Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 20 Mei 2012)

DI MANA-MANA negeri, hampir dipastikan, tak akan kalian temukan gadis-gadis yang masing-masing hanya terdiri dari sepasang kaki. Namun, negeri kami adalah perkecualian! Tepat sekali, setiap gadis di negeri kami cuma terdiri dari sepasang kaki. Ou, tentu, silakan kerat julur lidah kami kalau-kalau kisah ini semata bualan.

Hanya terdiri dari sepasang kaki? Ya, tidak salah lagi! Sepasang kaki, bagaimana bisa? O Tuhan, dengan cara apalagi kami meyakinkan kalian. Bagaimana bagian tubuh yang lain: perutnya, dadanya, punggungnya, bahunya, sepasang tangannya, rambutnya, wajahnya? Hanya terdiri dari sepasang kaki! Wuii…

Ei, ei, ini bukan cerita horor, sumpah! Sungguh tidak beradab kalau ihwal ini dikisahkan hanya untuk membiritkan kalian. Ah, lagi pula, bukankah kisah-kisah horor tak lebih dari lelucon murahan? Lantas dari mana jalannya lelucon bisa bikin kalian menggigil ketakutan, hah? Baiklah kalau begitu, kisahkanlah perihal gadis-gadis yang cuma terdiri dari sepasang kaki!

 .

TERSEBUTLAH negeri kami begitu tersohor, apalagi kalau bukan, konon, karena kecantikan gadis-gadisnya. Kecantikan macam apakah yang bersemayam di tubuh gadis-gadis itu?

Mungkin kalian pernah, bahkan sering mendengar tentang kecantikan seorang gadis sehingga rambutnya dilukiskan umpama mayang terurai, alisnya diibaratkan semut beriring, matanya bagai bintang kejora, pipinya bak pauh dilayang, hidungnya tak ubah dasun tunggal, dagunya seperti lebah bergantung. Adakah gadis-gadis tersebut serupawan, atau, ya, paling tidak mendekati kerupawanan lukisan yang dimaksud? Ketahuilah, kecantikan mereka jauh api dari panggang jika dibandingkan dengan perumpamaan itu. Lantas, apakah tubuh gadis-gadis itu begitu semampai atau lekuknya bak gitar spanyol?

Sama sekali tidak! Pancaran kecantikan gadis-gadis di negeri kami membuncah dari kaki mereka? Seindah apa gerangan? Sulit merumuskan keindahan berpasang kaki yang bersarang di tubuh gadis-gadis di negeri kami. Keindahan kaki mereka tak dapat begitu saja diukur dengan besar-kecil, tinggi-pendek, kenyal-kendur atau dipilah berdasar putih-kuning langsat-sawo matang warnanya. Serumit itu? Entahlah!

Apakah keindahan kaki-kaki para gadis tersebut diperoleh secara turun-menurun, sejak dari leluhur, mungkin? Mmh, kami tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Pasalnya, terus terang, kami tidak pernah menyaksikan dengan mata telanjang seperti apa kaki gadis-gadis di negeri kami. Bayangkan saja, gadis-gadis kami lebih banyak berkurung di rumah. Paling, selepas mandi senja, gadis-gadis kami duduk dan saling bercengkerama di beranda. Lebih daripada itu, tubuh gadis-gadis kami—termasuk kaki mereka, tentu—senantiasa digelungi kain. Tak ada sedikit pun celah bagi kami untuk melihat bagian tubuh gadis-gadis kami, kecuali wajah mereka yang lembut dengan rambut terkepang.

Terus? Segalanya bermula sejak kedatangan perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup. Perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup? Sebelumnya, harap diketahui, keramahan kami menjamu tamu tiada tandingnya, terlebih-lebih mendapatkan kenyataan bahwa negeri kami langka disambangi tamu. Oleh karena itu, sekali-kali tiada boleh kami menaruh curiga pada setiap tamu yang berkunjung ke negeri kami, termasuk perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu. Selain itu, kami memiliki kepercayaan jika tamu adalah sumur rezeki.

Dan itu terbukti! Ya, tak dinyana, tamu kami, perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu menjadi sosok utama di balik kemasyhuran negeri kami kemudian. Siapa sesungguhnya dia? Peri cantik, dewi kebaikan? Dari mana muasalnya? Turun dari kahyangan? Bagi kami akhirnya, tidak penting lagi apa sebabnya. Yang jelas, sejak kehadirannya, negeri kami bak tersentak dari tidur panjang, utamanya gadis-gadis kami. Perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu, ah: kata-katanya mengandung kekuatan luar biasa.

Gadis-gadis di negeri ini harus diberdayakan! Tahukah kalian, hidup-mati sebuah negeri ditentukan oleh kaum hawa. Jangan berpangku tangan! Jangan menyimpan kaki! Hayo, melangkah, melangkah. Kaki, kaki. Kalian tak akan beranjak ke mana-mana kalau kaki tidak dipergunakan. Mulai dari sekarang, kalau kalian ingin terpandang, negeri ini tersohor, ya pergunakan kaki. Kaki, kaki…

Begitulah pertama kali ia memperdengarkan suaranya yang tegas, bertenaga, tapi tetap terasa bersahabat. Tempo itu, mata perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu berpijar. Bibirnya merah berkilau-kilau. Dengan wajah yang menyala, ia kepalkan tangan ke udara. Kakinya dientak-entak ke tanah. Kaki, kaki! Lantas, suara-suara bergemuruh. Angin bergelora, mengembara sampai ke sebalik gaun perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu. Andai angin adalah mulut yang nyinyir, ia sebenar hendak berbisik, betapa buram dan menjengkelkan sepasang kaki perempuan ini!

Namun, angin tetap bernama angin. Tak bermulut, tiada berlidah. Ajakan perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu disambut gempita gadis-gadis kami. Mereka serempak dalam anggukan, sepakat dalam berpendapat: perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup ini adalah peniup sangkakala perubahan! Maka sejak itu, gadis-gadis kami mulai peduli pada langkah, langkah. Tepatnya kaki, kaki. Gadis-gadis di negeri kami mulai berani memanjangkan langkah tak hanya sebatas halaman-halaman rumah, melainkan juga menyusuri tiap liuk jalan di negeri kami. Tidak sampai di situ, gadis-gadis kami mulai pula berani melangkah tanpa gelung kain penyelubung kaki.

Begitu penurutkah gadis-gadis tersebut hingga seiya-seangguk menyahuti perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu? Ah, hampir lupa, sepenggal kisah berikut ini, mungkin, akan melunasi pertanyaan tersebut. Sebenarnya, sudah sejak lama gadis-gadis kami memintal kegelisahan dan menjuraikannya di jendela kamar-kamar mereka: kehidupan seperti ini terasa menjenuhkan? Ah, menurut gemerisik bisik-bisik, kehidupan mereka datar-datar saja, tapi tak tahu bagaimana cara mengubahnya. Maka jangan heran jika seru-seruan perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu kontan mereka ganjar dengan anggukan.

Seperti itulah, gadis-gadis kami pun mulai senang menimang-nimang kaki mereka. Sejak itu, sontak gadis-gadis di kota kami berlomba-lomba merawat kaki mereka. Gadis-gadis kami begitu bangga dengan kaki mereka. Berpamer-pamer kaki di luar rumah. Segenap gadis kami pun tak pernah lagi memedulikan bagian tubuh yang lain. Bak pematung ulung, gadis-gadis di negeri kami menjadi teramat telaten memahat sekaligus mengilapkan kaki mereka, dari pangkal sampai ujung. Kaki, kaki…

Luar biasa! Pada suatu ketika, kaki gadis-gadis kami menjelma cermin yang bening. Bak kaca yang jelita! Semua orang di negeri kami tercengang, entah takjub, entah sirap. Lalu, entah siapa yang mengabarkan maklumat ke penjuru negeri yang lain: barang siapa—lelaki—yang berkaca ke kaki-kaki kami, alamat tampak rupawan ia padanya. Cermin yang ajaib?

Ya, ajaib! Ajaib! Maka, satu-dua lelaki mulai berkunjung ke negeri kami demi menguji kebenaran kabar tersebut. Mujarab? Apalagi namanya kalau bukan mujarab, karena seturut waktu, tak cuma satu-dua lelaki yang bertandang ke negeri kami. Segala jenis lelaki: lajang maupun beristri dari negeri-negeri nan jauh sekalipun berduyun-duyun mengunjungi negeri kami.

Negeri kami mendadak menjadi buah bibir. Lelaki-lelaki muncul dari segala arah mata angin. Kerumunan pelancong diliputi ketakjuban yang luar biasa kala disongsong cermin bening persembahan gadis-gadis kami. Tatkala para tamu lelaki menyetor wajah ke sepasang kaca jelita, kontan mereka terkesima, benar-benar rupawan wajah kami… Makin dekat wajah mereka ke kaki-kaki yang cemerlang, makin nyata kerupawanan mereka, juga kejantanan mereka.

Para lelaki terperangah! Sampai-sampai untuk membunuh rasa tak percaya, mereka tempeleng wajah mereka sendiri. Mereka tidak sedang bermimpi. Maka lelaki-lelaki itu pun mabuk rupawan. Sedang gadis-gadis di negeri kami, girang-gemilang menerima beragam cindera mata uluran para lelaki. Gadis-gadis di negeri kami jadi gemar mengoleksi cindera mata.

Hei, perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu: mengapa ia kebagian cindera mata pula? Apa tidak boleh berbagi cindera mata dengannya, sebagai ungkapan terima kasih kami atas jasanya, jawab gadis-gadis kami sambil menyongsong pelancong-pelancong lain. Biar tahu saja, lebih dari itu pun pantas ia dapatkan. Para tamu terus berdatangan, berdesak-desak. Di pintu gerbang negeri kami, barisan pelancong menjelma ular raksasa yang berdesis-desis. Berdesis-desis…

Syahdan, kota kami pun sebenar semarak, menyala tak tentu waktu. Gadis-gadis kami makin mencintai kaki-kaki mereka. Pun para tamu, berbusung-busung dada, mengaku jantan seusai berkaca ke kaki-kaki gadis kami. Laki-laki mana yang tak hendak dipuji rupawan? Bahkan, laki-laki di negeri kami, tanpa terkecuali, tak canggung pula menguji kerupawanan diri di kaki para gadis kami.

Begitulah. Seiring masa yang terus lipat-melipat, derajat gadis-gadis kami makin terangkat. Namun, perempuan separuh baya yang sepasang kakinya selalu tertutup itu, ke mana ia? Seperti apa rupanya kini? Kalau penasaran ingin menemuinya, kunjungilah alun-alun negeri kami. Di sana, ia menjelma monumen berlapis emas: di bahunya mengepak dua sayap indah, dan sepasang kakinya masih tetap tersimpan dalam selubung…

 .

DI NEGERI kami, tubuah setiap gadis hanya terdiri dari sepasang kaki. Mereka sungguh tidak peduli lagi bagian tubuh yang lain—dari pinggang sampai kepala. Tak terbayangkan, bagaimana rasanya hidup hanya dengan kaki. Kaki, kaki. Tanpa tubuh yang utuh. Tanpa perut. Tanpa dada. Tiada berpunggung. Tiada berbahu. Sepasang tangan ditanggalkan. Rambut disingkirkan. Wajah mereka? Entah ditaruh di mana?

Ajaib! Ya, ajaib! Bagaimana tidak, gadis-gadis kami telah membuktikan bahwa mereka berhasil memasyhurkan negeri kami hanya dengan kaki mereka.

Maka, jika suatu waktu kalian berkunjung ke negeri kami, dan cuma mendapati kaki-kaki yang hilir-mudik, itulah senyata gadis-gadis kami. Lalu, lelaki-lelaki dari mana-mana negeri, tak putus-putus melancong ke negeri kami. Ya, tengoklah, sambil menjinjing aneka cindera mata, barisan para lelaki di pintu gerbang negeri kami menyaru ular raksasa yang mulutnya menganga, sekonyong-konyong hendak melumat negeri kami. (*)

.

.

Griya Sakinah Medan, 2011-2012

Hasan Al Banna lahir di Padangsimpuan, Sumatra Utara, 3 Desember 1978. Buku cerita pendeknya Sampan Zulaiha (2011). Kini berkhidmat di Komunitas Home Poetry, Medan.

.

.

Advertisements