Cerpen Gunawan Maryanto (Koran Tempo, 19 Februari 2012)

DI jalan Bugisan Jogja dulu ada sebuah warung rokok. Kecil dan seadanya, berdiri di atas trotoar jalan. Sebuah warung berbentuk gerobak dengan dua roda sepeda gembos terpasang di kedua sisinya. Tak ada yang istimewa dari warung itu, tak beda dengan warung-warung rokok lainnya. Rokok yang dijual pun rokok biasa yang dengan mudah kaudapatkan di warung lainnya. Yang istimewa adalah penjualnya. Namanya Mendut. Aku memanggilnya Mbak Mendut. Asli pesisir katanya. Ia datang ke Jogja karena sebuah kecelakaan. Kecelakaan dalam tanda kutip.

Ini semua sebuah kesalahan, Mas, katanya pada suatu sore saat aku membeli sebungkus rokok kretek di warungnya. Harusnya saya masih di kampung menunggu para nelayan pulang membawa ikan. Sore-sore seperti ini sepantasnya saya merajut jala di teras rumah. Mungkin pula saya tengah menunggu suami saya, seorang nelayan muda yang gagah pulang dari laut. Sore-sore seperti ini tak selayaknya saya ngobrol berdua bareng Sampeyan. Di pinggir jalan pula.

Acara membeli rokok yang mestinya cuma sebentar bisa menjadi lama, tertahan oleh ceritanya yang serupa air sungai. Mengalir tak pernah habis. Menuju samudra yang begitu dirindukannya.

Mbak Mendut datang kurang lebih setahun yang lalu. Dibawa oleh seseorang lelaki bernama Alap-Alap. Pemuda dari kota Jogja itu berjanji akan memberinya pekerjaan.

Sebenarnya saya nggak mau, Mas. Tapi bapak maksa. Adik-adik masih kecil dan butuh duit buat sekolah. Maka ikutlah saya dengan Mas Alap-Alap bersama dengan beberapa gadis lain dari kampung saya. O ya,Teluk Cikal nama kampung saya. Kampung nelayan kecil di tepi Pantura. Kami dibawa naik bis ke Jogja. Setengah hari kami baru sampai di kota ini karena bis itu harus mampir ke banyak kampung lain. Mengambil gadis-gadis seusia kami. Saya diam saja sepanjang perjalanan. Pikiran saya penuh dengan bayangan-bayangan yang menakutkan. Perasaan saya mendukung pikiran saya. Jadinya tubuh saya dipenuhi ketakutan. Keringat dingin tumbuh di sekujur tubuh saya. Leher, dada, punggung dan ketiak saya basah oleh keringat. Badan saya serasa pliket, lengket, pengen rasanya segera mandi air yang segar. Tapi perjalanan tampaknya masih jauh. Tak mungkin saya menghentikan laju bis. Bahkan ketika saya hampir tak kuat menahan pipis. Siapa pula saya ini. Bis baru berhenti ketika Mas Alap-Alap menghendakinya.

Mampir di pom bensin. Atau berhenti di warung kopi. Tapi kami tak turun. Kami tak berani turun. Kecuali terpaksa harus pipis di WC umum yang banyak terdapat di pom bensin. Sepasang mata Mas AlapAlap memang mirip burung Alap-Alap. Mengawasi kami dengan tajam.

 .

AKU kenal Mendut belum terlalu lama. Sejak gerobak warungnya nongkrong di tepi jalan yang tak jauh dari rumahku beberapa bulan yang lalu aku sama sekali tak pernah mampir ke ke sana. Jika membutuhkan rokok aku biasanya ke warung kelontong Samidi langgananku. Atau kalau tidak aku akan pergi ke Indomaret yang berdiri persis di seberangnya. Atau kalau tidak ya ke Alfamart di sebelah Indomaret. Warung rokoknya yang mungil hanya kulewati saja. Aku bahkan tak pernah benar-benar menyadari kehadirannya. Beberapa pemuda tanggung yang nongkrong di sekitar warung juga membuatku semakin malas mampir ke sana.

Hingga di sebuah malam. Persis tengah malam aku kehabisan rokok—ini sebuah bencana bagiku—dan terpaksa harus mampir ke warungnya lantaran seluruh warung di sekitarku telah tutup. Samidi biasa tutup pintu warung pukul sebelas malam. Demikian juga dengan Indomaret dan Alfamart di seberangnya, mereka tutup setengah jam sebelum Samidi. Yang tersisa hanyalah warung-warung Indomie. Ada juga rokok di sana. Tapi mereka hanya mau menjualnya eceran, batang per batang. Tentu saja jatuhnya lebih mahal jika aku membeli satu bungkus sekaligus. Akhirnya dengan enggan aku mampir ke warung Mbak Mendut. Tumben sepi. Tak ada satu pun pemuda yang nongkrong di dekat warungnya. Mungkin karena hujan atau apa. Aku lupa. Malam itu hujan atau tidak. Aku hanya ingat malam itu begitu sepi. Dingin memaksaku mengenakan jaket dan berjalan pelan menuju warung Mbak Mendut. Hanya dingin dan sepi yang tertanam dalam ingatanku. Selebihnya adalah wajah Mbak Mendut. Sepenuhnya. Wajah yang mengingatkanku pada pantai yang jauh, pada ombak lautan, pada cakrawala yang membentang tak tersentuh. Wajah yang membuatku gemetar setiap kali mengingatnya.

Tiba-tiba saja aku mengutuk diriku sendiri yang selama ini menyia-nyiakannya. Diriku yang berlalu lalang di depan warungnya tanpa pernah menoleh sedikit pun. Bagaimana bisa gadis serupa Mbak Mendut tak kusadari kehadirannya selama ini. Malam itu aku tak bisa tidur. Sebungkus rokok yang kubeli darinya sama sekali tak menarik perhatianku.

Mendut dalam bahasa Jawa berarti kenyal, mengeper, atau manggut-manggut, bisa juga berarti penganan yang dibuat dari tepung ketan yang diisi dengan unti (kelapa parut yang diberi gula jawa) lalu dikukus dengan daun pisang. Tapi bagiku Mendut adalah sesuatu yang tak keras tapi juga tak empuk. Ia berada di antara keduanya. Ia seperti sesuatu yang belum jadi. Seperti sebuah perjalanan—dan kita tak tahu menuju ke mana. Dan pertemuanku dengan Mbak Mendut membuat perasaanku terus bergerak seperti tengah menempuh sebuah perjalanan.

Tumbas rokok, kataku. Tak ada jawaban dari dalam gerobak rokok itu. Tumbas rokok, kataku sekali lagi. Lebih keras. Tetap tak ada jawaban. Aku melongok ke dalam gerobak.Tak ada siapa-siapa ternyata. Gerobak itu kosong. Tiba-tiba saja entah karena apa bulu tengkukku berdesir. Ada angin berhembus pelan di belakang punggungku. Oh, sepi benar-benar telah menjadi. Dan menjadikanku benar-benar merasa seorang sendiri. Baru saja aku memutuskan untuk berbalik dan pergi sebuah suara menyapaku: Rokok apa, Mas? Suara itu datang tepat dari belakangku. Dengan kaget aku berbalik. Kali ini bukan karena takut. Tapi malu. Seperti pencuri kecil yang tertangkap tangan. Atau seorang pengintip yang ketahuan. Gelagapan aku menjawab, Samsu kretek, Mbak. Berapa? Sahutnya cepat sambil bergerak masuk ke dalam gerobak warungnya. Satu. Jawabku tak kalah cepat. Satu apa? Satu batang atau satu bungkus? Ia lebih cepat lagi. Kini aku dapat melihat dengan jelas wajahnya. Wajah yang membuatku takjub dan tak bisa segera menjawab pertanyaannya. Satu batang atau satu bungkus? Tanyanya sekali lagi membuyarkan ketakjubanku. Eh, satu bungkus, Mbak.

Ia tersenyum. Lagi banyak pikiran ya, Mas? Tanyanya sambil menyerahkan sebungkus kretek Samsu. Ah, enggak kok. Jawabku kagok. Ya, mikir Sampeyan itu, Mbak, batinku. Senyum Sampeyan itu lho, Mbak. Seperti perahu kecil yang mengambang tenang di laut pasang. Pikiranku terus bergerak hingga lupa memerintahkan tanganku merogoh dompet di saku celana. Sepuluh ribu tiga ratus, Mas. Perahu mungil itu bergerak pelan dengan indahnya. Tenang tapi menghancurkan pikiranku. Membuatku tergopoh-gopoh merogoh dompet di saku celana. Sepuluh ribu berapa, Mbak? Tanyaku beneran karena aku sama sekali tak mendengar dengar jelas harga yang disebutkannya. Tiga ratus, jawabnya. Masih dengan senyum yang sama tapi dengan makna yang berbeda menurutku. Senyum jengkel mungkin. Senyum yang sebentar lagi mungkin akan berubah menjadi serangai yang menakutkan.

Aku menyerahkan uang sebesar sebelas ribu kepadanya. Dengan cepat ia menerima lembaran uangku dan mencari kembaliannya. Maaf receh ya, Mas. Katanya sambil menyerahkan kembalian. Gak apa-apa, Mbak. Aku mencoba tersenyum. Baru saja aku mau bilang terimakasih untuk menutup percakapan dan segera beranjak pergi ia telah memotong dengan pertanyaan: Mas yang tinggal di sanggar teater itu ya? Pertanyaan itu sangat mengagetkanku. Eh, iya, Mbak. Jawabku agak malu. Ia mengenalku dan aku tak mengenalnya. Sungguh tak sopan rasanya. Nama saya Mendut, Mas Gunawan. Gubrak. Seluruh hal tiba-tiba runtuh menimpaku. Ia bahkan tahu namaku. Gusti Allah! Eh, kok tahu? Sahutku sekenanya. Ia tersenyum. Ya, sebagai orang baru saya harus cepat mengenal semua yang ada di sini. Yang datang lebih dulu dari saya. Jawabnya dengan enteng. Seenteng senyumnya malam itu.

 .

SEBAGIAN dari diriku ingin segera pergi dari dari hadapannya. Secepat mungkin. Tak kuat rasanya menanggung seluruh kehancuran diriku di muka warung rokoknya. Tapi ada bagian diriku yang lain yang justru tak mau beranjak pergi. Ingin tetap di sana. Selama-lamanya. Edan. Dan aku harus mendamaikan keduanya—di bawah tatapan Mbak Mendut yang serupa bintang kembar.

Gak apa-apa, Mas. Saya bukan siapa-siapa kok. Tak perlu Sampeyan merasa bersalah. Toh sekarang kita sudah saling kenal. Ia terus nyerocos sambil seolah membaca pikiranku. Aku tak tahu dengan persis kalimat apa lagi yang keluar dari mulutnya. Seluruh diriku tak berada di sana. Entah di mana. Yang jelas tak berada di hadapan Mbak Mendut. Aku tak tahu berapa lama seluruh diriku berangsur kembali dari pelariannya. Lama rasanya. Sampai akhir aku bisa menutup perkenalan itu sebaik yang aku bisa dan pulang. Meninggalkan sepasang bintang dan sebuah perahu nelayan di kejauhan dengan gamang.

Sampai di Jogja Mbak Mendut dan teman-temannya diserahkan kepada seseorang bernama Wiraguna. Seorang lelaki tua berusia hampir 70 tahun. Lalu Alap-Alap pun hilang tak kelihatan lagi batang hidungnya. Terbang entah ke mana.

Oleh Wiraguna mereka ditempatkan di sebuah asrama. Atau barak lebih tepatnya. Selama belum mendapatkan pekerjaan mereka harus tinggal di sana, tidur berdesakan di sebuah ruangan semacam bangsal yang di kompleks rumah Wiraguna. Mereka juga tak boleh keluar dari pagar rumah Wiraguna. Tidak enak dengan tetangga, begitu penjelasan Wiraguna. Ia takut dikira penyalur tenaga kerja liar. Padahal niatnya cuma ingin membantu saja. Begitulah yang berkali-kali dikatakan oleh Wiraguna. Seluruh kebutuhan mereka disediakan oleh Wiraguna dan beberapa orang pembantunya. Juga pekerjaan, konon Pak Wira sendiri yang mencarikannya. Ia punya banyak koneksi, katanya.

Sebenarnya Pak Wira meminta saya untuk tidur di rumah utama, bukan di bangsal bersama teman-teman saya, kata Mbak Mendut suatu sore kepadaku. Ada kamar kosong yang bisa saya pakai kata Pak Wira. Tawaran ini khusus buat kamu, bukan buat yang lain, kata Pak Wira lagi. Tapi saya nggak mau, Mas. Gak enak sama teman-teman yang lain. Terlebih lagi pada diri saya sendiri. Mosok saya tidur di sana. Di kamar yang sama sekali bukan hak saya. Dengan halus saya menolaknya. Lho, memangnya Pak Wira nggak punya isteri, tanyaku. Mbak Mendut menggeleng. Katanya sudah meninggal 5 tahun yang lalu, Mas. Tapi nggak tahulah. Sebab kata Jondil, pembantunya, meskipun Nyonya Wiraguna sudah meninggal Pak Wira masih punya banyak isteri, tapi semuanya simpanan. Entah disimpan di mana. Priyayi kaya raya seperti dia mungkin saja melakukannya. Kata Jondil, Pak Wiraguna seneng sama saya. Pengen saya jadi isterinya yang resmi. Terus terang saja saya nggak percaya. Mosok priyayi Mataram seperti dia jatuh cinta sama saya, cewek dari kampung nelayan yang miskin. Jelek dan amis. Apa gak akan membuatnya turun derajat. Didandani kayak apa saja saya itu gak pantes dibawa ke kondangan. Mbak Mendut tertawa. Mungkin ia merasa geli dengan bayangan-bayangannya sendiri. Aku pun ikut tertawa. Tapi bukan karena membayangkan Mbak Mendut yang tak pantas mendampingi Wiraguna. Aku tertawa pada kepolosannya. Orang cantik sesungguhnya tak tahu kalau dirinya cantik. Dan orang cantik tak perlu apa pun untuk mempercantik dirinya.

Tapi Pak Wira tak putus asa untuk membujuk saya, Mas. Hampir tiap hari ia kembali menawarkan kebaikannya. Sampai suatu kali ia menyampaikan perasaannya. Ia jatuh cinta pada saya. Priyayi Mataram itu jatuh cinta pada gadis pesisir seperti saya. Saya bingung bagaimana mesti menjawabnya. Apa saya berhak menjawab? Akhirnya terus terang saya bilang kepadanya bahwa saya masih ingin sendiri. Saya datang ke Jogja untuk mencari kerja, bukan mencari suami. Wajahnya merah padam, Mas. Mungkin baru kali itu ia mendapat penolakan. Tapi ia tak meledak marah. Hanya diam dan menatap mata saya dalam-dalam. Saya melihat kesedihan di sana. Kesedihan yang menyala-nyala dan siap membakar apa saja. Saya gemetar, Mas. Bukan karena takut.

Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau menjadi isteri saya. Kamu tetap boleh tinggal di sini sampai kamu mendapatkan pekerjaanmu. Tapi tak ada yang gratis di dunia ini. Tak ada yang percuma. Mulai besok kamu harus membayar seluruh biaya yang sudah aku keluarkan. Semuanya.Termasuk uang yang sudah aku bayarkan pada Alap-Alap. Kalimat-kalimat itu meluncur dengan tenang dan dingin dari mulut Pak Wira. Hampir tanpa tekanan. Datar saja. Tapi bagi saya kalimat itu seperti pisau yang menusuk dada saya berulang. Dari mana saya mesti membayar itu semua. Saya sama sekali tak memegang uang. Pekerjaan yang dijanjikan pun tak tak jelas kapan datang. Dan bisa saja Pak Wira menunda-nunda pekerjaan itu sampai akhirnya saya menyerah dan mau menjadi isterinya.

 .

AKU geram mendengar cerita Mbak Mendut. Ingin sekali aku bertemu dengan orang bernama Wiraguna itu dan memukulinya.

Malam itu saya tak bisa tidur. Pikiran saya ke mana-mana. Ingin rasanya saya kabur dari penjara Pak Wira tapi bagaimana caranya. Tembok itu begitu tinggi. Dan saya tahu, beberapa anak buah Pak Wira diam-diam mengawasi kami dari kegelapan. Pernah sekali kejadian, salah seorang dari kami mencoba pergi dari rumah itu. Ia berhasil melompat pagar tembok itu. Tapi tak berapa lama ia sudah kembali bersama kami. Dengan wajah babak belur. Sejak malam itu kami tahu bahwa hidup kami berada di tangan Pak Wira. Pikiran saya melayang ke kampung halaman. Menyaksikan bapak dan adik-adik saya. Menyaksikan teman-teman saya. Menyaksikan masa lalu saya. Lalu saya jatuh tertidur. Lelah dengan bayangan-bayangan yang beredar dalam kepala saya barangkali.

Paginya saya bangun. Seperti ada sebuah keberanian menyusup ke dalam dada saya, membangunkan saya dengan kesegarannya. Setelah mandi saya datang ke rumah utama. Mengetuk pintu rumah Pak Wira tanpa ragu. Ia membuka pintunya lebar-lebar. Dengan senyum yang lebar pula.Wajahnya seperti jenderal yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran. Saya menatap matanya. Pagi itu saya merasa seperti kuda liar dari Sumba. Kuda liar yang lapar. Dan Pak Wira tak ubahnya rumput hijau sebuah padang yang baru saya temukan. Tahu-tahu sudah saya lumat bibirnya yang tebal dan kering itu. Batin saya meringkik sekeras-kerasnya. Saya desak tubuhnya ke daun pintu. Dan saya habiskan rumput hijau yang tiba-tiba tumbuh di mulutnya.

Ah, susah sekali membayangkan kejadian itu. Membayangkan Mbak Mendut melayani nafsu bandot tua seperti Wiraguna. Terus terang ini bagian yang paling tak kusukai dari cerita-ceritanya. Bagian yang akan kuhapus jika kelak aku menulis kisah hidupnya.

Lalu saya pergi, Mas. Meninggalkannya pagi itu juga. Ia hanya bisa membiarkan punggung saya meninggalkannya pelan-pelan. Seluruh tenaganya habis saya kuras. Saya lega bisa terbebas darinya. Sepasang tangan saya seperti berubah menjadi sayap Garuda. Tapi saya tahu ia kembali mengejar saya. Lelaki seperti Wiraguna tak akan pernah putus asa. Mbak Mendut ketemu lagi dengan Wiraguna? Mbak Mendut tersenyum. Mas Gun, ini baru awal dari kisah saya, katanya sambil menyerahkan sebungkus rokok Samsu ke tanganku.

Keesokan harinya saat aku hendak membeli rokok di warungnya aku kaget bukan kepalang. Banyak orang berkerumun di sekitar warungnya. Beberapa polisi tampak berjaga di sana. Jantungku berdetak makin kencang. Segera aku mempercepat langkahku menuju kerumunan orang-orang itu. Ada apa, Pak? Ada apa? Aku bertanya kepada salah seorang dari mereka. Pembunuhan, katanya. Siapa?

Mendut!

Mbak Mendut ditemukan tewas di warung rokoknya. Sebuah peluru melubangi kepalanya. Berita tentang terbunuhnya penjual rokok bernama Mendut muncul di koran-koran lokal hari berikutnya. Polisi dikabarkan masih terus mencari pelakunya. Sempat juga terdengar kabar polisi tengah mencari seseorang bernama Pranacitra. Pemuda itu dicurigai sebagai pembunuh Mbak Mendut. Tapi sampai sekarang tak terdengar lagi kabar beritanya. Pembunuh Mbak Mendut tak pernah diketemukan. Warung rokok itu pun tak ada lagi. Dibakar oleh warga sekitar. Agar hantu Mbak Mendut pergi dari sini, kata orang-orang. Tapi Mbak Mendut tak pernah pergi. Aku tahu. Ia ada di tiap batang rokok yang aku hisap. Ia menari di kepulan asap yang kuhembuskan pelan dari mulutku. (*)

.

.

Jogjakarta, 2011

Gunawan Maryanto giat di Teater Garasi, Yogyakarta. Buku kumpulan cerita pendeknya, antara lain, Galigi (2007) dan Usaha Menjadi Sakti (2009).

.

.

Advertisements