Syahid Sang Azazil [*]


Cerpen Izzatul Jannah (Republika, 27 Mei 2012)

DEMIKIANLAH kisah akhir pada paragraf itu, Azazil meninggalkan langit sambil tertunduk. Ia telah ditolak untuk bertobat oleh seluruh agama[*]. Maka langit menghitam, saat ia meraung penuh penyesalan. Daun-daun di bumi sejenak kehilangan warna hijaunya ketika tubuhnya meluncur deras dari langit menerobos semesta, menukik menepiskan segala meteorit dan benda-benda langit, mengoyak udara lapis demi lapis. Sekala menjadi Niskala. Meninggalkan bara di sekujur tubuhnya yang berdebum disambut tanah bumi yang menganga.

“Aku ingin syahid… aku syahid!”

***

Perlahan sayap hitam dan kokoh di punggungnya menyusut untuk hilang dalam tubuhnya yang kekar. Tanduk di kepalanya perlahan menyatu dengan kulit di bawah rambutnya yang tumbuh ikal dengan segera, mata merahnya meredup dan muncul telaga di dalamnya. Ia tak lagi memerah, melainkan tampan dan berwibawa seperti para salafus shalih.

Ia mengibaskan pedang berukir dengan taburan permata bersarung merah, mirip pedang Yaman milik Khalid bin Walid, dari gerakan lengannya terdengar mengeluarkan bunyi gemeretak. Ia melangkah dengan gagah. Di hadapannya, 100 ribu bangsa romawi dan 100 ribu bangsa nasrani tumpah ruah di tanah Ma’an. Langit di atas tubuhnya masih memancarkan terik matahari, senja masih lama menjelang. Ia mendengus. Terdengar jelas di telinganya seruan Abdullah Ibn Rawahah yang membahana.

Wallahi, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah. Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau syahid di medan perang!”

“Aku menyukainya! Aku menginginkannya! Aku menghasratkannya! Seperti hasrat Zulaikha pada Yusuf!” Ia menggeram sambil menggeretakkan rahang di wajahnya.

Shadaqta!! Ya Abdullah!” Orang-orang berteriak sambil mengacungkan pedang.

Ia dengan bekas tanduk di kepalanya itu menyeret ujung pedangnya, ujungnya melukai bumi. Melangkah dengan langkah yang meninggalkan bekas tapak kaki yang mengepul. Syahid… syahid, kata itu bergema di dalam kepalanya.

Ia melewati semak yang sedang tumbuh berbuah, ujung pedangnya yang berkilau itu diangkatnya sedikit, ada yang menggelegak di dalam tubuhnya yang tak mampu ditahannya, tiba-tiba ia mengangkat ujung pedangnya, menebas habis semaksemak yang dilewatinya, buahnya muncrat ke manamana, meleleh di ujung pedang, seperti darah. Sarang lebah di sekitarnya luluh lantak. Ribuan lebah menggeletak. Ia menggeram, penuh penyesalan, seperti namanya.

Pasukan Muslim hanya ada tiga ribu, menghadapi dua ratusan ribu musuh yang ingar-bingar. Apakah jumlah akan memenangkan? Apakah jumlah menentukan? Peperangan sama seperti kehidupan tak pernah sama dengan satu ditambah satu. Zaid bin Haritsah, panglima pertama yang membawa bendera, anak panah melesat, mendesing di sekitarnya, seperti hujan, dihadang dengan tebasan pedang. Ribuan anak panah menukik. Kaki-kaki kuda perang menjejak bumi mengepulkan debu. Pedang ibn Haritsah menebas, menghantam ratusan leher orang-orang Romawi, membuat musuh tersungkur dan darah tertumpah.

Tetapi, malaikat maut telah mengerti tugasnya, telah tertulis di lauh mahfudz, Zaid pun tumbang dalam keabadian. Laki-laki itu mendongak mendengar suara yang hanya bisa didengarnya sendiri, pintu surga dibuka. Ribuan bidadari menyanyi suka cita. Bau kasturi. Ia meraung. Syahid… syahid, kata itu bergema di dalam kepalanya.

Lalu, datang sang panglima pengganti, Ja’far bin Abi Thalib. Putra Abu Thalib itu menghela kudanya, menyambut bendera kaum Muslim yang nyaris rebah mengiringi tumbangnya Zaid, ia meraihnya, lalu menegakkannya tinggi-tinggi. Panji panji Rabbani.

“Aku rindu syahid!” suaranya lebih mirip keluh.

Lalu, telinganya menangkap udara menyesah, tebasan pedang kaum Romawi pada lengan kanan Ja’far, bumi menyesap darah. Pedang berpindah ke tangan kiri Ja’far bin Abi Thalib, dengan teriakan takbir. Ja’far terus mengibarkan bendera, sebelum menyongsong tebasan berikutnya pada lengan kirinya. Ia kini menjepit tiang panji-panji Muslim dengan sisa lengannya.

Ia tahu, langit telah dibuka sedikit demi sedikit untuk Ja’far. Untuk itu, ia menerjang ke dalam pertempuran, menebas segala yang mengadang. Ia seolah menjelma singa lapar yang merobohkan ratusan musuh! Ia begitu menginginkan lelangit terbuka untuknya, pendengarannya menghasratkan nyanyian para bidadari yang menyambutnya, penciumannya merindukan kasturi! Maka ia terus berkelebat, ujung pedangnya seperti mengiyakan hasratnya, mengaminkan harapannya. Lauh mahfudz telah menuliskan hanya akan ada 12 syahid dalam perang Mu’tah, ia sungguh ingin menjadi di antaranya.

Sebuah sekedup di atas unta jatuh, sesosok tubuh tergeletak. Udara mengepul sebab tanah padang pasir yang tertimpa beban berat, bukan hanya sesosok melainkan dua. Ia menggeram, ujung pedangnya sepertinya akan menambah kembali deretan musuh yang dikirimkannya ke alam akhirat. Pedangnya mengayun, tetapi sosok itu serentak membuka tabir di wajahnya.

“Perempuan!” jerit lelaki berpedang itu. Pedang yang telah terayun tertahan sejenak. Perempuan terlarang untuk dibunuh dalam peperangan. Ia sudah menebas semak berbuah, mengusik dan membunuh kawanan lebah, sesuatu yang terlarang dalam perang, sekarang wajah seorang perempuan mengadangnya.

Sesosok yang lain yang jatuh bersamaan dari sekedup itu, menampakkan wajahnya yang tanpa dosa, mendongak menantang, matanya tak berkedip, dalam ketakutan yang beku.

“Anak-anak!!” raung lelaki berpedang pendamba syahid itu. Pedangnya masih melayang di udara. Terngiang dalam ingatannya saat para pemuka agama menolak tobatnya. Apa yang akan terjadi jika engkau bertobat? Wahai Azazil? Apakah akan terus ada kebaikan jika tak ada lagi keburukan? Akankah ada pahala jika sang pendosa tak lagi berbuat dosa? Akankah ada surga jika neraka tak lagi disiapkan baginya?

Lelaki itu meraung. Sementara telah tumbang syahid ke-12. Maka pedang itu menderas, hampir menyentuh kulit leher sang perempuan.

Setitik air mata melayang.

Waktu terhenti. (*)

.

.

Catatan:

[*] Dari cerpen “Ketika Syaitan Bertobat” karya Taufik Al Hakim.

 .

Penulis adalah pengarang cerita-cerita epik, Ketua Umum FLP 2009-2013, pegiat literasi sejak tahun 2002.

.

.

2 Responses

  1. BerjuanglaH SEmua
    gagal tanpa berjuang lebih sakit

    Like

  2. Reblogged this on erlinfortunela.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: