Cerpen Alain Robbe-Grillet (Koran Tempo, 1 April 2012)

ANAK sekolah itu sedikit melangkah ke belakang dan mendongak ke arah cecabang paling rendah. Lalu dia melangkah ke depan, mencoba meraih cabang yang nampak dapat dijangkaunya; dia berjingkat dan merentangkan tangannya setinggi mungkin, tapi gagal meraih cabang itu. Setelah beberapa kali gagal, dia rupanya menyerah. Dia menurunkan tangannya dan melanjutkan menatap sesuatu di antara dedaunan.

Lalu dia kembali ke kaki pohon, mengambil posisi yang sama seperti sebelumnya; lututnya sedikit ditekuk, tubuh bagian atasnya meliuk ke kanan, dan kepalanya ditundukkan ke arah bahunya. Dia masih memegang tas buku di tangan kirinya. Mustahil melihat tangan sebelahnya, yang mendukung dirinya menentang pohon, atau mukanya, yang hampir menempel ke kulit pohon, seolah mencermati rincian yang ada sekitar 130 senti di atas tanah.

Anak itu lagi-lagi berhenti sejenak saat membaca nyaring, tapi kali ini ada jarak, mungkin bahkan hentian, dan dia terkesan tengah berusaha menandai akhir paragraf. Anak sekolah itu berdiri tegak untuk memeriksa kulit pohon yang lebih tinggi.

Bisikan terdengar di kelas. Guru laki-laki itu menggerakan kepalanya dan melihat sebagian besar muridnya sedang menatap, daripada mengikuti bacaan lisan pada buku mereka; bahkan murid yang sedang membaca nyaring tetap menatap ke bangku guru dengan nada tanya atau ketakutan yang samar. Guru berkata sungguh-sungguh:

“Apa yang kau tunggu?”

Diam-diam muka anak-anak itu menunduk dan anak itu mulai lagi membaca, dengan suara bersungguh-sungguh yang sama, tanpa ekspresi dan sedikit pelan, memberi tekanan yang sama pada masing-masing kata dan memberi jarak yang datar pada bacaan selanjutnya:

“Oleh karena itu, malam itu, Joseph de Hagen, salah seorang letnan Philippe, pergi ke istana Uskup Agung dengan dalih memenuhi panggilan. Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya dua orang bersaudara….”

Di pinggir jalan yang lain, anak sekolah itu mengintai lagi dedaunan pada cecabang yang rendah. Guru menggebrak bangku dengan telapak tangannya:

“Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya, koma, dua orang bersaudara….”

Mencari-cari bagian itu di dalam bukunya sendiri, dia membaca nyaring, sambil melebih-lebihkan tanda baca:

“Mulai dari: ‘Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya dua orang bersaudara sudah ada di sana, jadi mereka bisa, bila diperlukan, melindungi diri mereka dengan alibi ini….’ dan perhatikan pada yang sedang kau baca.”

“Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya dua orang bersaudara sudah ada di sana, jadi mereka bisa, bila diperlukan, melindungi diri mereka dengan alibi—alibi mencurigakan sebenarnya, namun itulah jalan terbaik yang ada pada mereka saat ini—tanpa membiarkan sepupu mereka yang mencurigakan itu….”

Suara datar itu tiba-tiba berhenti, di tengah-tengah kalimat. Murid lainnya, yang telah mengangkat matanya ke arah orang-orangan kertas yang menggantung di tembok, segera kembali melihat buku. Guru melirik dari jendela kembali kepada anak yang sedang membaca nyaring, di sisi seberang ruang, di jajaran pertama dekat pintu.

“Baiklah, lanjutkan! Tidak boleh berhenti di sana. Kamu nampaknya tidak memahami bacaanmu!”

Anak itu menatap guru, dan di belakangnya, sedikit ke kanan, ada orang-orangan kertas putih itu.

“Kau mengerti, atau tidak?”

“Ya,” kata anak itu kurang yakin.

“Ya, Pak,” guru memperbaikinya.

“Ya, Pak,” anak itu mengulang.

Guru melihat teks dan bertanya: “Apa artinya kata ‘alibi’ untukmu?”

Anak itu melihat orang-orangan kertas, kemudian pada dinding kosong, tepat di depannya, lalu pada buku yang tergeletak di bangkunya; dan kemudian ke dinding lagi, selama semenit penuh.

“Jadi?”

“Tidak tahu, Pak,” kata anak itu.

Perlahan guru melihat ke murid lain di kelas itu. Seorang anak mengacungkan tangannya, di dekat jendela belakang. Guru menunjuknya, dan anak itu berdiri di samping kursinya:

“Alibi menyebabkan orang berpikir mereka sedang berada di sana, Pak.”

“Apa maksudmu? Siapa mereka?”

“Dua orang bersaudara itu, Pak.”

“Mereka ingin orang berpikir bahwa mereka sedang di mana?”

“Di istana Uskup Agung, Pak.”

“Dan di mana mereka sebenarnya?”

Anak itu berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Namun mereka sebenarnya berada di sana, Pak, hanya saja mereka ingin pergi ke tempat lain dan menyebabkan orang berpikir bahwa mereka masih di sana.”

Larut malam, tersembunyi di balik topeng hitam dan terbungkus dalam mantel besar, dua orang bersaudara itu meluncurkan tangga tali yang panjang ke jalan kecil dan sunyi.

Guru sedikit mengangguk-angguk beberapa kali, seolah persetujuannya yang setengah hati. Setelah beberapa saat, dia berkata: “Baik.”

“Sekarang kamu harus meringkas seluruh bagian bacaan itu untuk kita semua, demi temanmu yang bisa jadi tidak mengerti.”

Anak itu memandang ke jendela. Kemudian dia melihat sekilas pada bukunya, lalu mendongak lagi ke arah bangku gurunya.

“Di mana harus mulai, Pak?”

“Mulailah dari awal bab.”

Tanpa duduk dulu, anak itu membalik-balik halaman-halaman bukunya, dan setelah diam sebentar, mulai meringkas konspirasi Philippe de Cobourg. Meski sering berhenti dan mulai lagi, anak itu melakukannya hampir dengan jelas. Di sisi lainnya, dia terlalu menekankan hal-hal remeh, alih-alih dengan susah menyebutkan, atau bahkan menghilangkan, bagian-bagian sangat penting. Karena dia cenderung membicarakan tindakan daripada motif politik mereka, tentu akan sangat sulit bagi seorang pendengar yang belum tahu untuk menerka alasan kisah itu atau pertautan antara berbagai peristiwa, atau antara tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Guru membiarkan pandangannya menjelajahi jendela. Anak sekolah itu ke bawah cabang pohon yang paling rendah; dia menyimpan tasnya di kaki pohon dan melonjak-lonjak, merentangkan satu tangan ke atas. Karena berpikir bahwa semua upayanya gagal, dia berdiri lagi tak bergerak, menatap dedaunan yang tak teraih. Philippe de Cobourg mendirikan kemah bersama prajuritnya di tepian Sungai Neckar. Murid-murid, yang tidak lagi diharuskan mengikuti bacaan, semuanya mendongakkan kepalanya dan diam-diam memandang orang-orangan kertas yang menggantung di dinding. Orang-orangan itu tak bertangan atau kaki, tapi hanya empat tungkai yang dicopot dengan kasar dan kepala bulat, terlalu besar, yang diikat dengan benang. Beberapa inci lebih tinggi, di ujung lain benang itu, terlihat bola kecil dari remasan kertas hisap yang bertumpu ke dinding.

Namun anak yang sedang bercerita kehilangan arah ceritanya di antara rincian yang sepenuhnya tak berarti, jadi pada akhirnya guru menghentikannya:

“Cukup,” katanya, “kita cukup tahu mengenai hal itu. Duduklah dan kita mulai lagi membaca dari awal halaman: ‘Namun Philippe dan para pengikutnya….’”

Seluruh kelas, seperti yang seorang itu, bertelekan pada bangkunya, dan pembaca baru mulai membaca, dengan suara yang sama sekali tanpa ekspresi seperti teman sekelasnya, meski dengan teliti memperhatikan koma dan titik:

“Namun Philippe dan para pengikutnya tidak menyetujui gagasan ini. Bila kebanyakan anggota Majelis—atau bahkan bila hanya faksi para baron—mencabut hak istimewa yang diberikan kepada mereka, ya, kepada mereka dan dia, karena bantuan berharga yang mereka berikan untuk kepentingan Sang Pangeran saat pemberontakan, maka untuk selanjutnya bisa jadi mereka tidak bisa, ya, mereka atau dia, menuntut pendakwaan tersangka baru, atau penghapusan hak milik tanah kebangsawanan tanpa pengadilan. Sangatlah penting bahwa serangkai perundingan, yang nampak mulai begitu tidak menguntungkan bagi maksudnya itu, diakhiri sebelum hari penentuan.  Oleh karena itu, malam itu, Joseph de Hagen, salah seorang letnan Philippe, pergi ke istana Uskup Agung dengan dalih memenuhi panggilan. Sebagaimana yang dinyatakan sebelumnya, dua orang bersaudara itu sudah ada di sana….”

Muka-muka itu masih dengan setia mendongak ke bangku. Guru menatap jendela. Anak sekolah itu bersandar ke pohon, asyik memeriksa kulit pohon. Perlahan dia membungkuk, seolah mengikuti garis yang tergurat di batang pohon—di sisi yang tidak terlihat dari jendela-jendela sekolah. Sekitar 130 senti setengah di atas tanah, gerakannya terhenti dan dia memiringkan kepalanya ke satu sisi, dalam posisi yang sama dengan yang sebelumnya dia diami. Satu demi satu, muka-muka di kelas itu memandang.

Murid-murid menatap gurunya, lalu ke jendela. Namun jendela itu berkaca suram, dan, di atasnya, mereka hanya dapat melihat pucuk-pucuk pohon dan langit. Tidak ada seekor lalat atau seekor kupu-kupu pun muncul di kaca jendela. Segera semua mata lagi-lagi terpaku pada orang-orangan dari kertas putih berbentuk lelaki itu. (*)

 .

.

Alain Robbe-Grillet (1922-2008) adalah penulis Prancis. Eksponen gerakan Nouveau Roman (Novel Baru). “Pengganti” di-Indonesia oleh Atep Kurnia dari terjemahan Inggris Bruce Morrisette “The Replacement”.

.

.

Advertisements