Archive for April, 2012

Kuda
April 22, 2012


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 15 April 2012)

PEREMPUAN itu menyebutnya kuda. Maka ia merasa dirinya sebagai kuda berbulu putih, kuda yang biasa ditunggangi oleh tokoh utama dalam film-film koboi: agak jinak, tapi pada saatnya bisa berlari tak kenal letih untuk menopang sang penunggang yang harus menyelesaikan tugas berat menghabisi para perampok dan lelaki-lelaki kasar. Ia menyukai gambaran diri yang seperti itu. (more…)

Afrodit
April 17, 2012


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 15 April 2012)

IA melihat cahaya kemerahan. Ia melihat cahaya bergoyang goyang cepat, seolah sambar an lampu pijar. Cahaya yang merobek gelap, dan meninggalkan jejak. Cahaya yang menyorot ke kanan, dan kadang menghantam ke mukanya, menyisakan selaput katarak dalam noda-noda hitam. Kadang cahaya itu melambat, dan tinggal pendar-pendar kuning-limau atau jingga-pudar. (more…)

Pelajaran Bercinta
April 17, 2012


Cerpen Benny Arnas (Suara Merdeka, 15 April 2012)

Palung

Rinduku adalah dekap buku pada pembatas halaman, tepat pada bab perjumpaan paling dahsyat di dunia.

Aku sangat yakin kalau kau memiliki perasaan yang sama terhadapku walau mungkin kau memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkannya. Oh, jangan-jangan aku tengah tergores oleh tajamnya kata-kata penantian? Ya, aku masih ingat sekali kata-katamu dulu, tepat beberapa hari setelah kau menyatakan cinta kepadaku. Kau nyaris terluka oleh sebilah penantian yang kuasah. Kau juga tak cukup kuat diombang-ambing ketakpastian. Padahal aku hanya ingin menunjukkan, bahwa perjuangan memetik setangkai wijayakusuma yang mekar tak ada apa-apanya dibanding dengan ujian kesabaran menunggu kelopak-kelopaknya merekah di bawah bayang rembulan. Ah, rasanya aku terlalu berlebihan kala itu. Tapi, aku pikir, tidak apa-apa untuk mengetahui seberapa tangguhnya kamu—walau aku tak yakin kalau aku akan baik-baik saja bila kau meralat perasaanmu. (more…)

Tikus dan Kucing
April 17, 2012


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 15 April 2012)

SEPULANG bertugas dari luar kota, Marni, istriku, menyambut kedatanganku di depan pintu rumah dengan wajah gemas. “Pokoknya Mas mesti nyari kucing, sore ini juga!” (more…)

Nyai Sobir
April 17, 2012


Cerpen A Mustofa Bisri (Kompas, 15 April 2012)

RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.

Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum. (more…)

Haji Syiah
April 16, 2012


Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 8 April 2012)

KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Sebab, meski sesekali Sang Haji menyampaikan khotbah dan membahas hikmah, majelis itu lebih sering menjadi ajang bincang santai tentang banyak hal, tempat orang bertukar kata dan canda hingga larut malam. Tapi, sampai akhir kisah ini nanti, kegiatan itu akan tetap disebut demikian semata-mata demi memudahkan penceritaan. (more…)