Cerpen Sungging Raga (Suara Merdeka, 25 Maret 2012)

DI kota Norwich yang pendiam, orang-orang berjalan di sepanjang Carrow Road, menyaksikan bagaimana kehidupan begitu ringan seperti daun-daun mapel yang dilepaskan tangkainya, yang berserakan bersama biji-bijian yang dipungut paruh merpati. Tiang lampu yang ujungnya melengkung tertanam di sepanjang trotoar, disela oleh bangku-bangku yang saling berhadapan satu sama lain, seperti saling memandang namun tak mampu bercakap-cakap.

Kalau sedang beruntung, kadang kau akan melihat seorang gadis berjalan perlahan sambil menahan air matanya, dan kau akan yakin gadis itu datang kemari untuk sesuatu yang menjadi beban baginya, seperti rekonstruksi kenangan, atau sekadar meratapi betapa ia pernah begitu dekat dengan seseorang di sini, barangkali seorang lelaki yang dahulu selalu menemaninya berjalan-jalan sore hari di sepanjang Carrow Road, memandangi malam jatuh di atap pertokoan, memberi makan merpati, atau memainkan musik sebagaimana seorang lelaki tua yang duduk di salah satu sudut trotoar itu, yang terus melantunkan gitar dan setiap orang yang melewatinya kadang memberikan receh pada kaleng yang diletakkan di depan.

Begitulah kau akan memandang sebuah jalan, yang lebarnya sekitar empat meter, lebih didominasi oleh para pejalan kaki, hanya sesekali ada mobil melintas pelan, karena memang Carrow Road bukanlah jalan utama yang selalu ramai di pagi atau sore setelah pulang kerja.

“Datanglah ke Carrow Road, kita bisa bebas mencari kenangan di sana.”

Dan memang semua orang yang datang selalu bisa melakukan apa saja. Jika kau berjalan jauh ke selatan, akan ada bentangan tembok yang permukaannya terlukis oleh mural, coretan anak-anak muda Norwich yang seperti merekam sebuah kejadian, diorama, atau tahun di mana sesuatu yang penting pernah terjadi.
Di seberang tembok itu, ada pula sebuah taman kecil yang lengang, hanya baris pepohonan tempat orang-orang suka duduk bersandar, kadang sekeluarga menghampar tikar, kadang berpasangan, berbagi cerita-cerita, seperti roman.

“Aku mencintaimu dengan sepenuh kenangan.”

Di Carrow Road yang pendiam, kau tak akan pernah mengerti bagaimana seseorang bisa terseret oleh kenangan, merasakan kehilangan, atau sebaliknya, mengalami pertemuan-pertemuan tak terduga, perkenalan yang magis. Kadang seorang lelaki dan wanita yang awalnya asing kemudian menjadi akrab setelah berbincang-bincang di sebuah bangku, tentu bukan tanpa cela, barangkali memang ada perasaan disengaja. Betapa romantisnya pertemuan di sore yang steril di Carrow Road, ketika angin mengembus daun-daun dan membiarkannya beterbangan tanpa pernah tahu akan mendarat di mana, di situlah sebuah pertemuan bisa teramat gaib, ketika kita tak pernah menyangka siapa akan mengenal siapa, seorang lelaki akan mencintai siapa, seorang wanita akan merindukan siapa, karena jalanan ini telah membiarkan segalanya lewat, terjadi, dan membekas dengan sendirinya.

Di bangku-bangku yang berbaris antara tiang lampu itu, selalu terdengar sayup percakapan, atau sekadar lamunan, dua orang yang duduk menghadap toko-toko kecil di bagian barat. Sementara di belakang mereka adalah deretan pepohonan yang terus mempermainkan angin, membenturkan gerak udara pada satu ranting ke ranting lainnya. Ketika musim gugur dan musim dingin tiba, tak satu pun dari pepohonan Carrow Road itu memiliki daun, semuanya bersih, tinggal dahan dan ranting, batang yang menjulang tinggi, dan angin bebas merapat di sela-selanya. Saat salju turun dengan lebat, jalan itu pun akan tertutupi salju, dan selalu dibiarkan begitu, tak pernah ada mobil pembersih salju berjalan untuk menyingkirkannya dari tengah jalan. Semua dibiarkan begitu rupa, salju mencair perlahan, dan jalan itu kelak membersihkan dirinya sendiri.

Dan pada suhu rendah semacam itu orang-orang dengan mantel bulunya akan merayakan sesuatu. Ya, penduduk sekitar Carrow Road menyebutnya sebagai Hari Membungkus Kenangan.

Biasanya itu terjadi di akhir musim dingin, sekitar ujung Februari, saat langit mulai bebas dari butiran putih, kembali membiru dengan awan cerah dan sinar matahari yang cukup menyilaukan, tapi endapan salju masih tersebar merata di sekujur Carrow Road, bersama uap udara dingin yang membuat mereka tetap mengenakan jaket dan penutup kepala.

Di Hari Membungkus Kenangan, anak-anak muda menyatakan cinta mereka pada calon kekasihnya, di perayaan itu, para orang tua mengajak keluarga mereka untuk mengadakan pesta kecil di antara batang-batang pohon yang menjulang, di perayaan itu, sebuah rekreasi bisa saja terjadi, sebuah patah hati, sebuah cinta yang nyaris sedikit lagi, sebuah perpisahan yang tak tahu diri, bahkan sebuah kesunyian yang semakin pasti. Semua kenangan seakan meluap-luap, cerita demi cerita, perasaan yang awalnya menggumpal di tenggorokan, napas yang berkabut, semua meluap di sana. Anak-anak kecil menyatakan keinginan dan harapan pada orangtua mereka, para lelaki mengajak wanitanya untuk menjalani sebuah hubungan yang spesial, dan para seniman menangkap inspirasi tentang pohon-pohon yang membeku, yang hilang daun-daunnya, juga salju yang mulai menipis, hingga jejak-jejak kaki setiap orang ikut andil dalam melenyapkan butiran putih itu dari Carrow Road.

Dan di Hari Membungkus kenangan itu, kota Norwich tak lagi pendiam, Carrow Road menjadi hiruk-pikuk, tetapi kalau pun kau memutuskan untuk mengunjunginya tepat di hari itu, pastilah kau tetap menemukan orang-orang yang terasing, yang ditimpa kesunyian, yang tak punya sesuatu untuk dikatakan, tak punya kenangan untuk dibagikan, tak punya perasaan untuk ditampakkan. Dulunya pernah ada seorang kakek yang dengan tongkatnya selalu datang tepat di akhir Februari, kakek itu akan duduk di bangku selama beberapa jam, tak satu pun yang tahu kenangan apa yang ada dalam pikirannya. Di lain waktu ada pula seorang ibu yang pernah kehilangan anaknya di perayaan tersebut, dan selalu muncul di tempat itu pada setiap perayaan selanjutnya dengan harapan ia bisa melihat anaknya kembali. Dan kisah-kisah lain yang barangkali tak terlalu penting bagaimana akhirnya.

Sampai malam tiba dan lampu-lampu menyala di hari spesial itu, orang-orang masih berkumpul, sebagian memang sudah bersiap pulang, berjalan cukup jauh sampai ke ujung timur di mana mobil-mobil diparkir sejajar. Sebagian masih menikmati malam berkabut yang turun bersama hawa dingin, sebuah kencan yang dipaksakan mungkin, atau rehabilitasi kenangan yang gagal.

Lihatlah, kau akan menemukan potongan-potongan kisah di Carrow Road, kadang masih ada seorang gadis yang menyendiri di sebuah bangku, dan baru memandang sosoknya saja, kau bisa membuat sebuah cerita pendek untuknya, dan kau bisa saja kurang ajar dalam cerita pendek itu dengan memasukkan tokoh lelaki yang bukan sesuai harapan si gadis. Kau bisa pula mendekatinya untuk bertanya terlebih dahulu untuk apa gadis itu berlama-lama di Carrow Road, sementara malam kian tebal di permukaan jalan. Mungkin kau ingin mengorek sedikit tentang kehidupan gadis itu, yang dengannya akan kau ceritakan ulang seolah-olah gadis itu baru saja kau tinggalkan. Dan gadis itu mungkin akan merasa tertipu ketika suatu pagi ia membaca sebuah tulisan yang diam-diam mengisahkan dirinya.

Begitulah Carrow Road bisa merangkai sebuah melodrama picisan, dan jalan itu akan menjadi latarnya. Tetapi untuk sebungkus kenangan, pastilah seseorang rela menunggu momen apa saja terhampar di hadapannya, kadang sekadar memandangi merpati-merpati yang nekat mencari makan, kadang melihat anak kecil yang tersesat dari orangtuanya, kadang kau melihat seorang gadis yang seakan diutus kepadamu, seorang gadis yang berjalan sendirian, dan kau lihat ia seolah sedang menahan airmatanya. Lalu kau pun memberanikan diri untuk mendekat, mengajaknya duduk di sebuah bangku untuk berbincang sebentar, berkenalan, tertawa untuk beberapa canda yang keterlaluan, dan tentu semua itu bukan sebagai bahan menulis cerita, tetapi lebih kepada keyakinanmu bahwa Carrow Road, selalu bisa memberi kenangan pada siapa saja.

“Jadi, Anda tidak sedang mencari seseorang di sini,” tanyamu pada gadis itu.

“Tidak.”

“Mengenang seorang lelaki mungkin?”

“Tidak juga.”

“Membayangkan ingin bertemu sesuatu yang spesial?”

“Tidak.”

“Mengingat masa lalu?”

“Ah. Tidak. Tidak. Sudahlah. Anda ini seper tinya terlalu sering membayangkan kisah-kisah seperti itu. Saya di sini tidak sedang bersedih, saya tidak sedang mengenang sesuatu, saya tidak sedang ditinggal atau mencari siapa pun.”

“Lalu?”

“Saya hanya ingin bertemu malam yang dingin di Carrow Road. Itu saja.”

“Oya? Anda baru pertama kali ke sini?”

“Sering, tapi setiap kali saya menginjakkan kaki di jalan ini, saya selalu merasa baru kali pertama. Malam ini.”

“Hmm… Malam memang cerah sekali.”

“Benar. Dan saya tahu Anda akan bilang bahwa malam seperti ini sangat cerah untuk sebuah kehilangan, menunggu seseorang, dan semacamnya.”

Kau tertawa. Maka seperti itulah, kalian akan terus bercakap-cakap hingga pukul delapan, waktu memang selalu cepat menyingkir ketika ada dua orang yang larut dalam sebuah diorama perasaan, hingga lampu-lampu membiaskan kabut yang berpendar di udara, hawa dingin menurunkan garis merah pada dinding termometer. Orang-orang mulai pergi, kalian pun beranjak, berjalan beriringan meninggalkan Carrow Road yang berangsur lengang. Dan, sekarang, si gadis tampak malu-malu menggenggam tanganmu. Tapi, hei, hei, tak usah sampai salah tingkah begitu, wajahmu seperti orang yang tidak pernah merasakan genggaman tangan seorang gadis sebelumnya…. Lagipula, ini hanya sebuah cerita pendek yang kubuat khusus malam ini, anggap saja gadis itu adalah sebungkus kenangan terakhir di Februari tahun ini, sebungkus kenangan mengejutkan dariku—kota Norwich yang pendiam. Untukmu. (*)

.

.

Sungging Raga, mantan mahasiswa matematika Universitas Gadjah Mada. Banyak menulis fiksi.

.

.

Advertisements