Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Januari 2012)

KUPIKIR, aku belumlah gila untuk mempercayai sebuah surat yang tengah kubaca saat ini. Bayangkanlah, seseorang yang mengaku bernama Michel de Nostredame yang tinggal di sebuah kota kecil di Prancis, mengirimimu surat. Ah, mungkin tak akan jadi soal bila kau tak melihat tanggal surat itu ditulis. Apalagi cap pos yang ada di amplopnya. Tanggal penulisan surat itu, amplopnya yang sudah coklat menguning, juga kertasnya yang kecoklatan yang membawa masalah bagiku.

Di kepala surat itu tertulis kalimat seperti ini. St. Remy, Jelang Musim Semi, 1533. Ah, orang gila mana yang sedang membuat lelucon denganku? Kupikir lawakan yang gila hanyalah stand up comedy (karena aku begitu menyukainya). Ternyata, ada yang lebih gila lagi. Surat ini. Benar-benar gila orang yang mengirimnya kepadaku.

Sebenarnya, aku hendak membuang surat itu. Pasti isinya tak penting. Hanyalah lelucon, yang di ujung surat akan membuatku terpingkal-pingkal. Kuterka-terka, siapa yang punya ide sejahil ini? Setta? Yusi? Benny? Ah, mungkin pula Bamby. Keempat pengarang itu tentu tak asing dengan ide kurang waras seperti ini. Tapi, aku tetap membacanya. Membuang rasa penasaran yang telah bercokol dalam dada.

Beginilah isi surat dari seseorang yang mengaku bernama Michel de Nostredame itu. Dan aku masih berpikir, alangkah pintar ia mengarang sebuah nama yang terdengar sangat indah di cupingku ini; apa mungkin ia mengiming-imingkan nama ini untuk anak yang ada di dalam kandungan istriku? Ia juga pasti telah berpayah-payah mencari amplop menguning dan kertas putih yang sudah kecoklatan ini. Untuk menghargai kerja kerasnya itulah, aku membaca suratnya.

Kau pasti terkejut menerima suratku ini. Aku mengangguk dalam hati, menahan tawa. Ah, ini benar-benar gila. Ketahuilah, aku tidak berlelucon saat ini. Aku sangat serius ketika menulisnya. Aku pun serius membacanya, batinku. Namaku Michel de Nostredame, orang-orang di zamanmu memanggilku Nostradamus, usiaku sama denganmu. 30 tahun. Aku tinggal di St. Remy, Prancis. Saat aku menulis surat ini, aku sedang berada di loteng rumahku. Menatap salju yang mulai mencair. Ah, aku begitu kebingungan untuk memulai ceritanya. Tapi, aku pikir, kau harus tahu. Wajib tahu. Walau sebenarnya ini melanggar ketetapan alam. Masa depan adalah misteri yang tak boleh dikuak, tak boleh diungkap, apalagi diumbar. Tapi, aku benar-benar cemas. Sangat cemas. Entah, apa pilihanku ini salah? Mungkin saja, masa depan akan pincang karena kelancangan yang kuperbuat.

Aku menghela napas. Pilihan kalimatnya cukup membuatku penasaran.

Advertisements