Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 3 Juni 2012)

LIMAS itu gelap pekat. Tak ada setitik cahaya pun yang terlihat. Dinding-dinding papannya terlihat kusam dalam gelap. Bau melati menyeruak. Semerbak. Lalu, berputar-putar ke atas bubungan. Kemudian, angin membawanya terbang. Menarik kunang-kunang kecil untuk datang.

Aku dan Dul menatap awas. Sejak lepas isya, kami telah bersembunyi di sini, di rumpun melati yang menjadi pagar hidup limas tua lapuk ini. Pagar yang dalam gelap seolah memiliki mata, mengawasi, dan akan menyergap ketika korbannya lengah.

Bahwa pagar ini bisa bergerak dan memanjangkan sulur-sulurnya, sudah pula kami dengar. Banyak kawan sepengajian mengurai cerita yang sama. Seperti Liman, dia pernah cerita, kalau di suatu malam yang membuatnya terkencing-kencing, saat ia berjalan gontai pulang dari masjid, tiba-tiba saja ada sesuatu yang melilit kakinya. Liman tersentak, jatuh tengkurap mencium tanah.

Seketika ia terseret kuat. Liman menjerit-jerit saat melihat ke belakang, di matanya pagar dari rumput melati itu tiba-tiba bermata merah, bermulut besar hitam, dan ranting-rantingnya menjulur seperti tangan gurita, berebutan untuk membelit tubuhnya.

“Lantas, bagaimana kau bisa selamat?” tanya Akem tiba-tiba, tak kuat menunggu akhir kisah Liman yang menakutkan.

“Saat aku menjerit-jerit sambil berpegangan pada apa saja agar tak masuk rumpun setan itu,” semua kawan menahan napas, “Bujang lapuk yang menakutkan itu muncul. Ia memukul rumput setannya dengan kayu. Sekejap itu pula, sulur-sulur itu melepaskan lililitan di tubuhku, lalu berlarian kembali ke rumpun. Senyap.Tak bergerak. Seolah-olah hanya tanaman melati biasa.”

Kami menghela napas mendengar cerita Liman yang mengerikan itu.

“Lalu, apa bujang lapuk itu bercakap denganmu?” aku yang bertanya pada Liman. Sebab setahuku, bujang di limas tua berkarat itu tak pernah bertegur sapa dengan siapa pun. Ia seolah mengasingkan diri. Atau terasing?

“Tak sepatah kata pun ia bercakap. Matanya cuma menatapku tajam, merah. Lalu, ia pergi ke dalam pekarangan limasnya lagi. Usai itu aku terbirit-birit pulang.”

Cerita menakutkan tentang limas tua dan penghuninya ini, sudah lama tersiar di kalangan kami, anak-anak dusun Tanah Abang, pun dari mulut-mulut orang dewasa. Bukanlah Liman seorang yang pernah mengalaminya, banyak. Salah satunya Padel, kawan kami yang pandai bersilat dan punya badan kekar lagi tegap.

Ia bercerita, sepulang dari latihan silat, kira-kira hampir menjelang tengah malam, dusun telah senyap dan malam seperti jubah setan yang hitam dan tebal. Padel berjalan sendiri menuju limas orangtuanya di selatan dusun. Limas lapuk ini memang berada di pinggir setapak, berjarak jauh dengan limas-limas lainnya. Batang kueni, mangga, jambu air, dan kelapa tumbuh di sekitarnya.

Saat itu, tak ada siapa-siapa yang lewat. Jangankan orang, bunyi binatang pun tak ada. Malam senyap. Mencekam. Seolah telah terjadi persekongkolan antara malam, pekat, dan arwah-arwah penasaran yang ditolak bumi mentah-mentah. Lamat-lamat, seiring langkah kaki Padel di setapak, tercium bau melati yang menyeruak. Hidung pesek Padel mengembang. Arahnya dari depan.Terkesiaplah ia. Padel langsung teringat akan limas dan bujang lapuk penghuninya.

Sebelum Padel dapat menguasai rasa takut yang tiba-tiba menjalar di dadanya, ia sudah dikejutkan dengan pemandangan ganjil di depannya. Limas lapuk itu benderang dengan cahaya kerlip-kerlip di udara. Rumpun melati yang biasanya tak bergerak, tengah bergoyang-goyang, meliuk serupa tangan-tangan hantu. Tak hanya itu, Padel melihat bujang lapuk itu sedang memeluk ketel besi. Dan ia seolah tengah menangkap cahaya berkerlip-kerlip itu, lalu mengumpulkan dalam ketelnya.

“Kunang-kunang,” desis Dul menebak cahaya berkerlip itu.

“Iya,” sahut Padel dengan mimik muka serius, “Dan tahukah kalian kunang-kunang itu lahir dari apa?” serentak kami menggeleng dengan wajah pucat-pasi tapi penasaran.

“Kuku orang mati,” bisik Padel, dengan suara didesiskan. Seketika, tengkuk kami seperti meriap berdiri. Kami duduk merapat dan menenangkan degup dalam dada.

SUDAH lebih dari satu jam aku dan Dul dalam rumpun melati ini. Nyamuk berdengung-dengung, membabi-buta di kulit. Minyak dari kulit jeruk yang kami usapkan, tidaklah terlalu mempan. Buktinya nyamuk-nyamuk keparat itu tetap saja datang, menggigit, lalu menghisap darah kami kuat-kuat. Seperti setan haus darah.

Halik dan Pebot yang berada di rumpun melati seberang sana, belumlah memberi kode atau tanda menyerah. Apa mungkin keduanya jatuh tertidur? Fhuuii, biadab sekali kalau keduanya tertidur di saat genting seperti ini. Aku mulai khawatir ketika burung pungguk sudah bergugut dalam pekat malam. Kata Liman, bila burung yang selalu dihubungkan dengan hantu itu sudah berbunyi, itu tandanya kerlip-kerlip itu akan mulai muncul dari dalam limas. Dan bujang lapuk itu akan memulai ritualnya: memanggil peri kunang-kunang. Kekasih abadinya dari alam tak teraba.

Ahai, cerita tentang peri kunang-kunang ini pulalah yang sejatinya membuat kami penasaran. Hendak melihat sendiri, tak puas hanya mendengar cerita dari kawan-kawan saja. Bisa jadi, mereka telah bermufakat, membuat persekongkolan keji, menebar cerita yang tak teruji. Lalu, di belakang kami yang pucat pasi, mereka akan tertawa geli.

Aku sejatinya tak paham, apa benar peri kunang-kunang itu ada. Aku pun sebenarnya hendak menanyakan ihwal itu pada Emak atau Kajut-ku. Tapi, niat itu kuurungkan. Bila aku bertanya, pasti mereka akan menerka dengan tepat: bujak lapuk itulah yang tengah aku perbincangkan. Dan Emak selalu tak suka bila aku dekat-dekat ke sana. Kalau kutanya kenapa, Emak selalu bilang: Pokoknya jangan ke sana, bujang tua itu tak suka diganggu, kalau ada bujang-bujang tanggung yang mengganggunya, ia akan memasak mereka dalam periuk.

Nah, cerita dari Liman-lah yang kami dapat. Entah, dari mana ia mendapatkan cerita itu? Kuterka, Liman tak mungkin mengarangnya. Kepandaiannya tak berada di atas kami. Berapa kali kami mendapat tugas mengarang dar Bu Beti, tak pernah Liman dapat nilai lebih bagus dari kami. Sama-sama lima. Selalu.

Menurut cerita Liman, bujang lapuk di limas tua bekarat itu pemuja setan. Tak hanya memuja, bujang itu pun sudah menggadaikan hidupnya pada iblis, bahkan bujang itu sudah menikah dengan iblis pujaannya, si peri kunang-kunang. Oi, seketika bulu-bulu di kaki dan tanganku berdiri tegak, seperti orang yang ketakutan dan siap lari sekuat tenaga.

“Kau ingat cerita Padel?” tanya Liman padaku sambil berbisik, aku mengangguk kecil dengan menahan napas, sekaligus kencing yang tiba-tiba terasa hendak keluar. Alangkah menyiksa menahan semua itu bersamaan.

“Kunang-kunang datang berkumpul ketika ia panggil,” aku menelan ludah melihat mimik muka Liman yang mengerikan, “Dan kunang-kunang itu datang dari kuku orang mati. Kuku hantu. Kuku iblis betina.”

Aku tak bisa berkata ketika Liman mengatakan itu. Kupandang lekat-lekat wajahnya, berharap menunggu tawa menyembur dari mulutnya. Satu, dua, tiga. Mata Liman tetap menatapku tajam. Empat, lima, enam. Wajahnya tetap mengeras. Ah, ini bukan lelucon yang Liman lontarkan. Ia tengah bercerita seram dengan kesungguhan.

“Kau tahu kenapa bujang lapuk itu tak pernah kawin?” mata Liman semakin berkilat, ia mendekatkan wajahnya, aku tersurut sembari menggeleng.

“Bukan karena ia bujang tak laku,” terang Liman seolah paham dengan isi kepalaku, “Wajahnya rupawan. Sangat elok untuk ukuran bujang. Orang tuanya pun cukup berada,” Liman menarik wajahnya. Ia menjulurkan kakinya. Lalu, pelan-pelan bibirnya merekah. Sekuncup senyum menyembul, pelan-pelan dikulum, dan mekar sekelopak-sekelopak.

Bujang lapuk itu hampir menikah, itulah yang Liman ceritakan. Gadis pujaannya perempuan menawan. Bertubuh sintal. Hanya sayang, nasib malang menimpah. Gadis itu mati mendadak. Dan tak ada yang tahu musababnya. Tiba-tiba saja, terjadi begitu saja. Mati. Tak bernapas.

Bujang lapuk tak kuasa menanggung beban. Tak sanggup menghadapi kenyataan. Gadis yang ia cintai harus mati muda. Rincak perempuan tua yang menumbuk bumbu untuk hajat pernikahan, berubah jadi sedu sedan.

“Dan kau tahu apa yang bujang lapuk itu lakukan?” mata Liman masih saja berkilat.

Aku agak tak suka dengan air muka dan kilatan matanya. Seperti kerasukan cerita. Dan itu sangat menyeramkan.

“Bujang itu tak bisa berpisah dengan pujaannya. Jadi, saban malam, ia memanggil arwahnya dengan upacara kunang-kunang. Mereka bercinta dan berkasih-kasihan hingga fajar menjelang,” akhir Liman pada ceritanya.

Menakutkan. Hanya itu yang terlintas di kepalaku. Bagaimana bisa ada orang yang memanggil arwah pujaan hatinya, lalu bercinta. Tak bisa kucerna. Tapi, justru cerita yang tak bisa kucerna itulah yang membuat kami nekat. Kami tak hendak hanya menjadi pak turut dalam cerita yang Liman urai. Dan kesepakatan itu terbentang: Malam Jumat kami akan menakar nyali seorang bujang ingusan.

 .

“KUNANG-KUNANG,” desis Dul menyadarkanku. Aku tersengat. Mata kami mendongak. Satu-dua kunang-kunang terlihat mulai terbang. Lalu, banyak. Ada puluhan. Ratusan. Mungkin juga ribuan. Kunang-kunang menari, menjelma lekukan tubuh gadis. Gemulai. Meliuk. Seperti tersihir aku bangkit berdiri dari dalam rumpun melati. Kunang-kunang mengajak menari. Halik dan Pebot sudah lebih dulu berjalan tertatih. Mengikuti irama kunang-kunang yang penuh pukau.

“Bujang lapuk,” tiba-tiba Dul menarikku yang mulai berjalan keluar rumpun. Aku terjerembab, masuk ke dalam perdu melati lagi. Seketika Dul membekam mulutku yang hendak bersuara. Kami nyalang menatap bujang lapuk yang memutar mata. Pebot dan Halik tetap menari, mengikuti irama kunang-kunang yang gemulai. Bujang lapuk mengiring keduanya ke dalam limas, kunang-kunang pun ikut serta. Sebagian besar tetap berputar-putar sampai atas bubungan.

Dul gegas menarikku keluar, mengendap-endap menuju dinding limas. Pintu tua itu sudah kembali merapat, ketika bujang lapuk hilang di baliknya. Malam terasa semakin mencekam. Udara tiba-tiba ikut berkongsi dengan gelap, dan dingin menyelinap. Bau melati semakin menyeruak.

“Jangan lihat kunang-kunangnya. Ia bisa menyihir kita,” bisik Dul yang kuanggukkan saja. Aku baru teringat, itu juga pesan Liman.

Dari sela-sela dinding limas yang tak rapat, kami menempelkan mata. Di dalam sedikit benderang karena cahaya kunang-kunang yang memenuhi isi limas. Bujang lapuk itu mengambil ketelnya. Meletakkan di atas meja. Hatiku berdesir seketika. Ia akan memasak Pebot dan Halik, cerita Emak terngiang.

Lalu, bujang lapuk itu mendekati Halik yang masih berputar dengan kunang-kunang. Aku dan Dul menahan napas. Apa yang kulihat selanjutnya membuatku hendak mati saja. Bujang tua itu mencabuti satu persatu kuku Halik. Satu persatu. Melemparnya ke dalam ketel. Semua. Hingga tak bersisa. Dan ia mencengkram Halik. Halik meringis. Kunang-kunang semakin banyak. Berputar-putar. Meliuk dalam irama tubuh. (*)

 .

.

C59, 15-22 Mei 2012

Guntur Alam lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.

.

.

Advertisements