Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 15 April 2012)

IA melihat cahaya kemerahan. Ia melihat cahaya bergoyang goyang cepat, seolah sambar an lampu pijar. Cahaya yang merobek gelap, dan meninggalkan jejak. Cahaya yang menyorot ke kanan, dan kadang menghantam ke mukanya, menyisakan selaput katarak dalam noda-noda hitam. Kadang cahaya itu melambat, dan tinggal pendar-pendar kuning-limau atau jingga-pudar.

Lalu ia mendengar suara mengentak-entak. Suara yang menendang-nendang jantung, dan memukuli gendang telinga. Ia lalu memejamkan mata. Selama beberapa jeda ruangan itu gelap, dan ia menunggu sisa-sisa cahaya itu pudar dan tubuhnya lambat-laun diam. Tapi suara-suara makin keras. Ia mulai merasakan tekanan di dadanya, seolah urat darahnya pecah. Paru-parunya mengerut dan membuka, dan sekejap tampak lagi warna-warna cahaya yang menyambar.

Lalu ia teringat jari-jari tangannya menyentuh lutut perempuan itu. Lutut yang putih, mungkin karena efek cahaya. Mula-mula ia hanya menyentuh, tapi kemudian jari-jarinya menelusuri lekuk lutut yang seolah pahatan. Bergerak maju-mundur, lalu melingkar—dan perempuan itu tersengal. Tapi sengal itu tak bisa ia bedakan dari denyut nadi di telinganya. Otaknya serasa meleleh. Lalu gerakan itu merayap naik. Lalu tarikan napas ringan, dan beberapa saat ruangan terasa lebih dingin.

Waktu ia terbangun, perempuan itu masih terlelap. Perempuan yang ia lihat di kafe semalam. Perempuan yang, entah bagaimana, tahu ke mana ia pergi mengusir penat. Perempuan yang tahu di mana selama ini ia mengendapkan malam atau sekadar minum kopi. Perempuan yang bahkan tahu apartemen ini…. Perempuan berparfum Black Pearls. Tubuhnya ramping, kulitnya sangat bening, mata setengah mengantuk, dengan bibir kering tapi merah.

Dan ia baru saja berselingkuh. Tetapi apakah bisa disebut berselingkuh, jika setiba di apartemennya perempuan itu langsung tertidur? Apakah bisa disebut berselingkuh jika istrinya pergi hampir dua bulan lalu karena berselingkuh?

Tapi ia tahu perempuan itu bernama Eta.

 .

AKU juga pernah berselingkuh. Aku dinikahkan waktu masih muda, dengan lelaki paruh baya yang saban hari berkutat di bengkel lasnya. Lalu aku bertemu pengelana yang singgah dari bandar ke bandar. Suatu malam kami dipergoki, padahal waktu itu kami hanya berbaring di rerumputan bukit. Sejak itulah aku terusir….

 .

HARI itu tiga kali ia bertemu dengan perempuan yang sama. Pertama, ketika ia menuruni jalan berundak-undak memotong perbukitan di tengah rumah-rumah beratap nyaris datar. Waktu itu perempuan itu keluar dari pintu di tembok pagar, menoleh sekilas ke arahnya, lalu menuruni jalan. Kedua, di pintu art shop dekat pantai di bawah perbukitan. Ketika itu angin menderap, dan pasir di trotoar gemerisik di bawah sepatunya. Ketiga, di teras kafe waktu senja, ketika ia menyesap secangkir kopi di tengah debur ombak dan koak camar.

Waktu itu perempuan itu berjalan ke arahnya.

“Maaf….” Perempuan itu duduk, begitu saja.

“Aku baru mendengar cerita yang aneh, dan ingin cepat bercerita,” kata perempuan itu.

“Kenapa memilih aku, untuk mendengar cerita?”

“Entahlah. Kau bukan penduduk pantai….”

“Bukan. Aku pelancong yang singgah,” katanya.

Ketika itu matahari hampir tergelincir ke dermaga. Ada bilah-bilah cahaya di langit, berwarna kuning-pudar dan jingga di celah segumpal warna merah. Lalu ada kerlip berlian di muka laut, dan bayang-bayang yang menggantung di dermaga. Samar-samar angin meruapkan bau asin laut.

Ia memandang perempuan itu. Perempuan bertubuh ramping, kulitnya sangat bening, dengan mata setengah mengantuk dan bibir kering tapi merah. Perempuan itu juga bersuara serak.

“Apa yang perlu kudengar?”

“Ada hutan di perbukitan,” kata perempuan itu, “di atas rumah-rumah beratap nyaris datar. Kabarnya bunga-bunga bermekaran di hutan itu, tapi hanya tiga puluh hari dalam setahun. Bunga-bunga putih, yang sewaktu-waktu berubah ke warna merah….”

“Kenapa begitu?”

“Kabarnya, dulu ada peri mendiami hutan itu bersama kekasihnya, seorang pemburu. Lalu suatu hari si pemburu mati tertusuk cula babirusa. Jasadnya tertelan ke bumi, menyatu dengan akar-akar myrtle. Si peri, yang mendapat firasat buruk hari itu, menjelajah seisi hutan sampai kakinya tergores dan berdarah-darah. Waktu ia menemukan lembing kekasihnya, dan darah yang tercecer, ia pun menangis. Dan ajaib, bunga-bunga yang semula putih tiba-tiba berubah merah. Sejak itu, tiap bulan pertama musim panas, banyak pasangan kekasih yang datang ke hutan. Bercanda, tertawa. Dan jika ada pasangan yang patah hati, bunga-bunga putih akan berubah merah.”

Ia tertawa. Perempuan itu juga tertawa.

“Kau tak percaya?” tanya perem puan itu. “Atau, kau mau mencoba?”

“Tidak…. Eh, kau tak pesan minum?”

Teras kafe itu kosong. Hanya meja bulat dan kursi-kursi berjajar di lantai batu koral. Dari teras itu ia melihat perahu-perahu tertambat di dermaga, naik-turun terantuk ombak. Lalu perahu-perahu dan sekunar di lepas laut, yang mulai mendekat ke dermaga. Ada juga potongan tebing di sisi kiri, seolah menyeruak dari kilau air. Lalu ada deretan bangunan tiga-empat lantai berwarna pasir.

Langit sudah berubah abu ketika ia bangkit dari kursinya.

“Kau sudah mau pergi dari pantai?” tanya perempuan itu. “Bisakah kita bertemu nanti malam?”

Ketika itu lampu-lampu di teras kafe mulai menyala. Lampu-lampu di dermaga juga menyala. Angin menderas dari laut, yang berangsur-angsur gelap.

Ia tak jadi pergi. Lalu mereka berjalan di sekitar dermaga. Pantai itu tenang, meski debur ombak seolah ketukan ribuan batu di telinganya. Jendela-jendela kedai dan art shop, yang berderet sepanjang pantai, melontarkan cahaya kekuningan ke trotoar. Ia melihat sosok-sosok di trotoar—dan ada seorang pelari di tepinya. Dari dermaga, kelihatan gelap merentang di perbukitan, dan ada bintik-bintik lampu dari rumah-rumah beratap nyaris datar. Langit bersih, tapi malam itu angin agak kencang.

Perempuan itu berkata, “Kau mengingatkanku pada seseorang.”

“Siapa?”

“Aku tak ingat….”

Tapi ia tak percaya perempuan itu tak ingat. Agak malam mereka baru menaiki jalan berundak-undak. Kabut mulai mengurai, dan bulan membakar lubang keabuan di langit. Malam itu, di kamar perempuan itu, mereka bergelut. Tapi setelah beberapa saat ia sadar mereka tak menutup gorden jendela. Atau mereka sengaja membiarkan gorden terbuka, hingga cahaya bulan jatuh ke dinding dan lantai. Ada senyap yang ganjil di kamar itu, yang mengalir—meski mereka terus berbisik.Ada kata atau suara, tapi terjerat senyap—dan perlahan ia mencium anemone menyelinap ke harum bantal.

Pagi, ia bangun ketika perempuan itu masih terlelap. Pagi itu ia mengitari kamar yang sebetulnya paviliun, sampai ia tiba di jendela bergorden. Dan ia melihat perempuan itu duduk di ranjang, dengan selimut menutupi pinggang.

Perempuan itu memberi kode, lalu melambai….

Ia kembali ke pantai itu. Hari ini, setahun kemudian. Tapi ia tak menemukan perempuan itu di paviliun, di salah satu rumah di perbukitan. Barulah ia tahu perempuan itu juga pelancong, seperti dirinya. Ia juga singgah ke art shop dekat pantai—yang sudah kosong berikut bangunan-bangunan tiga-empat lantai di kiri-kanannya. Tetapi kafe itu masih ada. Dan ia masih melihat perahu-perahu dan sekunar di lepas laut. Masih mendengar debur ombak, koak camar, atau angin yang menderas. Atau melihat gumpalan merah dan bilah-bilah cahaya di langit, berwarna kuning-pudar dan jingga.

Di sanalah ia sekarang. Duduk di kafe, dan memandang ke dermaga. Saat ini ada dorongan untuk berjalan-jalan ke dermaga, untuk sekadar menyimak keciprat air atau suara perahu mengetuk-ngetuk tepi dermaga. Atau sekadar memandang ke rumah-rumah beratap nyaris datar di perbukitan, dengan bintik-bintik dan pendar lampu. Tapi hujan baru saja reda.

Eh, apakah perempuan itu punya nama? Satu-satunya yang ia ingat, setahun lalu perempuan itu memberi kode: namaku Eta….

Tetapi ia berpikir, apakah malam ini bunga-bunga di perbukitan akan berubah ke warna merah?

 .

AKU juga pernah punya kekasih, jauh hari sebelum aku dinikahkan. Kami tak direstui, dan terpaksa lari dan terasing di sebuah hutan. Kekasihku mati tertanduk babirusa waktu berburu. Aku bahkan tak menemukan jasadnya. Tetapi sekali ini, apakah aku akan mendapat kesempatan kedua….

 .

WAKTU ia terbangun, di apartemen itu hanya lengang, lengang yang pejal. Ranjang yang acak. Langit-langit buram. Dinding buram. Cahaya buram. Lantai yang buram.

Tapi di bibirnya masih ada rasa bibir perempuan itu. Tubuhnya masih menyisakan bau kulit perempuan itu. Seperti bau kaktus, atau getah daun. Seperti embun, atau campuran aroma bunga, atau guyuran musim panas. Tetapi waktu ia terbangun, perempuan itu tak ada di ranjang.

Dan ia teringat ketika perempuan itu menyentuh rambut-rambut halus di tengkuknya. Lalu melingkarkan lengan, dan melekatkan tubuh padanya. Ia teringat ketika perempuan itu menggeliat, sedikit berguling, dan tersengal. Secara naluriah, ia meraih kaki perempuan itu. Ia tak menyentak, atau bergerak terlalu cepat, tapi diam pada beberapa jeda dan perlahan mulai menemukan arah. Dan mereka bergelut seakan waktu mengempas, dalam cahaya terpetak-petak di ranjang. Mereka bergelut seolah menguapkan ruang, kenangan buruk, atau mungkin sebentuk realitas.

Lalu mereka sedikit menjauh. Punggung perempuan itu melengkung, seolah menahan getaran yang menggumpal. Getaran yang sama membuat matanya mengabut. Ia lalu menengadah, dan merasakan suara hujan di bawah jendela. Ia menengadah, dan mendengar suara roda mencipratkan genangan air ke pinggir jalan di luar jendela.

Setelah itu…. Setelah itu waktu yang tak berbatas menyurut, dan garis-garis tegas terbentuk. Tapi ia tak mau bangun. Ia ingin berbaring lebih lama, sampai matahari menguak—karena malam yang lambat dan pagi masih jauh. Di sampingnya perempuan itu menggeliat. Perlahan mulai menyapukan lidah….

Baru ia sadar, semalam ada cahaya di atas ranjang. Ada pohon tak berdaun di luar jendela, dengan ranting-ranting serupa pembuluh darah. Ada bulan buram yang berkubang di langit hitam. Perempuan itukah yang telah menutup tirai?

Ia bangun, dengan melilitkan selimut ke pinggang. Lalu menarik tirai. Cahaya berebut menyerbu ke ruangan itu, dan ia melihat patung di tengah ruangan. Patung perempuan telanjang sebatas pinggul. Kepala patung itu menengok ke kanan. Sedikit menunduk, rambut terurai, dengan sorot mata yang lembut dan mulut mengatup. Punggung patung agak melengkung dan bahunya menekuk. Lalu satu tangan menutup dada dan tangan lain menutupi pinggul.

Patung itu adalah replika perempuan yang semalam tidur di ranjang.

Ia menatap lebih lama. Ada seorang perempuan yang lima hari terakhir datang ke apartemennya. Perempuan yang ia temui di teras kafe waktu senja. Ia masih mengingat dengan jelas. Ketika itu cahaya baru melepas selimut jingga ke langit kota. Awan menggantung rendah. Ketika itu di pelataran depan kafe, beberapa merpati terbang dan hinggap. Angin menggetarkan pohon, dan mengembuskan daun kering ke pergelangan kakinya. Sedan yang lewat mendentumkan conga dan timbal dari balik jendela. Tapi angin juga mengangkut daun-daun ke tengah pusaran di bawah lampu-lampu jalan, berputar dua kali sebelum menyeretnya pergi.

Senja itu ia melihat perempuan itu, yang duduk tiga meja di depannya dengan chocolate croissant. Perempuan bertubuh ramping, kulitnya sangat bening, matanya setengah mengantuk, bibirnya kering tapi merah.

Lalu setelah beberapa menit ia pindah ke meja perempuan itu, dan berkata bahwa ia pematung.

“Aku sedang mengerjakan patung yang tak kunjung selesai,” katanya. “Kau mau menengok ke studioku? Atau kau mau menjadi model?” Perempuan itu diam beberapa jenak, mengamati dua merpati yang hinggap di satu meja. Lalu ada getar halus pada suara itu, waktu perempuan itu mengangguk.

Esoknya perempuan itu datang ke apartemennya. Apartemen bergaya kuno, dengan jendela panjang berkotak-kotak dan ubin Gustavino yang juga merangkap studio. Selama lima hari perempuan itu datang pada jam yang sama, tapi hanya tinggal selama satu jam. Hari pertama ia menuntun perempuan itu pada beberapa pose, sambil membuat coretan-coretan di kertas. Hari kedua ia meminta pose-pose yang lain. Hari ketiga perempuan itu pulang agak larut, tapi ia mulai mengerjakan kerangka dasar dari coretan-coretan di kertas. Hari keempat, struktur patung mulai terbentuk, dan ia meminta perempuan itu duduk di kursi tanpa sandaran—dengan kepala menengok ke kanan, agak membungkuk, satu tangan menutupi pinggul dan tangan lain menutup dada.

Tetapi mereka melewatkan tiap pertemuan itu tanpa bicara. Ada keheningan yang lalu membuat tuli, yang membungkus atmosfer di apartemennya–dan hanya disela tarikan napas, bunyi batuk, atau pensil menggores-gores di kertas. Keheningan yang merayap, dan pada satu titik apartemen itu terasa lebih dingin, dan ia menangkap tetesan-tetesan air ke baskom dalam jeda yang ganjil. Perempuan itu tak pernah bicara, tapi mengangguk waktu ia menerangkan soal patung telanjang. Perempuan itu juga tak bicara ketika ia meminta beberapa pose, yang nyatanya terus berubah. Perempuan itu juga tak bicara ketika ia mulai menyentuh leher, pundak, dada, dan pinggang. Ia menyentuh dengan lembut, seolah meraba tiap respon ototnya sebelum meremas-remas adukan gips yang basah.

Kadang ia berpikir perempuan itu memang tak mau bicara. Ia hanya tahu perempuan itu bernama Eta. Lalu pada hari kelima, tiba-tiba perempuan itu menyentuh tengkuknya, melingkarkan lengan dan melekatkan tubuh padanya. Waktu mereka bergelut di ranjang, barulah ia tahu perempuan itu bersuara serak.

Ia masih di depan patung itu. Tapi patung itu belum selesai. Ia masih harus memoles beberapa bidang atau lekukan. Mulai dari garis rambut, lengkung hidung dan mulut, tekstur leher dan punggung, bentuk pundak, jari-jari tangan, bulatan dada, cekungan pinggang….

Tapi ia tak tahu apakah perempuan itu akan datang hari ini.

 .

AKU mengenal seorang pematung yang jatuh cinta pada patung pahatannya. Patung dari batu pualam itu diberi nama: susu….

 .

LALU ia seolah menembus warna putih yang pekat. Seperti kabut, yang menggumpal-gumpal. Kabut yang merayapi dan mengaburkan kaca. Kabut yang memadat dan berbulir, sebelum meninggalkan bercak. Ia mendengar angin mengepak. Detak jam yang keras, seperti tongkat mengetuk di trotoar. Lalu ia seolah menginjak permukaan yang tak rata, tersaruk-saruk melewati tonjolan atau lekukan. Kadang langkahnya tergagap, seperti berdiri di bidang yang basah. Matanya berkedut. Ia menarik napas, tapi gagal menetapkan arah. Beberapa kali ia menubruk sesuatu, yang mendadak muncul atau menyimpang di depannya. Ia tak bisa melihat, tapi sejak awal ia tak merasa tersesat. Lalu ia hanyut dalam keheningan, pada pendar cahaya halus yang bergoyang-goyang di tengah desau angin, atau napas terputus-putus yang berulang.

Mungkin keheningan, atau kekosongan, adalah semacam iluminasi dari kenyataan—baginya.

Lalu ia melihat nyala lilin. Cahaya kuning-pucat yang berderit. Lilin itu bergetar meredup dan menyala seolah mengusik gelap. Keheningan juga menyelusup ke bilah api, tapi bilah api terguncang dan lelehan lilin membelok ke dalam cawan. Ada suara meretih, seperti gerit pada lantai kayu papan. Ada kilasan angin, dan pada beberapa detik ia kehilangan satu-dua derajat suhu tubuhnya.

Terakhir, ia melihat badai pasir mengamuk di gelas bir. Lalu ia melihat buih mendesis pada gelas separuh terisi.

Pagi itu ia bangun di sebuah ruang yang putih-hitam, dalam gradasi hitam. Ada jendela memanjang ke samping, dengan kaca-kaca gelap dan bingkai hitam. Ada langit-langit putih mendatar, dan cermin yang memantulkan patahan dan isi ruang: dipan hitam, seprei putih yang acak, jambangan dengan bunga-bunga bergaris hitam, sisa kertas berserakan dari keranjang….

Tetapi waktu ia bangun, perempuan itu sedang mengusap-usap ujung rambutnya.

“Kau akan mengingat usapan ini, ruang ini, cermin itu… namaku Eta!” (*)

 .

.

Wendoko telah menerbitkan, antara lain, buku-buku puisi Oratorio (edisi kedua, 2011) dan Selected Poems (2010).

.

.

Advertisements