Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 22 April 2012)

BARANGKALI, semua orang ingin tahu kapan tepatnya mereka akan mati. Barangkali semua orang menginginkan hal yang baik dan indah pada hari kematiannya. Ya, ujung perjalanan yang baik. Kebaikan yang akan membawa mereka ke surga. Dan, itu pula alasan bagi lelaki itu berusaha demikian keras untuk mengetahui kapan pastinya ia akan mati.

Entah sudah berapa lama ia berusaha mencari tahu. Entah sudah berapa peramal yang ia datangi. Entah sudah berapa orang pintar yang ia mintai petunjuk. Setiap ia mendengar tentang seseorang yang dianggap pintar atau dukun, ia pasti akan mendatangi orang tersebut. Tak peduli di mana orang itu tinggal. Ia tak lagi ingat berapa gunung yang ia daki atau laut yang ia seberangi untuk bertemu orang-orang seperti itu. Tak terhitung pula berapa punden dan tempat-tempat yang dianggap wingit yang ia datangi untuk bersemedi. Semua itu untuk mendapat petunjuk yang gamblang tentang hari pasti kematiannya.

Tapi, semua usahanya seperti sia-sia belaka. Tak satu pun yang bisa menyebut dengan pasti hari kematiannya. Semua orang yang tahu apa yang dilakukannya menyebutnya gila. Dan, berulang menasihatinya bahwa kematian itu adalah rahasia Tuhan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Bahkan, oleh malaikat pencabut nyawa sekali pun.

Tapi, ia tidak peduli. Entahlah. Ia selalu yakin bahwa hidup akan lebih indah dan berarti bila manusia mengetahui hari kematiannya. Seperti, tokoh-tokoh dalam wayang. Bisma yang tahu kematiannya bakal datang pada perang Baratayudha di tangan seorang perempuan pemanah.

Gatotkaca yang tahu kematiannya bakal disebabkan oleh panah Kuntho milik Adipati Karna. Parikesit yang sadar kematiannya bakal tiba bersama seekor ular yang bersembunyi dalam sebutir apel. Dan, masih banyak lagi. Dengan tahu kapan kematian itu tiba, seseorang akan menjadi lebih tabah dan dari jauh-jauh hari menyiapkannya dengan baik. Seseorang akan menjadi tidak takut menghadapi mati.

Hingga pada suatu hari, ketika merasakan sakit luar biasa di dadanya, ia segera memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di kota. Ah, alangkah ajaib rencana Tuhan. Alangkah aneh takdir itu. Setelah usaha kerasnya mencari tahu kapan hari kematiannya tiba dan berujung sia-sia, di rumah sakit itu, ia mendapat jawabannya. Bukan jawaban dari orang pintar atau paranormal melainkan dari dokter yang memeriksanya.

Setelah beberapa saat memeriksa detak jantung, denyut nadi, dan mengambil sedikit darah dari tubuhnya, dokter tampak terkejut. Kening si dokter berkerut. Seperti ada yang ingin disampaikan, tapi terlihat begitu berat.

“Apakah saudara punya keluarga? Ibu atau bapak? Saya mesti bicara dengan mereka perihal sakit yang saudara derita,” kata si dokter.

Tapi, ia menggeleng. Lalu menjawab, “Katakan saja pada saya dokter. Saya siap mendengar penyakit apa yang ada di tubuh saya. Tak usah sungkan. Separah apa pun sakit itu.”

Dan, begitulah. Ia keluar dari rumah sakit itu dengan muka berseri-seri. Dengan bersiul sepanjang jalan. Sebelum meninggalkan ruang dokter yang memeriksanya, ia jabat tangan dokter itu erat-erat. Ia tersenyum begitu lebar. Ia memeluk dokter itu. Berulang kali ia ucapkan terima kasih. Tentu saja, dokter itu sangat kaget. Barangkali, baru kali itulah si dokter menemukan seorang pasien yang aneh. Pasien yang begitu gembira mendengar vonis bahwa penyakitnya, kanker ganas di dadanya, tak mungkin disembuhkan. Dan, harapan hidup paling panjang adalah tiga bulan semenjak pemeriksaan itu dilakukan.

“Apakah lelaki ini gila?” tanya si dokter dalam hati, sambil geleng-geleng kepala. Lelaki itu pun mulai membuat persiapan. Persiapan menghadapi mati. Ia ingin kematian yang indah. Ia ingin mati dalam keadaan khusnul khatimah. Maka, ia tingkatkan shalatnya. Ia rajinkan membaca Alquran. Ia betahkan berjam-jam wiridan. Ia kuat-kuatkan diri bangun malam untuk menjalankan tahajud.

Dan, tepat tiga bulan semenjak dokter memvonisnya, ia sengaja memilih baju yang paling bagus. Ia mandi dan keramas. Memakai minyak wangi sebanyak-banyaknya. Meminyaki rambut dan menyisir rambut itu dengan begitu klimis. Ia ingin terlihat tampan ketika malaikat maut menjemputnya. Ia siapkan pula sajadah. Dan seharian itu, ia duduk di atas sajadah tersebut. Mengulang-ulang zikir dan doa. Namun, hingga hari gelap, ia tidak juga mati.

“Barangkali sebentar lagi,” bisiknya menghibur diri sendiri. “Toh, masih tersisa beberapa jam lagi sebelum hari berganti. Barangkali malaikat maut sedang mengambil nyawa seseorang yang jauh dari sini. Itu sebabnya ia terlambat menjemputku,” tambahnya. Dia tahu, di mana-mana perang terjadi. Belum lagi perselisihan suku. Atau, pertikaian yang menggunakan dalil agama.

Dan jangan lupa, unjuk rasa sekarang ada di mana-mana. Unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM, unjuk rasa menentang kemenangan calon kepala daerah, unjuk rasa meminta presiden turun, dan entah unjuk rasa apalagi. Bukankah dalam unjuk rasa, kerap terjadi bentrokan dan suara tembakan? Dan, jangan pula melupakan teroris yang suka meledakkan bom di tempat keramaian. Ah, alangkah sibuknya malaikat maut. Pikiran seperti itu membuatnya sabar menunggu.

Namun, hingga hari berganti pagi, ia masih juga hidup. Ia kecewa. Ia terisak sedih. Mengapa kematian belum datang juga padahal ia telah menyiapkan diri agar kematiannya begitu indah? Maka siang itu, ia kembali ke dokter yang tiga bulan lalu memvonisnya.

“Seharusnya kau bersyukur karena Tuhan belum ingin kau mati,” kata dokter itu dengan terheran-heran. Terheran-heran sebab si pasien marah-marah tidak jadi mati. “Kenapa kau ingin sekali mati?” tanya si dokter pada akhirnya.

“Aku tidak ingin mati sebenarnya. Tapi, bukankah setiap manusia pasti mati? Begitu banyak orang yang lupa kalau kelak mereka pasti akan mati. Aku tidak seperti orang-orang yang lupa itu. Aku ingin menyiapkan kematianku agar kematian yang hanya sekali terjadi itu terasa begitu indah. Indah dan tak terlupakan,” jawabnya.

Sambil terus menggeleng-gelengkan kepala, si dokter memeriksanya. Menempelkan stetoskop ke dadanya. Menghitung detak jantung dan denyut nadinya. Mengambil sedikit darahnya, dan memeriksa darah itu lagi.

“Kemungkinan besar, dua bulan lagi kau akan mati,” kata si dokter pada akhirnya. Seperti pada pemeriksaan sebelumnya, ia menyalami si dokter. Merangkul si dokter. Mengucap begitu banyak terima kasih. Ia pun pulang sambil bernyanyi-nyanyi seperti remaja yang baru mengalami cinta monyet.

Sesampainya di rumah, ia menyiapkan segala sesuatu. Sesuatu yang akan membuat matinya begitu indah. Kali ini, di sekitar tempat tidurnya, ia taburi kembang. Ia ingin mati dengan dikelilingi kembang. Kembang serupa kembang pengantin. Pasti menyenangkan mati sambil menikmati harum kembang, pikirnya.

Dan, cerita seperti diputar begitu saja. Seperti roda yang menggelinding. Akan tetapi, yang terjadi dua bulan kemudian adalah peristiwa yang sama dengan yang terjadi sebelumnya. Ia menunggu malaikat maut sambil tidur-tiduran di ranjang yang telah bertabur kembang. Dari pagi hingga malam, hingga hari berganti lagi. Namun, ia tetap hidup. Malaikat maut itu, sekali lagi, tidak datang.

“Sial! Dokter itu menipuku!” rutuknya dalam hati. Kali ini, ia benar-benar marah. Ia akan mendatangi dokter itu lagi. Memaki-maki dokter itu. Kalau perlu memukulnya. Kalau itu masih kurang, ia akan melaporkan si dokter ke kantor polisi. Ia ingin polisi menangkap si dokter dan membawa si dokter ke pengadilan dengan tuduhan telah melakukan penipuan.

Ia melangkahkan kaki ke luar rumah. Tujuannya ke rumah sakit. Tapi di halaman, langkahnya terhenti. Terhenti oleh raungan yang berasal dari rumah di depan rumahnya. Raungan yang demikian pilu. Raungan yang disebabkan oleh kematian. Siapa yang meninggal? Ternyata anak keluarga itu yang masih berusia tujuh tahun. Meninggal tanpa lebih dahulu sakit. Meninggal tanpa diketahui penyebabnya.

Ia menengok sebentar ke rumah keluarga yang berduka itu. Semata sebagai pemantas, ia mengucapkan belasungkawa, lalu meneruskan perjalanan menuju rumah sakit. Namun, sesampai di rumah sakit, dokter tak mau memeriksanya, juga tak mau menjelaskan kenapa ia tidak jadi mati. Juga tidak mengatakan kapan waktu kematiannya. Tak ada vonis apaapa. Dokter itu hanya berkata, “Kau seharusnya dirawat. Tapi, bukan di rumah sakit ini. Pergilah ke rumah sakit jiwa.”

***

Bertahun-tahun lewat sejak kejadian itu, dadanya masih sering terasa sakit. Ia juga telah memeriksakannya ke beberapa dokter. Semua dokter yang ia datangi memvonis bahwa ia akan segera mati. Ada yang bilang satu bulan lagi. Ada yang bilang dua bulan lagi. Ada pula yang bilang seminggu lagi.

Tapi nyatanya, ia masih hidup. Ia menyaksikan bagaimana tetangga, kawan-kawan, dan kenalan-kenalannya satu per satu meninggal. Ada yang kecelakaan. Ada yang jatuh sewaktu membetulkan atap. Ada yang tiba-tiba mati tanpa sakit seperti anak kecil di depan rumahnya dulu. Ada yang kena ledakan elpiji. Ada yang terserang penyakit parah hingga seluruh kulitnya gatal dan bernanah, lalu merasa tidak tahan dengan penyakit itu dan memutuskan bunuh diri. Tapi, ia tidak suka bunuh diri. Itu bukan cara yang indah untuk mati. Maka begitulah. Ia masih saja hidup. Dan, terus bertanya-tanya, kapan ia mati. (*)

 .

.

Penulis lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa media massa. Selain aktif menulis, ia juga terlibat dalam kelompok suka jalan.

.

.

Advertisements