Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 18 Maret 2012)

TEPAT tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau….

Laut tak sedang mendamparkan perahu Nuh ke kampung yang karena terlalu sunyi lebih mirip hiu tidur itu. Laut—dalam ketenangan musim kemarau—juga tidak sedang menebarkan kolera busuk ke tanjung tenang berpenghuni orang-orang yang teramat karib dengan lapar dan kemiskinan. Tetapi memang ada sembilan perahu yang merapat ke ujung tanjung tak jauh dari makam keramat. Sembilan perahu itu mengusung sembilan celeng milik Jamuri, juragan dari kota, yang dikawal oleh sembilan cempiang atau jagoan berseragam loreng-loreng.

Tentu tak ada seorang pun di kampung itu yang ingin beternak celeng. Tak juga tetua kampung, Kiai Siti. Apalagi Panglima Langit Abu Jenar, pemeluk teguh syariat, yang sangat mengharamkan binatang bertaring yang menjijikkan itu. Jamuri sangat tahu hutan bakau ini bukan habitat bagi babi-babi liar. Akan tetapi, ia harus menernakkan satwa 200 kilogram itu di hutan ini karena tak mungkin membiakkan hewan bermoncong panjang ini di kota.

Ada banyak alasan yang menyebabkan orang kota menolak pembiakan celeng di kawasan yang kini dipadati oleh mal dan gedung-gedung yang hendak menusuk langit itu. Mungkin saja, mereka tidak menyukai hewan yang bisa mencapai panjang hingga 1,8 meter ini karena tidak mau berurusan dengan sengatan bau yang menusuk hidung. Atau mereka menolak berdekatan dengan celeng karena satwa itu dianggap sebagai simbol kerakusan dan keserakahan. Namun, sesungguhnya mereka mengusir para celeng dari kota karena tak mau diseruduk oleh binatang digdaya itu. Jika mereka sampai diseruduk oleh hewan-hewan itu, ada semacam virus yang segera menyerang otak dan menyebabkan mereka merasa telah berubah menjadi celeng.

***

Semua itu bermula dari Ustad Rosyid, seorang yang dianggap paling suci di kota, pingsan setelah diseruduk celeng yang terlepas dari pusat pembiakan babi liar. Ketika siuman, dia menguik-nguik dan menyeruduk apa pun yang berada di sekitar. Kegemparan itu tentu saja menyebabkan orang-orang yang hendak shalat magrib di masjid kaget. Mereka terkejut bukan sekadar mendengar suara celeng dari mulut Ustad Rosyid, tetapi lelaki kencana itu bertingkah seperti babi liar. Ia mbrangkang dan siap menyeruduk jemaah shalat magrib. Tak pelak jemaah pun buyar. Mereka berlari ketakutan karena Ustad Rosyid benar-benar bertabiat seperti babi gila.

Sebenarnya tidak akan ada persoalan apa pun jika Ustad Rosyid tak menggigit salah seorang yang paling ringkih. Sebab begitu tergigit, sang korban tiba-tiba juga bertingkah serupa Ustad Rosyid. Ia bertabiat seperti babi liar. Ia juga berusaha menyeruduk siapa pun. Ia juga menggigit orang lain. Begitu seterusnya hingga ada sembilan orang yang bertingkah seperti celeng.

“Edan! Ini jelas virus sableng. Bagaimana mungkin dalam sekejap sembilan orang bertingkah seperti celeng?” kata seorang dokter.

Tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Wali Kota lebih memilih menangkap sembilan orang yang kerasukan virus celeng itu dan menjebloskan ke rumah sakit jiwa. “Hanya orang waras yang boleh tinggal di kota ini!”

Tak hanya itu. Sejak itu, Wali Kota juga melarang pembiakan celeng atau babi liar di kota. Spanduk, baliho, dan poster bertuliskan “Dilarang memelihara celeng!” serta “Bunuh seluruh celeng!” dipasang di mana-mana.

Akan tetapi Jamuri, pemilik pembiakan babi liar, tak tinggal diam. Merasa harus menyelamatkan celeng dari amuk manusia, dia berusaha mencari lahan yang masih memungkinkan dijadikan sebagai daerah hidup binatang-binatang itu. Tak ada tempat lain, dia akhirnya menemukan tanah kosong di ujung tanjung.

Karena itu, setelah membeli tanah dari Lurah Lantip—yang menyerobot tanah milik sebagian warga yang terusir ke tanah relokasi—Jamuri langsung mengusung tujuh celeng betina dan dua celeng jantan ke tanah yang sangat diberkahi oleh Allah ini.

Tetapi menggiring sembilan celeng ke ujung tanjung dan melintasi hutan bakau pada senja yang amis bukan perkara mudah. Jamuri dan para cempiang harus berjuang keras menghalau celeng agar tidak berlarian ke laut. Apalagi karena satwa-satwa asing itu jadi tontonan gadis kencur Kufah dan anak-anak kecil lain, perjalanan ke kandang agak terhambat.

Dan karena anak-anak kecil itu belum pernah melihat celeng, tak terhindarkan mereka ingin mengelus punggung atau sekadar memegang buntut. Ini membuat para cempiang dan Jamuri marah. Bukan hanya itu. Karena sebagian celeng betina itu sedang bunting, mereka merasa terganggu ketika anak-anak berusaha memegang perut dan puting. Tak pelak celeng-celeng itu pun mengasah taring dan menyeruduk anak-anak. Dengan spontan anak-anak berlari. Dengan spontan pula celeng-celeng mengejar mereka.

“Minggir! Minggir! Kalian bisa mampus kalau keseruduk!” teriak para cempiang hampir bersamaan.

Tetapi dasar anak-anak, tak satu pun yang mau menyingkir. Mereka malah ikut-ikutan menghalau para celeng dan mencoba membantu menggiring ke kandang. Anak-anak itu bersorak-sorak karena merasa mendapatkan mainan baru. Dalam bayangan mereka, sepanjang hari mereka akan bermain seruduk-kejar dengan celeng-celeng itu.

Kufah, misalnya, berharap bisa menunggang celeng-celeng ini, membelai taring-taringnya, dan sesekali memandikan hewan yang dia anggap lucu setengah mati itu. Jika diperbolehkan oleh Kiai Siti, dia bahkan rela tidur bersama celeng-celeng itu di kandang. Malah, Kufah juga yakin tepat tengah malam di kedua bahu celeng itu akan tumbuh sayap sehingga dia dan anak-anak kecil lain bisa menunggang celeng terbang mengelilingi hutan bakau dan mengajak bangau-bangau di kampung itu berkejaran di langit dalam cahaya bulan.

Ya, ya, di mata anak-anak, celeng adalah satwa kencana. Mainan yang indah dan sahabat tak terpisahkan. Dalam mimpi mereka, celeng-celeng itu adalah raja imut yang sama sekali tidak akan pernah menusukkan taring kepada satwa lunak bernama manusia.

“Kita sungguh-sungguh telah kedatangan hewan dari surga,” kata Kufah kepada anak-anak kecil lain.

***

Hanya, celeng-celeng itu bukan mainan untuk orang dewasa. Ketika seorang warga tahu dan mengabarkan betapa kampung mereka telah diserbu satwa-satwa bermoncong penuh lendir, terjadi kegemparan.

“Ini pasti hewan dari neraka!” bisik seseorang yang sebelumnya tidak pernah melihat celeng kepada Kiai Siti.

Tak ada reaksi yang berlebihan dari kiai santun ini. Dia justru bergegas ke masjid dan meminta warga segera menjalankan shalat magrib. Kiai Siti—yang telah berkali-kali melihat celeng dan tahu daging satwa itu haram jika dimakan—sebenarnya punya alasan untuk marah. Namun, dia memilih setelah shalat isya saja akan bertemu dengan Jamuri untuk membicarakan celeng-celeng itu.

“Allah tentu punya maksud mengapa Dia mengirim celeng-celeng itu ke sini…,” batin Kiai Siti.

Akan tetapi Rajab, pemuda pemberang yang pernah sekolah di Kota Wali, tak sabar menunggu shalat isya tiba. Menunda shalat magrib dia mengajak beberapa warga melabrak Jamuri.

Rajab—karena telah membaca begitu banyak buku perihal celeng—tak ingin kampung yang sangat dia cintai menjadi pemasok hewan yang dianggap sebagai paling rakus, suka mencuri, gemar kawin, dan selalu berisik itu. Dan lebih dari itu, Rajab tak ingin kampung di ujung tanjung ini, menjadi tempat pembiakan celeng. Dia khawatir celeng-celeng itu mendengus-dengus merapalkan semacam mantra pembunuh dan tepat tengah malam satwa-satwa yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan kicau bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau….

Jamuri tak tinggal diam. Dengan mengacung-acungkan parang, ia mengajak sembilan cempiang berbaju loreng meladeni perlawanan Rajab. Perkelahian pun tak terelakkan. Rajab dan warga yang tak bersenjata dengan cepat terusir. Meskipun terjadi adu pukul, magrib berlalu tanpa pertumpahan darah. Magrib berlalu dalam koor nguik sembilan celeng dan sorak-sorai cempiang berbaju loreng.

***

“Celeng-celeng itu akan mati kalau Allah tak menghendaki!” kata Kiai Siti sesaat setelah Rajab melaporkan segala yang dia alami kepada tetua kampung yang hampir-hampir tak pernah marah itu di masjid.

“Tetapi kita tetap saja harus menolak Jamuri membiakkan celeng di sini, Kiai. Di kota telah berkembang wabah celeng loreng. Siapa pun yang diseruduk celeng akan bertabiat seperti babi liar.”

“Kalau Allah tak menghendaki wabah itu datang, kampung kita akan aman….”

Rajab tentu saja tak terima mendengar penjelasan Kiai Siti. Ia mengira Kiai Siti telah disuap Jamuri sehingga berkesan membiarkan pembangunan pusat pembiakan celeng di kampung yang riuh oleh lantunan shalawat dan zikir itu.

Karena itu tanpa permisi dan tak jadi shalat isya, Rajab meninggalkan Kiai Siti. Pemberang yang khatam syariat agama dari Kota Wali ini berusaha mencari cara mengusir para celeng, cempiang, dan Jamuri dari tanah yang dia anggap paling suci ini.

***

“Kiai Siti telah jadi celeng! Ia tak layak jadi panutan kita lagi!” bisik Rajab kepada hampir semua laki-laki di kampung, suatu hari.

Dan, masya Allah, tak seorang pun merasa perlu menyangkal omongan Rajab. Mereka menyangka wabah yang mendera Ustad Rosyid—sebagaimana diceritakan Rajab pada penduduk—juga telah menyerang Kiai Siti.

“Jamuri ternyata juga celeng. Semalam aku melihat ia berubah jadi celeng. Mula-mula ia merangkak ke arahku…, kemudian mulutnya memanjang berubah jadi moncong berlendir yang menjijikkan…, dan tumbuh pula sepasang taring yang siap menghunjam perut siapa pun…,” Rajab berbisik dengan mulut yang lebih berbusa lagi.

Dan, masya Allah, tak seorang pun berhasrat mendebat perkataan sang pemberang yang merasa sedang melakukan pekerjaan agung untuk menyelamatkan kampung.

“Jadi tak ada alasan apa pun kita harus menyingkirkan Kiai Siti dan Jamuri. Kita harus mengenyahkan celeng-celeng itu dari kampung ini…. Ambil parang, celurit, linggis, bambu runcing, atau apa pun…. Kita serang mereka malam ini juga….”

Lalu malam itu juga Rajab membayangkan diri menjadi Hamzah (panglima perang pasukan Nabi Muhammad dalam Perang Uhud) yang mengomando pertempuran sengit melawan kemungkaran. Dengan bengis dia akan segera menghunjamkan linggis ke perut celeng-celeng itu… dengan bengis dia akan memburaikan usus hewan-hewan menjijikkan itu.

Sayang, pada saat sama Jamuri juga ingin menyingkirkan Rajab. Jamuri juga sudah menyusun strategi untuk menghilangkan sang pemberang dari kampung. Jamuri menjebak dan Rajab tak tahu sembilan celeng yang dikawal oleh sembilan cempiang telah mengepungnya malam itu. Mereka bersiap-siap menyeruduk dan menancapkan taring ganas ke tubuh rapuh Rajab yang tak berpelindung apa-apa itu. Dengan menyeruduk laki-laki pemberang, mereka ingin Rajab menjadi celeng pertama yang berasal dari kampung penuh harum zikir dan shalawat di kampung itu…. (*)

 .

.

Semarang, 4 September 2011

 .

Catatan:

Judul cerpen ini merupakan akronim dari celeng satu celeng semua. Ungkapan ini bertolak dari pergelaran wayang Ki Manteb Soedharsono berkolaborasi dengan Romo Sindhunata, Lengji Lengbeh (Celeng Siji Celeng Kabeh).

.

.

Advertisements