dan membicarakan dosa-dosa orang lain. (more…)

Lolongan Tengah Malam
July 27, 2012


Cerpen Adi Zamzam (Koran Tempo, 22 Juli 2012)

JADILAH diriku. Cobalah sesekali waktu kalian membayangkan menjadi diriku. Tiap malam mengayun langkah menuju entah, karena masa depan yang terlukis dalam kepala hanyalah sebentuk kekosongan. Langkah, hanyalah sekadar untuk mencari remah makanan penyambung nafas. Selebihnya adalah kebosanan menunggu maut menjemput. (more…)

Seekor Unta pada Hari Jumat
July 27, 2012


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 22 Juli 2012)

PERKARA mengapa Mahisa selalu tertidur ketika mendengarkan khutbah di hari Jumat, semua bermula dari sebuah cerita di masa kecil. Cerita dari Wak Jamal. Cerita tentang seekor unta, di hari Jumat. Mahisa ingat betul, bagaimana Wak Jamal bercerita tentang keistimewaan unta dan hari Jumat, di surau redup di sudut kampungnya. (more…)

Mbah Kardoen
July 25, 2012


Cerpen N Mursidi (Republika, 22 Juli 2012)

MUSHOLLA itu terselip di sebuah gang kecil. Tak ada peziarah yang sempat singgah. Tak ada pengelana yang menumpang shalat, kecuali hanya beberapa orang yang tinggal di sekitar musholla. Bertahun-tahun sejak musholla itu berdiri, nyaris sepi dan hening. Tak ada shalat berjamaah di siang hari. Bangunan untuk tempat sembayang itu baru mulai hidup dan bernapas tatkala petang menjelang, tepat azan Maghrib berkumandang. Tujuh sampai sepuluh orang kampung mulai berdatangan untuk shalat Maghrib berjamaah. Tapi, saat Isya tiba, jumlah itu mulai berkurang. Tidak lebih lima orang. Waktu Subuh, tinggal tiga atau empat orang. Demikianlah musholla itu menghembuskan irama. Setiap hari seperti itu, tak pernah ramai. (more…)

Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus…
July 25, 2012


Cerpen Sungging Raga (Kompas, 22 Juli 2012)

“SABARLAH, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”

Serayu, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih apakah perasaan seorang wanita yang melihat senja itu dari balik jendela kereta ketika melintas di jembatan panjang sebelum stasiun Kebasen? (more…)