Archive for January, 2012

Dongeng Nostradamus
January 31, 2012


Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Januari 2012)

KUPIKIR, aku belumlah gila untuk mempercayai sebuah surat yang tengah kubaca saat ini. Bayangkanlah, seseorang yang mengaku bernama Michel de Nostredame yang tinggal di sebuah kota kecil di Prancis, mengirimimu surat. Ah, mungkin tak akan jadi soal bila kau tak melihat tanggal surat itu ditulis. Apalagi cap pos yang ada di amplopnya. Tanggal penulisan surat itu, amplopnya yang sudah coklat menguning, juga kertasnya yang kecoklatan yang membawa masalah bagiku. (more…)

Mito Si Pelawak
January 31, 2012


Cerpen Gunawan Maryanto (Suara Merdeka, 29 Januari 2012)

SAAT menyaksikan sebuah pertunjukan ludruk mahasiswa di kampus sebelah kampung, Mito berkata kepada kami bahwa ia bisa lebih lucu dari mereka. Aku punya banyak parikan jenaka dalam kepalaku, tambahnya. Wajahnya begitu bersinar malam itu. Tampaknya pertunjukan ludruk itu telah menyalakan lampu yang tertanam di dalam tengkorak kepalanya. Menyalakan kembali tepatnya. Karena beberapa tahun sebelumnya aku juga pernah melihat wajahnya semenyala malam itu. Waktu itu kami bersama-sama menonton pertunjukan ketoprak di Auditorium RRI. Lakonnya aku ingat betul: Rampok [1]. Dalam perjalanan pulang Mito tak henti memuji-muji pertunjukan itu. Kelompok ketoprak di kampung kami harus mementaskan lakon itu, begitulah ujung dari seluruh puja-pujinya pada pertunjukan tersebut. (more…)

Syam, Bukan Matahari
January 31, 2012


Cerpen Nukila Amal (Koran Tempo, 29 Januari 2012)

SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari. Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang, namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan. (more…)

Mbah Kromo
January 31, 2012


Cerpen Martini (Republika, 29 Januari 2012)

SUAMI istri renta itu duduk berdua di bawah rerimbunan pohon-pohon tua nan besar di kebun mereka. Satu batang randu, beberapa batang jati, ada juga pohon sukun dan entah pohon apalagi berjajar tak rapi, menjulang memenuhi kebun.

Kebun itu sempit saja, dengan pinggirannya dipenuhi pokok-pokok kelapa yang sepertinya belum begitu lama ditanam, mungkin baru dua tiga tahun belakangan. Salah satu ujungnya adalah rumah mereka dan ujung yang lain adalah sawah mereka. Tak luas juga, dengan kedalaman yang tak lazim disebut sawah karena terlalu dalam. Bagian tanahnya sudah digali sedalam satu setengah meter atau mungkin juga dua meter. Mereka menyewakannya pada pembuat batu bata beberapa waktu lalu. Setelah masa sewa habis, mereka kembali menanami tanah itu. (more…)

Pohon Hayat
January 31, 2012


Cerpen Mashdar Zainal (Kompas, 29 Januari 2012)

SEBELUM daun milik nenek gugur, nenek pernah bercerita perihal sebuah pohon yang tumbuh di tengah alun-alun kota. Kata nenek, pohon itu telah ada sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu.

Tak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana pohon itu tumbuh. Sewaktu nenek kecil, pohon itu sudah menjulang meneduhi alun-alun kota, serupa payung raksasa. Menilik kokohnya, tampaknya akarnya telah menancap jauh ke kedalaman bumi. Batangnya pun tampak seperti lengan lelaki yang kuat dan penuh urat. Dahan dan ranting berjabar serupa jari-jemari yang lentik. Dedaunnya lebar serupa wajah-wajah yang tengah tersenyum dalam keabadian. (more…)

Pengusung Jenazah yang Berjalan Mundur
January 27, 2012


Cerpen Adam Gottar Pirre (Jawa Pos, 22 Januari 2012)

DITERANGI  lampu biji jarak [1] yang ditusuk seperti sate, malam itu kami duduk setengah melingkar menghadap ke timur di sangkok [2] rumah. Di depan kami, terletak sebuah nyiru berisi biji jagung dan sebuah mangkuk batu. Dengan biji palawija itulah kami hendak menghitung jumlah kosakata yang masih tersisa dalam bahasa ibu kami, bahasa Dungau, setelah gelombang demi gelombang penjajahan, perang suku, progam KB, dan siaran televisi menyusutkan jumlah populasi kami dari 5 juta jiwa menjadi 461 orang, yang mendiami sebuah kampung terpencil yang diapit barisan bukit-bukit yang memanjang dari pesisir selatan ke utara. (more…)