Cinta Berbatas Logika


Cerpen Titien DJ (Republika, 20 Mei 2012)

MALAM telah sangat larut. Ayu belum juga bisa tidur. Pikirannya masih berkutat pada keinginan suaminya untuk menikah lagi. Istri mana yang tak syok dimintai izin suaminya seperti itu. Dilihatnya Dedi, suaminya, telah tidur pulas di sampingnya. Dia cermati wajah suaminya. Laki-laki berumur 40 tahun ini memang ganteng, tak berbeda seperti saat pertama kali Ayu mengenalnya dulu. Karena rajin berolah raga, tubuhnya juga atletis, tidak berperut gendut seperti laki-laki seusia dia lainnya. Rambutnya juga masih hitam belum ada selembar uban pun di kepalanya. Ah, perempuan mana yang tak akan tergoda dengan wajah ganteng seperti itu, apalagi dengan kedudukan dan kekayaan yang dimilikinya.

Ayu kini merasa tidak sebanding dengan suaminya itu. Mengapa Tuhan menciptakan dia dengan berbagai penyakit seperti ini sedangkan perempuan yang lain bisa menikmati kehidupannya yang indah? Selama ini Ayu terlalu percaya pada keajaiban cinta, seperti halnya kisah hidup seorang penderita lupus yang begitu dicintai suaminya hingga suaminya tak ada keinginan untuk menikah lagi.

Sang suami begitu setia merawat istrinya bahkan rela untuk tidak mempunyai anak karena sang istri harus diangkat rahimnya akibat digerogoti oleh penyakitnya. Kisah hidup mereka pun diabadikan dalam sebuah buku Miracle of Love, Keajaiban Cinta. Tapi, mengapa suami Ayu tak bisa seperti suami dalam kisah di buku itu? Itulah kini protes yang Ayu ajukan pada Tuhan.

Ayu kembali lagi ke dalam pikiran kalutnya. Sudah seminggu ini suaminya menanti jawaban darinya atas opsi yang ditawarkannya. Ini adalah malam terakhir baginya untuk berpikir karena besok pagi dia harus memberikan jawaban. Ya, suaminya hanya memberinya waktu satu minggu untuk berpikir. Opsi itu adalah dia mengizinkan suaminya menikah lagi atau dia memilih dicerai. Kalau Ayu memilih cerai, maka suaminya akan memberikan kompensasi sebuah rumah mewah lengkap beserta isinya dan sebuah kos-kosan elite 20 kamar sebagai modal hidupnya.

Ayu tahu bahwa sebenarnya suaminya adalah suami yang bertanggung jawab dan menyayangi dia. Suaminya hanya meminta pengertian Ayu agar dia bisa menikmati juga kebahagiaannya sebagai laki-laki. Ayu teringat kata-kata suaminya kepadanya seminggu yang lalu.

“Ma, aku laki-laki normal. Aku butuh seorang istri yang bisa mendampingiku di setiap saat. Aku tidak kuat kalau setiap hari harus menghadapi istri yang sakit-sakitan seperti Mama. Aku ingin menikah lagi, Ma. Aku telah mempunyai calon. Mama sudah kenal perempuan itu, dia adalah Fitri.” Ayu betul-betul kaget waktu itu, tidak mengira bahwa kedekatan suaminya dengan Fitri selama tiga tahun terakhir ini ternyata membuahkan perasaan yang spesial di antara mereka.

Ayu mengenal Fitri sebagai seorang gadis mapan pimpinan sebuah cabang bank pemerintah yang usianya tiga tahun di bawahnya. Selama ini, Fitri telah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Ayu tidak tahu mengapa di usianya yang ke-35 Fitri belum juga menikah. Kini Ayu tahu jawabannya, ternyata Fitri dulu pernah menjadi pacar Dedi. Mereka putus karena Fitri memilih melanjutkan studi ke Australia setelah lulus SMA. Setelah kembali ke Tanah Air, Fitri bekerja di sebuah bank pemerintah dan kariernya terus menanjak hingga akhirnya kini menjadi pimpinan cabang yang kantornya dekat dengan kantor Dedi. Dan, cinta mereka mekar kembali sejak pertemuan mereka kembali tiga tahun lalu.

Selama ini, Ayu tak pernah berprasangka apa-apa setiap kali suaminya mengajak main ke rumah Fitri, atau sebaliknya Fitri yang main ke rumah mereka. Hubungan mereka bertiga juga baik, apalagi mengingat bahwa Fitri adalah putri dari sahabat ayah mertuanya. Ayu juga tahu bahwa Fitri adalah gadis yang baik, yang selalu menjaga hubungan baik dengan siapa saja.

Ingin rasanya Ayu kembali ke masa lalu di saat cinta Dedi hanya untuknya. Dulu memang Ayu adalah gadis yang cantik, cerdas, dari keluarga kaya, dan mahasiswi kedokteran di sebuah kampus terkenal. Maka, tak heran jika dulu Dedi yang waktu itu berstatus sebagai mahasiwa Fakultas Hukum di kampus yang sama dengan Ayu, begitu memuja dan mengejarnya. Sampai akhirnya Dedi berhasil mengalahkan beberapa pesaingnya dan mempersunting Ayu setelah Ayu meraih gelar dokter dan Dedi telah menjadi seorang notaris.

Selain membuka praktik di rumah, Ayu juga menjadi dosen di suatu universitas pendidikan. Di tahun-tahun pertama pernikahannya, kehidupan Ayu sangat bahagia. Memiliki suami seorang notaris yang ganteng, sekaligus pemilik beberapa perusahaan kecil warisan keluarga. Meski kecil, tapi ketiga perusahaan yang dimiliki sang suami yang anak tunggal itu telah memberi mereka kehidupan yang berkecukupan. Kebahagiaan bertambah lengkap seiring kehadiran tiga buah hati mereka. Ah, Ayu sangat bahagia mengenang kembali masa-masa indah itu.

Masa berganti hingga kebahagiaan itu pelan-pelan memudar. Sebagai seorang dosen, Ayu dituntut melanjutkan studi ke jenjang S2. Namun, saat menyelesaikan tesis, Ayu terkena depresi. Ternyata hal itu memicu munculnya penyakit pada diri Ayu. Jika sedang depresi, dia seperti hilang ingatan. Pikirannya kosong, bahkan sampai tak bisa merawat dirinya sendiri.

Meski akhirnya dia bisa menyelesaikan S2-nya, tetapi semenjak itu masalah apa pun yang dirasa cukup berat baginya, bisa menjadikannya seperti orang hilang ingatan. Akhirnya, Ayu pun menjadi tergantung pada obat-obat penenang. Seorang psikiater menjadi langganannya setiap kali dia depresi. Kurangnya merawat diri dan efek dari obat-obat penenang membuat badan Ayu menjadi tambun, hingga berbagai penyakit menghinggapinya, mulai dari darah tinggi, diabetes, lemah jantung, dan asma. Meskipun dia masih bisa bekerja, tetapi sering kali aktivitasnya terganggu sehingga dia tidak bisa optimal dalam berkarya, baik sebagai seorang dosen maupun sebagai seorang dokter.

Suaminya memang tetap menyayanginya, tetapi dia jadi lebih suka pergi sendiri ke mana-mana tanpa mengajak Ayu. Dia lebih suka beraktivitas dengan teman-temannya dan tenggelam dalam kesibukannya. Ayu memang diberikan kemewahan oleh suaminya. Ada mobil mewah dan seorang sopir yang siap mengantar ke mana pun Ayu pergi. Ada tiga pembantu dan seorang tukang kebun yang siap melayaninya di rumah yang besar dan mewah. Tetapi, hati Ayu semakin hari semakin gersang. Kemesraan suaminya dirasakannya semakin hari semakin berkurang.

Ayu terbangun dari lamunan ketika suaminya menggeliat mengubah posisi tidur. Sesaat kemudian, Ayu mulai berpikir lagi. Dia teringat nasihat ayahnya saat Ayu mengutarakan permasalahannya tiga hari lalu.

“Ayu, kalau kamu kuat, sabar, dan ikhlas maka bagimu adalah pahala dan surga sebagai balasannya. Tetapi, kalau kamu tidak bisa menjalaninya, maka bercerai adalah pilihan yang terbaik agar kamu tidak terjebak dalam dosa jika tidak bisa ikhlas dan sabar dalam menjalani kehidupan poligami itu.

Seandainya kamu memilih bercerai, siapkah kamu berpisah dari suami dan anak-anakmu, dan hidup sendiri? Memang secara ekonomi kamu tidak akan kekurangan nantinya, tapi kamu akan merasa kesepian. Hak perwalian anak sudah pasti akan jatuh pada Dedi mengingat kondisimu yang seperti ini. Jadi, pertimbangkan masak-masak. Ayah lihat Dedi adalah suami yang bertanggung jawab. Dan, Ayah yakin dia akan selalu berusaha untuk berbuat adil kepada kedua istrinya nanti.”

Kata-kata bijak ayahnya kembali terngiang-ngiang di telinganya. Ayu mengingat-ingat, memang betul Dedi selama ini telah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab serta sayang pada istri dan anak-anaknya. Mungkin ini semua adalah kesalahannya juga kenapa dia tidak bisa merawat diri hingga dia kini tidak tampak menarik lagi di mata suaminya.

Tak hanya minta pendapat pada ayahnya, Ayu pun kemarin sempat curhat kepada Dina, sahabatnya di kampus tempatnya mengajar. Ayu berterus terang bahwa selama ini dia sangat iri pada Dina. Dina adalah perempuan cantik, tinggi semampai, dan cerdas yang sekarang sedang mengambil program doktor di sebuah universitas ternama.

Menurut Ayu, kehidupan Dina sempurna. Dia mempunyai seorang suami yang begitu mengagumi dan mencintainya, serta dua anak yang manis dan pintar-pintar. Ayu melihat Dina tidak pernah punya masalah seperti dirinya.

“Ayu, tidak selamanya yang kamu lihat sempurna pada diri seseorang itu adalah sungguh-sungguh sempurna. Mungkin aku memang tampak sempurna di mata orang-orang, itu karena Tuhan menutupi aib dan kekuranganku. Orang Jawa bilang, sawang-sinawang,” jelas Dina panjang lebar. “Tahukah kamu bahwa aku sebenarnya juga punya masalah dalam rumah tangga, tapi aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, termasuk juga kepadamu, Ayu. Semuanya cukup aku dialogkan pada Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna, Ayu, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan,” sambung Dina mencoba menasihati sahabatnya.

“Tapi fisikmu kan sempurna, suamimu juga sangat mencintaimu, tidak pernah menduakanmu,” balas Ayu bernada protes.

“Memang, tetapi setiap manusia oleh Tuhan diberi ujiannya masing-masing. Bukankah belum beriman seseorang sebelum dia diuji oleh Tuhannya? Ayu, secara ekonomi hidupmu jauh lebih beruntung dariku. Suamiku tidak seberuntung suamimu. Gaji suamiku bahkan tidak lebih banyak dari gajiku. Itulah ujian bagi rumah tangga kami. Yang terpenting adalah rasa syukur kita pada Tuhan,” sambung Dina lagi dengan nada sabar.

Ayu merenung saat mengingat kembali mengingat nasihat dari sahabatnya itu kemarin. Dia tersadar bahwa setiap orang tidak ada yang memiliki kehidupan sempurna. Dia kemudian ingat Ely, temannya yang mempunyai anak dengan keterbelakangan mental. Ayu tidak pernah mendengar Ely mengeluh sedikit pun atas ujian Tuhan ini. Dia tetap menganggap anaknya adalah karunia Tuhan yang harus tetap dia sayangi dan dia besarkan tanpa rasa malu.

Pernah suatu hari Ayu melihat Ely mengajak anaknya pada acara resepsi pernikahan teman sekantornya. Ely tanpa malu-malu memperkenalkan anaknya itu kepada teman-teman kantornya. Mengingat itu semua Ayu jadi tersadar bahwa tak sepantasnyalah dia protes pada Tuhan atas segala ujian yang harus dijalaninya selama ini.

Dalam kegelisahan yang sangat hebat, akhirnya Ayu memutuskan untuk beringsut dari kamar, mengambil air wudhu dan kemudian shalat. Telah sekian lama dia tidak melakukannya semenjak sering protes pada Tuhan atas semua penyakit yang dideritanya. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya kini selain pasrah kepada Tuhan, meminta petunjuk-Nya. Selesai shalat, Ayu berdoa sambil menangis memohon agar Tuhan memberinya petunjuk untuk mengambil keputusan yang terbaik. Ayu berdoa sangat lama sampai dia merasa capai dan tertidur di ruang shalat, masih dengan mukenanya.

Ayu terbangun saat terdengar azan Subuh, hanya dua jam setelah matanya terpejam tadi. Sekejap kemudian Ayu tersadar bahwa pagi ini dia harus menyampaikan keputusan pada suaminya. Entah mengapa, dalam hatinya kini dia merasa mantap untuk mengizinkan suaminya menikah lagi dengan Fitri, apa pun yang terjadi nanti.

Dia percaya Tuhan akan selalu membimbingnya untuk selalu sabar dan ikhlas. Dia lupakan kisah tentang keajaiban cinta karena yang ada di depannya kini adalah cinta yang berbatas logika. Dan, itu yang dia rasakan pada cinta suaminya terhadap dirinya. (*)

 .

.

Yogyakarta, April 2012

Penulis adalah seorang dosen.

.

.

One Response

  1. waduuh,, cinta gak masuk akal banget, cinta tak seimbang dan menyakitkan…!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: