Cerpen A.G. Pramono (Jawa Pos, 25 Maret 2012)

DI tengah-tengah masyarakat sedang membutuhkannya, Sukar malah memilih tidur di pos kamling. Kebiasaannya tidur di pos kamling mulai sering dilakukan sejak pisah ranjang dengan istrinya. Istrinya tak kuat lagi dengan prinsip hidupnya. Kebiasaannya banyak membantu masyarakat kecil dan miskin sampai ke pelosok desa ternyata tidak sejalan dengan pola pikir istrinya.

Perbedaan pola pikir antara mereka makin lama makin runcing. Istrinya berharap, bila membantu masyarakat, jangan terlalu berlebihan dan gembar-gembor. Namun, Sukar tak mau dan berprinsip lain. Dia ingin kehendaknya sendiri yang jalan, tanpa menghiraukan pendapat yang lain. Berapa saja yang ada dalam sakunya, sejumlah itulah uang tersebut mengalir kepada masyarakat di depan hidungnya. Dia tak ingin ada perencanaan, bila ingin membantu masyarakat. Apa yang melekat di tubuhnya, itulah yang diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Dia tak ingin diboncengi dengan maksud-maksud kepentingan politik tertentu.

Sejak perbedaan pola pikir itu, ranjang mereka pun ikut berpisah. Istrinya memilih tidur di rumah, sedangkan Sukar memilih tidur di pos kamling. Pilihannya tidur di pos kamling karena dia mulai enggan pulang ke rumah. Dia memilih luntang-lantung di jalan.

Sang dermawan itu masih terlelap di pos kamling. Semula, masyarakat tak percaya bahwa Sukar, yang diagung-agungkan sebagai penyelamat nasib orang miskin, kini tidurnya di pos kamling. Masyarakat yang kebetulan melintas di depan pos kamling sempat berhenti dan berusaha membangunkan Sukar. Meskipun tubuhnya digerak-gerakkan, lelaki gemuk itu tetap saja tertidur. Masyarakat mengira dia meninggal. Tetapi, ketika diperiksa, nadi dan jantungnya masih berdenyut normal.

Beberapa tetangganya silih berganti menengokinya ke pos kamling. Bahkan, orang-orang yang sangat berharap bantuan Sukar mau berjam-jam menunggu di sampingnya. Warga di desa itu mulai terheran-heran, kenapa orang yang dianggap dermawan selama ini tidur begitu panjang.

Tubuh Sukar kembali digerak-gerakkan, tapi tetap tak bergeser sedikit pun. Karena tak mampu lagi dibangunkan, kepala desa memerintah warganya agar tubuh Sukar disiram dengan air. Perintah itu langsung disikapi warga. Orang-orang langsung bergegas mengambil air di sungai. Sekitar sepuluh timba disiramkan ke tubuh Sukar. Namun, apa yang terjadi? Matanya tak juga melek, meskipun seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.

Pak kepala desa jengkel. Karena tak juga bangun, tubuh Sukar hendak diangkat untuk dibawa ke rumahnya. Namun, upaya itu tak juga berhasil. Tubuhnya seperti batu raksasa yang tak mudah diangkat. Kepala desa langsung mengerahkan puluhan warganya untuk meng angkat tubuh Sukar kembali. Tetapi, sia-sia, tubuhnya tak juga bisa terangkat. Pak kepala desa, pak RT, serta orang-orang yang berada di pos kamling hanya bisa terpaku melihat tubuh Sukar yang terlelap tidur sampai seharian.

Hingga hari semakin senja, lelaki tambun itu tak juga terbangun dari tidurnya. Pak kepala desa dan pak RT memilih pulang meninggalkan lokasi pos kamling. Orang-orang yang berharap Sukar bangun satu per satu mulai meninggalkan pos kamling.

“Pak, bangun Pak, kami lagi susah, orang-orang di sini lagi kena penyakit lapar, perlu bantuan Bapak,” keluh salah seorang lelaki tua sambil memeluk tubuh Sukar. Namun, tubuh tambun itu tak juga tergerak. Aneh, sungguh aneh. Sudah sehari penuh, pahlawan desa itu masih tertidur. Banyak yang mengira Sukar sudah meninggal. Namun, ada juga yang berkata lain. Ada yang menganggap Sukar hanya pura-pura tidur.

“Pak, jangan pura-pura tidur, kami lagi membutuhkanmu. Kalau Bapak melek, pasti akan merasa iba melihat kondisi kami. Jadi, jangan terlalu lama tidur ya, nanti kami anggap Bapak hanya berpura-pura, padahal Bapak tidak sedang berpura-pura kan?” ujar seorang ibu yang tampaknya kurang sehat. Sambil batuk-batuk, dia menepuk-nepuk tubuh Sukar.

Hari makin larut, satu per satu, masyarakat mulai meninggalkan pos kamling. Tubuh Sukar masih terbujur sendiri di pos kamling. Lolongan anjing lamat-lamat memecah keheningan malam. Suara burung hantu mulai terdengar pula. Desir angin meniup pepohonan, dingin menusuk tulang.

Tiba-tiba, di keheningan malam, tubuh Sukar yang masih terlelap dibekap tiga orang dengan mengenakan topeng sarung seperti ninja. Seorang di antaranya langsung membungkam mulut Sukar, seorang lagi merogoh seluruh saku di celana dan bajunya. Yang seorang lagi berjaga-jaga memantau keadaan di sekitar pos kamling sambil membawa sebilah golok. Namun, meski seluruh saku dan dompet dirogoh-rogoh, tiga garong itu tidak menemukan satu sen pun uang di saku Sukar.

“Sial, kita dibohongi. Menurut warga di sini, laki-laki yang tidur di pos kamling ini orang kaya raya, bahkan milioner. Kurang ajar, laki-laki gemuk ini tidak bawa uang!” ujar salah seorang garong itu.

“Jangan-jangan, kita dibohongi warga di sini. Atau, jangan-jangan orang ini gembel. Tubuhnya gemuk mungkin karena banyak makan angin,” ujar garong lainnya.

“Mungkin juga. Kita sudah ditipu. Ayo kabur,” ujar garong yang tubuhnya paling pendek.

Belum lagi kaki tiga garong itu melangkah pergi meninggalkan pos kamling, dari balik semak-semak tak jauh dari pos ronda, muncul segerombolan orang yang sudah siap dengan segala macam alat pemukul. Bukan hanya laki-laki, di antara gerombolan itu juga ada ibu-ibu dengan tangan mengepal. Bahkan, ada yang memegang batu seukuran bola plastik anak-anak. Mereka adalah warga desa. Mereka mencurigai gelagat tiga garong tersebut.

Kecurigaan warga ternyata benar. Melihat tubuh penyelamat desa itu digarong, warga langsung naik pitam. Wajah puluhan warga bertambah garang. Nyali tiga garong itu pun makin ciut. Sambil menelan ludah, seorang di antaranya mulai gemetaran. Garong yang memegang golok berusaha membela diri sambil mengacungkan goloknya. Warga makin geram. Tiga garong itu pelan-pelan melangkah mundur. Warga ramai-ramai menggertak, menyuruh tiga garong tersebut menyerah dan membuka topeng sarung yang mereka kenakan.

Namun, tiga garong itu tak mau menyerah, bahkan ikut menggertak dan berusaha menerobos kepungan warga. Tak mau tiga orang itu kabur, warga merangsek. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba puluhan warga tersebut menyerbu. Garong-garong itu berusaha melawan dan menangkis serangan warga. Batu dan alat pemukul lain melayang ke arah kepala garong-garong itu. Golok yang dipegang salah seorang garong tersebut terjatuh.

Warga makin beringas memukuli tiga orang itu hingga tubuh mereka babak belur. Tak lama kemudian, kepala desa, aparat desa, serta polisi datang dan berusaha melerai. Meski pengeroyokan itu dapat dilerai, tubuh mereka sudah babak belur. Mereka terkapar di tanah. Warga diminta bubar, lalu tiga garong itu diangkut ke puskesmas.

Anehnya, meski ada keributan di depan pos ronda, Sukar masih saja lelap tertidur. Keributan yang merusak keheningan malam itu seolah tidak pernah terjadi. Tubuhnya masih membujur hingga matahari terbit di ufuk timur. Warga yang semalam mengeroyok tiga garong di depan pos ronda bergegas melihat keadaannya. Mereka tercengang, tubuh Sukar masih terbujur dalam posisi tidak berubah. Cepat-cepat warga melapor kepada kepala desa. Beberapa warga lainnya mendatangi orang pintar. Mereka pikir, bisa jadi orang yang selama ini sangat dermawan di desanya itu kemasukan roh jahat.

Pos ronda di ujung jalan itu kembali ramai dikunjungi warga desa. Pak kepala desa dan pamong lainnya turut datang melihat kondisi kesehatan lelaki tersebut setelah dua hari tidak terbangun dari tidur. Orang pintar yang diundang warga tiba di pos kamling dengan didampingi pengikutnya.

Orang pintar yang dianggap hebat di desanya itu pun mempersiapkan upacara ritual dengan beberapa sesaji. Asap menebar di sekitar pos kamling. Paranormal tersebut komat-kamit, entah apa yang dilafalkannya. Semula, hanya beberapa orang yang menyaksikan orang pintar itu membangunkan Sukar.

Prosesi pengusiran roh jahat yang hinggap di tubuh Sukar berjalan selama lima jam. Selama itu, belum terlihat ada tanda-tanda sang dermawan desa akan terbangun dari tidurnya. Masyarakat makin ramai. Menjelang siang, orang-orang kian berjubel dan berdesakan. Melihat orang-orang kian banyak, orang pintar tersebut mulai khawatir pasien yang ditanganinya itu tidak bisa terbangun dari mimpinya. Gengsi dikatakan dukun kacangan, orang pintar tersebut mengeluarkan seluruh mantra yang dihafalnya. Namun, tubuh Sukar tetap tak bergeser sedikit pun.

“Sial, roh yang menunggangi bapak ini sangat kuat. Tapi, aku tidak akan menyerah. Nih, rasakan! Ciaaat!” ujar dukun itu sambil memukul-mukul tubuh Sukar dengan selendang. Hingga seluruh tubuhnya dipecut pakai selendang, sang dermawan tak bergerak sedikit pun.

“Ah, aku tak sanggup, aku tak sanggup! Setan apa yang melekat di tubuh orang gemuk ini. Aduh, aduh,” ujar si dukun sambil memegang dadanya lalu kabur menerobos kerumunan orang yang mengelilingi pos kamling.

Pak kepala desa, pamong desa, prajuru adat, dan puluhan warga di sana terkejut melihat kejadian itu. Mereka tidak menyangka dukun yang terbilang ampuh di desanya tersebut terbirit-birit, tidak mampu melawan tubuh Sukar yang amat gemuk itu.

“Bagaimana Pak Kades, apa yang kita lakukan sekarang?” ujar salah seorang tokoh masyarakat kepada kepala desa. “Kita sudah pakai segala cara, tapi tubuh Pak Sukar tidak juga bisa dibangunkan,” kata kepala desa.

“Bagaimana kalau kita panggil dokter atau ambulans,” saran warga lain.

“Ah, saya rasa percuma. Pak Sukar sepertinya hanya tidur biasa, tapi mungkin terlalu lelap. Jangankan diperiksa, diangkat saja tubuhnya tidak bisa. Aneh, memang aneh,” keluh kepala desa.

Seluruh warga terdiam.

Selang beberapa saat, muncul sesosok wanita membawa sebuah koper. Dia langsung memeluk tubuh Sukar. Puluhan warga yang mengerumuni pos kamling itu tercengang. Mereka tidak mencegah wanita itu masuk ke dalam kerumunan dan langsung memeluk tubuh sang dermawan. Tangisnya pecah. Air matanya mengalir. Pak kepala desa dan warga yang berada di sekeliling pos kamling hanya saling pandang.

“Mas, kenapa harus seperti ini? Lebih baik bangun supaya bisa melihat kenyataan di sekeliling kita. Kau harus berani, berani, jangan berhati lembek,” ujar wanita cantik itu sambil mengguncang-guncang tubuh gemuk sang dermawan.

Beberapa warga yang berkerumun di sekitar pos kamling hendak beranjak untuk menghadang wanita itu, mencegahnya mengguncang-guncang tubuh Sukar. Namun, keinginan sejumlah warga tersebut dicegah kepala desa.

Wanita itu lalu menciumnya dan memeluknya erat-erat. Dalam dekapan wanita itu, tiba-tiba Sukar terbangun dari tidur. Dia langsung tersenyum dan melambaikan tangan kepada seluruh warga yang berkerumun di sekitar pos kamling. Warga, kepala desa, dan aparat desa lain hanya terpaku melihat sang dermawan berpeluk mesra dengan seorang wanita cantik.

“Maaf, ini bukan istri saya,” ujar Sukar sambil menunjuk wanita cantik itu, yang masih saja memeluknya. (*)

.

.

Jembrana, Bali, 2012

.

.

Advertisements