Cerpen Agung Argopo (Republika, 22 Januari 2012)

“TOLONG lampunya jangan dimatikan ya, Pak. Joko takut gelap.” Pesan itulah yang diucapkan oleh ibuku kepada Pak Danu, guru SD yang sekaligus menjadi pembina Pramuka di SD Babakan, tempatku bersekolah dulu. Tidak ada yang salah dari pesan ibu tersebut karena ibu tahu apa yang terjadi jika sampai lampu dimatikan. Aku akan menjerit-jerit histeris hingga berkeringat dingin. Memang aku takut gelap sejak kecil, bahkan sampai kuliah semester lima ini.

“Coba kamu ikut hipnoterapi. Siapa tahu bisa menghilangkan ketakutanmu akan gelap,” kata seorang teman agar aku ikut hipnoterapi yang dilakukan oleh seorang hipnoterapis terkenal. Aku hanya mengiyakan saran temanku itu tanpa mau melaksanakannya. Bukannya malas, melainkan sudah beberapa kali aku mencoba terapi itu. Terapi yang katanya bisa menghilangkan paranoid seberat apa pun. Bagiku, hal tersebut hanya kata-kata kosong yang tidak terbukti kebenarannya. Dan, asal kalian tahu, bukan hanya hipnoterapi yang sudah kucoba untuk menghilangkan ketakutanku ini, melainkan juga berbagai cara lain. Dan, tidak ada satu pun cara tersebut yang bisa menghilangkan ketakutanku itu. Satu hal yang kuingat dengan jelas. Saat kecil, bapakku yang merupakan ustaz pernah berkata kalau suatu saat nanti aku pasti akan merasakan kegelapan. Dan, kegelapan itu adalah ketika kita mati. Saat itu aku tidak percaya, karena yang ada di dalam pikiranku setelah meninggal akan ada surga yang penuh dengan cahaya.

Pendapat orang-orang akan ketakutanku yang dianggap penyakit kronis dan harus dihilangkan agar aku bisa bertahan hidup lebih lama tidak selamanya benar. Tetapi, menurutku, ketakutanku akan gelap ini malah menjadi satu anugerah tersendiri. Aku bisa merasakan betapa cahaya itu sangat berharga. Cahaya dari apa saja, baik dari lampu, matahari, kunang-kunang, maupun benda lain yang bercahaya. Aku sangat suka cahaya, terutama cahaya dari api. Bagiku api adalah penopang kehidupan. Bayangkan saja bagaimana jika tidak ada api. Tentu kita tidak bisa merebus air, memasak nasi, dan lain-lain. Walaupun sekarang ada alat listrik yang bisa mengeluarkan panas dan bisa dijadikan alat masak pengganti api, tetapi bagiku api tidak tergantikan.

Bagiku, api itu adalah lambang kesucian. Api tidak akan menyakiti kita ketika kita suci. Seperti halnya Shinta yang melakukan upacara bakar diri yang dikenal dengan Shinta Obong untuk membuktikan kesuciannya. Walaupun Shinta melompat ke dalam api yang berkobar, tetapi Shinta sama sekali tidak terluka. Begitu juga dengan Ibrahim yang dilemparkan ke kobaran api oleh para musuhnya. Ibrahim yang tidak bersalah diselamatkan oleh Tuhannya. Api yang panas itu diubah menjadi dingin dan membuat Ibrahim kedinginan dalam kobaran api.

Lain halnya dengan peristiwa Anoman Obong. Cerita ini membuatku merasakan bahwa api itu adalah semangat perlawanan. Melawan keangkaramurkaan yang terjadi. Anoman yang seorang diri bisa menghancurkan kerajaan Rahwana dengan cara melakukan bakar diri. Peristiwa-peristiwa inilah yang membuatku mengagumi kehebatan api tersebut.

“Besok kamu jadi ikut demo ke istana, kan?” Seorang teman menanyakan keikutsertaanku pada demo yang mereka adakan. Demo yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin itu menjadikan istana pemerintahan sebagai targetnya.

“Tentu saja. Aku sudah menyiapkan aksi demo yang tidak akan dilupakan oleh orang-orang yang ada di dalam istana itu,” jawabku penuh antusias. Memang sudah lama aku ingin mengikuti demo-demo seperti ini. Demo yang menyuarakan hati nurani rakyat. Tidak mungkin aku berdiam diri melihat ketidakadilan yang terjadi. Aku tidak tahu siapa yang salah, apakah pemimpin negeri ini ataukah orang-orang yang ada di bawahnya. Yang aku tahu, rakyat sekarang sangat menderita.

***

Minggu lalu, aku pulang ke kampung halamanku. Aku berjumpa dengan ibuku dan menyalaminya dengan takzim. Bapakku sudah lama meninggal. Aku pulang kampung karena kakakku habis melahirkan dan kulihat tempat dikuburnya ari-ari di depan rumah. Kebiasaan di tempatku, ari-ari bayi akan dikubur di sekitar rumah dengan dilindungi ember bekas dan dikasih dian di atasnya. Hal ini jugalah yang membuatku semakin cinta pada api karena api juga bersifat menjaga. Dengan adanya api itu, binatang malam, seperti kucing ataupun rubah, tidak akan berani mendekati ari-ari.

Aku senang karena bisa bertemu dengan teman lama. Tetapi, yang membuatku miris adalah penduduk kampungku jauh dari sejahtera. Hasil panen petani hanya dihargai murah karena banyaknya beras-beras impor yang menyerbu pasar. Harga ternak, terutama sapi, juga sangat murah, hanya sekitar dua per tiga dari harga normal. Apalagi penyebabnya kalau bukan gempuran daging impor. Jeritan rakyat yang selama ini hanya kulihat di TV sangat terasa ketika aku pulang kampung.

“Jangan ikut macam-macam ya, Joko,” pesan ibuku ketika melihat raut mukaku yang marah. Ibu sangat tahu bahwa aku pasti tidak akan berdiam diri melihat penderitaan warga kampungku. “Ibu tidak mau kalau peristiwa di STM kamu itu terulang lagi.” Aku pun diam, mengenang masa STM dulu. Gara-gara ada teman sekelas yang mau dikeluarkan karena tidak membayar SPP selama enam bulan, aku sangat marah kepada kepala sekolah. Tidak tanggungtanggung, aku ajak kepala sekolah itu berkelahi. Sebagai hukumannya, aku dibawa ke kantor polisi dan mendekam di dalam kurungan selama satu malam. Tetapi, aku tidak menyesal karena temanku tidak jadi dikeluarkan dari sekolah.

***

Arak-arakan mahasiswa peserta demo sudah sampai di depan istana. Seperti umumnya demo-demo lain, perwakilan mahasiswa membacakan tuntutannya menggunakan toa. Mahasiswa yang lain tampak antusias mengikuti. Setelah membacakan tuntutannya, peserta lain melaksanakan atraksi-atraksi yang mampu mengundang perhatian para pengguna jalan yang melintas. Petugas keamanan memperketat penjagaan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah beberapa atraksi, tibalah giliranku. Aku pun maju ke depan dengan membawa sebuah jeriken. Saat aku maju ke depan, dua orang temanku tampak mendekatiku.

“Joko, kamu mau apa? Jangan nekat, ya!”

“Jangan macam-macam. Ingat ibu kamu di kampung.”

Aku tidak menggubris dua orang teman yang berusaha mencegahku. Jelas-jelas aku melihat kekhawatiran di mata mereka. Pasti karena SMS yang kukirimkan kepada mereka agar mereka meneruskan perjuanganku untuk mendapatkan keadilan dari pemimpin negeri ini.

“Kalian tenang saja. Aku sudah memperhitungkan segalanya. Dan, aku tahu ibu pasti akan bangga kepadaku karena aku berhasil membuat para pemimpin negeri ini peduli dengan nasib rakyat kecil.”

Aku pun menjauh dari dua temanku yang masih terpaku. Jeriken kubuka, kemudian kutuangkan isinya ke seluruh tubuhku. Jelas tercium aroma bensin yang membasahi tubuhku. Ya, jeriken itu sengaja aku beli dari pangkalan bensin eceran saat perjalanan ke istana. Dan, tanpa ragu, aku menyalakan korek yang kubawa. Orang-orang yang berada di sekelilingku tampak panik dan mencoba untuk mencegahku. Tetapi, semua sudah terlambat. Tubuhku sudah dilalap api. Aneh, mengapa aku merasakan panas? Panas sekali. Mengapa tidak dingin seperti api yang membakar Ibrahim? Tanpa sadar aku pun berteriak.

“Panas..!”

Setelah berteriak, aku tidak sadar lagi apa yang terjadi. Kegelapan mengungkungku. Aku takut. Takut sekali. Keringat dingin mulai menyergapku. Mengapa? Mengapa bukan terang yang terjadi setelah tubuhku terbakar api? Mengapa justru gelap? Berarti benar kata bapak bahwa suatu saat nanti aku pasti akan menemui kegelapan. Apakah sekarang aku sudah meninggal? Aku tidak mau meninggal. Aku tidak mau gelap.

***

Sayup-sayup kudengar suara seorang sahabat memanggilku. Kegelapan yang mengungkungku perlahan memudar. Samar kulihat sahabatku berada di depanku dan menggoyangkan tubuhku.

“Bangun! Katanya mau demo?”

Aku tergeragap. Senang karena ternyata aku masih bisa melihat cahaya. Senang karena gelapnya kematian tidak jadi menghampiriku untuk saat ini. Aku pun bangun dan tersenyum sambil berkata dalam hati, “Aku tidak akan mengecewakanmu, Ibu.” (*)

 .

.

Penulis saat ini bergiat di forum kepenulisan Rumah Pena Tangerang sebagai guru menulis skenario.

.

.

Advertisements