Cerpen Eko Tunas (Suara Merdeka, 1 April 2012)

LARON-LARON beterbangan memburu cahaya, mengepak-kepakkan sayap pada lampu neon di depan rumah orang tua Sanu. Sanu suka karena Monica begitu senang menyaksikan gerombolan serangga bersayap di seputar cahaya putih. Bahkan di mata Sanu, perempuan bermata burung dara itu seperti bidadari berhujan-hujan laron. Tubuh tinggi padatnya seperti menari, saat menggeliat sambil mengebitkan laron kehilangan sayap.

Sambil menggelinjang perempuan kulit putih itu menyeru, bertanya bagaimana riwayat laron. Dan Sanu menyahut dengan berteriak pula, bahwa laron adalah binatang tanah yang bermetamorfosis. Tapi berbeda dengan kupu-kupu yang bersayap indah, laron mesti segera melepaskan sayap sederhananya untuk kembali ke tanah. Kembali ke habitat makhluk kecilnya, dan tugas lanjut merayapnya.

Selalu Sanu mengandaikan segala sesuatu atas diri mereka, dengan maksud merendahkan diri dan meninggikan teman dekatnya. Dia katakan Monica kupu-kupu, dan dirinya laron. Gadis itu tersenyum, menunjukkan suka hatinya pada sifat rendah hati seorang lelaki Indonesia. Senyumnya manis sekali. Semanis senyum bidadari, dalam impian pria Jawa yang menganggap seindah-indah kecantikan adalah makhluk dari surga.

Mereka telah sepekan tinggal, setelah beberapa hari di Jakarta. Setelah penerbangan Monica dari Rotterdam dan Sanu menjemputnya di Bandara Soekarno-Hatta. Wira-wiri di pusat-pusat metropolis Jakarta Monica tak habis mengeluh. “Panas,” katanya, “seperti di neraka!”

Sanu tertawa. “Ini Asia, bukan Eropa. Apalagi ini Jakarta….”

Monica pun menyindir. “Sepanas situasi politiknya?”

Saat itu Sanu terdiam. Monica tersenyum mafhum, seperti mulai memahami sifat teman chatting-nya. Semacam kepekaan seperti gelas antik, yang musti dijaga ketinggian nilainya: tidak boleh tersentuh sembarangan dan membuatnya retak, apalagi sampai terjatuh dan pecah. Meski pun berbicara soal politik, Sanu memiliki kepekaan tersendiri yang mudah tersinggung. Tak lain karena dalam satu e-mail-nya dia pernah menulis, tentang situasi politik di negeri ini bahkan di desanya yang mengorbankan kakaknya.

Bibir Monica seakan mengucap nama kakak Sanu, “Burna….”

Memafhumi hal itu, bagai meralat pernyataannya Monica sontak berkata, “Untuk apa aku terbang jauh, kalau yang aku jumpai sebuah kota sebagaimana kota-kota dunia?”

Sanu kontan mengusulkan mengajak Monica ke desa orang tuanya, sekitar lima jam bermobil dari Jakarta. Dan gadis yang fotonya dalam internet bergaya Britney Spears itu senang bukan main, bertemu bapak dan ibu Sanu. Terutama, hari-hari Monica menghabiskan waktunya di pawon, tempat memasak yang bukan sekadar dapur apalagi dalam bayangan gadis Eropa. Sebuah ruang luas dan tempat memasak dengan bahan kayu bakar. Asap membuat airmatanya berleleran, saat ia mencoba belajar meniup tungku menggunakan sepotong bambu.

***

LANTAI tanah dan genting menghitam di ruang berdinding papan kayu itu, membuat Monica suka duduk di bale bambu melihat keluar jendela yang terbuka. Dari luar sana angin pegunungan meniup, angin kumbang yang di malam hari seperti karpet tergelar. Angin kumbang yang membuat ketela pohon di pegunungan itu besar-besar dan dikirim ke Jawa Barat untuk dibuat peyem. Meniup ke timur laut, mengembangkan putih-putik bawang, dan menjernih-segarkan air tambak-tambak ikan.

Tercetus begitu saja gumam “Britney”, “Desa ini terlalu indah untuk dilupakan, seperti surga yang tak boleh setitik pun ternoda….”

Sanu tercenung.

Saat itu sosok laki-laki nongol sedada di jendela, seorang laki-laki yang memang bertelanjang dada bidang. Sesaat muka berambut kusut masai itu terdiam dengan pandangan kosong, membuat Monica meneleng-neleng. Seperti bertanya-tanya atau menduga-duga ia, melihat muka laki-laki itu seperti tersenyum tapi tampak menyeringai. Sesaat kemudian setelah laki-laki tinggi besar itu berkesiap pergi, pandangan “Spears” seakan mengajukan pertanyaan pada Sanu.

Bibir panah cupido memerah itu seperti mengucap tanya, “Burna?”

Dan Sanu seolah menganggukkan nama kakaknya.

Spontan Monica berujar, “Saya bisa menerapi.”

“Ahh…,” decah Sanu terpotong oleh sorot mata biru begitu meyakin.

Semacam ada cemas ragu, begitu saja lindap dalam hatinya. Meski akal sehatnya meyakini, betapapun teman jauh yang sekarang dekat itu adalah mahasiswa psikiater yang lulus cum laude dari perguruan tinggi tepercaya di Negeri Kincir Angin.

Tarian dalam cahaya neon di mata Sanu mengesani geliat baru, setelah seminggu ini Monica menerapi Burna. Gelinjang yang ditangkap mata Sanu sebagai semangat, bagai ulat setelah sekian lama melata kemudian bertapa sebagai kepompong, dan bermetamorfosis sebagai kupu-kupu. Betapa gadis kulit putih itu bagai seekor kupu-kupu, menikmati keindahan sayap-sayapnya.

Dan Sanu semakin merasa diri kunang-kunang, yang mesti mencari cahaya untuk melepaskan sayap-sayapnya. Meski kakaknya gila, tetap saja ia tetap menganggap Burna sebagai saingannya. Bukan hanya fisik yang membuat Sanu sering merasa kecil di hadapan kakaknya. Walau ia tak bisa menyalahkan darah turunnya, kakek moyang kolonialnya, sejak desanya dijadikan tempat peristirahatan bagi tentara penjajah. Dari darah itu Burna menuruni fisik tinggi besar membule bapak kepradah, meski wajahnya tetap menuruni kejelataan wajah ibu.

Sebaliknya Sanu menuruni tubuh imut ibu Jawa, dengan raut berwajah bule. Dan ia melihat, meski gila begitu serasi Burna berdampingan dengan Monica setiap pertemuan terapi di dapur itu. Betapa kakaknya tampak sehat-sehat saja setiap berbicara dengan dokter jiwa spesialnya. Meski sering terdengar ngawur, tapi kata-kata Burna masih mencerminkan pikirannya sebagai tokoh politik. Seperti yang diam-diam pernah didengarnya, dari balik jendela dapur yang selalu dibiarkan terbuka.

Sanu menahan emosi saat Burna ngerjain Monica yang bertanya, “Apa ini?” sambil menunjukkan cabe rawit. Burna menjawab, cabe rawit dimakan bersama tahu asin akan menambah nikmat. Melihat cabe rawit berwarna merah yang mirip buah ceri Monica lantas berkata, dimakan bersama tahu asin saja nikmat apalagi dimakan melulu cabe rawit. Mendengar itu Burna justru mengangguk, dengan muka seperti menyimpan dendam. Dan Burna memang bersorak saat Monica menggigit cabe rawit merah.

Tentu saja Monica kepedasan luas biasa. Meski ia menutup-nutupi dengan berkata, bahwa di negerinya tidak ada pedas cabe rawit, yang ada pedas merica. Burna lalu menyahut, di zaman penjajahan cabe rawit sengaja disebarkan Belanda untuk meracuni para gerilya di hutan-hutan. “Nyatanya racun itu oleh bangsa ini dimakan bersama gorengan atau dibuat sambal!” cetus Burna sambil nyekakak.

Ya, Burna justru menertawakan melihat Monica bermerah muka dan tak habis mengeluarkan air mata. “Kamu makan racun yang dulu disebarkan bangsamu!” serunya dengan muka puas.

“Memang pedas,” decah Monica.

Dan ngawur Burna lagi, “Itulah posmo!” untuk mengatakan postmodern. “Meski, aku tahu, postmodern adalah bentukan masyarakat global yang tidak mampu menentukan arah hidupnya. Sebab ideologi-ideologi besar dunia telah bunuh diri. Liberalisme, kapitalisme, komunisme, telah mampus. Dan kini yang ada ideologi tunggal Amerika.”

Dalam pikiran Monica mungkin rumit mengaitkan pedas cabe rawit dengan postmodernism. Atau ia tidak ingin membawa Burna ke ranah politik yang telah memurukkan hidupnya. Toh Burna sendiri yang mencetuskan pertanyaan, “Mungkin kau akan bertanya, bagaimana pengaruhnya di negeri ini?” tegasnya, “perang keyakinan, klaim kebenaran atas nama ajaran. Isu saling memprovokasi. Itu semua yang melunturkan negeri yang mencintai kebersamaan dan bangsa yang setia pada keberagaman. Bhineka Tunggal Ika sedang terancam!”

Mukanya tampak mengeras. Tubuhnya yang besar gemetar.

Mengintip itu Sanu bersiaga untuk menjaga kemungkinan lebih buruk yang menimpa Monica, tapi gadis bermata merpati itu tampak tenang-tenang saja.

***

SETENANG itu saat ia menyampaikan hasil terapi kepadanya, bahwa ia memang harus bersikap kalah di hadapan Burna. Kalau perlu tampak teraniaya. Dan musti diam mengalah, saat pasien istimewanya itu menghujatkan pikiran-pikiran politiknya. Untuk itu Sanu menimbang-nimbang kata “teraniaya”, selalu dengan perasaan cemas ragu yang entah kenapa selalu hadir setiap ia memikirkan gadis Belanda itu.

Perasaan yang ternyata berbeda saat ia membandingkan dengan kecemasan terhadap kasus kakaknya. Terutama karena dikabarkan, pihak KPK mulai mencium bahwa kegilaan Burna adalah trik politik untuk menutup-nutupi kasus yang sebenarnya. Dan yang dicemaskan Sanu ialah, cara apalagi yang akan dilakukan Burna. Setelah kekalahan pilkada yang membuatnya gila, dan kasus illegal logging yang sedang diselidiki Komite Pemberantasan Korupsi.

Meski harus diakui, baru sepekan menjalani terapi di dapur, Burna selalu datang dari rumah keluarganya dalam penampilan rapi. Terlebih kakak kandungnya itu tidak pernah lagi mengamuk di rumah keluarganya, membanting perabot dan apa pun yang ada di hadapannya. Bahkan mau membakar mobil dan rumah mewahnya segala. Monica benar, ia pun musti mengalah di hadapan kakaknya. Terutama istri Burna dan anak-anak mereka sudah pasrah bongkokan kepadanya dan Monica. Dan Sanu cukup senang karena keluarga kakaknya sudah tampak kembali menampakkan sayap-sayap kebahagiaan.

Sebagaimana pula yang ditunjukkan sayap kupu-kupu Monica, dalam tarian bagai bidadari berhujan-hujan laron. Melihat keindahan geliat tubuh bule di antara cahaya putih itu, Sanu sertamerta ingin mengabadikan. Segera ia berkesiap masuk rumah untuk mengambil kameranya. Hanya beberapa menit Sanu masuk rumah, dan begitu keluar lagi ia tak melihat lagi Monica di bawah cahaya neon. Keterpanaannya seakan membayang, bidadari itu terangkat laron-laron ke langit menggelap. Ia pun memanggil-manggil dengan perasaan cemas ragu yang menegas, tapi tak terdengar sahutan.

Kecemasannya menimbang-nimbang nama Burna, dan ia musti merahasiakan dari orangtuanya maupun orang-orang kampung. Juga kepada isteri Burna, saat ia mengira kakaknya membawa Monica ke rumahnya. Pun saat ia mencari-cari ke beberapa rumah tetangga. Monica seperti raib, dan hanya satu kemungkinan yang diyakininya, Burna telah membawa gadis kulit putih itu ke….

Instingnya menoreh begitu saja atas kecurigaan tentang kegilaan apa yang akan dilakukan Burna, untuk menutup kasus bahwa kakaknya telah melakukan penggundulan hutan jati. Cergas ia berkesiap memasuki kegelapan hutan jati. Yang diingatnya ada tempat favorit ia dan kakaknya sejak mereka kanak-kanak. Persis di tengah hutan jati ada satu penerangan lampu, dan cahaya batere mengantarnya ke sana. Dan sejak kecil instingnya memang tak pernah meleset. Ia melihat Monica terikat pada tiang lampu itu, dan Burna tampak sedang menunggu kedatangannya.

Burna menyeringai melihat kedatangannya….

“Ayo, rekam kami dengan kameramu!” teriaknya.

Sanu terpana.

Laron-laron beterbangan memburu cahaya, mengepak-ngepakkan sayap pada cahaya lampu putih ratusan watt. Pandangan Sanu bertanya-tanya, melihat Monica tampak tenang-tenang saja dengan tubuh terikat. Bahkan di matanya, gadis bermata burung dara itu bagai menikmati dirinya berhujan-hujan laron. Tubuh tinggi padatnya seperti menari, dalam geliat tergelinjang oleh laron-laron kehilangan sayap. “Ayo, arahkan kameramu!” seru Burna dengan tawa kegilaannya.

Sanu tak kuasa mengangkat kameranya.

Betapa tubuh kulit putih itu polos dalam geliat gelinjang, bagai laron terlepas sayap. Tapi wajahnya tetap menyenyum, bagai senyuman bidadari dalam cahaya putih. (*)

 .

.

Semarang, 31 Januari 2009

.

.

Advertisements