Cerpen Hadi Eko Suwono (Republika, 15 Januari 2012)

BAGI Wardhani, mengajar adalah cita-cita hidupnya. Cita-cita menjadi guru itu sudah bersemayam dalam jiwanya, bahkan sejak ia duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Bukan sekadar jawaban sebagaimana jawaban kebanyakan anak seusia enam tahun saat Bu Sri, gurunya, bertanya mengapa ia ingin menjadi guru. Rahma, teman sekelasnya, misalnya, ingin menjadi dokter karena gaji dokter gede. Atau Andri, ia ingin menjadi pilot agar bisa terbang setinggi awan. Namun, Wardhani punya jawaban yang menyentuh hati. “Biar banyak orang jadi pandai dan berkarakter, Bu,” jawabnya waktu itu.

Namun, untuk mengajar salah satu taman kanak-kanak di kota kelahirannya seperti yang ia lakukan saat ini, ia baru putuskan saat tamat kuliah. Selama empat tahun menjadi guru TK, hidupnya selalu ceria. Itu karena ia tak menganggap mengajar anak-anak sebagai rutinitas menjemukan yang mau tak mau harus ia jalankan. Justru pada hari libur, Minggu atau hari-hari besar lainnya, ia merasa jenuh tanpa kehadiran anak-anak itu di sekelilingnya.

Setiap hari, selalu saja ada kejutan dari tingkah murid-muridnya. Kadang lucu, kadang menggemaskan, dan kadang menjengkelkan. Pernah suatu hari salah satu muridnya meminta untuk diantarkan ke toilet. Bocah lelaki itu memang tak pernah pergi ke toilet sendirian. Sering kali ia pergi bersama temannya. Namun, ketika itu tak ada teman yang kebelet pipis dan tak ada yang mau ia ajak ke toilet. Sesampainya di toilet, Wardhani sungguh terkejut saat bocah itu bilang, “Bu Guru, ayo pipis bareng.” Oh, betapa kurang ajar bocah kecil ini. Mau jadi apa ia nanti kalau sudah besar!

Tapi, bagaimana mungkin Wardhani menuduh bocah itu kurang ajar bila kata-kata itu terucap dengan begitu lugu, keluguan seorang bocah. Tidak, Wardhani tidak marah, justru tersenyum. Ya, hal semacam itulah yang membuat hidupnya berwarna cerah. Untuk menanggapi hal semacam itu, cukuplah ia bilang, “Ibu tidak kebelet pipis, Ari. Nah, di sini tidak ada yang perlu ditakutkan, bukan? Lain kali pergi sendiri, ya? Ibu percaya Ari adalah anak pemberani.”

Pernah juga seorang muridnya melontarkan pertanyaan yang sukar dijawab. “Bu Guru, kalau Tuhan berbuat kesalahan, apa Dia juga akan minta maaf?” Heran ia, bagaimana sekecil itu sudah bisa bertanya seperti itu. Mungkin bukan pertanyaan itu yang sulit dijawab oleh Wardhani, tapi menyediakan jawaban yang bisa dimengerti oleh muridnya itulah yang sulit. Bagi Wardhani, mendidik anak kecil tidaklah segampang mendidik murid sekolah menengah. Tidak pula segampang mendidik mahasiswa. Mendidik anak-anak adalah membangun fondasi kehidupan seseorang. Apa yang kita ajarkan pada anak-anak, sangat berpengaruh pada perkembangan anak-anak itu kelak, demikian pendapat Wardhani.

Sebagai pemeluk yang taat, Wardhani yakin Tuhan adalah kebenaran. Meskipun demikian, jawaban Tuhan selalu benar, menurut Wardhani, kurang tepat bagi bocah lima tahun itu. Setelah putar otak beberapa saat, akhirnya ia menjawab begitu juga disertai sedikit penjelasan. “Ramli, Tuhan itu Mahabijaksana. Dia mengutus Nabi Muhammad sebagai suri teladan, sebagai contoh bagi manusia. Nah, Nabi Muhammad inilah yang harus kita contoh perbuatannya. Ya, jika ia berbuat salah, sekecil apa pun itu, ia selalu minta maaf.”

Hanya Tuhan yang tahu apakah Ramli benar-benar paham dengan penjelasan Wardhani itu. Setidaknya, Wardhani melihat Ramli mengangguk-angguk di depannya.

Dan, sejak beberapa hari yang lalu, pikirannya tercurah pada seorang gadis cilik, muridnya juga. Sewaktu istirahat, Sari datang pada Wardhani yang sedang duduk di ruangannya yang kecil itu. Sari kelihatan lemas, tak bersemangat, dan sedih. Wardhani memperhatikan dan membiarkan Sari menarik kursi lalu duduk terlebih dulu sebelum ia mulai berkata.

Lho, ada apa, Sari? Bukannya bergabung dengan teman lainnya bermain di taman, kok malah cemberut begitu?”

Anak yang manis Sari itu. Serta cerdas. Wardhani sering berpikir Sari kelak bakal jadi perempuan yang cantik, dan berharap Sari menjadi orang yang berguna.

“Saya kangen Mama, Bu Guru,” jawab Sari pelan.

Ah, mendengar jawaban itu, Wardhani teringat akan peristiwa malang yang menimpa ibu Sari enam bulan silam. Fitri, ibu Sari itu, meninggal seketika ketika angkot yang ditumpanginya dari pasar dihantam truk gandeng. Kini, Sari hanya tinggal bersama ayah dan neneknya yang sudah agak pikun.

“Sungguh kasihan anak sekecil ini sudah ditinggal ibunya,” pikir Wardhani. Tak jarang Wardhani termenung di kamarnya saat malam hari, memikirkan bagaimana kelak jadinya Sari ini dan ratusan atau bahkan ribuan anak-anak kecil lainnya yang tidak mendapat kasih sayang seorang ibu.

“Sudah, jangan bersedih seperti itu, Sari. Kalau Sari bersedih terus, Mama juga ikut sedih di surga sana. Ayo, tersenyum, gadis manis.”

“Iya, Papa juga sering berkata begitu. Tapi, saya ingin duduk di pangkuan Mama, dan Mama tidak ada,” kata Sari yang belum mau tersenyum.

“Ya sudah, sini duduk di pangkuan Ibu.”

Sari bangkit, kemudian mendekat ke Wardhani. Bagai anak manja, Sari duduk di pangkuan Wardhani dengan menyandarkan kepalanya ke dada Wardhani. Senyum mengembang di wajah Sari. Sedangkan wajah Wardhani sudah berhiaskan senyum dari tadi.

Nah, begitu anak pintar namanya,” puji Wardhani sambil mengusap-usap kepala bocah mungil yang merana itu.

“Saya ingin punya mama, Bu Guru. Mama baru seperti Bu Guru yang baik hati. Bu Guru mau jadi mama Sari?” tanya Sari tiba-tiba. Pertanyaan yang membuat Wardhani bingung harus berkata apa.

Wardhani memang belum bersuami ataupun berpacar meskipun kini usianya 26 tahun. Usia yang menurut orang tuanya matang untuk mendirikan rumah tangga baru di atas permukaan bumi. Bahkan, setahun terakhir ini ibunya kerap mengutarakan keinginannya untuk menimang cucu. Terlebih cucu lelaki dari putri sulungnya, Wardhani, karena kedua anak perempuannya yang lain masih di bangku SMA.

Namun, hanya sebatas itu. Ibunya, juga ayahnya, tak pernah memaksa Wardhani untuk segera menikah, apalagi mencarikan jodoh. Mereka memberikan kebebasan sepenuhnya pada Wardhani untuk menemukan sendiri pasangan jiwa-raga dunia-akhiratnya.

Sebenarnya, tak sedikit teman kuliahnya yang diam-diam menaruh hati padanya. Ada juga beberapa yang terang-terangan. Pendiam, tenang, anggun, sabar, adalah sifat-sifat yang membuat Wardhani menarik di mata teman-teman lelakinya itu. Wajahnya yang teduh, selain ayu tentu saja, adalah idaman bagi jiwa-jiwa yang kering. Maka itu, jangan heran jika Yudi, teman kuliahnya yang mengaku tak percaya adanya Tuhan itu, jatuh hati pada Wardhani. Mungkin karena pandangan Wardhani ke kanan, sedangkan Yudi ke kiri, Wardhani sama sekali tak menerbitkan tanda-tanda mau menerima cinta Yudi yang menjulang melampaui langit itu. Entah mengapa ia juga menampik sekian cinta yang datang padanya, padahal hatinya yang besar itu belum terisi perjaka pujaan.

Tak segera mendengar jawaban keluar dari mulut Wardhani, Sari mengulang pertanyaannya. “Bagaimana, Bu? Bu Guru mau kan jadi mama Sari? Sari pasti senang kalau Bu Guru mau.”

Tidak—jelas bukan jawaban yang memadai bagi Sari; ya—tidak memadai bagi dirinya sendiri, setidaknya untuk saat ini.

Untung kebingungan Wardhani tidak memakan waktu lebih lama. Sambil terus membelai rambut Sari yang lembut, Wardhani menjawab. “Lho, Bu Guru ini kan mama kamu juga di sekolah.”

“Maksud Sari, jadi mama di rumah juga. Jadi istri Papa,” nadanya manja. “Papa pasti mau jadi suami Bu Guru, karena Bu Guru cantik.”

Ah, semua perempuan itu cantik, Sari. Sari juga cantik.”

“Bukan Sari saja yang bilang Bu Guru cantik. Papa kemarin juga bilang Bu Guru cantik. Kata Papa, Bu Guru makin cantik kalau pakai kerudung krem seperti dua hari yang lalu.”

Oh, siapa pula yang mengajari anak ini menjadi mak comblang! Wardhani hanya bisa tertawa mendengar ucapan bocah itu. Sungguh polos, sungguh jujur. Jujur? Benarkah ayah Sari bilang dirinya cantik? Jika Sugeng, ayah muridnya itu, sendiri yang bilang dirinya cantik, boleh jadi Wardhani tidak akan memperhatikan pujian itu. Pujian seperti itu sering ia dengar, bahkan dari teman-teman perempuannya. Biasanya Wardhani menanggapi pujian seperti itu dengan mengucap syukur.

Namun, kali ini sosok Sugeng muncul di benak Wardhani. Sosoknya jelas sebab hampir setiap hari Wardhani melihat Sugeng mengantar dan menjemput Sari. Pegawai kecamatan itu masih muda, Wardhani menebak umurnya takkan jauh melebihi 30. Tampang? Ganteng juga. Dan meskipun baru sesekali ia berbicara dengan Sugeng, ia tahu Sugeng jauh lebih tenang dari dirinya sendiri. Dan dari kata-kata Sari tadi, Wardhani bisa menyimpulkan Sugeng pasti sangat sayang pada anaknya.

Gambaran Sugeng belum lengkap, dan takkan lengkap waktu itu, saat sepasang mata mungil itu menatap Wardhani, menuntut jawaban atas pertanyaannya yang belum terjawab. Pikir Wardhani, Sari saat ini hanya kangen pada mamanya, mungkin ia segera lupa akan pertanyaannya. Jadi dengan menjawab, “Sari, Papa pasti tahu apa yang terbaik bagi Sari. Papa sangat menyayangi Sari, bukan? Dan, kalau Sari ingin duduk di pangkuan Mama, Sari bisa duduk di pangkuan Bu Guru.” Wardhani berharap Sari bisa tenang.

“Waktu isirahat sudah habis. Ayo kembali ke kelas,” lanjut Wardhani.

Meskipun merasa jawaban yang ia berikan tidak mengobati hati Sari yang merana itu, Wardhani tidak melihat goresan kecewa di wajah Sari. Sari tersenyum dan menuruti apa kata Wardhani. Sari melonjak dari pangkuan Wardhani dan segera meluncur ke kelas.

Tidak seperti biasanya, hari ini Sugeng terlambat menjemput Sari. Sekitar setengah jam Wardhani menemani Sari menunggu papanya datang. Namun, tidak lama kemudian, Sugeng tiba dengan motornya. Sugeng cepat-cepat menghampiri mereka berdua yang sedang asik duduk di bangku semen di pinggir taman.

“Maafkan Papa, Sari. Hari ini Papa agak sibuk di kantor. Sudah lama menunggu?”

“Tidak juga, Pa. Justru Papa datang terlalu cepat,” jawab Sari. “Saya dan Bu Guru sedang ngobrol seru.”

“Ah, dasar kamu ini, Sari,” kata Sugeng. “Maafkan saya, Bu Wardhani, jadi merepotkan begini.”

“Sama sekali tidak. Betul apa yang dikatakan Sari. Kami memang sedang asik mengobrol dari tadi,” kata Wardhani sambil tersenyum menutupi keraguan alasan yang ia ucapkan. Entah ada apa dalam diri Wardhani, yang pasti ia merasa belum punya cukup persiapan untuk bertemu dengan Sugeng.

“Ayo pulang, Sari. Papa harus segera kembali ke kantor. Mari bareng sekalian, Bu. Kebetulan saya bawa dua helm. Toh kita satu arah, bukan?”

“Ayo, Bu Guru. Lumayan kan ongkos angkot bisa ditabung,” ajak Sari. Wardhani tak kuasa menolak ajakan muridnya itu sebab tangan muridnya sudah menggandeng erat tangannya.

Seandainya Wardhani tidak sibuk dengan hatinya sendiri, ia mungkin memperhatikan bahwa Sugeng juga salah tingkah sewaktu menyerahkan helm padanya. Wardhani belum memegang helm itu, tapi Sugeng sudah melepaskan dari tangannya. Lalu, keduanya berlomba mengambil helm itu. Sementara itu, Sari tersenyum saja melihat ulah dua orang dewasa di hadapannya.

Selama perjalanan, Wardhani bertanya-tanya pada diri sendiri. “Benarkah kita satu arah? Inikah arah yang ditunjukkan oleh Tuhan?” Ia tak menemukan jawaban, hanya timbul keinginan kuat dalam diri Wardhani untuk lebih mengenal Sugeng. (*)

.

.

Penulis lahir di Ngawi pada 1986. Saat kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya, Malang, aktif di Pers Mahasiswa Mimesis. Kini tinggal di Malang.

.

.

Advertisements