Surat Terakhir


Cerpen Novrizal (Republika, 18 Desember 2011)

DI malam yang hening, masih juga aku terusik dengan suara-suara hembusan napas yang megap-megap. Suaranya yang berat, seakan-akan tidak mampu untuk mengucapkan sebuah kalimat dengan sekali napas. Orang tua yang terkulai lemas itu memanggil dan memintaku untuk dibuatkan segelas kopi hangat. Yang tak kusuka, ketika dia memintaku untuk membeli tiga batang rokok di warung pada malam itu. Dia berusaha mencoba beranjak sendiri untuk membelinya dengan kondisi seperti itu apabila kuabaikan. Aku pikir itu tidak mungkin sebab berdiri saja dia tidak sanggup, apalagi berjalan.

Aku teringat saat ibu merawatnya dengan baik dan dia tampak ceria walau kondisinya tidak terlalu parah. Setahun lebih kepergian ibu ke Pontianak, Kalimantan Barat, dan tinggal di rumah Bang Reza. Dia selalu menanyakan kabarku dan ayahku melalui surat tanpa memaksaku untuk membalas suratnya. Orang tua itu hanya bisa tersenyum mendengar isi surat dari ibu yang aku bacakan sebab matanya yang katarak tidak bisa membaca dengan jelas huruf-huruf yang tertulis di dalam surat itu.

“Untuk kali ini jangan merokok lagi!” Aku melarangnya, tapi terlalu iba mendengar suaranya yang terus meminta saat aku menjauhkan dua batang rokok yang tersisa di meja. Aku hanya ingin yang terbaik selama dia menghembuskan napas. Dia meraih sebatang rokok; aku membantu mengambilkan, lalu menunggunya sampai tertidur. Aku pikir inilah saatnya bakti terakhirku untuk Ayah sebab aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara yang diberi tanggung jawab untuk merawat ayah sampai ibu kembali ke desa.

***

Keesokan harinya, banyak orang yang berdatangan ke rumah, di desa Tanjung Anom, Deli Serdang, Sumatra Utara (daerah tempat tinggalku). Sebagian yang lain menyiapkan tenda sederhana, sebagian lagi menyiapkan kursi-kursi dan meletakan bendera hijau di ujung jalan yang bertuliskan huruf Arab: inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Aku tak tahu harus berkata apa kepada ibu atas kepergian suami yang dicintainya itu. Tetes demi tetes, air mata telah membasahi wajahku yang kaku. Terdengar suara-suara merdu para sahabat yang membacakan surat Yasiin. Lantunan ayat-ayat suci itu membuatku merasa tenang dengan hela napas yang panjang.

Usai pemakaman, aku berpikir bagaimana cara mengabarkannya kepada ibu yang di seberang pulau itu. Sebelumnya pun aku tidak pernah membalas surat dari ibu karena pada saat itu pikiranku bercabang dengan urusan kerjaan dan merawat almarhum ayah sehingga tidak ingin meninggalkannya sendiri terlalu lama di rumah. Aku juga merasa bersalah karena tidak merawat dan menjaga suaminya dengan baik. Kepergian ibu bukan karena rencananya, akan tetapi keadaan yang memintanya sebab istri Bang Reza sedang hamil tua pada saat itu. Istri anak sulungnya itu adalah seorang yatim-piatu dan tidak memiliki keluarga selain keluarga suaminya. Oleh karena itu, dia meminta ibu datang untuk membantunya dan berharap ibu mengajarkan cara merawat bayi pertama mereka usai istrinya melahirkan.

***

Sebulan telah berlalu, namun tidak ada kiriman surat dari ibu seperti biasa setiap bulan. Kini, tinggal aku sendiri di rumah kayu itu. Terasa hampa karena tidak lagi mendengar napas ayah yang bengek. Kehampaan di malam itu membuat imajiku melayang; ayah menyusup dalam imajiku; dia memanggil dan menyuruhku membeli rokok; aku tidak membelinya karena aku tidak suka dengan kepulan asap yang memenuhi ruangan rumah dengan ukuran 6×6 meter itu. Lalu, aku tersentak dan melihat tempat tidur ayah yang kusut dan tak terurus. Sampai-sampai aku lupa, bahwa ayah sudah tidak ada lagi.

Pertama kalinya aku mengajak seorang teman untuk tidur di rumah, tapi masih saja terngiang suara ayah jelang tidurku. Merasa terganggu dengan sayup-sayup itu, aku mengajaknya bergadang semalaman. Begitu juga hari-hari berikutnya, aku tetap memintanya untuk tidur di rumah.

“Akhir-akhir ini kau aneh, ada masalah?” Dia bertanya sebelum tidur. Aku pura-pura tersenyum sambil bergurau untuk mengalihkan pertanyaannya. Jika diberitahu hal yang kualami, khawatir dia tidak mau lagi tidur di rumahku karena alasan takut. Untuk itu, aku tidak pernah bercerita tentang mimpi-mimpi yang sering hadir dalam tidurku.

***

Setengah tahun kematian ayah, surat dari ibu tak kunjung tiba. Aku benar-benar tidak mengetahui kabar ibu dan abang di sana. Aku juga tidak tahu cara mengabarkan pada mereka bahwa ayah telah lama meninggal. Sementara, aku bingung harus bertanya pada siapa sebab surat-surat yang dikirimkan oleh ibu sebelumnya hilang entah ke mana. Padahal, di surat itu terdapat alamat abang sebagai petunjuk jika aku mengirim surat ke sana.

Tiba-tiba perasaanku tak enak. Pak kepala desa memanggil dan memberikan sebuah amplop yang ditujukan untukku. Maklum, alamat yang biasa kami pakai adalah alamat rumah pak kepala desa karena rumah beliau yang paling dikenal di desa kami. Kemudian aku masuk dan duduk di tempat tidur almarhum ayah. Sebelum aku membaca tulisan di amplop, aku yakin surat itu dari ibu. Setelah membacanya, ternyata benar! Itu adalah surat dari ibu, tetulis: “Dari Ibu Sumarni untuk Rohis Ghozali”. Gembira tak terhingga ketika membaca tulisan di amplop itu. Aku merasa doa-doaku terkabul.

Sementara itu, aku membuka surat pelan-pelan. Kemudian membaca surat itu yang isinya:

Assalamualaikum, Rohis! Ini ibu dalam keadaan sehat walafiat. Ibu merindukanmu dan ayahmu. Bagaimana kabarmu dan ayah di Desa? Ibu selalu mengharapkan ayah semakin sehat dan dapat bekerja kembali. Oh, iya, bagaimana dengan kerjaanmu? Kira-kira sudah cukup tidak untuk ongkos naik haji ibu dan ayah seperti yang kamu cita-citakan?

Ibu hampir lupa mengabarkan anak pertama abangmu di sini. Keponakanmu itu sekarang berusia satu tahun dua bulan. Dia sehat dan lucu sekali, mirip seperti kakeknya di desa. Hmm… Ibu jadi teringat pada ayahmu, terkadang ibu sedih dan ingin kembali pulang. Tidak hanya itu, ada kabar duka bahwa si Rasti, istri abangmu, meninggal dunia saat melahirkan Aji di rumah sakit. Kesedihan abangmu membuat kesedihan ibu menjadi berlipat ganda pada waktu itu. Ibulah yang merawat Aji sampai sekarang karena abangmu kerja dari pagi hingga jelang malam.

Sebenarnya, ibu telah meminta abangmu untuk membuat surat, tapi dia selalu sibuk sehingga ibu tidak mau membebaninya. Ibu menulis surat ini sendiri. Ibu ingin menyuruh abangmu untuk mengirimkan surat ini ke desa seperti biasanya, tapi untuk saat ini lebih baik ibu yang mengirimkannya sendiri supaya ibu mengerti cara mengirimnya. Kalau ibu sudah tahu, selanjutnya ibu yang akan mengirim surat ke desa.

Ibu tidak tahu mau tulis apa lagi, yang jelas ibu sangat ingin bertemu dengan kalian. Sebenarnya ibu ingin sekali melihat ayahmu, bagaimana dia sekarang? Ya sudahlah, ibu akan pulang nanti dan bertemu dengan ayahmu. Bilang sama ayahmu kalau ibu sangat merindukannya. Jaga ayahmu dan baik-baik di sana ya, Nak!

***

Ada sepucuk surat lagi dari kakak.

Rohis adikku, ini Bang Reza. Maaf jika abang sebelumnya tidak sempat mengirimkan surat ini kepadamu. Abang terlalu sibuk karena setiap hari harus bekerja, maklumlah sebagai buruh pabrik. Jika satu hari tidak bekerja, maka gaji abang akan dipotong dan kebutuhan kami tidak akan terpenuhi.

Sekali lagi, sebelumnya abang minta maaf atas pemberitahuan ini. Sebenarnya, ibu sudah meninggal enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Semula, abang tidak tahu kalau ibu pergi untuk mengirim suratnya dan meninggalkan Aji sendiri di rumah. Abang sangat menyesal dan merasa bersalah dengan kejadian itu. Abang minta maaf baru mengabarkannya sekarang. Seharusnya abang menyempatkan diri untuk mengirim surat itu seperti biasanya. Abang tahu kalau ibu sangat rindu pada kalian. Abang pun teringat, di desa tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi. Abang berharap surat ini sampai ke alamat tujuan dengan cepat. Abang sengaja menyambung isi surat yang dibuat ibu, karena pada saat kecelakaan itu, ibu masih menggenggam surat ini, lalu surat ini abang simpan untuk dikirim kembali.

Abang sudah mengumpulkan uang. Abang berharap kamu dan ayah dapat pergi ke Pontianak dan tinggal di rumah abang. Ada uang sebanyak 600 ribu rupiah yang abang selipkan di dalam amplop beserta surat ini. Abang harap uang itu bisa membantu untuk menambah biaya keberangkatan kalian. Kamu catat nomor telepon abang: 081363445522. Sesampai di Pontianak, kamu dan ayah segera hubungi nomor itu. Abang akan menjemput kalian nanti dan memberitahukan di mana makam ibu. Hanya itu yang bisa abang lakukan. Untuk yang ke sekian kalinya, abang minta maaf karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Satu pesan abang, tolong rawat ayah di sana, ya!

Wassalam. (*)

 .

.

Penulis adalah mahasiswa STIK-P (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan) Medan. Karya-karyanya sudah dimuat di sejumlah surat kabar lokal.

.

.

8 Responses

  1. bagus….

    Like

  2. Kalau kejadian dalam cerpen ini pada saat jasa pos masih digunakan, memang sangat mungkin. sehingga komunikasi sepenuhnya lewat surati. Tapi anehnya, si abang punya nomor telepon genggam (0813…..) bukan telepon rumah. Sehingga cerpen ini terasa janggal dan mengada-ada. Menarik, tapi ada yang masuk logika.

    Like

  3. apa betul di era ponsel, kok masih pakai surat lewat pos? Seperti jaka sembung bawa golok, ada yang ggak nyambung kok…

    Like

  4. Rasanya aneh di zaman ponsel, kok beguitu ndesonya. Kallau zaman surat pos, masih bisa diterima.

    Like

  5. Suka. Judulnya sama dengan puisiku yang sempat dimuat di kakilangit horison.

    Like

  6. kejadiany dalam cerpen ini sudah zaman ponsel, buktinya si abang punya nomor ponsel. Kok, begi9tu ndesonya. Jika masih zaman jasa dulku nggak masalah. Jadi kesannya terlalu didramatisir, masak sih segitu amat ??? Hayy yauwww

    Like

  7. Menarik alur ceritanya apik, penggambaran desa belum ada sinyal memang ada, jadi surat2 menyurat yg di pakai…benar adanya.

    Like

  8. Selamat buat penulis! Mengharukan, cerita seakan menyiratkan kesenjangan sosial, dizaman modern, ternyata masih ada orang yang tak mampu membeli ponsel. Dan penulis terlihat jujur ketika tokoh mau memanfaatkan jasa pos, sebab adalah hak nya menggunakan fasilitas. So, kenapa harus malu?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: