Sinden Ratu


Cerpen Amir Machmud NS (Suara Merdeka, 11 Maret 2012)

KATA, kata, dan kata menari-nari terangkai menjadi guratan perjalanan sejarah. Tentang bermacam macam orang dari sudut pandang, kedudukan, dan kepentingannya. Lembar-lembar daun lontar itu mewakili aneka sikap manusia. Dan, jadilah ia catatan kehidupan: tentang suatu hari dalam hidup seseorang, tentang pertanyaan-pertanyaan, kegelisahan, kegundahan, hingga kecemburuan.

Ya, akulah pencatat setiap kejadian di Istana Pati ini. Di helai-helai daun lontar, aku guritkan lembar sejarah yang mungkin terlipat sembunyi di balik catatan-catatan resmi keraton, luput dari gurit-gurit kidung para pujangga. Apalagi keraton Mataram pasti tak menyisakan sedikit pun bab dalam pararaton-nya tentang orang-orang Pati, kecuali hanya sikap mbangkang, mokong, atau mbalela [1] yang dianggap mengganggu ke-agungbinatara-an [2] Panembahan Senapati.

Demikianlah semua guritan pada berhelai-helai lontar itu kelak akan menjadi penyaksi perjalanan yang tak sedikit pun kulebihkan, kukurangi, kubesarkan, atau kukecilkan….

Maka bacalah kisah ini: tentang seorang sinden. Bukan sinden biasa.

Dia sinden kesayangan Kiai Penjawi, maka orang-orang di lingkungan kadipaten pun menyebutnya Sinden Ratu. Lebih dari julukan bermahkota itu, Surtini memang pantas jadi ratu para sinden. Kehebatannya diakui bukan hanya lantaran kemampuan pinunjul dalam dunia persindenan di Pesantenan, tetapi juga karisma, terutama berkat pembawaan, kecantikan, dan kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki pesinden atau perempuan umumnya.

Orang-orang di lingkungan dalam istana Pesantenan pun mudah menafsir mengapa Kiai Penjawi atau Ki Pragola Sepuh tidak menjatuhkan kareman [3] pada pesinden lain. Sinden Ratu punya semuanya.

Mudah pula diduga jika mata, telinga, dan mulut di seputar istana tergelitik untuk mengintip, menguping, dan ujungnya berbisik-bisik: apakah Surtini bertugas hanya sebagai pesinden yang nglelipur ati [4] ayahanda Sang Adipati dengan tembang-tembangnya? Pastilah Surtini tidak sekadar nyinden: kalau bukan selir, tentu lebih dari itu.

Semua menduga-duga ada rahasia apa di balik tirai peraduan Ki Pragola Sepuh. Keasyikan memperkirakan sesuatu yang tersembunyi, lalu memperbincangkannya, akhirnya menambah kuat keingintahuan. Dan, tembok-tembok istana menjadi seperti mata dan telinga, sehingga bisik-bisik itu pun pasti didengar oleh Ratu Sepuh. Juga tidak mungkin tak diketahui Nyai Adipati, Sang Permaisuri.

 .

Lontar Pertama

KI PRAGOLA SEPUH

Aku tahu dan paham mengapa banyak yang mempertanyakan kedekatanku dengan Sinden Surtini. Tetapi bagaimana harus menjelaskannya?

Tidak perlu. Tak ada yang perlu aku jelaskan. Biarlah ini menjadi urusanku sendiri. Ada urusan yang lebih penting ketimbang menanggapi, menjawab gunjingan-gunjingan itu.

Selalu kukatakan padanya, “Kamu tidak perlu menanggapi apa kata orang. Biarkan saja semuanya mengalir. Yang mencoba memasalahkanmu, itu urusanku.”

Bukankah mestinya semua tahu, sebagai Adipati Sepuh aku berhak memiliki selir, lebih dari satu, dua, bahkan tiga orang? Siapa mereka, perempuan yang sederajat dengan nasabku, seorang putri, atau seorang sinden, tak ada yang berhak mempersoalkan. Sinden juga kehormatan atas kemampuan yang tidak sembarang orang bisa meraihnya. Maka tak perlulah, dan hanya akan membuang-buang waktu jika aku terpancing menanggapi berbagai gunjingan tentang Sinden Surtini.

Sebagai yang paling dituakan di kadipaten, aku tidak mungkin lepas tangan sepenuhnya dari urusan-urusan kenegaraan, menangkap suara hati kawula [5] Pesantenan, ikut memberi arah bagi langkah-langkah dan kebijaksanaan putraku, Adipati Pragola dalam memimpin kadipaten ini.

Pati menjadi negeri yang makin ramai. Perniagaan dengan kadipaten-kadipaten di Bang Wetan [6] seperti Jipang, Bojonegoro, Pasuruan, dan Tuban memperkuat urat nadi penghidupan bagi para kawula. Aku bangga, Pragola Anom begitu bersemangat mengembangkan yang telah aku rintis untuk memajukan Pati setelah tanah ini diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya sebagai pengakuan atas peranku ketika Pajang mengalahkan Adipati Jipang Aria Penangsang.

Dengan caraku sendiri, sepengundurku sebagai Adipati aku merasa tetap harus mendampingi Pragola Anom, karena semangatnya yang meluap-luap itu membutuhkan topangan sikap bijaksana, terutama dalam menghadapi hubungan dengan Mataram yang terus berkembang. Semua orang tahu, Panembahan Senapati, putra Kakang Pemanahan yang sudah aku anggap keponakanku sendiri itu ternyata memandang lain kemajuan-kemajuan Pati. Kedekatan Pragola dengan adipati-adipati dari Bang Wetan dan para demang di seputar Pergunungan Kendeng tampaknya membuat Senapati atau orang-orang di sekelilingnya kurang berkenan. Jika Pragola sampai salah melangkah, Pati yang makin berkembang akan dipandang sebagai duri, dan bisa diperlakukan sebagai pembangkang.

Untuk menjaga urusan-urusan besar itu, aku tak mau diribetkan dengan keharusan menanggapi gunjingan kiri-kanan, orang-orang di dalam istana dan yang di luar sana. Ada saatnya, kapan harus membiarkan apa pun kata orang-orang di istana ini. Ada saatnya pula nanti mereka tahu semuanya secara terbuka, tak ada yang harus ditutup-tutupi….

 .

Lontar Kedua

SINDEN SURTINI

“Aku membutuhkanmu, Nduk.” Kalimat itulah yang kali pertama disampaikan Kiai Penjawi ketika aku dipanggil menghadap di bangsalnya. Seorang diri. Prajurit yang mengantarku menghadap diperintahkannya menunggu di luar ruang.

Malam telah beranjak ke dini hari. Dan, aku hanya mendengarkan wejangan [7], ceritera-ceritera, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuat jantungku berdebaran….

Malam berikutnya, disusul malam-malam setelahnya, Ki Pragola Sepuh tidak hanya mewejang, memintaku mendengarkannya, menjawab pertanyaan, menanggapi pendapatnya, tetapi juga selalu tidak lupa menutup pertemuan dengan tembang yang aku lantunkan.

Kiai Penjawi paling suka kidung-kidung tentang eloknya bumi Pati, hamparan perbukitan Patiayam yang hijau pekat seperti raksasa tidur, tentang impiannya mengenai kadipaten ini menjadi pusat penyatuan kegiatan bagi kadipaten-kadipaten di sekitar pegunungan Kendeng.

Selain suka menikmati tembang, kidungan, atau ura-ura [8], Kiai Penjawi sering pula memintaku melantunkan tembang tentang kegagahan para Pandawa di Padang Kurusetra dalam Bharatayudha, kepahlawanan Werkudara, Gatotkaca, Wisanggeni….

Para prajurit yang berjaga di luar pasti mendengar semuanya: lantunan kidung dan tembang-tembang; namun tentu tidak mendengar semua percakapan. Aku juga menjaga permintaan beliau untuk menyimpan semua pembicaraan kami. Semuanya.

Jadi apa yang diketahui dan tidak diketahui orang-orang tentang kedekatanku dengan Ki Pragola Sepuh?

Pastilah ada, dan pastilah prajurit jaga yang menjemput dari bangsal yang disediakan untukku di bagian luar istana kadipaten itu juga bertanya-tanya tentang kedatanganku, pembicaraanku, dan keberadaanku yang selalu sampai larut malam bersama Kiai Penjawi.

Ah, aku hanya menjalani semuanya. Aku menjalani takdir untuk berbakti, bukan untuk mendengarkan tatapan mata culas, lirikan iri, rerasan miring, atau cibiran penuh tanda tanya. Aku percaya sepenuhnya kepada Kia Penjawi.

Biarlah, apakah karena aku seorang sinden maka orang berpikiran apa saja mengenai kedekatanku dengan Ki Pragola Sepuh? Apa pun, aku menerimanya, karena inilah takdir untuk berbakti….

“Aku membutuhkanmu, Nduk….” Kalimat itu sangat menyugestiku.

 .

Lontar Ketiga

ADIPATI PRAGOLA

Sebenarnya aku sudah menangkap kegelisahan permaisuriku, Nyai Adipati dan kegalauan Ibunda Sepuh. Aku tahu pula kenapa: pasti karena berita-berita di seputar Sinden Surtini.

Secara tersirat, aku tahu Permaisuri dan Ibu Sepuh menginginkanku untuk meminta penjelasan kepada Ayahanda. Aku membaca tatapan mata keduanya, walaupun tak terbahasakan dengan kata-kata.

“Aku memahami pertanyaan itu,” kudahului apa yang pasti akan disampaikan oleh Permaisuri.

“Seisi istana tentu punya pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku, Kanda Adipati.”

“Aku mengerti pula mengapa Adinda menjadi gelisah.”

“Seisi istana tentu memahami mengapa aku gelisah, Kanda.”

“Karena sebutan Sinden Ratu itu?”

Berkilat mata permaisuriku. Aku bisa menangkap kegelisahannya, mungkin pula ketersinggungan, atau malah kemarahan, karena bukankah memang hanya ada seorang ratu di istana ini?

“Kanda Adipati lebih mengerti jawaban apa yang harus aku dapatkan.”

Aku tahu, Permaisuri tak akan mempersoalkan seorang sinden berada di Bangsal Kasepuhan [9], karena itu merupakan hak Ki Pragola Sepuh. Keterusikannya lebih karena sebagai perempuan ia merasa terganggu dengan sebutan Sinden Ratu untuk Surtini.

“Apakah Ibunda juga pernah menyinggung soal ini kepada Adinda?”

Permaisuri mengangguk. O, aku pun seharusnya memahami, Ibunda Ratu Sepuh lebih berhak tersinggun karena desas-desus itu. Apalagi ini menyangkut Ayahanda.

Rasanya aku membutuhkan jawaban, dan tidak menganggap pergunjingan di seputar istana ini sebagai hal kecil di tengah urusan-urusan besar kadipaten yang harus aku pikirkan.

Jadi bagaimana aku harus menjelaskan hubungan antara Ayahanda Penjawi dengan Sinden Surtini, sementara aku sendiri termasuk yang masih menduga-duga ada apa di balik kedekatan itu.

Aku laki-laki seperti Ayahanda. Kalau aku mencoba memahami persoalannya dari sudut itu, akankah Ibunda Ratu Sepuh dan Adinda Nyai Adipati bisa menerima sikapku?

Tetapi, bukankah aku seorang adipati?

 .

Lontar Keempat

IBUNDA RATU SEPUH

Kalau semua orang di istana ini membicarakan kedekatan Kakanda Pragola Sepuh dengan Sinden Surtini, pastilah mereka juga bertanya-tanya bagaimana sikapku, mengapa aku diam saja seolah-olah tidak menanggapi?

Padahal, seperti mereka yang menduga-duga, sebagai orang terdekat dengan Kakang Penjawi pun sebenarnya aku belum tahu ujung pangkal dari desas-desus ini.

Aku memang menunggu saat yang tepat untuk menanyakan kepada Kakang Penjawi. Aku tidak begitu saja percaya pada kecurigaan hubungan istimewa dengan Siden Surtini, tetapi bagaimanapun tentu ada alasan alasan yang harus dijelaskan untuk menjawab dugaan dugaan itu.

Bukankah seorang Adipati berhak menjalin hubungan dan dekat dengan siapa pun. Seorang purnawira Adipati juga sama, tak terkecuali Kakanda Penjawi. Tetapi walaupun tidak ada praduga apa pun, sangatlah wajar apabila aku menjadi tak enak hati. Rasanya tidak nyaman istana ini diliputi desas-desus yang belum jelas bentuknya seperti apa. Dan, apalagi bisik-bisik itu menyangkut orang terdekatku.

Barangkali akulah orang yang paling tahu siapa Kakanda Penjawi. Aku perempuan yang mengerti pemikiran dan sikapnya, dalam hal apa saja, termasuk dalam urusan hubungan laki-kali dan perempuan. Sulitlah aku memaknai perasaan ini: tersinggungkah, cemburukah aku karena kedekatan Kakanda dengan Surtini?

Kalau aku tidak menunjukkan kecemburuan, akankah orang mengira aku memberi jalan karena Kakanda Penjawi membutuhkan pendamping yang lebih segar?

Tetapi apakah pikiran seperti itu yang selama ini aku kenali dari kakanda Pragola Sepuh? Ah, mengapa aku ikut terseret ke lorong gelap yang ditumbuhi pertanyaan pertanyaan seperti mereka yang mempergunjingkan Kakanda Penjawi dan bertanya-tanya tentang sikapku?

 .

Lontar Kelima

PERMAISURI

Ah, bahkan Kakanda Adipati pun tidak menjelaskan secara terang bentuk hubungan seperti apa yang sebenarnya terjadi antara Ayahanda Pragola Sepuh dengan sinden itu. Kakanda hanya mengatakan, ia tahu aku membutuhkan jawaban. Kakanda juga mendengar Ibu Sepuh kurang menyukai berita-berita itu.

Apakah aku juga tidak menyukai Sinden Surtini?

Sebutan ratu itu, bagaimanapun cukup mengganggu karena cahaya perhatian keratuan di kalangan istana mestinya hanya tercurah kepadaku, Permaisuri, setidak-tidaknya untuk Ibu Suri.

Aku pernah menemui Ibu Sepuh, karena merasa Ibunda tentu lebih memahami mengapa Ayahanda Pragola Sepuh menganakemaskan seorang sinden melebihi pesinden-pesinden lainnya di lingkungan istana Pesantenan ini. Kedekatan yang bahkan menjadi bahan perbincangan di lingkungan keraton.

“Kalau kamu terganggu, Ibu tentu lebih terganggu, anakku,” jawab Ibu Sepuh.

“Masalahnya bukan hanya soal terganggu itu, Ibunda. Yang Ananda penasaran, daya pikat apa yang membuat Ayahanda Penjawi memperlakukan seorang sinden melebihi perlakuan yang sewajarnya.”

“Kamu memasalahkan sebutan ratu itu, Ibunda bisa memahami. Hanya ada seorang ratu di istana ini. Kamu, atau aku, dahulu. Surtini hanya ratu sinden, dan entah siapa yang mula-mula menyebutnya Sinden Ratu….”

“Ananda merasa perlu memastikan apakah Ibunda pernah membicarakan desas-desus itu dengan Ayahanda Pragola Sepuh?”

Ibu Suri menghela napas. Jawabannya sungguh mengejutkanku, “Ayahandamu seperti menyembunyikan sesuatu….”

Aku tidak berani mendesak lebih jauh, dan hanya berharap Kakanda Adipatilah yang akan menemukan kejelasan dari pertanyaan-pertanyaan itu.

 .

Lontar Kelima

TUMENGGUNG ALAP-ALAP

Perintah Patih Mangkubumi Kiai Mandaraka diterjemahkan oleh Kakang Tumenggung Wiraguna dengan memandang Kadipaten Pati bukan sekadar klilip [10] kecil bagi Mataram. Panembahan Senapati menduga Pragola sedang menghimpun kekuatan dengan kaki-kaki yang ditancapkan di kademangan-kademangan di seputar Gunung Kendeng. Pragola juga dianggap mencoba menarik kadipaten-kadipaten Bang Wetan lewat politik dagang untuk meramaikan Pati lalu membentuknya menjadi pusat wilayah yang kuat.

Pragola, Pragola…. Seharusnya dia tidak ingkar siapa Panembahan Senapati, yang mendapat restu langsung maupun tidak langsung dari Sultan Hadiwijaya di Pajang untuk membesarkan bumi Mataram. Keterlaluan kalau sekarang ia mulai jarang menghadiri paseban agung [11] di Kota Gede. Apakah Ki Pragola Sepuh tidak mampu lagi menasihatinya untuk tidak melakukan pembangkangan kepada Mataram?

Para telik sandi sudah aku sebar di simpul-simpul penting kadipaten ini. Aku, Tumenggung Alap-alap menjadi sraya [12] langsung Patih Mandaraka untuk memberikan penilaian tentang perkembangan kekuatan Pati. Kemajuan-kemajuan perniagaannya, sekaligus kemutakhiran kekuatan ketentaraannya.

Tidak salah kalau Kakang Wiraguna menyimpulkan Pati tengah mempersiapkan diri. Mungkin Pragola telah merasa kuat sekarang. Tetapi atas alasan apa maka ia tidak merasa cukup dengan keadaan kadipatennya, dari tanah perdikan menjadi kadipaten?

 .

Tancep Kayon

Inilah catatan terakhirku di lembar kelam akhir kejayaan Pati dan Adipati Pragola Anom. Lembar yang bisa diperkirakan tidak pernah tersimpan di kapustakan [13] Mataram.

Ketika desas-desus hubungan khusus antara Kiai Penjawi dengan Sinden Surtini makin menghangatkan keseharian istana kadipaten, ketegangan hubungan dengan Mataram makin membayang. Orang-orang Pesantenan mulai mendengar sikap Panembahan Senapati yang mengeras terhadap Adipati Pragola. Lingkaran dalam kedua istana saling menyebar telik sandi.

Adipati Pragola dianggap mbalela.

Pasukan Tumenggung Wiraguna mulai melancarkan serangan setelah beberapa kali upaya pendekatan yang dirahasiakan tidak membuahkan pemecahan. Pragola tidak bisa dipaksa datang ke paseban Mataram, karena memperkirakan ia hanya akan diperlakukan sebagai pemberontak dan dipermalukan. Di kalangan Pati dan Mataram sendiri tidak sedikit orang yang mengail di air keruh.

Perang pun tak terelakkan.

Dan, dalam sebuah pertempuran, Adipati Pragola terperangah menyaksikan di salah satu sayap pasukannya, seorang perempuan muda menempatkan diri sebagai lawan Tumenggung Alap-alap. Ia bergerak gesit bagai burung sikatan. Sepak terjangnya menyedot perhatian para prajurit dari kedua pasukan.

Pragola akhirnya mendapat penjelasan siapa perempuan yang menghebohkan istananya itu. Sinden Surtini! Namun, perempuan itu akhirnya tak kuasa menahan gempuran Tumenggung Alap-alap.

Ia tewas.

Kiai Penjawi menghela napas berat ketika menerima laporan kematian Sinden Ratu.

“Ia telik sandi andalanku,” desisnya.

Di tengah ketermanguan Kiai Penjawi, Ratu Sepuh menepuk pundak Permaisuri, “Dia memang bukan sinden biasa, anakku….”

Permaisuri mengangguk lemah. “Kakanda Adipati sudah menceriterakan semuanya. Sinden Surtini menjadi telik sandi utama, dan dialah yang memberi kabar awal tentang serbuan Mataram ini.”

Sorak-sorai pertempuran di perbatasan. Prajurit Pati berhasil mendesak pasukan Tumenggung Wiraguna, kocar-kacir, dan terpaksa mundur ke pos Kudus. Tetapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari, dan Pati tidak memiliki lagi prajurit seperti Surtini, si Sinden Ratu.

Tak ada lagi lembar lontar berikutnya. Aku tidak mencatat apa yang terjadi sesudah itu. Para pujangga Mataram punya catatan-catatannya sendiri tentang Pati…. (*)

 .

.

Genuk Indah, Oktober 2011

 .

Catatan:

[1] Mokong, mbalela: membangkang.

[2] Keagungbinataraan: keagungan/ kebesaran.

[3] Kareman: kesukaan.

[4] Nglelipur ati: menghibur hati.

[5] Kawula: rakyat.

[6] Bang Wetan: wilayah selatan.

[7] Wejangan: nasihat.

[8] Ura-ura: tembang bernada seloroh.

[9] Bangsal Kasepuhan: tempat tinggal orang-orang tua.

[10] Klilip: pengganggu.

[11] Paseban Agung: pertemuan besar.

[12] Sraya: utusan 13.

[13] Kapustakan: perpustakaan.

 .

Amir Machmud NS, wartawan senior, tinggal di Semarang, banyak menulis cerpen berlatar belakang sejarah di Suara Merdeka, Wawasan, dan Tabloid Cempaka.

.

.

2 Responses

  1. Suka sekali cerpennya, menarik meski sejarah diungkap namun tidak membsankan karena data yang terlalu banyak. Suka apalagi sejarahnya sekitaran daerah asal saya… menunggu episode selanjutnya

    Like

  2. Menarik juga cerpen ini, setidaknya bagi yang ingin tahu lebih banyak pribadi ki Penjawi dan lingkungannya (kami mengaku hubungan dengan beliau). Walaupun fiksi, saya merasa adanya momen, tokoh2, nuansa yg sebenarnya turut ditampikan dalam cerpen Amir Machmud ini. Terimakasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: