Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 15 Januari 2012)

Para utusan Lurah Lading Kuning ingin membunuh dan membuang mayat Syeh Muso ke laut. Tetapi Syeh Bintoro ingin menunjukkan kepada warga kampung betapa sang penebar ajaran sesat hanyalah seekor anjing busuk.

 .

IA bukan pewarta agama. Dia juga tak pernah mengajak penduduk di kampung yang setiap senja tiba menjadi surga bangau itu mengaji di masjid. Tiba-tiba saja warga memanggilnya sebagai Syeh Muso. Dia tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam bisik-bisik di kampung nelayan itu, dia dapat menyibak air laut dengan tongkat. Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa.

Tak hanya dianggap memiliki semua mukjizat yang bisa dilakukan oleh Nabi Musa, seorang warga pernah menceritakan dengan rinci, Syeh Muso juga pernah ditelan semacam naga, semacam kerbau laut, atau hiu raksasa, dan tak mati meskipun telah berada di perut hewan itu sehari semalam. Karena itu warga yakin Syeh Muso itu sesungguhnya Nabi Yunus yang diutus menyelamatkan kampung dari kehancuran dan kemungkaran.

Bukan hanya itu. Pada saat berada di perut hiu atau di dasar laut yang diapit oleh dinding-dinding laut yang terbelah, Syeh Muso, dalam perbincangan kanak-kanak, bisa bercakap-cakap dengan segala ikan dan satwa air lain. Tentu sebagaimana Nabi Sulaiman, dia bisa berbicara dengan berbagai burung, aneka unggas, hewan-hewan melata, kerbau, sapi, kambing, dan segala satwa yang berkeliaran.

“Apakah Syeh Muso menceritakan kehidupan kita kepada para ikan?”

“Tidak. Ikan-ikan terbanglah yang menceritakan penderitaan mereka kepada eyangku. Mereka bilang manusia makin rakus. Dulu mereka tak pernah mau memakan ikan terbang tetapi sekarang ikan terbang pun dibakar sepanjang malam,” kata Azwar, lelaki kencur, cucu Syeh Muso kepada teman-teman sepermainan.

“Waktu berada di dalam perut hiu, apa yang dilakukan Eyang Muso?”

“Eyangku mengajak insang dan seluruh benda yang bisa bergetar berzikir memuja Allah,” jawab Azwar lagi kepada bocah-bocah kecil lain yang sangat ingin memiliki eyang sakti sedigdaya Eyang Muso, “Kata ayahku, eyangku juga bisa terbang dan menghilang.”

“Apakah Syeh Muso terbang dengan buraq?”

“Tidak. Eyang terbang dengan sarung.”

“Apakah ia menghilang seperti hantu?”

“Tidak. Eyang menghilang seperti Pangeran Diponegoro.”

Karena bisa terbang dan menghilang, beredar kabar setiap saat Syeh Muso bisa shalat di Masjidil Haram atau sekadar iktikaf di Masjid Nabawi. Malah karena ditengarai oleh penduduk Syeh Muso menciptakan kampung dan membangun masjid hanya dalam tujuh hari, dia dihormati sebagai Wali Kesebelas. Tentu ada penjelasan mengapa lelaki santun yang sepanjang hidup menanam bakau di tanjung yang setiap saat terkena abrasi itu disebut sebagai Wali Kesebelas. Di Tanah Jawi, kau tahu, riwayat kewalian hanya berhenti di kemuliaan Walisongo. Hanya di tanjung penuh kadal buntung ini, bertahun-tahun kemudian, didongengkan pada malam menjelang tidur para bocah, hiduplah Wali Kesepuluh yang kebal seluruh senjata dan jago silat. Sang wali sakti itu bernama Basir Burhan. Dia memiliki saudara kembar bernama Said Barikun yang lebih dikenal sebagai Syeh Muso atau Wali Kesebelas.

Basir Burhan atau Syeh Bintoro tinggal di kawasan yang dulu dikenal sebagai Istana Raden Fatah. Dia hanya datang pada setiap Jumat untuk menjadi khatib. Dia tidak pernah memperbolehkan Syeh Muso menyampaikan satu ayat pun kepada warga. “Begitu satu ayat ia sampaikan di masjid, tanjung ini akan tenggelam,” kata Syeh Bintoro yang menganggap seluruh perkataan yang muncul dari mulut santun Syeh Muso sebagai ajaran sesat.

Syeh Muso memang tak pernah menjadi guru. Akan tetapi segala tindakan Wali Kesebelas ini dianggap sebagai semacam teladan yang patut ditiru. Karena dia tidak pernah membunuh bangau, maka penduduk menganggap bangau sebagai satwa suci yang tak layak disakiti. Karena dia selalu menanam bakau sepanjang waktu, maka penduduk menganggap haram merusak atau mematikan pohon penghalang ombak itu.

Akan tetapi tak semua tindakan Syeh Muso bisa ditiru dengan mudah. Meskipun berkali-kali berusaha mencoba, warga tak bisa menjadi semacam dukun penyembuh. Bunga apa pun ketika dicampur dengan secangkir air oleh Syeh Muso bisa digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Hanya seorang dua orang yang tahu rahasia penyembuhan Syeh Muso. Itu pun daya sembuhnya tak sekuat yang dimiliki oleh khasiat penyembuhan Syeh Muso.

Syeh Muso juga tidak punya umat. Meskipun demikian setiap malam banyak warga berkumpul di rumahnya yang teduh. Meskipun Syeh Muso tidak mengajarkan apa pun, penduduk menganggap setiap malam mereka berguru pada laki-laki kencana itu.

Jika ada bocah yang bertanya ke mana orangtua mereka pergi, “Ayahmu sedang menimba ilmu, ibumu sedang belajar memahami hidup di rumah Syeh Muso.”

 .

SYEH Bintoro menganggap ada yang tidak beres dalam ajaran Syeh Muso. Ada syariat yang dilanggar. Karena itu pada Jumat berbadai, dia mengunjungi saudara kembarnya itu. Tentu sebagaimana malam-malam sebelumnya, Syeh Muso dikerumuni oleh penduduk kampung yang malam itu tengah  mempercakapkan hakikat bangau dan bakau.

“Beri pemahaman kami tentang bangau, ya, Syeh Muso,” kata seorang perempuan berwajah sesuci kelinci.

“Aku tak tahu apa-apa tentang bangau.”

“Ayolah, Sampean telah mengajari kami untuk tak membunuh bangau. Pasti Sampean telah mendapat bisikan dari malaikat agar burung-burung itu dibiarkan nangkring di pepohonan bukan?”

Syeh Muso tidak menggeleng, tetapi juga tidak mengangguk.

“Apakah bangau-bangau itu tak pernah mati sehingga sejak dulu hingga kini mereka tak bisa dihitung dengan jari seluruh penduduk kampung ini? Atau apakah sebagian dari mereka mati pada hari Selasa dan dibangkitkan Allah pada hari Sabtu?”

Syeh Muso masih tidak menggeleng, tetapi juga masih tidak mengangguk.

“Mengapa diam, Syeh Muso? Apakah sesekali Allah dan para malaikat menjelma bangau-bangau itu sehingga Sampean melarang kami membunuh mereka?”

Syeh Muso hanya tersenyum.

“Apakah Sampean akan mengatakan kepada kami tiada malaikat selain para bangau itu? Apakah Sampean akan mengatakan tiada Allah selain Syeh Muso, selain Sampean sendiri?”

Syeh Muso masih hanya tersenyum. Dia tidak menggeleng. Dia tidak mengangguk.

“Baiklah, apakah makna pohon-pohon bakau itu untuk kami?” tanya seorang lelaki muda berwajah selicik tikus.

“Aku tak tahu apa-apa tentang pohon bakau.”

“Kalau tak tahu tentang pohon bakau, mengapa sepanjang waktu hanya Sampean tanam pohon bakau di tanjung ini? Apakah semua itu merupakan pohon yang Sampean bawa dari surga?”

Syeh Muso membisu. Dia menggigil karena badai kian mengamuk dan menghajar tubuh ringkihnya.

“Jangan-jangan di setiap daun tergurat ayat-ayat indah Allah? Jangan-jangan pohon-pohon itu berzikir pada Allah sepanjang waktu?”

Syeh Muso tetap membisu. Dia kian menggigil dan merasa betapa makin tidak mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan warga kampung yang haus akan rahasia kehidupan itu.

“Apakah pohon-pohon bakau itu lebih penting dari segala pohon sehingga saat subuh, zuhur, asar, magrib, maupun isya, Sampean masih menanamnya dengan khusyuk?”

Tak menjawab pertanyaan itu, Syeh Muso justru bersiap meninggalkan rumah. Dia hendak menyepi ke ujung tanjung.

“Jangan pergi dulu!” Syeh Bintoro yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon berteriak.

Syeh Muso tak menggubris suara menggelegar itu. Dia tetap bergegas menuju ke ujung tanjung.

“Hentikan ajaran sesatmu,” Syeh Bintoro berteriak lebih keras.

Syeh Bintoro menganggap Syeh Muso telah mewartakan ajaran sesat karena tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan warga kampung sesuai syariat. Tidak menjawab pertanyaan warga kampung berarti menyetujui segala perkataan mereka. Dan itu bahaya bagi penegakan agama. Dan itu berbahaya bagi dirinya karena ia seperti tengah bertempur dengan bayangannya sendiri. Melihat segala yang dilakukan Syeh Muso, ia seperti melihat bayangan dirinya mengeruhkan air telaga yang semula bening dan berkilau bagai kaca.

“Jika tak kauhentikan ajaran sesatmu, Allah akan membunuhmu. Percayalah padaku!”

Syeh Muso tetap tak menggubris. Dia melesat meninggalkan Syeh Bintoro, meninggalkan syak wasangka yang menyesakkan dada itu.

“Aku tak tahu apa-apa tentang ajaran sesat. Mengapa pula Allah akan membunuhku?” desis Syeh Muso sambil menatap laut lepas, menatap cahaya halilintar menggores langit yang murung dan kian mendung.

Syeh Muso sedih karena merasa tak seorang pun memahami dirinya. Tak penduduk kampung. Tak juga Syeh Bintoro, bayang-bayang yang sangat ia cintai itu.

 .

APAKAH Allah jadi membunuh Syeh Muso? Allah tidak pernah berurusan dengan masalah-masalah kecil. Allah berurusan dengan mukjizat Nabi Nuh yang menyelamatkan umat dari banjir besar dengan kapal rapuh, tetapi sama sekali tak ingin turut campur dalam urusan bangau atau bakau antara Syeh Muso dengan Syeh Bintoro. Allah berurusan dengan mukjizat laba-laba yang melindungi Nabi Muhammad di gua, tetapi tidak ingin menghakimi siapa yang sesat siapa yang benar dalam memuja diri-Nya. Apakah Syeh Bintoro yang merasa taat syariat lebih benar? Apakah Syeh Muso yang tak pernah menyampaikan satu ayat lebih sesat? Allah tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil itu.

Apakah Allah jadi membunuh Syeh Muso? Allah sama sekali tidak berurusan dengan pembunuhan Syeh Muso. Ketimbang Allah, Lurah Lading Kuning ingin lebih segera menghilangkan nyawa Syeh Muso. Syeh Muso dianggap musuh paling berbahaya karena selain kini memiliki banyak pengikut, lelaki kencana ini bersama murid taklid juga dituduh menjadi maling yang setiap Jumat Kliwon mencuri di rumah para bekel, demang, dan lurah.

Karena tidak ingin dianggap tak mampu menjaga keamanan desa dan menumpas para begundal, Lurah Lading Kuning kemudian menyewa sebelas pembunuh upahan untuk menaklukkan Syeh Muso. Lurah Lading Kuning sebenarnya ingin menghajar sendiri Syeh Muso. Tetapi karena tak ingin tampak sebagai petinggi yang kejam, dia meminjam tangan orang lain untuk menyingkirkan Syeh Muso dari tanjung yang kian lama kian tampak sebagai kawasan paling makmur di desa pantai itu. Ia meminta sebelas pembunuh upahan untuk membunuh Syeh Muso.

Mengapa harus sebelas? Karena Lurah Lading Kuning yakin Syeh Muso akan bisa mengubah diri menjadi sebelas pendekar yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh sebelas manusia biasa. Diperlukan manusia yang memiliki kekejaman dan naluri membunuh yang luar biasa untuk membantai Syeh Muso.

“Dia memang tidak pernah mencuri untuk dirinya sendiri. Dia memang selalu membagi-bagikan hasil curian kepada warga miskin, tetapi tetap saja dia bajingan tengik meskipun kalian akan menyebut dia sebagai maling aguna,” kata Lurang Lading Kuning sesaat sebelum memberikan perintah pembunuhan Syeh Muso kepada sebelas pembunuh upahan.

Sebelas pembunuh upahan tak terlalu peduli pada alasan Lurah Lading Kuning.

“Sebenarnya Syeh Muso takluk pada Syeh Bintoro.Tapi Syeh Bintoro minta tolong padaku untuk menyingkirkan Syeh Muso,” kata Lurah Lading Kuning lagi.

Sebelas pembunuh upahan tak mendengarkan penjelasan Lurah Lading Kuning. Setelah mendapatkan bayaran, mereka bergegas meninggalkan kelurahan. Mereka bergegas ke ujung tanjung.

 .

AKAN tetapi di ujung tanjung kau tidak akan mendapatkan pertempuran sengit antara Syeh Muso melawan sebelas pembunuh upahan. Jauh sebelum sampai ke ujung tanjung, ketika melewati hutan bakau, para pembunuh dihadang oleh akar-akar yang menjalar-jalar dan melilit tubuh sebelas pembunuh upahan itu.

Akar-akar itu, seperti diperintah oleh keajaiban, meliuk-liuk seperti ular dan akhirnya membelit dan membanting para begundal sehingga tubuh-tubuh para pembunuh gagal itu terbenam ke lumpur. Dan karena sebelas pembunuh upahan itu tak bisa bergerak, dari kejauhan mereka tampak patung-patung purba yang berdiri kaku di kegelapan malam.

Akan tetapi akar-akar pohon bakau itu tak diutus untuk membunuh. Akar-akar bakau pengasih itu hanya menakut-nakuti. Ketika pada akhirnya belitan mengendur dan lumpur tak mengubur hidup-hidup, para pembunuh kemudian bergegas meninggalkan ujung tanjung.

 .

“KAMI tak mungkin membunuhnya,” salah seorang pembunuh upahan melapor kepada Lurah Lading Kuning.

“Melihat wajahnya kami tak mampu!”

“Ada cahaya yang menyelimuti tubuhnya!” Lurah Lading Kuning tak mendebat para pembunuh upahan itu.

“Jangan takut. Kalian akan menang. Aku akan meminta Syeh Bintoro membantu kalian.”

Para pembunuh upahan menggigil. Mereka merasa bakal menghadapi kematian yang menakutkan. Mereka membayangkan akar-akar pohon bakau akan mencekik leher atau ujung lancip rantingnya menancap di mata.

“Syeh Muso akan kalah dengan dirinya sendiri,” kata Lurah Lading Kuning, “dan karena Syeh Muso dan Syeh Bintoro adalah saudara kembar, hanya Syeh Bintorolah yang bakal mengalahkan lelaki digdaya itu.”

Para pembunuh tak paham pada perkataan Lurah Lading Kuning. Mereka terus menggigil. Mereka merasa malaikat kematian dengan perahu-perahu dari surga makin merapat, makin mendekat.

 .

SYEH Muso masih tafakur di ujung tanjung saat Syeh Bintoro dan sebelas pembunuh upahan mendatangi tempat yang oleh warga dianggap wingit itu. Akar-akar masih menjalar seperti ular sehingga siapa pun yang berada ujung tanjung berhadapan dengan kengerian yang tak kunjung hilang.

Dan Allah agaknya tak ingin berurusan dengan segala tindakan yang akan dilakukan oleh Syeh Muso atau Syeh Bintoro. Allah juga tak mengutus akar-akar bakau untuk menjadi pembunuh sehingga tanjung jadi teduh, tanjung jadi tenang. Saat itu Jibril mungkin berbisik kepada Syeh Muso. “Lakukanlah apa yang diminta oleh Syeh Bintoro, bahkan sekalipun ia ingin menusukkan keris ke lambungmu.”

Saat itu Jibril juga mungkin berbisik kepada Syeh Bintoro. “Tak perlu kaubunuh saudara kembarmu. Tugasmu hanya meminta Syeh Muso muksa.”

Lalu kedua saudara kembar itu berhadap-hadapan. Dalam pandangan sebelas pembunuh upahan, mereka tak saling berkata-kata. Mereka hanya saling mengadu mata. Ya, mereka memang tidak berkata-kata, tetapi ada percakapan rahasia di hati mereka.

“Sekali lagi kukatakan kepadamu, aku tak mengajarkan apa pun kepada umatmu.”

“Tapi kau telah jadi berhala.”

“Aku hanya melakukan apa pun yang dikehendaki Allah.”

“Ya, tetapi tindakanmu telah jadi firman. Segala yang kaulakukan, bahkan yang salah, telah dianggap sebagai ayat.”

“Aku sudah mengatakan kepada mereka aku bukan siapa-siapa.”

“Tapi mereka buta. Mereka telah menganggapmu sebagai wali dan melupakan ajaran Nabi.”

“Kalau begitu aku akan meninggalkan tanjung ini.”

“Pergilah ke pedalaman.”

“Ya, aku akan pergi. Sekarang tinggalkanlah aku sendiri.”

Syeh Bintoro lalu mundur beberapa langkah. Ia bergabung dengan sebelas pembunuh upahan.

“Kalian tidak perlu membunuh Syeh Muso. Ia telah mati. Ia memang tegak berdiri tafakur di ujung tanjung, tetapi sesungguhnya ia telah mati. Itu hanya tubuh Syeh Muso. Jiwanya telah pergi.”

Sebelas pembunuh upahan menggigil mendengarkan ucapan Syeh Bintoro. Mereka merasa telah menyaksikan pertempuran dahyat tanpa harus menatap percikan darah mengucur dari lambung Syeh Muso.

 .

TELAH matikah Syeh Muso?

“Kami telah berhasil membunuhnya. Mayatnya kami buang ke laut,” seorang pembunuh upahan melapor kepada Lurah Lading Kuning.

“Syeh Bintoro ternyata tak punya kesaktian apa-apa. Ia lari terbirit-birit ketika berhadapan dengan Syeh Muso.”

“Kami tahu kelemahan Syeh Muso. Kutusuk lambungnya dan darah segar mengucur deras. Saking deras, saat mayatnya kami buang, laut jadi memerah.”

“Tak ada lagi yang harus kita takuti sekarang ini. Tak ada maling aguna. Tak ada akar menjalar yang ujung-ujung lancipnya menusuk mata. Semua telah berakhir.”

Lurah Lading Kuning tersenyum mendengarkan laporan-laporan itu. Ia membayangkan para adipati, tumenggung, dan segala makhluk akan memuji keberhasilan indah menyingkirkan Syeh Muso dari tanjung yang kian lama kian tampak sebagai tanah yang harus dimuliakan oleh siapa pun itu.

 .

TELAH matikah Syeh Muso?

Tak seorang pun menceritakan kabar kematian Syeh Muso kepada warga kampung di ujung tanjung itu. Malam itu Syeh Bintoro—setelah terkenang pada kematian Syeh Siti Jenar—membopong sesosok tubuh harum terbungkus kafan. Ia lalu mengajak beberapa warga memberikan shalat gaib.

“Siapa dia?” tanya seorang warga.

“Syeh Musokah?” tanya yang lain.

Syeh Bintoro tak menjawab. Ia memberi isyarat agar salah seorang membuka tali pengikat leher sang mayat. Dan ketika tali pengikat terlepas, seluruh warga yang berada di sana menggigil ketakutan. Mereka melihat wajah seekor anjing yang telah membusuk menyeringai di balik kain kafan yang belepotan darah itu.

“Syeh Musokah Sampean?” seseorang menjerit histeris pada anjing busuk itu.

Tak ada jawaban. Syeh Bintoro bahkan telah bergegas meninggalkan warga yang takjub bukan alang kepalang itu. Masjid jadi sunyi. Masjid jadi mati.

 .

“APAKAH eyangmu telah menjelma anjing busuk?”

Azwar, cucu terkasih Syeh Muso, tak menjawab. Namun, ia tahu persis Syeh Muso sesungguhnya telah muksa ke laut. Ia telah berjalan di dasar laut dan melihat ikan-ikan berzikir pada Allah di dinding-dinding laut yang terbelah oleh tongkat Syeh Muso.

Ia juga yakin sesaat kemudian Syeh Muso akan berada di perut hiu raksasa dan bercakap-cakap tentang keagungan Allah dengan makhluk-makhluk kecil yang pada suatu malam juga menjadi mangsa monster air itu.

“Ayolah jawab, Azwar. Ternyata Syeh Muso cuma anjing busuk, bukan?”

 .

.

Semarang, 2011

Triyanto Triwikromo tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Buku cerita pendeknya, Ular di Mangkuk Nabi (2009); dan buku puisinya, Pertempuran Rahasia (2010).

.

.

Advertisements