Cerpen Khrisna Pabichara (Jawa Pos, 6 Mei 2012)

[1]

MUSIM kemarau paling menyiksa bagiku. Bukan panas itu yang menyiksaku, bukan. Tapi, mimpi sepasang sepatu yang terus berkelebat di kepala di sepanjang jalan. Andai kata aku punya sepatu, telapak kakiku tidak akan melepuh atau membengkak. Sebenarnya aku sudah mencoba mencari uang, sebanyak mungkin, agar bisa beli sepatu. Sejak Kelas 3 SR, aku sering nguli nyeset. Itu kulakukan sepulang sekolah, di sela-sela jadwal rutin menggembala domba. Upah nguli nyeset terus kutabung demi dua mimpi besarku—sepatu dan sepeda. Namun, sering kali kuserahkan sebagian besar kepada ibuku dengan sepenuh-penuh kebahagiaan. Kebutuhan mengisi perut lebih mendesak ketimbang mimpi sederhanaku itu. Setiap menyerahkan hasil nguli nyeset, biasanya mata Ibu berkaca-kaca, seperti hendak mengatakan: “Tidak seharusnya kamu bekerja seperti ini, Nak!” atau mungkin “Terima kasih, Nak.”

Senyum Ibu adalah ungkapan terima kasih yang tak terbandingkan. Hanya sekilas, tapi rasa haru selalu memenuhi dada. Setiap melihat mata Ibu berkaca-kaca, letih dan gatal-gatal di sekujur tubuh sirna begitu saja. Seperti biasa, Ibu akan membelakangiku, tentu setelah menepuk-nepuk pundakku sambil memberikan senyumnya yang paling indah.

Sungguh, tak ada kegembiraan melebihi senyum Ibu.

 [2]

Kebon Dalem, kampung kelahiranku, sebuah kampung kecil dengan enam buah rumah, tepatnya gubuk, yang letaknya saling berjauhan. Jika berjalan seratus atau dua ratus langkah ke arah timur, Sungai Kanal segera terlihat. Di sepanjang sungai itu banyak pepohonan yang besar-besar, seperti trembesi, angsana, jawi, dan jati. Di sebelah barat dan selatan hanya ada tebu. Ya, ladang-ladang tebu terhampar sejauh mata memandang. Ada juga beberapa petak sawah yang ditanami padi atau jagung, tapi tak seberapa dibanding tebu-tebu yang tingginya kini sudah melampaui tubuh orang dewasa.

Di sanalah, di ladang-ladang tebu itu, aku mengais rezeki.

Tuhan memberkati Kebon Dalem dengan tanah yang gembur dan subur. Padi, palawija, pisang, ketela, atau umbi-umbian tumbuh dan berbuah dengan baik. Tapi, warga Kebon Dalem miskin. Tidak ada penduduk asli kampung ini yang kaya. Tanah yang gembur dan subur itu bukan milik mereka. Ladang-ladang itu sebagian milik “tuan tanah”—orang-orang pendatang berduit yang punya tanah berhektare-hektare—dan sebagian lainnya milik negara.

Nyaris seluruh lelaki dewasa di Kebon Dalem bekerja sebagai buruh: menggarap tanah bengkok milik aparat desa, buruh harian di perkebunan tebu, atau kuli nyeset di ladang tebu. Ibu-ibu juga aktif membantu suami-suami mereka dengan membatik. Meski upah hanya diterima sekali setiap dua bulan, lumayan untuk mempertahankan kebulan asap di dapur. Anak-anak pun tak kalah giat. Ada yang menggembala domba, sapi, atau kerbau. Ada juga yang nguli ngangkut di Pasar Takeran atau kuli harian di ladang tebu.

Meskipun miskin, anak-anak—atau remaja seusiaku—semuanya sekolah. Bagi penduduk Kebon Dalem, kemiskinan bukan halangan untuk menuntut ilmu.

[3]

Rumahku, seperti rumah lainnya di kampung ini, berlantai tanah. Jika musim hujan tiba, akan lembap dan basah. Setiap kemarau datang, pasti panas dan berdebu. Di sana, di lantai tanah yang lembap atau berdebu itu, aku dan adikku menggelar tikar setiap malam. Ajaibnya, kami selalu bisa mendengkur dengan nikmat.

Dinding rumahku terbuat dari potongan-potongan bata merah yang dikumpulkan Bapak satu per satu dari sisa-sisa bangunan yang tak digunakan oleh pemiliknya. Tak ada kursi, meja, atau perabotan lain yang kami punya. Kecuali, sebuah lemari kayu tua di pojok kiri dapur. Bukan untuk menyimpan pakaian, melainkan untuk menaruh barang-barang pecah belah, seperti piring, gelas, dan perabotan dapur lainnya. Lemari itu sudah tua, lebih tua dari aku atau kakak keduaku, Sofwati.

Hanya ada dua kamar. Satu ditempati Bapak dan Ibu. Sedangkan kamar yang satu lagi kamar untuk kakak-kakakku, Atun dan Sofwati. Namun, semenjak mereka tidak tinggal di rumah ini lagi—Atun tugas mengajar dan Sofwati kuliah, keduanya di Madiun—kamar itu menjadi tempat menyimpan peralatan membatik, seperti kain mori, gawangan, canting, anglo, dingklik, dan wajan malam. Tak ada ranjang atau kasur di dalam kedua kamar itu. Pakaian yang tak seberapa banyak cukup dicantolkan di paku, selesai. Jika ada yang datang bertamu, tikar pandan langsung digelar di ruang tamu—jika ruang lapang tempatku tidur itu layak disebut ruang tamu—dan di sanalah tamu itu dijamu. Kalau tamu itu terpaksa menginap, biasanya aku dan Zain yang mengalah, menyingkir ke langgar dan tidur di sana.

Meski begitu, kami tak pernah mengeluh atau merasa menderita.

 [4]

Iskan. Begitu nama Bapak. Tak ada sekulum senyum atau kata-kata lembut yang saban hari bisa kudengar dari mulut Bapak. Matanya yang bening dan tajam seolah perintah-perintah yang tak boleh dibantah, seperti “Sini!” atau “Cepat!” dan tak seorang pun dari anak-anaknya yang berani menyanggah perintah itu. Termasuk aku.

Bapak sangat pendiam. Sampai-sampai aku bisa menghitung berapa banyak kata yang diucapkannya dalam satu hari. Tapi, Bapak sangat ulet dan tangkas bekerja. Tangannya tak pernah diam. Ada saja yang dikerjakan: memangkas pohon beluntas, meratakan lantai tanah rumah, membuang pelepah pisang yang daunnya mulai menguning. Tak pernah terdengar Bapak mengeluh walau keringat menguyupi tubuhnya. Uban basah mengilap menjadi pemandangan tak menjemukan. Tak ada artinya tubuh ringkih atau kulit keriput, Bapak terus dan terus bekerja.

Lisna, ibuku, tak kalah sibuknya. Dia membatik di rumah meski dengan upah kecil, sepuluh rupiah, untuk satu kain yang rampung dibatik. Upah itu biasanya dibelikan tepung ketela oleh Ibu. Begitulah, setiap hari Ibu bergelut dengan canting dan kain, tak peduli siang atau malam. Mbatik seolah hiburan paling menarik untuk melepaskan penat atau melupakan persoalan hidup. Dari mbatik itu, barangkali, Ibu belajar bersabar.

Dalam belitan kemiskinan, Ibu tak pernah membantah, apalagi melawan, apa saja yang dilakukan atau diinginkan oleh Bapak. Tak ada kalimat-kalimat menggugat seperti “Mengapa?” atau “Bagaimana dengan…?” terlontar dari sepasang bibirnya, sekali saja.

Ibu selalu mampu membuat suasana rumah tetap bernyawa. Sepasang lengan Ibu selalu hangat, baik lewat pelukan ataupun usapan, dan kami, anak-anaknya, selalu merindukan lengan hangat itu. Ibulah yang rajin mengingatkan aku untuk sarapan setiap pagi atau mengelap keringat di kening adikku, Zain. Ibu juga yang tak pernah letih meminta kami agar tekun menuntut ilmu dan tetap sabar. Terutama, saat aku dan adikku mulai merajuk dan banyak meminta.

[5]

Pagi ini tak ada nasi tiwul di dapur, padahal kemarin Ibu sudah belanja agak banyak. Oya, walau hanya nasi tiwul, makanan itu selalu kurindukan. Hidup seadanya membuat aku tak pernah membayangkan ikan-ikan segar atau opor ayam tersaji di atas meja makan. Di sini, tak ada meja makan, jadi untuk apa aku membayang-bayangkan sesuatu yang tak mungkin ada itu, bukan? Sebab tak ada nasi tiwul di dapur, aku bergegas ke kamar Ibu. Aku curiga, belum pernah Ibu bangun setelat ini. Barangkali karena letih semalaman duduk mencanting.

Tapi, kamar Ibu kosong, tak ada siapa-siapa di situ.

Lalu, lamat-lamat terdengat seseorang yang sedang terbatuk-batuk, kemudian diikuti lenguhan kesakitan. Itu suara Ibu. Tapi, di mana? Alangkah terkejutnya aku ketika melihat ibuku berjongkok sambil memegangi batang pisang. Bahunya terguncang-guncang menahan batuk.

Ibu menoleh. “Dahlan, tolong ambilkan Ibu segelas air, Nak!”

Tanpa menunggu perintah itu diulangi, aku berlari kembali ke dapur, mengambil cerek berisi air matang di atas tungku dan sebuah gelas. Bagai terbang saja rasanya karena aku takut terjadi sesuatu pada ibu. Telapak kaki seolah tak menapak di tanah lagi ketika melewati pintu dan mendapati ibu sudah terjengkang. Aku terpekik melemparkan cerek dan gelas di tangan, berlari sekencang mungkin dan berhenti menjerit setelah merasakan kengerian mencengkam seketika. Dengan kedua tangan, aku mengguncang-guncang tubuh Ibu.

Ibu tak bergerak. Dengan panik, aku meraba pipi Ibu dan berdoa semoga tak terjadi apa-apa, kemudian menggigil ketika memeluk tubuh ibuku yang terasa dingin, sangat dingin. Selama beberapa detik, aku tidak bergerak. Aku hanya mengamati ibu dengan saksama, memeriksa lehernya dan mendapati masih ada denyut nadi di bawah kulit lehernya yang dingin. Aku cemas memikirkan tindakan apa yang seharusnya kulakukan. Lalu, mata ibu mengerjap, beberapa kali berusaha mengangkat kepala dan terbatuk.

“Ibu kenapa? Bangun, Bu….”

Ibu pingsan lagi. Tak bergerak. Dan… darah! Ada sisa-sisa darah merah kehitam-hitaman di ujung bibir ibuku.

Aku menjerit ketakutan, pandanganku mengabur.

 [6]

Ketika tersadar, tubuhku terbaring di atas sehelai tikar pandan. Aku mencoba bangkit, tapi persendianku masih terasa lemas. Ada beberapa menit kupejamkan mata ketika gumam-gumam lirih memasuki telinga. Kudapati sebuah wajah kurus berkulit hitam sedang memandangiku: wajah yang tampak lebih tua daripada yang pernah kulihat selama ini, wajah yang seketika dipenuhi kerutan.

“Ibu, Pak?”

Bapak menarik napas. “Syukurlah kamu sudah siuman.”

“Ibu, Pak….”

“Sudahlah, tenangkan dirimu dulu,” ujar Bapak sambil mengelus rambutku. “Ibu ndak apa-apa….”

Aku mengangkat kepala dan memandangi orang-orang yang tampak panik. Ada dua orang perempuan berdiri di ambang pintu kamar, entah berapa orang yang sedang di dalam kamar karena pandanganku terhalang, dan Zain yang terus berurai air mata duduk di samping lemari kayu tua.

Pada saat itu, masuklah Mandor Komar dan istrinya.

“Mas, ndak dibawa ke rumah sakit?” tanya Mandor Komar kepada bapakku.

Bapak tergeragap, seperti orang linglung yang tiba-tiba dikejutkan. “Numpak opo?”

“Pakai sepeda saya saja.”

“Panggil dokar saja…,” usul seseorang dari dalam kamar.

“Iya, mosok naik sepeda ke Madiun …,” sahut yang lainnya.

Mandor Komar mengernyit, “Ya, sudah. Saya cari dokar dulu.”

Tiba-tiba kepalaku pening. Aku merasa bahwa masih ada kejadian lain yang lebih mengejutkan daripada peristiwa pagi ini. Orang-orang kampung mendadak sibuk mengangkat tubuh ibu keluar kamar, terus melewatiku, dan akhirnya keluar rumah. Sekilas aku lihat perut ibu lebih besar dari kemarin atau hari-hari sebelum kemarin. Seperti perut perempuan yang sedang hamil tua. Aku ingin berdiri menyaksikan apa yang akan terjadi berikutnya, tapi lututku gemetaran. Rasanya sendi-sendiku telah dilepas satu demi satu, hingga aku kehilangan daya untuk berdiri.

Bapak yang biasa bergerak lincah dan cekatan, tampak lamban dan mondar-mandir tidak karuan di dalam rumah.

“Ibu kenapa, Pak?” tanyaku.

Bapak tidak menjawab, hanya menatapku lekat-lekat.

“Ibu ndak apa-apa, kan?” tanyaku lagi.

“Berdoa saja, Le!” kata Bapak berusaha menenangkanku meskipun dia sendiri terlihat cemas dan kebingungan.

Beberapa saat kemudian, Mandor Komar masuk lagi.

“Mas, kelamaan nunggu dokar di sini. Mending pake sepeda dulu ke Bukur, nanti di sana nunggu dokar datang.”

Suara Mandor Komar, yang sebelumnya selalu terdengar “mengerikan” terutama ketika aku atau teman-teman lain sedang menggasak tebu, sekarang terdengar makin menakutkan. Bapak bergegas ke luar rumah, mengikuti Mandor Komar. Kasak-kusuk itu kini berpindah ke luar rumah, sebelum akhirnya keheningan terasa mengerikan.

Sepertinya Ibu sudah dibawa pergi dan aku tidak tahu dibawa ke mana.

 [7]

Zain tetap duduk mencangkung di samping lemari kayu tua. Jangankan dia yang masih delapan tahun, aku saja bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang kutahu, ibu muntah darah. Dan sekarang, tinggal kami berdua.

Hawa dingin mulai merayap di kulit wajahku. Aku mulai lelah, lelah berpikir. Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Dari jendela, tampak matahari mulai tinggi. Sendi-sendi di tubuhku juga masih terasa lunglai, seperti enggan diperintah walau sebatas duduk atau berjalan mendekati saudaraku yang meringkuk menahan isak itu.

Zain menatap dengan pandangan kosong. “Mas, Ibu ke mana?”

“Ke rumah sakit….”

“Ibu sakit?”

Aku mengangguk, merapatkan bibir dan memejamkan mata, tapi bayangan Ibu dan tangis Zain memaksaku tetap terjaga. Aku bangkit dan mengambil buku catatan di atas lemari kayu tua, duduk memeluk lutut sambil bersandar di dinding rumah, meletakkan buku di atas paha, dan kutulis:

Inilah hari dengan kesedihan tak berkesudahan. Ibu jatuh sakit, Bapak tidak ada di rumah, dan aku tak berdaya. Aku tak bisa memejamkan mata biar terlupakan, sebentar saja, kesedihan yang tak kuharapkan ini, tapi mataku tetap terjaga. Aku menghibur Zain, membujuknya agar berhenti menangis, tapi air matanya bagai bah yang terus-menerus mengalir.

Kutaruh buku catatan itu di atas tikar, dan kucoba membaringkan badan. Ya, biasanya aku lebih tenang setelah menuliskan apa saja yang kurasakan. Bagiku, menulis tak ada bedanya dengan obat, menyembuhkan luka akibat sayatan kepedihan. Sekuat tenaga kupaksa mata untuk terus memejam, tapi isak Zain mengentak-entak gendang telinga, seolah elegi yang dilantunkan dengan nada paling miris. Sungguh, aku butuh tidur, sejenak pun bolehlah.

Tetapi, aku tahu tidak akan bisa tertidur dengan mudah. (*)

 .

.

Cafelosophy, Maret 2012

Khrisna Pabichara, penulis novel Sepatu Dahlan—terinspirasi dari kisah hidup Dahlan Iskan.

.

.

Advertisements