Cerpen Hisham Yusuf El Filistiny (Republika, 8 April 2012)

JAM mendekati tujuh pagi, ketika ia berhenti di akhir antrean, dan mengamati dengan seksama barisan panjang orang-orang antre yang berkelok-kelok seperti ular. Segera ia tahu bahwa ia datang sangat terlambat. Wajah orang-orang yang antre tampak sendu, seolah mereka telah tua sebelum masanya. Sebagian mereka saling bertukar pembicaraan sehingga menggariskan guratan-guratan tertentu pada wajah mereka.

Semua memandang ke arah pintu yang dikunci dengan kawat berduri dari segala sisinya. Mereka menumpahkan kemarahan lewat sorot mata ke arah pintu laknat itu. Mereka berharap pintu itu cepat dibuka sehingga antrean yang terus bertambah panjang seiring bergeraknya jarum jam itu terkurangi.

Pada jam delapan, datang dua tentara berhenti di depan pintu. Wajah-wajah putus asa itu sedikit cerah, merasa jalan keluar itu mendekat. Dengan gerakan tanpa sadar, ia mengeluarkan sigaret dari sakunya. Ia menyalakan rokok kemudian mengembuskan asapnya, seolah ia berpesta dengan datangnya dua tentara Israel itu.

Suara-suara orang yang antre meninggi, setelah pintu dibuka dan mulai menelan antrean itu secara berurutan. Ia menata posisinya dari satu posisi ke posisi lain untuk merilekskan bagian tubuhnya yang pegal. Beberapa saat sebelum jarum jam menunjuk angka 10, satu truk tentara datang dari jalan yang tegak lurus dengan pintu itu. Truk itu berhenti kira-kira di tengah-tengah barisan orang-orang antre tersebut. Komandan tentara mengitarkan pandangannya pada mereka dengan penuh kebencian dan kecurigaan. Barisan itu segera merapikan diri, yang lepas dari barisan segera masuk kembali. Pemandangan ini menekan otaknya yang penat, dalam layar otaknya tergambar nomor 67.

Saat itu, Abdurrahman sedang berumur 10 tahun. Ia berlari telanjang kaki, berpindah-pindah dari satu antrean ke antrean yang lain. Ia bermain-main. Ia menganggap hal itu sekadar permainan yang diberikan takdir kepadanya, supaya ia beristirahat dan melepaskan kebosanan dari berbagai jenis permainan yang telah dilakukannya berkali-kali.

Ia juga berkeyakinan bahwa peluru-peluru yang berhamburan di atas kepala orang-orang Palestina tidak berbeda dengan peluru yang diberondong dalam pesta perkawinan. Ia membayangkan, ia menghela punggung seekor keledai yang membawa kakek-kakek dan nenek yang berusia lanjut. Keledai yang mendengus-dengus karena kepayahan dan kehausan melebihi orang yang di punggungnya. Jika ada kakek-kakek atau nenek-nenek terjatuh dari punggung keledainya. Ia tertawa terbahak-bahak ala anak-anak kecil yang polos. Ia akan semakin terpingkal-pingkal ketika melihat keledainya lari meloloskan diri dari beban yang berat itu dan menerobos tanah pasir dengan ringkikan suara yang tiada bandingnya.

Kemudian, Abdurahman ingat bahwa hal itu mungkin saja masih terjadi seandainya kampung halamannya tidak dihapus dari peta, sebagian dijadikan tempat hiburan dan sebagian lagi dijadikan kandang sapi orang-orang Yahudi yang baru datang.

Abdurrahman tersadar dari kepekatan hatinya setelah ia membuang kilatan keputusasaannya yang menekan di belakang punggungnya. Tiba-tiba, ia melihat ada tempat kosong antara dirinya dan orang yang berdiri di depannya. Ia segera bergerak mengisinya demi menjaga hak dan undang-undang. Kembali ia memandang ke barisan orang-orang antre, ia melihat puluhan orang berdesak-desakan di depan pintu.

Perhatiannya tertuju pada sosok yang rapi, pakaian baru membalut tubuhnya yang gemuk subur, memegangi salah satu tangannya, dan bibirnya ndomble agak memanjang. Sosok itu berdiri di samping barisan orang antre dan memperlihatkan pandangan memelas. Tak perlu lama menunggu, sosok rapi itu segera dipilih tentara Israel untuk memasuki pintu.

Abdurrahman memperolok suara-suara protes orang yang minta menjaga dan menghormati urutan. Kemudian ia mengulurkan telapak tangannya secara spontan pada mukanya tatkala ia merasakan ada tonjokan yang mendadak mendarat di pahanya. Seketika ia ingat tentara penjaga perbatasan yang menamparnya tiga kali, ia ingat dalam ingatan kilas balik ketiga.

Oh ya! Akhirnya, Abdurrahman ingat. Ia telah memetik buah zaitun yang ditanam oleh kakeknya di kampungnya yang telah diduduki Israel. Ia dituduh mencuri harta milik tanah Israel. Kemudian tentara-tentara itu menggelandang dirinya yang saat itu baru berusia 13 tahun ke penjara di garis hijau. Ia dijadikan bulan-bulanan oleh pukulan dan tendangan mereka. Ia mendekam di penjara itu selama satu minggu, lantas dikeluarkan setelah membayar denda karena didakwa mengambil harta milik negara.

Otaknya kembali lagi untuk ikut serta dalam antrean sebagaimana sosok-sosok yang lain. Kembali lagi untuk melihat bagaimana para tentara itu merusak barisan untuk kedua kalinya dan memasukkan teman-teman pejabat kota yang baru saja datang. Abdurrahman seketika merasakan musim panas yang tiba-tiba merusak sistem antrean dan membuyarkan harapan orang-orang yang berada pada posisi siap memasuki pintu.

Detik-detik yang berat dan lambat berlalu, berganti jam-jam yang sirna. Tetapi, ia belum juga sampai di tengah barisan. Ia mengajak bicara orang yang berada di depannya supaya tetap bisa melihat keadaan pintu.

“Apa kau kira hari ini kita bisa melewati pintu itu?”

“Aku khawatir hari ini berakhir seperti hari-hari kemarin dan kita pulang tanpa hasil dan kecewa.”

“Apakah kamu menghabiskan waktumu berhari-hari di depan pintu ini?”

“Tentu, apa kau kira urusannya mudah? Di sini tidak ada waktu yang berharga, Sobat!”

Tengah hari, barisan maju ke depan sedikit. Abdurrahman mandi keringat, kedua keningnya memerah karena sengatan matahari. Meskipun barisan orang-orang antre itu menyaksikan kembali adanya penyerobotan-penyerobotan lain, Abdurrahman berhasil mendekati pintu dengan posisi yang sulit ia percayai. Antara dirinya dan pintu hanya terpaut satu orang saja.

Ketika waktu mendekati pukul dua siang, barisan itu terdorong ke depan. Orang-orang yang berdiri di depan seakan tergencet di pintu dan menyebabkan salah satu tentara Yahudi itu marah dan menyerang orang-orang yang di depan barisan seperti banteng gila. Tentara itu memukuli orang-orang yang di depan bertubi-tubi. Abdurrahman tidak bisa menghitung berapa kali pukulan itu karena cepatnya.

Sebelum tentara itu menyelesaikan “tugas” nya, Abdurrahman berpikir tentang pesawat terbang yang meninggalkan Bandara Ben Goryon dalam waktu bersamaan saat ia bergabung dalam antrean itu. Ia berkhayal, mungkin saja pesawat itu telah mendarat di kota Beijing atau mungkin saat itu pramugarinya sedang berjalan di antara penumpang membagi-bagikan kue selamat datang dan berharap para penumpang menikmati saat-saat yang paling indah di negeri Tembok Raksasa itu.

Abdurrahman heran dengan kenyataan aneh dan pahit ini. Bagaimana mungkin jalan dari Ramallah ke al-Quds harus melewati pintu berduri ini. Bagaimana ia menghabiskan bagian penting dari hidupnya dengan masuk pintu dan melewati kawat-kawat berduri dan berdiri lama sekali dalam antrean panjang di depan pintu penghalang. Lalu, ia memutuskan untuk meninggalkan barisan itu setelah meyakinkan dirinya bahwa semestinya harus ada jalan lain. Harus ada jalan lain! (*)

 .

.

Judul asli cerpen ini: Thaariq ‘Aakhar karya Hisham Yusuf El Filistiny, seorang cerpenis berdarah Palestina asli. Lahir di Umawas, Palestina tahun 1956. Ia dan keluarganya digusur dari desanya tahun 1967, lalu tinggal di kota kecil Al Birah. Meraih gelar BA dalam sastra Inggris dari Universitas Aleppo, Suriah tahun 1979, dan master pendidikan dari Universitas Beirut tahun 1998. Selain mengajar di Universitas Al Quds, di kota Ramallah, ia aktif menulis cerpen dan makalah di berbagai koran dan majalah Palestina.

Diterjemahkan oleh Habiburrahman El Shirazy, sastrawan Indonesia peraih Penghargaan Sastra Nusantara 2009. Ia adalah penulis novel fenomenal Ayat Ayat Cinta, Bumi Cinta, dll. Wakil Ketua Komisi Seni Budaya MUI Pusat. Ketua Liga Sastra Islam Dunia, Maktab Indonesia.

.

.

Advertisements