Cerpen Sungging Raga (Koran Tempo, 13 Mei 2012)

BAYANGKAN dirimu adalah aliran sungai. Pada sebuah sore hari, kau berkelok di sebuah hutan tak bernama, di antara baris pepohonan yang memandangmu enggan sambil menjatuhkan daun-daunnya di permukaanmu, dan angin dingin membentuk riak kecil di tubuhmu, bersama bebatuan hitam yang telah lebih dulu menghuni dasarmu.

Bayangkan, setelah melalui hutan itu kau menurun di sebuah air terjun, dan pada bagian bawah ada genangan selebar telaga, dan anak-anak desa suka mandi di sana. Anak-anak yang selalu ceria, melompat dari batu besar, menceburkan diri ke dalam tubuhmu. Dan kau merasakan bagaimana mereka bermain kecipak air. Anak-anak lelaki yang hanya mengenakan celana pendek, sementara pakaian mereka ditumpuk di tepian di dekat ilalang. Kau tak mengenal seorang pun dari mereka, meski bisa saja kau hapal wajah-wajah mereka, sebab sebagian dari mereka sudah terbiasa mandi di air terjun ini berjam-jam sampai matahari condong ke barat di antara rimbun pepohonan.

Lalu senja tiba. Meninggalkan anak-anak itu, kau menelusuri bagian tepi desa yang tenang. Suara ricikmu bergabung dengan suara cericit burung-burung bersayap cerlang di langit. Rumah-rumah tampak keemasan dalam cahaya senja. Dan kau pun bangga dengan aliranmu yang begitu tenang. Kadang di atas tubuhmu ada beberapa batang kayu menyilang menjadi jembatan kecil, dan orang-orang melangkah di atasmu: seorang lelaki yang mengangkut kayu, seorang wanita menuntun anaknya, dan remaja-remaja yang melintas entah pulang dari mana.

Dan bayangkan kau masih harus terus berjalan. Kau hanya aliran sungai yang kecil, bukan sungai ganas dengan aliran deras yang mampu menerjang apa saja, mengikis apa saja. Pada suatu ketika lebarmu hanya sekitar satu meter, tapi perjalananmu jauh, jauh sekali. Kau sudah lupa di mana tubuhmu bermula. Ketika kau tengok ke belakang, hutan telah menjadi kecil, perbukitan itu tampak kosong dan biru. Pada awalnya kau hanya air mengalir, tanpa membawa apa-apa. Lalu daun-daun kering ikut bersamamu, bercakap-cakap satu sama lain, mengeluh kenapa mereka begitu mudah dilepaskan, ditelantarkan. Kau tentu tak peduli dengan daun-daun itu, kau bisa menepikannya saja kalau terganggu dengan kesedihan mereka.

Dan kini kau tiba di permukiman penduduk yang lebih padat. Ada sampah-sampah yang dibuang, plastik, ranting-ranting, batang-batang kayu, bangkai-bangkai tikus: semua itu dilemparkan ke dalam tubuhmu. Kau tak bisa menolaknya. Kalau bangkai tikus itu cukup berat, maka kau menenggelamkannya saja, membiarkan tertahan di dasar sungai, sementara yang lainnya kau bawa mengalir. Sesekali beberapa orang petani mencuci kaki mereka di tubuhmu, dan lumpur yang menempel di kulit kasar mereka pun terlepas, menyatu dengan lumpur dalam aliranmu. Tak jauh dari situ, ada pula seorang gadis kecil berjongkok, hanya diam memandangimu, sesekali ia memainkan jemarinya ke dalam tubuhmu, lembut. Kau tak tahu yang dipikirkannya, dan gadis itu juga tak tahu bahwa kau sebenarnya bisa berpikir.

Dan senja berlalu, malam pun turun, dan kau belum tiba di laut.Ya, sebagaimana yang telah diberitahukan alam kepadamu, kau akan tiba di tempat bernama laut, di mana aliranmu akan menyatu dengan debur ombak. Kau tentu tak pernah melihat laut sebelumnya. Tapi sebagaimana teman-temanmu sesama aliran sungai, kau yakin bahwa laut adalah akhir dari segalanya, ujung dari hidupmu di dunia. Kau tak bisa bertanya seperti apa laut itu. Akankah menyenangkan bisa bertemu aliran sungai-sungai lain yang juga bermuara di sana? Kalian akan saling menyapa, berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing.

 .

TAPI kau pernah mendengar kabar bahwa laut penuh debur ombak yang mengerikan, juga karang-karang yang ujung-ujungnya tajam, seakan laut tak pernah berbaikan dengan sungai. Dan airmu akan menjadi asin, penuh buih, pertanda bahwa laut telah menghabisimu. Kalau ingatan ini diteruskan, tentu kau akan sedih menjadi sebatang sungai, dan kau akan bertanya: “Mengapa aku tak menjadi laut saja?” Atau,“Mengapa aku tak dibiarkan mengalir terus saja? Tanpa tujuan, tanpa harus berhenti dan hilang?”

Tapi tentu kau akan dianggap gila dengan pertanyaanmu.

Maka bayangkan saja kau masih tak begitu peduli dengan akhir tujuanmu. Di malam yang semakin legam ini kau masih mengalir, meninggalkan desa, kau melintasi sebuah kota yang sepertinya telah tertidur. Tapi lihatlah! Bangunan-bangunan kota itu sebagian mengeluarkan asap, bekas terbakar, dan beberapa saat kemudian aroma amis mendekati tubuhmu. Aroma darah. Ya, mayat-mayat bergelimpangan di tepianmu, ada tangan-tangan tergeletak menyentuh permukaanmu. Dingin. Tangan-tangan yang tak lagi bergerak, dengan darah mengucur, darah yang menghitam, yang bercampur dengan dirimu. Kau tentu tak kuat dengan bau itu.

Terdengar suara kendaraan melintas di jalan, suara mesin yang terasa berat dan serak. Kendaraan itu tak begitu jelas dalam pandanganmu, terhalangi kabut malam dan debu yang beterbangan. Tapi kau jelas mendengar bagaimana kendaraan itu melindas segala yang ada di bawahnya. Ada suara-suara gemeretak, barangkali itu berasal dari tubuh-tubuh manusia? Entahlah, tapi tak semuanya manusia mati, kau masih melihat segerombolan manusia muncul dari kegelapan, sepuluh atau lebih, mereka mengenakan baju yang sama, seragam abu-abu, memegang senjata. Langkah-langkah mereka terdengar tegap mendekatimu.

“Kalau saja ada sungai besar di kota ini, pasti bisa kita buang semua mayat-mayat ini ke dalamnya,” kata salah seorang dari mereka.

“Ah sudahlah, biarkan saja. Toh besok kita sudah pergi dari sini.”

“Benarkah? Apa sudah turun perintah?”

“Ya. Besok kita ditugaskan ke Ensifera, desa di seberang sana itu.”

“Bagus kalau begitu, aku sudah tak sabar menembaki orang lagi.”

Kau boleh saja mengigil. Di manakah desa Ensifera? Apakah itu nama desa damai yang kau lewati ketika senja tadi? Berapakah jarak dari kota ini dengan desa itu?

Bisakah kau bayangkan kalau ketenangan desa dengan angin senja yang sejuk itu mengantarmu ke mari, sebuah mayat di mana-mana? Air terjun tempat mandi anak-anak itu akan menjadi merah. Ah, tidak, tidak. Kau harus cepat meninggalkan kota ini. Kau pasti tak tahan kalau harus melewati tempat ini lagi. “Lebih baik aku hilang saja dalam laut,” begitu mungkin pikirmu. Padahal tadi kau enggan cepat-cepat tiba di laut. Seakan kau lebih enggan untuk mengingat pemandangan ini lagi. Maka kau pun terus mengalir sambil berpejam mata, melewati malam yang tinggal sepertiga. Bintang mulai raib. Dan kau terus mengalir, menembus kabut pagi yang hangat karena asap.

 .

PAGI pun tiba, ternyata kau belum sampai di laut. Kau mengalir di tempat lain, yang masih berupa kota juga, dengan jalanan beraspal yang kering, namun tak begitu banyak bangunan. Kau lihat matahari yang malas itu tertutupi mendung, tanpa burung-burung. Di tempat itu kau sedianya hampir merasa tenang, tapi aliranmu seperti terjungkal ketika masih kau lihat di sekelilingmu mayat-mayat bergelimpangan, sosok-sosok yang lain, yang sepertinya telah lebih dulu tumbang. Ada sesosok tubuh tergeletak di tubuhmu, menyumbat aliranmu. Tubuh itu begitu berat, kau tak bisa menyingkirkannya atau menyeretnya, kau hanya mengalirkan air lewat sela-sela yang tersedia.

Dan di kanan kirimu pun masih banyak tubuh lain yang mulai membusuk dan dirubung hewan-hewan beterbangan. Ada pula senjata-senjata dan besi-besi yang tergeletak, bekas ban di jalan raya. Seperti sisa kerusuhan atau pertempuran. Dan kau lebih terkejut lagi ketika di kelokan selanjutnya kau melihat banyak wanita dan anak kecil berada di dekat jasad-jasad itu. Terpampang kesedihan yang jelas, seperti sebuah melodrama di mana kau tak diundang kecuali sekadar melintas begitu saja.

Kau lihat seorang anak gadis menangis di atas jasad seorang lelaki. “Ayah, ayah,” begitu kau mendengarnya. Gadis itu semakin menderaskan airmatanya, mencoba mengguncang-guncang tubuh itu, ingin mengangkatnya tapi tak mampu, ia hanya memeluk, mengusap kepala lelaki yang telah kaku dan berbau tak sedap itu.Ternyata di tempat ini lebih banyak mayat, tapi tak ada orang-orang yang berjalan dengan pakaian seragam keabu-abuan seperti semalam. Malah kebanyakan wanita-wanita lusuh dan anak-anak kecil kumal. Terdengar isak tangis di segala penjuru, di mana setiap bangunan rumah telah hancur. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Bayangkan dirimu adalah aliran sungai dari bukit, berkelok di hutan, menurun di pedesaan, melewati kota yang hancur, melintasi mayat-mayat, dan kau masih harus terus mengalir, jauh, lebih jauh lagi, melihat pemandangan yang sama lagi. Sementara kau tak tahu berapa lama lagi kau akan tiba di laut. Laut yang entah akan memberikan pemandangan apa. Laut yang tak bisa memastikan bahwa akhir hidupmu akan bahagia. (*)

 .

.

Sungging Raga lahir dan besar di Situbondo, Jawa Timur. Kini tinggal di Yogyakarta.

.

.

Advertisements