Cerpen Ilham Q Moehiddin (Suara Merdeka, 15 Januari 2012)

1.

“Matahari sudah turun. Di sana hanya ada sisa debu!”

Teriak Enrique dari atas menara air. Di bawah, Manuella mengangguk, lalu berlari masuk ke dalam Kedai Minum Fontada.

Malam baru saja datang di Puebla.

Saat gadis 13 tahun itu menerobos masuk, Santana menoleh cepat, lalu berputar ke balik meja kerjanya. Ia berhenti sejenak untuk mendengarkan Manuella. Gadis kecil itu bicara cepat. Tangan Santana menarik laci meja, dan mengeluarkan sesuatu dari situ.

“Setelah Enrique turun, kalian segera temui Mayor Gitti. Bawa ini, dan berikan padanya. Kalian tak boleh membukanya,” kata Santana, meletakkan sesuatu di tangan Manuella.

Tapi, ekor matanya melirik Errika.

Di sudut sana, seorang la nina duduk gelisah.

Setengah mabuk. Ada segelas Rompope di depannya.

Enrique masuk menyusul Manuella. Napasnya memburu. Menara air itu cukup tinggi untuk lelaki kecil seusianya.

Santana mengangguk pada kedua anak ini. Keduanya berbalik hampir serentak, dan berlari ke luar. Wajah Santana khawatir. Ia berharap kedua anak itu dapat menemui Mayor Gitti tanpa ada hambatan di jalan.

Tiga menit selepas kedua anak itu meninggalkan Kedai Minum Fontada, Errika bergerak. Gadis itu bangkit dengan tubuh goyah. Errika berjalan ke meja bar, membanting sisi tubuhnya, dan menatap tajam pada Santana.

“Kenapa kau memutuskan menolakku, membawa benda itu ke Mayor Gitti? Entah apa pertimbanganmu hingga memilih kedua bocah itu. Santana, kau harus bertanggung jawab jika cayote memakan mereka di luar sana.”

Errika mendesis di ujung kalimatnya.

Kata-katanya itu bagai teror di telinga Santana. Ciut hati lelaki tua itu mendengar perkataan Errika.

Semalam, mereka nyaris baku hantam usai berdebat soal benda rahasia yang akan diberikan pada Mayor Gitti. Errika menarik leher Santana dan berniat membanting tubuh lelaki tua itu ke tanah, karena menolak memberikan benda itu pada Errika.

Errika mengancam akan bergabung dengan Kelompok Nostra, jika benda rahasia itu dihilangkan dua bocah suruhan Santana. Gadis itu merasa, lebih baik bersama kelompok Nostra dan menghabisi seisi desa.

Semalam, alkohol benar-benar menguasai Errika.

Dengan sisa tenaga tuanya, Santana menarik tangan Errika dan nyaris menampar keponakannya itu. Gadis itu segera menjauh darinya, penuh amarah.

Errika merasa, lebih mudah menyalahkan Santana atas semua dugaannya.

 2.

Caballos de Torreon

Kuda dari Torreon—begitu orang-orang menjuluki para perompak pimpinan Julian Nostra itu. Kelompok Nostra datang dari kota Torreon, 600 mil di utara Mexico. Para ecuestre datang dua pekan lalu, dan menutup perbatasan di utara dan selatan gurun. Mengurung 12 desa di Puebla, wilayah yang serupa mangkok ini.

Celakanya, Mayor Gitti pun tak berdaya. Lelaki itu adalah wali kota Veracruz yang datang berkunjung dua hari ke rumah kerabatnya, sebelum para ecuestre datang. Mayor Gitti terkurung bersama ribuan warga lain.

Kedatangan Kelompok Nostra ini bukan tanpa alasan. Mereka terobsesi sepotong peta yang merujuk cerita tua tentang pasukan Spanyol dari Los Angeles yang meninggalkan separuh muatan emas saat menuju Cuba melalui pesisir selatan Teluk Mexico.

Jejak emas itu hilang di Puebla ini.

Julian Nostra sudah membunuh banyak orang untuk informasi perihal emas itu. Julian bahkan tak bisa mengendalikan anak buahnya merompak desa, memperkosa gadis seumuran Errika. Setelah membuat kerusakan, mereka meninggalkan desa dengan cepat. Kuda-kuda mereka berderap, gemuruh, meninggalkan kepulan debu membumbung ke angkasa.

Tak pernah ada kabar perihal nasib gadis-gadis itu setelahnya.

Julian Nostra hanya tak tahu saja keberadaan Mayor Gitti.

Di sisi timur Puebla, tegak kokoh tebing pegunungan Pico de Orizaba. Tak ada jalan lain menuju Veracruz, kecuali melewati batas yang dijaga Kelompok Nostra.

Santana membeberkan perihal jalur kuno buatan pasukan Spanyol saat menuju Cuba kepada Mayor Gitti. Jalur kuno itu tersembunyi di kaki tebing gunung Pico de Orizaba yang diapit pertemuan tebing di timur dan selatan.

Semuanya tergambar pada peta kecil pemberian buyut Santana, seorang cuachicqueh, prajurit kuno suku Aztec.

Mayor Gitti harus melalui jalur kuno itu agar dapat kembali ke Veracruz, menghimpun pasukan, dan kembali membebaskan 12 desa di Puebla dari kekuasaan perompak.

3.

“Emas-emas itu ada di sekitar sini. Menuggu kita,” ujar Julian.

Jemarinya mencabik tortilla lalu meletakkan potongannya di piringnya sendiri.

Bariosa mulai resah. Dia kenal tabiat Julian. Lelaki itu akan marah jika teka-teki di peta itu tak jua terpecahkan. Sudah enam bulan mereka menelusuri depa demi depa di 12 desa yang mereka kepung, lalu kembali ke kemah mereka menjelang petang, tanpa hasil.

“Jika peta ini benar, lalu mengapa kita masih di sini.” Tukas Bariosa.

Ia beranggapan, di luar Puebla banyak emas yang bisa mereka rampok. Ia bosan menunggu seperti ini tanpa hasil apa pun.

Julian mendelik. Menarik punggungnya. Mengibaskan rambut berombaknya yang panjang. Ia meraba pistol perak berpopor gading di pinggangnya. Pistol itu cantik sekali.

“Aku menembak Ernesto karena meragukanku,” ujar Julian dingin, “tapi, baiklah-bicaralah! Aku mau mendengar sesuatu malam ini.”

Bergidik Bariosa mendengar kata-kata Julian. Lelaki itu selalu saja mencela. Jika salah bicara, nasibnya akan seperti Ernesto yang mereka kubur di Potosi.

“Maafkan saya, Tuan Nostra,” kata Bariosa.

Julian mendengus.

“Keluar! Dan, bawakan aku seorang gadis saat kau kembali!” Teriaknya pada Bariosa.

Nyali Bariosa menciut, sebelum pintu kemah Julian terbuka lebar.

4.

Errika tak bisa menandingi tenaga Bariosa. Lelaki itu terlalu kuat dan tangguh untuk gadis kurus seperti dirinya. Gadis itu memberontak sekuat tenaga saat dinaikkan ke kuda Bariosa.

Tanpa setahu Bariosa dan anak buahnya, sesosok tubuh mungil beringsut, lalu keluar dari pintu belakang. Manuella lari sekuat tenaga ke rumah Noriega, hendak melaporkan apa yang dilihatnya pada Mayor Gitti.

Ia tak boleh terlambat—yang akan fatal bagi keselamatan Errika.

‘Keinginan’ Errika bersama Kelompok Nostra akhirnya terjawab.

Bariosa meninggalkan Kedai Minum Fontada. Meninggalkan tubuh Santana yang terlentang pingsan di sudut ruangan. Bibir bawahnya pecah di hantam tinju anak buah Bariosa.

Mayor Gitti baru saja usai membahas jalur di peta kecil itu, saat Manuella menubruk pintu dan langsung memeluknya sambil menangis.

“Santana?” Mayor Gitti mengkonfirmasi.

Manuella mengibaskan kepalanya. “Errika,” ujarnya pendek.

Mayor Gitti langsung lemas.

Seharusnya tidak secepat ini. Ia akan mencari jalur kuno itu besok subuh. Mayor Gitti berharap pasukannya akan tiba secepatnya, sehari kemudian melalui jalur yang sama.

“Kita pergi sekarang!” Kata Mayor Gitti, tibatiba.

Manuella berhenti terisak. Dikiranya, Mayor Gitti akan pergi menolong Errika.

“Biarkan Thomas ikut bersamamu. Ia pencari jejak yang baik,” kata Noriega.

Kecemasan memenuhi wajahnya.

Tuan Gitti meraih tas kulitnya, lalu menyambar tangan Thomas. Mereka berdua menghilang dalam kegelapan malam.

Susah payah Mayor Gitti dan Thomas mencari celah jalur kuno yang tergambar pada peta kecil itu. Enam jam perjalanan, ditambah hampir sejam menelusuri dinding batu, sampai akhirnya mereka menemukan sebuah celah seukuran tubuh Manuella, bertutup rapat pepohonan.

Ternyata ada ruang luas di antara pertemuan dua tebing itu. Kira-kira luasnya bisa dilalui dua ekor kuda bersisian. Mereka harus memakai obor. Mereka hanya perlu berhati-hati dari ular derik.

Tanpa hambatan, akhirnya mereka sampai di ujung jalur pada sungai yang mengalir deras. Mayor Gitti harus lurus ke timur untuk mencapai kota Veracruz.

Di tenda Julian Nostra, Errika sedang berjuang demi kehormatannya. Gadis itu melawan sejadi-jadinya. Letusan pistol Julian membuat gadis itu tak bergerak lagi. Jatuh dengan tubuh kaku dan mulutnya terkunci.

Malam mengantarkan bau mesiu ke udara.

5.

Sehari kemudian, satu batalyon pasukan menerobos sisi timur perbatasan, merobohkan selusin anak buah Nostra, dan masuk tak tertahan sampai ke jantung Puebla. Pasukan Mayor Gitti membentuk kepungan dan menangkapi anak buah Nostra—yang melawan, mereka tembak mati.

Tiga regu dari pasukan itu segera menyerang perkemahan di utara bukit Puebla, mendesak Caballos de Torreon hingga ke perbatasan paling utara. Mengurung mereka di sana dalam kepungan rapat. Bariosa tewas. Saat hendak mengacungkan pistol, Sersan Luiz menembak jantungnya. Julian Nostra tertangkap bersama 200 sisa anak buahnya, delapan gadis, dan dua orang remaja lelaki pengurus kuda.

“Sayang sekali, Tuan Nostra. Kau tak menemukan yang kau cari,” ejek Mayor Gitti.

Ia melemparkan peta kecil milik Santana ke atas meja.

“Benda ini mengantarkan pasukanku ke sini—sekaligus mengubur ambisimu.”

“Kau tahu di mana emas-emas itu?” Desis Julian Nostra.

Mayor Gitti mendekat, menyentak kerah Julian, merogoh dengan kasar saku lelaki itu, dan mengelurkan peta jalur tentara Spanyol. Ia lebarkan peta itu dari lipatannya, membentangkan di meja, mendekatkannya pada peta kecil milik Santana.

Kini kedua peta itu disatukan dan membentuk peta utuh yang memperlihatkan jalur kuno pada celah di tebing timur. Beberapa penanda pada peta Santana, bukan saja merunjuk jalur kuno, tetapi adalah petunjuk di mana emas tentara Spanyol disimpan.

Julian Nostra memejamkan mata. Hatinya sakit bukan main.

Manuella tiba-tiba memekik saat melihat ke arah pintu. Erikka masuk tertatih-tatih, pincang. Tubuhnya tak terurus. Gadis itu masih hidup bersama tujuh lainnya.

Mata Errika memancarkan kebencian.

Ia memandang jijik pada Julian Nostra yang tak berdaya itu.

Sebuah letusan tiba-tiba terdengar. Errika mencoba berdiri tegak di depan tubuh Julian yang terkapar mandi darah. Errika meringis. Walau lemah, ia berhasil menangkap Menuella yang terjengkang akibat sentakan pistol di tangannya.

Gadis kecil itu baru saja menembak dada Julian, dengan pistol perak bergagang gading, yang diletakkan di meja hasil pampasan Mayor Gitti dari Julian Nostra.

Manuella baru saja membalaskan derita Errika, kakaknya.

Mayor Gitti buru-buru mengambil pistol dari tangan Manuella. (*)

 .

 .

Desember, 2011

.

Catatan:

la nina: gadis

caballo: kuda

cayote: anjing kecil, sejenis serigala

ecuestre: penunggang kuda

tortilla: roti gandum

Potosi, Puebla, Veracruz: nama-nama kota di Meksiko.

 .

Ilham Q Moehiddin. Mantan wartawan. Cerpen-cerpennya dipublikasikan di beberapa media massa. Karyanya: Kumpulan cerpen dan puisi Kitab & Tafsir Perawan Nemesis (2000), novel Unabomber: Gadis Kecil di Elliot House (2002), novel Kabin 21 (2003). Aktif pada perhimpunan The Indonesian Freedom Writers. Kini bermukim di Jakarta dan Kendari (Sulawesi Tenggara).

.

.

Advertisements