Cerpen Anna Prameswari Pramodhawardani (Suara Merdeka, 19 Februari 2012)

MENGGANTUNG matanya menatap rembulan sabit yang pucat di ketinggian. Perlahan, berarak jarak pandangnya menyelami pekat malam dengan binar matanya yang ingin mengadu. Sesaat, terdengar hela nafasnya. Berat, seakan berkisah tentang asanya, impiannya, yang hanya menggumpal sebagai angan, yang terus-menerus ia kejar, tapi tak kunjung mendekat, apalagi melekat.

Malam yang bisu. Di perkampungan yang sepi. Tak banyak hal yang bisa diperbuat selain merapatkan diri pada layar tivi dengan acara yang menjenuhkan, atau terbenam dalam lamunan, menyurati Tuhan dengan pintanya.

Pinta yang sama dengan lima tahun silam, juga setahun lalu, ketika berencana akan ke Jakarta bersama sahabatnya, Ayun, untuk menjadi artis di sana. Tapi malam ini, didapatinya diri dengan ruas nasib yang berbeda. Ayun dari keluarga berpunya, dan dia hanya anak petani sayur dengan luas kebun hanya cukup buat makan sehari-hari.

Lantas memisah jarak keduanya dari impian yang sama, yang jauh hari berencana hijrah ke Jakarta bersama. Tapi sampai hari ini kakinya tetap terbelenggu di kampung kecilnya. Terikat masalah keuangan yang memiskinkan langkahnya. Termenunglah ia, menanti Jakarta bak pungguk merindukan bulan.

Satu per satu ia petik malam, lewati hari, menunggu waktu yang entah kapan membawanya ke Jakarta. Ia cecar hari-harinya dengan bergumul di kebun sayur. Dihamburnya berjenis biji sayuran pada sejumput tanah. Ia kayuh tulang mudanya, kendati perempuan, membelah tanah dengan cangkul. Menebas ilalang, membabat rumput liar yang tumbuh di blok-blok kebun sayurnya.

Terkadang hidungnya merangkul aroma memualkan, rendaman bangkai siput dan kotoran ayam, yang sudah menahun bersahabat dengannya, juga sekarat perjuangan bersama ayahnya, bahkan kakeknya, dan kini telah membentuk jadi urat nadi bagi impiannya.

“Matung di situ, mau ngi minum apa, Lian?” sergap Moy Sian, ibu Moy Lian, yang sudah berdiri lama. Terseret lamunan. Seolah pada mulut guci berisi rendaman bangkai siput dan kotoran ayam, ia melihat takdirnya tak lagi melarat.

“Ah, Mama. Ngagetin aja,” balas Moy Lian dengan wajah kesal.

“Matahari bentar lagi tenggelam, ngi melototin aja guci busuk itu. Sayur udah layu bukannya diurusin!” celetuk ibunya dengan kebiasaannya berbicara dengan nada yang ngebut, ketus.

“Baru aja terbit dibilang mau tenggelam. Emang kayak Mama, apa-apa harus cepat. Kayak hidup di zaman perang,” balas Moy Lian yang juga seperti biasanya, tak pernah mau mengalah bicara, hingga ibu dan anak itu, di sejumlah kesempatan bicara terdengar seakan sedang ribut.

Dan pagi ini, disapanya anak semata wayang itu dengan nada kejengkelan. Ditengah lamunan panjang, mendapati diri berkeliaran di seputar lensa kamera sebuah syuting film, dan meresapi peran. Mendadak suara Mama berlagak bak sutradara meng-cut scene yang dimainkan. Menyeret Moy Lian keluar dari persetubuhan ruang khayal. Kembali mencium aroma kebun, cairan kotoran ayam dan bangkai siput yang akan dijadikan pupuk tanaman.

“Kerja nggak cepat mana dapat makan! Kerja lamban rezeki diserobot orang, tahu ngi? Begitu mau ke Jakarta! Di sini aja keteteran, nggak dapat makan.”

Lagi-lagi Jakarta, entah berapa kali sudah Jakarta disinggung ibunya, yang sebenarnya menentang langkah Moy Lian ke sana. Namun ia juga yang paling sering mengingatkan Jakarta, yang malah membuat tungku impian Moy Lian menjulangkan api bak disiram bensin.

Jakarta. Tak lepas kota metropolis itu dari ingatan Moy Lian tiap harinya. Jakarta, dari sana pula ia dengar banyak orang merengkuh kesuksesan dan nama besar. Jakarta, bagai tongkat sulap yang dapat mengubahnya jadi selebriti bila sudah ke sana. Dan ia ingin ke sana untuk mengubah takdirnya. Merengkuh kesuksesan, dengan bermula dari memerah tulang dan keringat di kebun sayurnya.

Preeett… pet… pet… pet…. Suara sepeda motor bebek kelahiran tahun delapan puluhan itu ditunggang Moy Lian bersama keranjang rotan di jok belakang, tempat bermacam sayur yang dijualnya pagi ini.

Criitt… criiitt…. Serak suara klakson sepeda motornya tak lagi mirip bila tak melihat langsung dari mana sumber suara berasal. Suaranya mengesankan sosok jompo yang kehilangan suara dipaksa menjerit. Tapi tetap dibunyikan Moy Lian untuk memanggil para ibu segera menyerbu keranjang sayurnya.

Ji, sayur Ji. Tempe, thew fu, thew nga, choy sim, kacang, segar-segar Ji,” sapa Moy Lian yang baru dua hari jualan sayur-mayur. Semangatnya pagi ini, telah menumbuhkan akar bagi kegigihannya mencari uang sebanyak dan secepat-cepatnya. Tak ada lagi hal yang mampu menjerat hasratnya kali ini. Begitu teguh, seperti refleksi diri atas dendam kesumat.

Lalu dipastikannya pula, Jakarta, tak lagi menggumpal dalam ruang khayalnya. Juga waktu, tak lagi menertawakan obsesinya. Tidak pula dicemeeh layar televisi, di mana Ayun, yang setahun di Jakarta sudah berhasil mentas sebagai figuran drama televisi. Sungguhlah membuat mendidih darah serta gairah mudanya yang hendak meletup-letupkan potensi dirinya di dunia hiburan.

“Rekening? Oya…,” sambil membatin, ia jadwalkan esok hari untuk singgah ke sebuah bank, membuka rekening tabungan yang belum ia miliki. Kemudian, tak berapa jarak dari duduknya, mata sipitnya menyoroti hp butut dengan casing dililit karet gelang.

Kebututan barang itu seketika minta perhatian. Bergeserlah pikirannya dalam rancangan anggaran untuk membeli pengganti hp tuanya. Setelahnya, berkerutlah keningnya. Sejumlah hari untuk sejumlah uang, harus ditebus tulang dan keringatnya demi mendapatkan hp baru.

Sambil mengelus casing hp yang warnanya seperti peralatan bengkel kumal, pikiran Moy Lian berkelana makin jauh saja. Seolah ia tak mengizinkan otaknya berhenti pada pemikiran yang sederhana. Muncullah ide, menggunakan sisa waktu malamnya untuk membuat asinan buah segar yang dititipkan di warung dekat sekolah saat pagi terbit. Itulah yang menjadi gagasan yang segera dikerjakannya. Beranjaklah ia dari duduknya.

Bersama motor tua, Moy Lian berselancar dari kampungnya ke kampung tetangga. Memborong sejumlah buah-buahan dari pohon milik warga sebagai bahan olahan asinan nantinya. Moy Lian, keras caranya mendidik diri untuk bekerja demi asanya, merantau dan membawa pulang status sosial istimewa, sebagai artis ibukota yang menggemparkan kampung kecilnya, mengharumkan harkat martabat keluarganya yang tidak dipandang karena profesi petani miskin yang turun-temurun.

Tak peduli ditentang ibunya. Tak hirau dengan Ajin pacarnya, yang mengajaknya menikah dengan menawarkan kemapanan hidup dari usaha keluarga, bengkel motor yang sudah maju dan tersohor di kampungnya.

Tak urusan dengan cibiran penggosip di kampungnya tentang mimpi gadis kampung miskin sepertinya untuk jadi artis ibukota, bak mengubur diri hidup-hidup. Membuat diri segera gila. Menampar malu tidak hanya diri, tapi keluarga. Hal yang dipersoalkan ibunya habis-habisan, semata takut anaknya gagal, kemudian tidak kuat mental.

Tapi Moy Lian, semua yang bermaksud menjegal langkahnya, tak ubahnya kata lain sebuah restu yang mendoakan berhasil impiannya. Maka, setelah genap apa yang dipersiapkannya, sudah membeli hp baru yang cukuplah buat jaga gengsi di Jakarta. Rekening tabungan, dan kursus komputer yang sudah rampung, adalah bekal lain saat uang tabungan menyusut.

Mantaplah baginya melambaikan tangan, meninggalkan serangkaian kenangan. Membuat tercengang orang sekampung karena nekad langkahnya, lalu menghujani keluarga, dengan berantai cibiran sampai ia berhasil membuktikan, mimpi milik siapa saja, termasuk gadis kampung miskin macam dirinya. Dan dari semua itu, yang agak sulit baginya ialah menenangkan kepedihan Ajin yang tetap manyun walau diimingi sejumput pesan.

“Aku pasti kembali buatmu… sabarlah menunggu. Dan, seandainya nanti, hendak kau labuhkan hatimu pada yang lain, aku terima. Ini memang sulit buat kita,” pesan Moy Lian sebelum berangkat.

Perih hatinya saat berujar, dan tak kalah lagi pedih hati Ajin sebagai pendengar, juga yang ditinggalkan. Terombang-ambing di antara janji dan kepastian. Terjebak pertanyaan, mungkinkah kekasihnya setia, atau lupa dimabuk gegap gempitanya dunia keartisan.

***

PAGI Jakarta adalah hiruk-pikuk kesibukan. Derap langkah para musafir kehidupan menyiratkan perburuan peluang. Tak pandai mengambil kesempatan, sama saja merujuk diri pada kegagalan. Gagal total. Kata itu lebih melarat dari kemiskinan bagi seorang perantau. Gagal, membuat Moy Lian tersiksa memikirkan banyak kemungkinan.

Meski numpang tinggal gratis di rumah Suk-suk Akin, adik ayahnya, tak lantas membuat Moy Lian tenang pikirannya. Impian jadi artis, bahkan sudah membawanya merapat pada tempat seharusnya.

Mondar-mandir di lokasi syuting sejak pagi pertama tiba di Jakarta. Tempat yang tidak mudah baginya menembus tempat itu, jika tidak mengandalkan perantara Ii, tante Ayun yang jadi make-up artis di lokasi syuting.

Tapi wara-wiri di tempat itu membuatnya tersadar pada tujuan, juga bekal. Jumlah uang kian merosot, mustahil bertunas atau bercabang, itulah urat nadi kecemasannya. Lalu, ancang-ancang ia bertindak, mengirim lamaran kerja ke sejumlah kantor yang butuh keahlian mengoperasikan komputer, dengan menyertakan ijasah es em a dan nol pengalaman kerja. Jelas saja ia sukar bertanding dengan bejibun pelamar yang lebih potensial.

Sekian hari nongkrong di lokasi syuting, ia lebih mirip pengangguran yang ketiban khayalan. Gemetarlah ia. Jakarta dan impian tidak memberinya kebebasan, melainkan batas waktu. Segeralah ia mengasah pikiran. Terbersitlah Ayun sebagai rujukan, tempat untuk mengadu, yang barangkali punya jalan keluar.

Casting. Dijawablah gelisah Moy Lian dengan casting oleh Ayun. Kebetulan, Ayun punya satu dua kawan artis top, salah satunya kemudian mereferensikan seseorang yang berada di belakang keberhasilan keartisannya. Pergilah Moy Lian dan Ayun menuju orang itu. Tiba di tempat si bos, mendaftarlah keduanya, disertai rogohan kocek ratusan ribu, ongkos pendaftaran, katanya.

Kendati agak mengeluh, Moy Lian tak kuasa menolak biaya pendaftaran. Bergilir keduanya menemui si bos. Usai bertemu, Ayun keluar dengan mengumbar senyum seakan mengantongi keberhasilan. Lalu Moy Lian, keluar dari ruang si bos mencuatkan air muka laksana orang habis menjambak cakar lawan.

“Lu pikir gampang jadi artis? Kalau lu punya banyak money sih, emang bisa ngartis dari beli peran. Tapi kalau modal kere, nggak ada pilihan selain nongkrongin tempat syuting, atau… pamer paha!”

“Najis!” balas Moy Lian dengan wajah jengkel setengah mati.

“Lu tahu Fanya? Siapa juga kurasa tahulah Fanya. Lu pikir dia setenar itu dapet dari ngemis di lokasi (syuting)? Diparanin hoki?”

“Ahh! Aku nggak mau tahu lah! Kalau kamu mau ikutan, gih, kasih aja pahamu. Aku cari cara lain aja. Masih ada. Masih banyak! Lebih terhormat!”

“Jakarta ini, Lian! Strategi nggak segampang lu banting cangkul di tanah, tahu!” jerit Ayun kesal ditinggal pergi Moy Lian.

Panas hati dan wajah Moy Lian. Langkahnya yang pulang sendirian membuatnya bingung harus bermuara ke mana. Pulang ke rumah Suk-suk Akin, sesiang ini akan menimbulkan pertanyaan buat orang rumah. Diseretlah langkahnya ke sebuah warnet.

Sambil menunggu petang, browsing-browsing-lah ia hingga matanya tersihir pada sebuah tembolok, Ingin belajar nulis skenario? Lengkap dengan contoh skenario penulis ternama, Mat Sangkrah. Bergegas dibukanya tembolok yang seketika memantrai otaknya. Seperti yakinnya ia akan ada jalan lain yang lebih terhormat, lebih dihargai dan segani untuk merengkuh impiannya. Tanpa perlu jual diri, atau mengobral kehormatan yang hanya menjadikan impian berarti semu. Dan ia yakin dengan prinsipnya, bahwa pesohor yang dikagumi dunia ialah mereka yang punya karya, prestasi positif, juga menularkan daya inspirasi. (*)

 .

.

Bogor, 13 Januari 2012

 .

Catatan:

Ngi                     : Sebutan kamu.

Ji atau Jiji          : Bibi, adik dari ibu.

Thew fu             : Tahu (makanan).

Thew nga           : Toge atau kecambah.

Choy sim            : Cay sim atau sawi.

Suk-suk             : Paman, adik laki-laki dari ayah.

Ii (A i)                : Kependekan kata Ji (Jiji), bermakna bibi, adik perempuan dari ibu.

.

.

Advertisements