Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 26 Februari 2012)

DINI hari. Sisa ketegangan masih melekat di setiap sudut benteng, menghadirkan rasa sesak yang menekan dari segala arah. Sesekali aroma busuk air Kali Besar tercium, bergantian dengan bau barang terbakar. Ingin sekali aku berendam telanjang di dalam bak mandi setelah enam jam berteriak memberi komando serta melepaskan tembakan.

Para pemberontak Tionghoa itu bukan lawan sembarangan. Jumlah mereka besar, pandai bersiasat pula. Sejak pukul sembilan, mereka menggedor semua pintu masuk. Tetapi benteng Batavia tetaplah masih yang terkuat, asalkan seluruh pasukan memiliki disiplin tinggi, serta mampu menjaga keutuhan delapan belas meriam yang dipasang di seputar benteng. Sangat melegakan bahwa tengah malam tadi, mereka berhasil kami pukul mundur.

Kulepas pandangan ke sekeliling benteng sekali lagi: Di pintu besar selatan, para prajurit tampak terduduk letih setelah berhasil memadamkan tenda peleton yang terbakar hebat sejam yang lalu. Agak ke kanan, di kanal-kanal seputar benteng, sederet sampan berisi tiga atau lima musketier masih bersiaga sebagai lapis kedua bila gerbang bobol. Dan akhirnya, paling belakang, di antara atap rumah penduduk, terlihat siluet menara Balai Kota, bersisian dengan kubah gereja Niuwehollandsche, seakan berlomba memberi peneguhan bahwa kami masih berkuasa penuh atas kota ini. Ya, semua tampak beres. Aku bisa tidur sebentar. Tentunya setelah memenuhi panggilan atasanku, Kapten Jan Twijfels.

Aku tak pernah menyembunyikan kekagumanku pada Kapten Twijfels. Dua puluh tahun lalu, pada usia 18, ia sudah memperoleh bintang penghargaan karena tetap bertahan di pos meski luka parah dalam perang Sepanjang, melawan laskar gabungan Surabaya dan Bali. Soal moral, ia sepaham denganku: anti pergundikan. Istrinya orang Belanda. Diboyong ke Jawa bersama kedua anaknya yang masih kecil. Sebagai anggota dewan, suaranya juga cukup didengar.

 .

BEGITU pintu tenda tersibak, terlihatlah sosoknya. Tinggi langsing, duduk tanpa wig menghadap sebuah meja yang sarat berkas laporan. Seragam militernya lusuh. Terlebih jabot putihnya yang tak lagi terkancing rapi. Di lantai, terserak pedang, pistol, serta kantung mesiu, seolah dilempar begitu saja dari bahu.

“Letnan Goedaerd,” Kapten Twijfels menyorongkan botol dan gelas pendek. “Seteguk arak Cina untuk kemenangan kita?” suaranya terdengar serak.

“Arak pada pukul satu pagi?” aku terkekeh sambil menarik kursi. “Hasil memeras, atau upeti dari Kapten Nie Hoe Kong lagi?”

“Apa bedanya?” Kapten Twijfels mengangkat bahu.” Minumlah. Selain cukup enak, topik yang sebentar lagi kubicarakan denganmu memerlukan ramuan penguat jiwa semacam ini.”

“Anda membuatku gelisah.” Kuisi seperempat bagian gelasku dengan arak. Kutandaskan sekali teguk. “Apakah ini tentang penduduk Tionghoa yang ada di dalam benteng, Kapten? Telah kami umumkan, bahwa sejak tadi pagi, 8 Oktober 1740, penduduk Tionghoa dilarang pergi ke luar benteng. Dan setelah pukul 18.30, semua harus tinggal di rumah, tanpa lampu, serta secepatnya menyerahkan segala senjata kepada petugas. Tak ada perayaan Imlek tahun ini.”

“Baguslah itu,” Kapten Twijfels bangkit dari kursi, berjalan dengan tangan terkait ke belakang. “Nah, meski berkaitan dengan orang Tionghoa, bukan itu tujuanku memanggilmu.”

“Bacalah,” Kapten menunjuk tumpukan kertas. “Kerusuhan semakin meluas sejak letusan pertama di bulan Februari, sementara kontak fisik di banyak tempat justru semakin memberi gambaran suram tentang kemampuan kita mengelola konflik ini. Akhir September lalu, pos de Qual di Bekasi diserang oleh lima ratus orang. Tanggal 7 Oktober kemarin, penjagaan di Dientspoort, serta pasukan yang dikirim ke Tangerang juga diserang. Dua perwira berikut empat belas tentara tewas.”

“Mengamati semua ini, kekhawatiran Gubernur Jenderal bahwa penduduk Tionghoa yang ada di dalam benteng akan terhasut dan bangkit melawan kita, kiranya bukan omong kosong,” lanjut Kapten Twijfels. “Apalagi Nie Hoe Kong ini tidak becus menjadi Kapten Cina. Tak punya wibawa mengatur warganya. Aku bahkan curiga, dia di belakang ini semua. Bukankah pemberontakan ini bermula dari persekongkolan buruh tebu miliknya?”

“Ya,” kataku. “Hanya saja, akhir-akhir ini aku sering berpikir, bagaimana semua ini bisa terjadi? Hubungan kita dengan mereka cukup akrab di masa lalu, bukan?” kuamati piring makan Kapten yang terbuat dari keramik biru dengan motif naga api.

“Tionghoa. Mereka menguasai segalanya sejak kota ini berdiri seratus tahun lalu. Coba, sebut satu saja pekerjaan yang tidak mereka pegang. Tentunya di luar struktur pegawai pemerintah,” Kapten Twijfels memburu mataku. “Pandai besi, penyuling arak, tukang sepatu, tukang roti, bandar judi, rentenir, penarik pajak, mandor gula. Dan semua mereka kerjakan dengan sempurna. Membuat orang-orang kita tampak seperti pecundang bodoh.”

“Lalu, kesuksesan mengelola pabrik gula memicu kedatangan sanak-saudara mereka dari Tiongkok.” Kapten meraih pipa dari atas meja, menjejalkan tembakau, lalu menyulut api.

“Para pendatang baru ini rata-rata tak punya keahlian. Saat industri gula bangkrut, mereka berkeliaran di jalan, menambah jumlah orang jahat,” lanjut Kapten sambil membebaskan sekumpulan asap dari bibirnya. “Kita memerlukan mereka untuk memutar roda ekonomi, tetapi tentunya kewajiban kita juga untuk menyingkirkan sampah dari kota. Sepakat, Letnan?”

Aku mengangkat alis. “Mereka menghasilkan uang. Tetapi uangnya masuk ke saku pribadi para pegawai pemerintah. Kas negara terlantar, sementara para oknum hidup mewah. Bertahun-tahun seperti itu. Dan kini kita ingin para Tionghoa ini pergi, karena tak sanggup lagi bersaing dengan mereka, yang tetap bertahan walau sudah kita jegal dengan aneka pajak serta surat izin tinggal.”

“Kau hendak mengatakan bahwa semua salah kita?”

“Hanya mencoba melihat sisi lain,” aku menggaruk kepala. “Simpul masalahnya rumit dan telah mengeras, tetapi bisa kita cari di sebelah mana simpul itu mulai tersangkut. Kalau kekusutan ada di sisi dalam, mengapa repot mengurai yang ada di luar?”

“Bisa diperjelas?”

“Hei, Kapten,” aku tertawa. “Anda mencecarku?”

“Hanya ingin tahu pendapat pribadimu.”

“Aku sudah mengatakannya, bukan?”

Kapten Twijfels mengurut dahi. “Agaknya catatan kepribadian dari mantan atasanmu benar.”

“Apakah itu berarti aku masuk kualifikasi tugas yang akan Anda berikan?”

“Sudut pandangmu agak berbeda. Tapi tak masalah.”

“Aku tersesat dalam pembicaraan ini, Kapten.”

“Baiklah. Kembali ke topik awal. Kalau memang ini salah kita, menurutmu siapa yang paling bertanggung jawab?”

“Tentunya pejabat tertinggi di Hindia Timur.”

“Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier?”

“Anda baru saja menyebut namanya,” aku mengangguk.

Kapten Twijfels lama terdiam, dan masih memerlukan sedikit waktu lagi untuk meneguk sisa arak dalam gelasnya sebelum kembali duduk di kursi.

“Sejujurnya aku tak ingin menyertakanmu, Letnan, tetapi karena kau yang terbaik di dalam kesatuanku, dan demi keselamatan jiwamu juga….” Kapten tidak melanjutkan kalimatnya, melainkan menyodorkan sehelai poster.

“Kenal ini?” Kapten Twijfels menyentuh gambar di poster.

“Aku bersalaman dengan beliau saat parade tahun baru kemarin,” sahutku. “Tapi apa hubungan Gustaaf Willem von Imhoff dengan keselamatan jiwaku?”

“Letnan, kita ada di tengah pertempuran dua raksasa. Bukan semata melawan pemberontak Tionghoa,” bisik Kapten Twijfels. “Dua raksasa: Kubu Valckenier melawan von Imhoff. Perseteruan yang sudah dimulai sejak pemilihan gubernur jenderal baru pengganti Abraham Patras.”

“Oh, aku tak tahu itu. Apakah von Imhoff terang-terangan menjegal Valckenier?”

“Kubu von Imhoff sudah memenangi opini umum di seluruh Dewan Hindia. Entah mengapa, akhirnya yang ditetapkan menjadi gubernur jenderal adalah Valckenier.”

“Sejak itu, von Imhoff, yang menjadi wakil sekaligus penasihat gubernur jenderal, menghujani Valckenier dengan aneka tuduhan yang harus dipertanggungjawabkan selaku pemimpin tertinggi. Mulai dari kekalahan persaingan dengan EIC, korupsi, kesalahan kuota ekspor gula, serta praktik penjualan surat izin tinggal para Tionghoa baru-baru ini. Valckenier balas menyebut von Imhoff sebagai orang yang tidak tegas, lemah, dan plin-plan.”

“Siapa yang lebih layak dipercaya?”

“Nanti kita akan tiba di titik itu juga, Letnan.”

“Dan kaitannya denganku?”

Mata Kapten Twijfels tampak redup saat bertukar tatap denganku.

“Suatu kelompok rahasia yang berdiri di belakang Valckenier menghubungiku minggu lalu. Minta agar kesatuan elit kita membantu. Kau mendapat kehormatan untuk melaksanakannya,” Kapten Twijfels meraih pistol dari lantai, menaruhnya di meja, kemudian memutarnya, sehingga gagangnya menghadap ke arahku. “Lenyapkan Baron von Imhoff.”

Aku terlonjak, nyaris jatuh dari kursi.

“Gila. Mengapa harus dilenyapkan, dan mengapa aku?”

“Mereka memberi perintah. Kita alat mereka.”

 .

KAPTEN Twijfels kembali menuang arak. Kali ini hampir memenuhi gelas. “Soal mengapa kau yang terpilih, sebaiknya dengarkan dulu hal-hal baik yang akan kauterima,” katanya. “Pertama, kau tak sendirian. Ada tiga orang dari kesatuan elit lain yang akan membantu. Maaf, aku hanya tahu nama palsu mereka: Letnan Jan de Zon, Sersan van Ster, dan Sersan Maan. Kedua, identitas kita dilindungi secara maksimal. Ketiga, pukul sepuluh pagi nanti, ada kurir yang akan mengantar bingkisan upah ke rumahmu. Jumlahnya cukup untuk membeli sebidang tanah kelas menengah di Tangerang. Setelah tugas selesai, kiriman dalam jumlah sama kembali diantar, ditambah bonus tiga puluh persen.”

Aku menggeleng. “Perlu satu detasemen dan latihan seminggu penuh untuk melaksanakannya.”

“Tak ada waktu. Walau demikian, satu kompi tentara elit bayangan telah disiapkan untuk berangkat ke lokasi. Mereka para loyalis Valckenier. Sudah diatur untuk tutup mulut.” Kapten Twijfels mengepulkan asap terakhir sebelum membuang abu dari pipa.

“Ke lokasi mana?”

Kapten menunjuk satu titik pada peta di dinding. “Tenabang!” serunya. “Tanggal 5 Oktober kemarin, von Imhoff bersama sejumlah pasukan di bawah Letnan Hermanus van Suchtelen dan Kapten Jan van Oosten pergi ke Tenabang, menemui Tan Wan Soey, salah seorang pemimpin pemberontak. Valckenier menduga, perundingan akan sia-sia. Von Imhoff sendiri sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk, bahkan telah berpesan agar bantuan tentara dipercepat, karena enam pucuk meriam yang dibawa kuli dari Batavia, hilang di sawah bersama kotak amunisinya. Tentu ia tak menyadari, bahwa keteledoran para kuli itu bukan tanpa sebab.”

“Diatur dari sini?” tanyaku ragu. Jauh di lubuk hati, aku merasa seperti tikus tolol yang terperangkap.

Kapten mengangguk. “Letnan, di Batavia kita hidup bagai di negeri dongeng. Orang yang datang dari Belanda sebagai pemerah susu, di sini mendadak kaya raya, masuk ke dalam lingkaran berpengaruh. Tetapi kita harus siap menghadapi kebalikannya: Bintang yang semula bersinar di ketinggian, bisa saja jatuh ke dalam permainan gila para penguasa.”

“Bagaimana bila tugas ini kutolak?”

Kapten Twijfels melepas  jabot, lalu membuangnya ke lantai.

“Istrimu kelahiran Friesland, Letnan? Berapa usia anakmu? Kurasa lebih kecil dari anakku. Kau baru menikah tiga tahun lalu, bukan? O, ya. Cicilan rumahmu sudah jatuh tempo, apakah akan kauulur lagi?”

“Bajingan! Jangan sentuh anak-istriku!” kuterkam leher Kapten Twijfels. Tetapi pria itu lebih gesit. Ia melompat mundur sambil meraih pistol, lalu menodongkannya kepadaku.

“Tenang, Letnan. Apa kaukira aku bebas dari ancaman semacam itu? Mereka bahkan sudah tiga kali menjumpai anak-istriku. Pikirkan, seperti apa hidupku? Seorang pahlawan terhormat, ditekan tanpa bisa berbuat banyak. Aku telah melewati masa-masa gundah dengan pikiran sehat seperti dirimu. Di benakku kini hanya ada satu hal: Sesegera mungkin menyelesaikan tugas ini. Aku ingin tenang, menikmati hari tua bersama keluarga.”

Aku lunglai. Semua yang kujalani sebelum titik ini, termasuk pemujaanku terhadap Kapten Twijfels mendadak sirna. “Katakan rencanamu,” akhirnya aku pasrah.

“Maafkan aku, Letnan.” Kapten Twijfels menurunkan pistolnya. “Pulanglah. Biar kuurus yang di sini. Pukul tiga sore nanti, bersiaplah di depan Toko Oen. Lupakan seragam militer, juga kudamu. Dan ikatkan ini di lengan kiri.” Kapten melempar pita putih. “Seseorang beruluk sandi ‘bintang jatuh’ akan menjemput. Jawablah: ‘Cahayanya telah pudar’. Ia akan membawamu menemui pasukan bayangan di Jati Pulo.”

“Lalu malamnya, Letnan de Zon akan menemui von Imhoff. Kau dan kedua sersan siap di tiga titik tak jauh dari mereka. Seorang tentara akan melakukan provokasi agar orang Tionghoa menyerang. Dengan dalih perlindungan, Letnan de Zon akan memisahkan von Imhoff dari pasukan asli, lalu membawanya mundur bersama pasukan bayangan melewati koordinatmu. Itulah saat malaikat maut menjemput. Tembakanmu harus dari arah belakang, seolah dilepaskan musuh. Kalau meleset, masih ada dua sersanmu. Selamat bertugas. Nama palsumu: Hendriek van Aarde. Dokumen telah siap di sana.”

 .

AKU membisu, dan terus membisu setiba di rumah. Kupandangi istri serta anakku yang tergolek pulas. Kuberi mereka kecupan di dahi. Kusesali karierku. Kusesali kemampuan militerku yang jauh di atas rekan-rekanku, sehingga membuat diriku mudah terlihat, kemudian disalahgunakan oleh penguasa. Ya, aku, Jacob Maurits Goedaerd, bukan lagi prajurit. Aku pembunuh bayaran. Lebih rendah daripada perampok. Perampok menatap mata korbannya, sedang aku menembak dari belakang. Tetapi bonus itu mungkin bisa menebus dosaku. Aku akan keluar dari dinas, memulai hidup baru. Entah apa. Kuamati gerak pendulum jam di sudut kamar sampai terlelap.

Pukul dua tiga puluh. Setelah tadi pagi membohongi keluargaku soal bonus yang kuterima dari kurir, kini aku telah berdiri di depan Toko Oen, di tepi jalan Kali Besar Barat, dekat jembatan. Di bahu kanan, terbungkus rapi senapan pemberian Kapten Twijfels. Modifikasi dari donderbusche, dengan butiran peluru tembaga. Biasa digunakan oleh pemberontak Tionghoa. Tentu saja ini bagian dari rencana kami.

Satu jam berlalu. Di tepi jalan, kedai kudapan sore mulai digelar, menebar aroma, menggugah selera. Mana jahanam itu? Kulirik lenganku. Kupastikan bahwa pita putih itu terlihat dari jarak jauh. Namun hingga pukul empat tiga puluh tak ada yang datang.

Kuputuskan mengisi perut dahulu di sebuah kedai bebek panggang di sisi kanan jembatan, dekat pasar ikan. Pemilik sekaligus juru masaknya seorang wanita Tionghoa tua, dibantu anak lelakinya. Wajah mereka menyimpan kegelisahan. Pasti mereka telah mendengar perihal pertempuran kami kemarin malam. Orang-orang ini memang serbasalah. Tinggal bersama kami, pasti diperas habis. Sementara bila memilih keluar dari benteng, mereka akan dipaksa bergabung dengan gerombolan pemberontak.

“Sore, Heer,” kusapa orang yang duduk di sebelahku. Ia seorang Belanda juga. Mungkin opsir yang sedang cuti. Tubuhnya tambun, membuat hulu pedang di pinggangnya nyaris tak terlihat. Porsi makannya banyak, sehingga belum juga ia rampung saat aku beranjak ke tempatku semula.

Aku enggan berdiri seperti tadi. Jadi, kupinjam bangku kedai untuk duduk. Saat itulah tiba-tiba terdengar beberapa ledakan meriam, disusul suara-suara yang semula tak begitu jelas. Semakin lama semakin nyata. Itu jeritan manusia. Keras dan memilukan.

Tak lama, bagai air bah, ratusan orang Tionghoa tumpah memenuhi jalan raya Kali Besar, Tijgersgracht, Jonkersgracht, bahkan hingga ke lorong-lorong sekitar Gudang Timur, jauh di belakang tempatku berada. Mereka bergelimpangan di mulut gang atau jembatan, saling desak dan injak. Lainnya, dalam keadaan luka parah, menceburkan diri ke sungai, untuk kemudian muncul sebagai mayat.

Sehabis itu, hadirlah pemandangan yang jauh lebih sulit kupercaya: Orang Belanda, lebih dari seratus jumlahnya, bersama para kelasi dan kuli pribumi, memburu orang Tionghoa dari segala arah. Mereka mengayunkan pedang, atau kapak, serta melepaskan tembakan sambil berteriak-teriak seperti kerasukan. Di kiri-kanan jalan, di selokan, serta terutama di sungai, bertumpuk mayat kuning pucat. Luluh-lantak.

Di Tijgersgracht, lingkungan termewah di Batavia, rumah dan toko Tionghoa dibongkar, pemiliknya dibariskan di tepi sungai, lalu digorok. Sungguh, hari ini dinding neraka telah jebol. Para iblis turun ke bumi dalam wujud manusia haus darah. Aku kerap melihat tubuh remuk di medan perang, tetapi belum pernah kusaksikan cara mati seperti ini.

Meski sasaran amuk mereka jelas, demi rasa aman, kutarik pistol dari pinggang.

“Bagus, lebih cepat mati dengan pistol!” seorang pria Belanda yang lewat di dekatku berteriak sambil menyeret dua babi gemuk hasil jarahan.

“Apa yang terjadi?” teriakku, entah kepada siapa. Semua telah mati. Bahkan wanita tua penyaji bebek panggang tadi kulihat terkapar di bawah meja, di antara piring dan ceceran nasi. Juga anak lelakinya. Di depan mereka, pria tambun yang belum lama makan bersamaku, tegak mematung. Pedangnya semerah wajah dan sekujur tubuhnya.

“Kau gila! Ia baru saja memberimu makan!” bentakku. Si tambun tersentak, seolah baru terjaga dari mimpi. Tanpa bicara, dibuangnya pedang ke sungai, lalu ia menyingkir. Aku bermaksud mengikuti langkahnya, pergi jauh dari tempat terkutuk ini, ketika mendadak terdengar suara parau: “Bintang jatuh!”

“Cahayanya telah pudar!” Agak gugup, kujawab sambil berpaling ke sumber suara. Seorang pria tua, dengan codet di pipi kanan, berdiri dalam mantel hitam. Tak begitu jelas, apa yang berkilat di tangan kirinya. Mungkin belati kecil, bisa juga sebatang garpu. Yang jelas, ada bercak darah di situ.

“Rencana ditunda. Von Imhoff pulang awal. Siang tadi mendadak Valckenier memerintahkan pemusnahan orang-orang ini. Tunggu kabar nanti,” katanya sebelum lenyap di tengah kerumunan.

Pemusnahan? Aku ternganga.

Perlahan, pistol kusarungkan kembali. Hari mulai gelap, tapi tak jua aku beringsut dari tempatku berdiri. Barangkali karena tak tahu harus berbuat apa. Di sekelilingku, api mulai berkobar. Tiba-tiba aku merasa sangat mual. (*)

 .

.

Epitaf bagi para korban Tragedi Mei 1998

 .

Catatan:

Jabot      : Hiasan leher

EIC        : East Indie Company, Persekutuan Dagang Inggris

 .

M. Iksaka Banu bekerja di bidang desain grafis dan periklanan. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Bermukim di Jakarta.

.

.

Advertisements