Lelaki Tua dan Piano


Cerpen Ryan Rachman (Suara Merdeka, 26 Februari 2012)

DESEMBER yang dingin. Sore yang membosankan. Kuambil sweater yang tergantung di belakang pintu dan kuputuskan untuk keluar dari Manhattan Broadway Hotel. Kulangkahkan kaki menelusuri Broadway. Udara New York sore itu begitu menusuk sungsum tulang. Jalanan sepi. Salju sisa semalam masih menutupi jalan. Aku terus malangkahkan kakiku. Mataku mengembara memperhatikan burung-burung yang terbang berkejaran. Hidungku kembang kempis, memerah menghirup udara yang dingin.

Sesampai di First Avenue langkahku terhenti. Kuputuskan untuk masuk ke Caracas Arepa Bar. Sebuah bar dengan gaya latin tepatnya Venezuela. Aku duduk di meja deretan belakang. Mataku langsung tertuju ke atas panggung. Seorang lelaki negro tua sedang duduk menyanyikan “Song for George”-nya Eric Johnson, sebuah lagu berirama blues sambil memainkan piano di hadapannya.

Seorang pelayan wanita datang menghampiriku.

Good afternoon, Sir. Mau pesan apa?” Dengan logat Latin yang masih kentara sembari dia sodorkan daftar menu ke hadapanku.

Kubaca urutan menu satu per satu.

“Cappuccino,” sambil kusarahkan daftar menu kepadanya.

“Makanannya?”

“Kentang goreng saja.”

“Baik, tunggu sebentar, pesanan segera datang, permisi tuan.” Pelayan itu segera pergi meninggalkanku. Tak lama berselang, wanita Latin itu kembali menghampiriku dengan membawa nampan di tangan kirinya.

“Selamat menikmati, Tuan,” ucapnya sambil tersenyum.

Thank you,” sahutku. Lalu dia kembali ke tempatnya semula.

Sambil mendengarkan alunan musik, segera kunikmati minuman yang tersaji di depanku. Sedikit demi sedikit. Cappucino yang hangat masuk ke dalam perutku. Musik yang merdu. Namun dari merdunya musik itu dapat kurasakan jika lelaki tua itu sedang dilanda kesedihan yang luar biasa. Ya, dia sedang menyanyikan lagu sedih. Sebuah lagu yang menyayat. Seolah membuka kembali luka lama yang terpendam di dasar samudera. Aku ikut hanyut dalam nada-nada yang diciptakannya. Sementara tanganku yang satunya memasukkan kentang goreng yang masih hangat ke dalam mulutku satu per satu.

Kafe tampak sepi sore itu. Hanya beberapa orang tamu yang datang. Meja yang lain masih kosong tak berpenghuni. Seorang wanita duduk di meja paling depan. Dia masih muda dan cantik. Rambutnya yang keemasan tergerai jatuh hingga sebatas bahu. Diperhatikannya dengan penuh konsentrasi lelaki tua yang sedang bermain piano di hadapannya. Dia tampak menikmati alunan nada-nada yang keluar dari piano itu. Segelas Red Wine yang tergeletak di mejanya diraihnya lalu diseruput sedikit demi sedikit, lalu diletakkannya kembali ke tempat semula. Dan dia masih menikmati permainan orang tua itu.

Di meja tengah, tampak sepasang orang tua duduk berhadapan. Mereka sedang dilanda perasaan yang luar biasa bahagia. Mungkin mereka sedang merayakan hari jadinya yang ketiga puluh atau mungkin yang ketiga puluh lima. Ya, mengenang masa bercintanya dulu. Di kafe ini tiga puluh tahun yang lalu adalah kali pertama mereka merajut benang api cinta. Tepat pada hari ini. Kali ini aku tak tahu judul lagu apa yang dimainkannya.

Lagu pertama telah habis. Tepuk tangan pengunjung kafe pun menyambutnya. Ya, meski hanya beberapa tepuk tangan. Lelaki tua itu terdiam sebentar, lalu mengambil sebotol Martini di atas meja piano dan menuangkannya ke dalam gelas kaca lalu menenggaknya tanpa sisa. Diletakkannya kembali gelas itu ke tempat semula. Tak lama kemudian dia asyik kembali berkutat dengan tuts-tuts pianonya memainkan lagu kedua.

Mataku masih tertuju memperhatikan gerak-geriknya. Sesekali melayangkan pandangan ke sekelilingku lalu kembali ke titik semula. Mulutku berhenti bergerak mengunyah setelah makanan di hadapanku benar-benar tak tersisa. Kunyalakan sebatang Lucky Strike, kuhisap dalam-dalam, kusemburkan asapnya ke udara ruangan. Demikian dan kuulangi lagi seperti itu. Lalu kuseruput cappuccino dan kusisakan separuh. Tapi mataku tak lepas dari lelaki tua itu. Lelaki dengan raut wajah penuh dengan kesedihan.

Selang beberapa menit, lagu kedua berakhir juga. Tepuk tangan orang-orang yang ada di kafe itu pun pecah kembali. Tetapi hanya sebentar saja, lalu mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.

Laki-laki tua itu bangkit dari bangku pianonya. Agak sedikit gontai. Tiba-tiba matanya tertuju padaku. Lalu dilangkahkan kakinya ke arahku dan duduk di sebelahku.

“Hai, sepertinya kau bukan orang sini, baru pertama aku melihatmu di sini?” tanyanya.

“Ya, namaku Hartono, aku dari Indonesia,” jawabku.

“Oh, Snoop, Snoop Timberwood.”

“Permainanmu luar biasa, aku sangat menikmatinya.”

“Terima kasih, kalian orang Indonesia memang senang memuji.”

“Ya, seperti itulah kenyataannya,” jawabku singkat. “Kuamati kau selalu memainkan elegi. Bukan begitu?” tanyaku.

Dia diam agak lama.

“Yeah, memang,” tiba-tiba dia berkata dengan suara berat. “Aku teringat istriku, kedua lagu itu adalah lagu kenangan kami dulu,” lanjutnya. Dia menoleh ke arah meja pelayan. “Bawakan aku segelas Martini!” Teriaknya parau. Lalu matanya jelalatan mengawasi setiap pengunjung satu per satu. Tak lama kemudian pelayan cantik itu datang membawakan pesanannya. Tak menunggu lama, Martini di gelas kaca itu ditenggaknya.

Aku pun menyeruput cappuccinoku yang tinggal separuh namun tak kuhabiskan. Kusisakan buat nanti.

“Namanya Daisy Candlenight. Kami menikah lima puluh tiga tahun yang lalu. Dia berasal dari kota ini. Sedangkan aku berasal dari North Carolina. Aku dipindahtugaskan oleh departemen kepolisian di sini setelah lulus akademi kepolisian. Di kafe inilah pertama kali kami bertemu. Di bangku yang kita duduki sekarang. Waktu itu dia sedang duduk termenung sendiri. Dia mengenakan blouse lengan panjang warna biru muda. Bandana dengan warna yang sama menghiasi kepalanya. Rambutnya diikat menjadi dua.”

Aku memperhatikannya dengan saksama. Sebenarnya aku merasa heran. Kami berkenalan baru beberapa menit lalu, bahkan tidak lebih lama dibanding cengan umur cappuccino yang kupesan, namun sepertinya dia hendak menceritakan kisah hidupnya kepadaku tanpa merasa curiga. Tapi apa boleh buat, sepertinya kisahya akan menarik.

“Lalu apa yang terjadi dengan istrimu sekarang?”

Dia terdiam. Sambil mengambil satu batang rokok yang tergeletak di atas meja, dia berucap, “May I?” Belum sempat aku menjawabnya, dia sudah menaruh di mulutnya dan menyalakannya.

“Tiga tahun yang lalu. New York City. Kami sedang berkencan merayakan pernikahan kami yang ke lima puluh. Siang itu, kami baru jalan-jalan. Entah kenapa ia ingin sekali berfoto di depan World Trade Center. Belum lengkap rasanya jika jalan-jalan ke New York jika tidak berfoto di depan gedung kembar yang megah itu, katanya. Padahal sudah sering dia berfoto di depan gedung pencakar langit. Yah, demi istri tercinta aku pun menurutinya. Dia berdiri di depan gedung itu dan aku yang mengambil gambarnya. Belum sempat aku mengambil gambar, tiba-tiba sebuah pesawat datang dan menabrak gedung itu, dan… dengan suara berat… dan dia tertimpa reruntuhan gedung itu.” Snoop tak dapat membendung air matanya.

“Dia meninggal tepat di depan mataku. Aku melihat ketakutan di raut wajahnya.” Snoop mengusap air matanya dengan kedua telapak tangan nya.

“Andai saja waktu itu aku tak menuruti keinginannya, pasti kejadiannya tidak akan seperti itu. Aku memang bodoh,” lanjutnya.

Aku dapat merasakan kesedihan yang mendalam dalam hati Snoop. Aku pun tak kuasa untuk ikut menitikkan air mata.

“Maafkan aku Snoop. Aku tak tahu jika yang kau alami begitu menyedihkan.”

“Tak apa.”

“Sudahlah Snoop, semuanya telah terjadi. Lagi pula itu bukanlah kesalahanmu. Semuanya telah digariskan oleh Tuhan. Tak perlu kau menyesalinya,” hiburku.

“Ya, semuanya memang telah digariskan,” timpalnya.

Tiba-tiba dia bangkit dari tempat duduknya.

“Malam sudah larut, sebaiknya aku pulang. Terima kasih orang Indonesia, terima kasih karena kau telah mau mendengarkan ceritaku dan mendengarkan lagu yang kumainkan tadi,” katanya.

“Sama-sama.”

See you. Good night.”

Good night.”

Dia segera keluar dari kafe itu. Aku pun segera menyeruput cappuccinoku yang sudah dingin lalu kupanggil pelayan dan membayar makanan yang kumakan tadi. Segera aku bangkit dari tempat dudukku dan keluar dari kafe itu. Udara dingin begitu menusuk tulangku. Kupercepat langkahku menuju ke hotel tempat aku menginap. Langit Desember malam ini begitu cerah namun tak secerah hati Snoop, lelaki tua dengan piano yang bersamaku tadi. (*)

 .

.

Ryan Rachman, lahir di Kebumen, 12 Januari 1985. Anak pertama dari bapak pembuat batu nisan dan ibu guru SD. Tulisannya pernah dimuat di beberapa surat kabar lokal maupun nasional. Antologi puisinya yang sudah terbit, Makan Malam, Belajar Menulis Sajak Cinta dan Senandung Kupu-Kupu. Antologi cerpennya Cerita Menjelang Subuh tengah dalam proses penerbitan. Kini bekerja sebagai wartawan Suara Merdeka dan dosen luar biasa di Jurusan Ilmu Budaya, FISIP Unsoed, Purwokerto. Sekarang tinggal di Purbalingga.

.

.

One Response

  1. Congrat rYan…!
    Baru ya…? he he.. Tapi seperti pernah baca di mana…?? Atau memang cerita tentang kafe cenderung seragam… Modernitas.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: