Archive for February, 2012

Buku Imajiner Tentang Sungai
February 22, 2012


Cerpen Muliadi Gf (Republika, 19 Februari 2012)

BUKALAH buku itu, Sahabat, dan kau akan menemukan sungai. Setelah halaman pertama, kita akan sampai ke halaman milik Om Amir. Bila hendak ke sungai, seperti dulu, kita harus melampaui halaman itu. Satu halaman penuh telah beliau isi dengan jambu mete, ubi, dan beberapa tanaman lain. Halaman itu lebih pantas kita sebut kebun. (more…)

Mbak Mendut
February 22, 2012


Cerpen Gunawan Maryanto (Koran Tempo, 19 Februari 2012)

DI jalan Bugisan Jogja dulu ada sebuah warung rokok. Kecil dan seadanya, berdiri di atas trotoar jalan. Sebuah warung berbentuk gerobak dengan dua roda sepeda gembos terpasang di kedua sisinya. Tak ada yang istimewa dari warung itu, tak beda dengan warung-warung rokok lainnya. Rokok yang dijual pun rokok biasa yang dengan mudah kaudapatkan di warung lainnya. Yang istimewa adalah penjualnya. Namanya Mendut. Aku memanggilnya Mbak Mendut. Asli pesisir katanya. Ia datang ke Jogja karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan dalam tanda kutip. (more…)

Moy Lian Ingin Jadi Selebriti
February 22, 2012


Cerpen Anna Prameswari Pramodhawardani (Suara Merdeka, 19 Februari 2012)

MENGGANTUNG matanya menatap rembulan sabit yang pucat di ketinggian. Perlahan, berarak jarak pandangnya menyelami pekat malam dengan binar matanya yang ingin mengadu. Sesaat, terdengar hela nafasnya. Berat, seakan berkisah tentang asanya, impiannya, yang hanya menggumpal sebagai angan, yang terus-menerus ia kejar, tapi tak kunjung mendekat, apalagi melekat. (more…)

Pemanggil Bidadari
February 22, 2012


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 19 Februari 2012)

KENANGAN itu seperti kotak-kotak kardus yang berserak. Seperti saat ini ketika kumasuki desa tempat Simbah Ibu tinggal.

Batu-batu jalan setapak seperti memuntahkan kembali rindu yang tiba-tiba mencuat seperti kancing yang lepas begitu saja dari baju seragam anak sekolah. Ketika kumasuki desa itu, malam mulai merapat pada warna jingga di cakrawala. Malam yang selalu menakutkan bagi anak-anak ketika ibu mereka memberi warna hitam pada sebuah hari di mana matahari sedang penat menampakkan cahayanya. Malam pada akhirnya selalu menjadi kutukan. Tak ada satu pun yang menyukai malam di desa itu, hanya Simbah Ibulah yang selalu menyukai waktu di mana semua pekat menjadi penguasa sebuah hari dan sunyi. (more…)

Lagu Tanglung Ungu
February 16, 2012


Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 12 Februari 2012)

GAMBIR tinggi di awang-awang. Orang datang dan pergi di antara jalur rel-rel yang bersirentang mendatangkan serta mesilalukan derap, yang sesaat berhenti untuk memuntahkan yang bersigegas turun atau menyedot orang-orang yang menekah naik. Dan di pagi itu: Aku menggeliat dari pegal, memilih kursi serta merokok—tidak peduli akan ancaman si perda anti- merokok sembarangan DKI Jakarta, karena inti perda itu bukan cuma melarang orang merokok , tapi memfasilitasi si orang yang sangat ingin merokok karena terbiasa merokok. Karenanya, orang bisa aman merokok dan bukan si paranoid takut didenda karena merokok. Menjadi sesuatu yang sangat bersiterang dan dilindungi, tak slinthutan seperti laku korupsi—dan selingkuh—, misalnya. (more…)

Cerita Campur-Aduk dari Pamanku
February 14, 2012


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 12 Februari 2012)

PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning sebab mata kakek terlihat menguning sebelum ajal. Ada pula yang menganggap sakit biri-biri karena sekujur badan penderita bengkak seperti biri-biri gemuk. Begitulah, untung tak dapat diraih, malang tak tertolak, kebersamaan kakek-nenek usailah sudah. Inti kalimat sedih sekaligus pasrah itu lekat dalam diri pamanku selamalamanya…. (more…)